LOGIN2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.
Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksikan momen ini. Pengantin baru ini duduk berhadapan diatas tempat tidur. Gibran, sudah menjulurkan tangannya karena Ashana akan menyematkan cincin nikah dijari manisnya. Setelah menyematkan cincin di jari Gibran, Ashana diminta mencium tangan sang suami. Ashana menurut saja dan Gibran hanya diam tanpa ekspresi saat Ashana mencium tangannya. "Sekarang giliran kamu Bang, yang menyematkan cincin di jari istrimu," titah bu Ratna, mama Gibran. "Maaf Ma, aku tidak bisa," ujar Gibran akhirnya berbicara. "Apa maksud kamu bicara begitu?" tanya pak Esa dengan suara sedikit meninggi. Sementara orang tua Ashana saling menggenggam memberi kekuatan satu sama lain karena takut putri bungsunya dipermainkan. Mendengar bagaimana menantu mereka menolak menyematkan cincin. Ashana dan Dea juga langsung saling tatap saat mendengar ucapan Gibran. "Bos sialan, apa maksudnya begitu? Mau bikin aku jadi janda mendadak?" batin Ashana kesal. "Ini bukan cincin milik Ashana, tentu jarinya tidak akan muat. Tukar cincin hanya sebuah simbolis, aku akan mengganti cincin ini dulu baru menyematkannya ke jarinya," ujar Gibran dengan tenang padahal yang lain perasaannya sudah campur aduk saat Gibran menolak. Mereka semua langsung lega mendengar penjelasan Gibran sedangkan Ashana malah melongo. Ia tidak menyangka bos gilanya itu memikirkan hal sampai segitunya. Setelah sesi memakai cincin selesai, mereka langsung meninggalkan hotel menuju rumah Ashana. Mereka tidak melangsungkan resepsi karena keadaan belum memungkinkan. Sesampainya di kediaman orang tua Ashana, mereka makan siang bersama terlebih dahulu. Orang tua Ashana, memang sudah menyiapkan ini walau mendadak setelah acara di ubah secara dadakan. Kedua keluarga inti dan terdekat makan siang bersama ditambah dengan kehadiran Dea dan Rio sebagai sahabat kedua mempelai. Para tetua terus ngobrol santai sementara pengantin baru hanya diam-diaman saja. "Calm banget si kamu, sakit ya?" bisik Dea ke Ashana yang kebetulan duduk berdekatan. "Nggak, lagi jaga image saja di depan mertua dan keluarganya," bisik Ashana balik. Dea tersenyum meledek. "Percuma jaga image, Pak Gibran sudah tau bobrok-bobrok kamu gara-gara di kantor." "Hush, tapi mertua dan keluarganya yang lain belum tau. Jadi aku masih perlu jaga image." Dea kembali tersenyum meledek sahabatnya itu yang tiba-tiba calm. Padahal biasanya petantang-petenteng, pecicilan dan ceria. "Kalian ngobrolin apa?" tanya bu Vera ke Ashana dan Dea. Ashana dan Dea tersenyum canggung. "Biasa, masalah kampus Bu." "Katanya kamu sudah mau lulus, mikirin apa lagi?" tanya bu Ratna. "Biasa Tante, masalah magang," celetuk Dea dan alhasil ia meringis kesakitan karena mendapat tendangan di tulang keringnya dari Ashana. "Dea kenapa?" tanya bu Vera. Dea dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa tante, hanya tidak sengaja kebentur kursi." Ashana berusaha menahan senyumnya saat mendengar alasan sahabatnya itu. Mereka lanjut makan siang setelah ngobrol sejenak. Setelah makan siang, Dea pamit pulang. Rio diminta mengantar Dea pulang walau Dea menolak tapi tetap Rio lakukan karena perintah dari tetua langsung. Ashana juga kembali ke kamarnya membereskan bajunya karena ia akan segera pindah ke rumah pribadi Gibran. Gibran memang sudah memiliki rumah tapi selama ini masih tinggal dengan oran tuanya karena masih sendiri. Berhubung hari ini ia sudah menikah, ia akhirnya akan menempati rumah itu. Ashana pun harus ikut dengan sang suami dan meninggalkan kedua orang tuanya. Ashana mempacking pakaiannya sendiri tanpa ditemani oleh Gibran karena suaminya menemani bapak-bapak yang lain ngobrol di ruang tamu. Setelah pakaian dan barang yang penting selesai masuk koper, ia pun bergabung di ruang tamu dengan 2 koper besar disampingnya. "Sudah mau berangkat Nak?" tanya bu Vera. Ashana mengangguk, ia tiba-tiba sedih akan meninggalkan orang tuanya. Ia tidak menyangka hari ini akan tiba begitu cepat. Ia dan Gibran pamitan dengan orang tua dan keluarga Ashana. Ashana sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak menetes karena enggan membuat ibunya berat melepasnya. Setelah drama perpisahan, Ashana dan Gibran pamit, mereka berdua satu mobil karena langsung menuju rumah Gibran. Sementara orang tua Gibran ke rumah mereka dulu, kapan-kapan baru mereka akan mampir. Mereka sengaja memberi ruang buat pengantin baru itu untuk berduaan. Mengingat mereka menikah secara mendadak tanpa ada perkenalan walau mereka sudah kenal. Ashana takjub melihat rumah bertingkat 2 milik Gibran setelah sampai di rumah tersebut. Ia menarik 1 kopernya masuk mengikuti Gibran yang menarik 1 koper yang lain. Ashana terus mengikuti Gibran naik ke lantai 2 sampai mereka tiba disebuah kamar berukuran besar. Kamar itu terlihat belum pernah di tempati karena masih sangat polos. "Ini kamar kita," ujar Gibran akhirnya membuka suara setelah dari tadi diam-diaman terus. "Kita sekamar Paj?" tanya Ashana sedikit takut-takut. Gibran yang tadinya membelakangi Ashana, langsung menoleh menatap istrinya. "Iya, kita kan sudah suami istri. Kamu memangnya mau tidur dimana kalau bukan di kamar ini?" "Saya pikir Bapak akan menyiapkan kamar lain untuk saya," cicit Ashana sambil menunduk karena takut melihat tatapan Gibran. Tak Ashana meringis kala Gibran menyentil pelan dahinya. Ashana langsung menatap sengit Gibran sambil mengusap dahinya. "Buang semua pikiran aneh yang ada di otak kecil kamu itu. Ini pernikahan real, bukan pernikahan yang biasa kamu tonton atau baca di novel-novel." "Jadi maksud Bapak, kita tidak akan ada surat perjanjian atau semacamnya?" tanya Ashana memastikan lagi. "Saya tidak akan berbicara 2 kali, Ashana," ujar Gibran dengan tegas. Ashana langsung cemberut mendengar ucapan suaminya itu. Ia tidak menyangka Gibran akan melakukan hal itu, ia pikir Gibran akan seperti tokoh CEO yang ia baca di novel-novel. "Walking closetnya ada disebelah kamar mandi, kamu bisa menyusun pakaian kamu disana," ujar Gibran sambil menunjukan posisi yang ia maksud. "Oh iya Pak, jadi kita hanya tinggal berdua di rumah ini?" "Nanti akan ada pekerja yang akan saya siapkan tapi mungkin besok atau lusa baru masuk." Ashana hanya mengangguk paham. Ia baru tau kalau bosnya itu bisa bicara agak panjang walau masih selalu terdengar dingin. "Ashana, saya memang tidak akan membuat surat perjanjian atau semacamnya tapi saya punya satu permintaan ke kamu," ujar Gibran lagi. "Iya, apa Pak?" "Saya minta pernikahan ini kita rahasiakan dulu, kamu bisa?"Setiap malam tanpa pernah absen sedikit pun, deru mesin mobil Gibran selalu membelah keheningan halaman rumah mertuanya. Meski tubuhnya lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, Gibran tetap memaksakan diri untuk datang demi melihat paras sang istri. Pria itu rela menembus kemacetan kota hanya untuk membawa segenggam harapan agar pintu maaf Ashana yang tertutup rapat bisa sedikit terbuka.Namun, kehadiran Gibran selalu saja disambut oleh keheningan dingin yang menusuk hingga ke dalam relung dadanya. Ashana hanya mau keluar dari kamar setelah Ibu Mita mengetuk pintu dan mendesaknya untuk menghargai suaminya yang datang. Gadis itu duduk kaku di sofa tanpa pernah sekalipun mau menatap wajah suaminya yang kini dipenuhi oleh sorot penyesalan mendalam."Mas, tahu malam ini sudah terlalu larut tapi Mas hanya ingin melihat keadaanmu sebentar, Sha," bisik Gibran lirih sembari meletakkan sebungkus martabak manis kesukaan istrinya di atas meja. Ashana tetap membisu, membuang pand
Deru mesin mobil yang membawa Ashana perlahan menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Gibran yang masih berdiri mematung di pelataran rumah sakit. Pak Esa menepuk bahu putranya dengan helaan napas berat, mencoba memberikan kekuatan pada jiwa muda yang sedang dihantam gelombang penyesalan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Gibran akhirnya melangkah lesu menuju mobilnya, menyadari bahwa perjuangan terberat dalam hidupnya baru saja dimulai.Sementara itu, suasana hangat tapi diselimuti keheningan menyambut kedatangan Ashana di rumah orang tuanya. Setibanya di kamar masa kecilnya, Ashana langsung beristirahat ditemani sang ibu yang tak henti-hentinya mengusap lembut jemari putrinya. Di ruang tamu, Aliyah duduk menunduk sembari meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan sisa keberanian yang terlambat untuk menghadapi badai yang pernah ia ciptakan.Setelah memastikan Ashana sudah terlelap damai, Pak Aris dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga di mana Aliyah telah menungg
Ruang UGD Rumah Sakit Harapan Bangsa riuh oleh langkah kaki petugas medis yang berpacu dengan waktu. Gibran berdiri terpaku di depan pintu kaca berkabut, memperhatikan dari jauh saat tim dokter memasang alat pemantau detak jantung pada tubuh Ashana yang terkulai lemah. Kemeja putihnya yang kusut dihiasi noda darah kering milik istrinya, sementara jemarinya masih gemetar hebat—menahan sisa-sisa trauma dan kemarahan yang membakar dada."Gibran, duduklah dulu," bisik Pak Esa, sang ayah, seraya menepuk bahu putranya yang tegang bagai kawat baja. "Ashana sudah ditangani dokter terbaik. Kamu harus tenang.""Bagaimana aku bisa tenang, Ayah?" Suara Gibran parau, nyaris pecah. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong. "Semua ini terjadi karena keputusasaanku... karena ketidakmampuanku melindunginya dari Natasya. Kalau saja aku lebih tegas dari awal, Acha tidak akan pernah melewati neraka ini."Ibu Ashana yang duduk di kursi tunggu masih menyeka sisa air mata, dirangkul erat o
Natasya cepat-cepat menggeleng dengan bibir bergetar. Wajahnya yang biasanya dirias sempurna kini tampak pucat, mencerminkan ketakutan saat melihat tatapan menakutkan dari pria di depannya."Bo-bohong! Dia yang memancingku, Gibran! Wanita sialan ini yang ....""Cukup Natasya!" Bentak GibranBentakan dan muka marah Gibran membuat Natasya putus asa untuk membela diri lagi. Ia semakin panik dan berniat menerobos pintu keluar begitu melihat celah. Namun, langkahnya terhenti seketika,dua sosok wanita berdiri tegap menutup jalan keluar dengan tatapan menusuk."Mau lari ke mana kamu, Natasya?!" bentak Dea tajam, iya ikut juga ketika mendapat informasi dari Aliyah.Suaranya menggelegar menghentikan langkah Natasya yang panik.Di sebelah Dea, Aliyah melangkah maju dengan tatapan dingin penuh ketegasan. Ia juga tidak mau ketinggalan mencari adiknya walau dilarang dan ia juga yang memanggil Dewa untuk ikut mencari Ashana. Tanpa ragu, Aliyah cengkeram pergelangan tangan Natasya dengan amat kuat,
Jemari pria itu semakin dekat, hanya tinggal seujung kuku dari kulit bahu Ashana, bau alkohol yang tercium pekat berpadu dengan keputusasaan yang melumpuhkan seluruh harapan Ashana. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya yang terlilit tali hingga darah segar makin menetes. Sementara tawa Natasya semakin. melengking riang melihat ketakutan Ashana, tawanya mengalun penuh kemenangan di dalam bangunan tua yang berdebu itu."Aku akan mengabadikan momen ini baik-baik!" seru Natasya dengan nada puas yang tak tertutup-tutupi. Ponselnya terus mengarah pada Ashana, merekam setiap detail kepanikan dan kehancuran wanita yang sangat ia benci."Lihat bagaimana wibawamu hancur malam ini, Ashana! Akan ku pastikan, setelah ini Gibran akan jijik dan akan menceraikanmu. Aku akan senang hati akan menggantikan posisimu anak malang," ejek Natasya.Namun, tawa puas Natasya seketika terhenti ketika suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari arah belakang.BRAAAK!Pintu tua ruangan itu mendadak ter
Napas Ashana mulai memburu,keheningan bangunan tua itu seketika pecah oleh rasa ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keberanian yang sejak tadi ia bangun tiba-tiba runtuh dalam sekejap. Ketika Natasya melambaikan tangan, memanggil dua orang pria berbadan tegap dari balik bayang-bayang pilar beton.Salah satu pria itu bertubuh tinggi besar dengan kulit gelap dan tato yang merayap hingga ke leher, mereka melangkah maju. Tatapan matanya kelam, sarat akan intrik dan nafsu liar yang terang-terangan. Pria itu menyeringai, memamerkan deretan gigi yang tidak rata saat mengamati tubuh Ashana dari atas ke bawah."Saya serahkan wanita ini padamu, terserah kalian mau apakan," ujar Natasya dingin, melangkah mundur beberapa langkah. Ia menarik sebuah kursi besi berkarat, duduk santai sembari merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah ponsel canggihnya. "Buat dia mengerti posisi dirinya yang sebenarnya tapi ingat, jangan sampai pingsan terlalu cepat.""Dengan senang hati, Nona,"
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel







