Masuk
“Elara! Mengapa lantai ruang makan masih kotor?”
Suara Rahayu memecah keheningan pagi. Elara terperanjat, hampir saja menjatuhkan sendok di tangannya. Tak peduli seberapa sering ia dimarahi, ia tetap saja tidak bisa terbiasa. Suara Rahayu masih selalu membuatnya terkejut. Rahayu berdiri di ambang pintu dapur dengan raut wajah masam. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan, mencari-cari sesuatu untuk dikritik. “Aku baru saja mengepelnya, Ma,” ucap Elara pelan. “Jangan membuat alasan!” potong Rahayu cepat. “Dan mengapa sarapan lama sekali? Apakah kamu mencoba membuat suamimu dan adik-adiknya terlambat bekerja dan kuliah?” Elara menunduk. “I-ini hampir siap...” Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tangannya bergerak lebih cepat. Ia menyendok telur ke atas piring, membalik daging asap, dan memeriksa roti panggang. Ia bergegas dari kompor ke meja makan, nyaris tidak berhenti untuk sekadar menarik napas. Ia telah bangun sejak fajar. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan menyiapkan sarapan. Namun sekarang Rahayu memarahinya seolah-olah ia tidak melakukan apa pun sama sekali. Di usianya yang baru dua puluh tiga tahun, Elara sudah merasa begitu letih oleh tuntutan dan teriakan yang tak ada habisnya. Empat tahun lalu, Elara setuju untuk menikah dengan Daris dalam sebuah pernikahan yang diatur oleh Rahayu, ibu mertuanya. Pada saat itu, ia tidak memiliki siapa pun. Lalu Arka menggapainya. Bocah itu masih bayi saat itu, menangis di pelukannya, dan Elara tidak tega untuk meninggalkannya. Ia berharap menikahi Daris akan memungkinkannya tetap hadir dalam kehidupan Arka. Putra Daris dari pernikahan pertamanya itu tidak memiliki ibu untuk merawatnya. Namun, menikahi Daris tidak memberinya kehidupan yang ia harapkan. Itu hanya membuat segalanya menjadi lebih buruk. Saat jarum jam hampir menunjukkan pukul enam, Elara membawa hidangan ke meja makan dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Daris sudah duduk di kursinya. Ia tidak menengadah, tidak mengucapkan selamat pagi. Seolah-olah Elara bahkan tidak ada di ruangan itu. Rahayu dan kedua adik perempuan Daris duduk lalu mulai makan tanpa menunggu Elara. Tidak ada yang mengucapkan terima kasih atau bahkan memedulikan keberadaannya. Elara bergegas ke kamar tidur untuk membangunkan Arka. “Arka, Sayang... bangun. Sudah pagi, waktunya sekolah,” bisiknya lembut sambil mengelus punggung bocah kecil itu. “Jika kita terlambat, Ayah akan marah.” Arka mengerang sebelum membuka matanya. Elara menggendongnya ke kamar mandi, membasuh wajahnya, mengenakan pakaiannya, dan menyisir rambutnya, bergerak dengan cepat dan tenang. Ketika mereka kembali ke ruang makan, Daris sudah hampir selesai dengan makanannya. Elara bahkan tidak sempat untuk duduk. Ia mengambil sesendok bubur gandum dan meniupnya agar dingin sebelum menyuapkannya kepada Arka. “Mengapa lama sekali mengurusnya? Aku bisa terlambat bekerja gara-gara kamu!” bentak Daris tiba-tiba. Hati Elara mencelos. Ia dengan cepat meletakkan sendoknya. “Maafkan aku, Mas.” “Kamu tahu Arka susah dibangunkan. Mengapa kamu tidak membangunkan ia lebih awal?” cibir Alia sambil meraih tasnya dari kursi. Elara menelan ludah dengan susah payah, tidak mampu membalas sepatah kata pun. “Arka, habiskan cepat. Kita berangkat sekarang!” seru Daris kasar. Arka menatap Elara, bingung dan ketakutan. Elara menahan napas dan memaksakan senyum menenangkan. Ia menyelipkan sebuah roti lapis kecil berbungkus ke tangan mungil bocah itu. “Makan ini di mobil, ya?” bisiknya lembut. Daris tidak menunggu. Ia melangkah lebar menuju pintu depan tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Elara bergegas mengikutinya dari belakang, sambil menggandeng tangan Arka saat mereka menuju ke mobil. Setelah mobil Daris melaju dan menghilang di ujung jalan, Elara berbalik kembali ke dalam rumah. “Elara! Di mana blusku? Aku meninggalkannya agar kamu setrika!” teriak Dinda dari ruang tamu. “Ada di lemari Alia,” jawab Elara pelan. “Ugh! Aku kan sudah bilang jangan mencampur pakaianku dengan pakaiannya! Apakah itu benar-benar sulit untuk dipahami?!” cibir Dinda, lalu menghentakkan kaki menuju kamarnya. Elara tidak mengatakan apa-apa. Ia telah belajar untuk menundukkan kepala dan menahan segala hinaan. Setiap hari di rumah ini terasa seperti hukuman yang tak berkesudahan. Ibu mertua yang kejam. Adik-adik ipar yang selalu memandangnya sebelah mata. Dan suaminya... Daris tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri, atau bahkan sebagai manusia. Bagi Daris, Elara tidak lebih dari seorang pembantu yang tidak dibayar. Seseorang yang harus bangun paling awal dan tidur paling akhir. Seseorang yang harus mendengarkan setiap hinaan tanpa boleh membalas. Seseorang yang dituntut untuk selalu bersyukur, meskipun ia tidak diberi apa-apa sebagai imbalannya. “Tugas seorang istri adalah melayani suaminya tanpa mengeluh. Keridaan suamimu adalah pintu menuju surgamu,” Daris selalu mengatakan itu padanya. Setiap kali ia ingin mengeluh, setiap kali ia merasa sangat lelah, setiap kali ia hanya ingin didengarkan, kata-kata itu selalu membungkamnya, bahkan ketika ia begitu putus asa untuk bersuara. ♡♡♡ Keesokan paginya berlangsung dengan rutinitas bising dan kacau yang persis sama. Menyiapkan sarapan, membangunkan Arka, dimarahi oleh Rahayu, dan pergi ke pasar. Ia harus berbelanja di pasar yang lebih murah di seberang kota, karena Rahayu bersikeras untuk menekan pengeluaran belanja harian. Rahayu mengadakan acara arisan hari itu. Elara harus memasak untuk lebih dari selusin orang. Seorang diri. Setelah menyusuri lorong-lorong pasar yang sibuk dan menyelesaikan daftar belanjaannya, ia menaikkan kantong-kantong berat itu ke atas motor matiknya. Beban itu membuat punggungnya sakit, tetapi ia tidak mengeluh. Ia tidak pernah mengeluh. Dalam perjalanan pulang, Elara berhenti di lampu merah. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di seberang persimpangan jalan. Ia langsung mengenali plat nomor mobil itu. Mobil Daris, pikirnya. Lalu ia menyadari keberadaan seorang wanita di kursi penumpang depan. Rambut panjang wanita itu terurai di satu bahunya saat ia condong ke arah Daris, tertawa bersamanya. Elara mempererat genggamannya pada stang motor. Mereka berdua terlihat sangat intim dan nyaman satu sama lain.Langit Kelowna bersuhu dua belas derajat Celsius sore itu, berwarna keemasan pucat. Suara bel penutup kelas bergema dari speaker sekolah. Di halaman sekolah, ratusan siswa middle school berseragam biru tua bergerak cepat ke arah area bus. Sekolah elit itu tidak membiarkan murid keluar ke jalan tanpa pengawasan. Bus kuning berjajar rapi, beberapa bertanda 'Route 4 – East Kelowna' dan 'Route 7 – Peachland.' Anya berjalan cepat menuju busnya, seragam biru tua dengan emblem sekolah di dada kiri, rok abu lipit di bawah lutut, dan syal abu muda melingkar longgar di lehernya. Rambutnya dikepang dua. Beberapa mobil orang tua sudah menunggu di jalur drop-off. Dari salah satu mobil itu, Cavell keluar. Ia berdiri, memperhatikan kerumunan sampai matanya menemukan Anya. "Anya Maren Kenneth?” Anya menoleh. Ia jarang mendengar seseorang memanggil nama tengahnya. “Yes?” Cavell tersenyum kecil, “Aku pamanmu. Papamu kasih alamat. Tapi kau tahu, mencari alamat sekolah lebih mudah daripada
Hari keempat belas, adalah hari terakhir Ryota menjalani perawatan di kamar rawat suite yang lebih mirip apartemen kecil daripada ruang rumah sakit, dan laporan patologi anatomi disampaikan oleh dokter Ardi, dokter yang menanganinya sejak pascaoperasi. Kabar baik disampaikan lebih dulu, tentu saja. Tumor berhasil diangkat utuh, dan masih pada stadium awal. Namun, di mana ada kabar baik, di situ kabar buruk menyusul. Seperti siang dan malam, hanya berganti menjaga keseimbangan. Dari hasil patologi, sel kanker menunjukkan sifat lebih agresif, derajat keganasannya tinggi. Itu artinya, meski tumornya sudah diangkat, masih ada risiko sel-sel halus yang tidak kasat mata lolos dan bisa tumbuh kembali. Untuk itu, dokter Ardi tetap menyarankan menjalani kemoterapi pencegahan. Dan kabar buruk lain, letak tumor membuat sebagian saraf di panggul ikut terpotong, saraf yang berperan penting dalam mengendalikan fungsi seksual. Dokter Ardi menyebut masih ada peluang untuk pulih, mungkin dalam hi
Elara menyapu swab stick basah di bibir kering Ryota. “Kata dokter kamu belum boleh makan atau minum,” ujarnya lembut, lalu kembali menikmati potongan buah di tangannya. Ryota menatapnya, tersenyum samar. “Enak?”Elara mengangguk. “Iya, Mame suka apa saja.”“Kalau hanya sayur dan buah terus, nanti bisa kekurangan nutrisi,” sahut Ryota, separuh mengomel. "Kau butuh protein, zat besi, kalsium, karbohidrat. Semua harus seimbang, bukan buah saja.”Ia jadi teringat masa kehamilan Alessia. Saat itu semua pelayan, termasuk Rowena, dibuat kalang kabut demi menuruti kemauan istri tuan mereka yang enggan menyentuh makanan.“Sstt… sstt.” Elara menggerakkan telunjuknya. “Kamu jangan banyak bicara. Harus hemat energi. Bulan puasa kemarin kamu hampir pingsan nunggu buka. Apalagi ini kamu bakalan nggak makan minum sampe 2 hari lho.”Ryota mengangkat tangannya yang masih ditusuk jarum infus. “Cairan ini bisa buat bertahan tanpa makan tiga hari.”“Eh! Jadi kemarin kamu curang?” Elara menatap tajam,
"Alessia menukar nyawanya dengan putrinya." Ryota menatap kedua mata Elara yang masih membulat menatapnya. "Dia berharap aku akan memperlakukan putrinya dengan baik," "Mengapa dia tidak memberikan Anya pada Cavell, tapi pada pria jahat sepertimu?" tanya Elara. Mencoba mengajak Ryota berpikir dari sudut pandang Alessia. Jahat? Kening Ryota mengernyit, mendengar Elara sudah menyebutnya pria yang jahat. Padahal ia belum bercerita. "Karena hingga akhir hayatnya, dia tidak tahu jika bayi yang dilahirkannya adalah hasil hubungannya dengan Cavell, " jawab Ryota. “Kamu adalah papa yang baik buat Anya,” puji Elara, meski ia tidak tahu apa yang pernah dilakukan Ryota pada Alessia hingga membuat mantan istrinya itu putus asa, jatuh dalam depresi, dan akhirnya menyudahi hidupnya. "Aku papa yang baik?" Ryota mempertanyakan penilaian Elara yang menurutnya keliru. "Aku tidak membiarkannya bersama ayah biologisnya." "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Anya bukan milik tuan Cavell. Dia
Begitu tiba di rumah, keduanya melewati pelayan yang menyapa tanpa menjawab. Langkah mereka cepat, seakan ingin segera menutup diri dari dunia luar. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, tak ada kata terucap. Hanya pikiran yang berisik di kepala masing-masing. Bentakan Ryota masih terngiang di telinga Elara. Mungkin ia memang terlalu menekannya. Tapi bagaimana bisa ia tenang, kalau hasil pemeriksaan jaringan sudah jelas menunjukkan sel kanker. Elara melangkah menuju walk-in closet untuk mengganti bajunya, dengan wajahnya yang tetap murung. Ryota yang sejak tadi mengamati Elara akhirnya mengulurkan tangan, meraih lengan istrinya itu. “Maaf…” ucapnya lirih. Elara menoleh, terkejut. “Saya yang harusnya minta maaf, karena terlalu menekan kamu. Saya tidak seharusnya begitu. Kamu juga butuh waktu untuk mencerna apa yang dikatakan dokter." Ryota menatap Elara sejenak, sebelum menarik istrinya itu ke dalam pelukannya. Diam. Hanya debar jantung mereka yang saling bertukar.
Di ruang konsultasi yang tenang, di depan pintu tertera sebuah plakat kecil bertuliskan dr. Wiratama, Sp.PD-KGEH* * Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastroenterologi Hepatologi. Seorang dokter pria paruh baya duduk di balik meja kayu berlapis kaca. Tatapannya bergeser sebentar ke Ryota, lalu ke Elara yang mendampingi suaminya. “Maaf, Pak Ryota,” ucapnya hati-hati, “apakah saya bisa menyampaikan hasil pemeriksaan ini di hadapan istri Anda?” Ryota menyandarkan tubuh ke kursi, senyum tipis muncul di bibirnya. “memangnya hasilnya sepenting apa sampai harus rahasia? Dia boleh dengar apa pun.” Dokter Wiratama mengangguk, kemudian membuka map hasil medical check-up. “Secara umum, banyak hasil Anda baik. Fungsi hati normal, ginjal dalam batas wajar, kadar gula darah stabil, profil kolesterol juga cukup bagus. Secara metabolik, tubuh Anda sehat.” Ia menoleh sejenak pada Ryota, lalu melanjutkan. “Namun, ada dua hasil yang tidak wajar. Hemoglobin Anda turun. Enam bulan lalu nilai







