Share

Bukan Prioritas
Bukan Prioritas
Author: Tasya

Bab 1

Author: Tasya
Dia sudah lupa.

Hari ini adalah hari terakhir masa sewa apartemenku. Hari ini juga, aku akan pindah dan pergi.

Karena dia sudah memilih datang ke sana, biarlah dia tak usah kembali lagi.

….

Saat lift membawaku turun, truk jasa pindahan sudah lebih dulu tiba.

"Nona Safira, kami akan mulai mengangkut barangnya."

Aku mengangguk. Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sakha masuk.

[Kamu ke mana? Jangan keluyuran.]

Aku sedikit tertegun.

Riwayat obrolan kami hampir seluruhnya dipenuhi pesan dariku.

Bukti bahwa selama ini akulah yang selalu lebih dulu menghubunginya.

Kalimat perhatiannya yang tiba-tiba itu membuat jemariku sedikit bergetar.

Namun, baru saja kubuka percakapan kami, pesan berikutnya darinya langsung muncul.

[Coba turun ke toko perkakas dan belikan kunci inggris. Di tempat Winna nggak ada.]

Aku menatap dua baris pesan itu selama beberapa detik.

Rupanya dia bukan tiba-tiba sadar aku tidak mengikutinya. Dia baru menyadari aku tidak ada di sisinya saat ingin menyuruhku melakukan sesuatu.

Saat kugulir riwayat percakapan kami ke atas, hampir semua pesannya selalu berkaitan dengan Winna.

[Kasih saja set perawatan kulit yang dulu dibawakan rekan kerjamu dari luar negeri itu ke Winna. Nanti aku belikan yang baru buatmu.]

[Winna bilang dia kepingin makan susyi. Nanti setelah kamu pulang kerja kita makan sama-sama. Aku sudah reservasi.]

Setiap pesan yang dikirim Sakha kepadaku selalu berupa pernyataan.

Semua keputusan sudah dia buat sendiri, dan tak sekali pun dia terpikir untuk meminta pendapatku.

Pesan terakhir yang masih kuingat adalah saat hujan deras beberapa hari lalu. Waktu itu aku menghubunginya dan bertanya apakah dia bisa menjemputku.

Dia hanya menjawab, [Aku sudah sampai rumah. Pulang saja naik taksi.]

Namun tak lama kemudian, Winna mengunggah foto di media sosialnya.

Sebuah payung dimiringkan untuk melindunginya saat dia masuk ke kursi penumpang depan.

[Hampir saja kehujanan. Untung ada pahlawan yang datang menyelamatkan.]

Interior mobil itu sangat kukenal.

Dulu aku selalu berpikir, Sakha adalah pacarku, sedangkan Winna adalah sahabat terbaikku. Hubungan mereka yang akrab seharusnya membuatku ikut senang.

Namun, semua kesabaranku hanya membuat Sakha kian menjadi-jadi.

Kali ini, aku tidak membalas pesannya.

Saat sedang membereskan barang-barang di kamar, Sakha kembali mengirim pesan.

[Kenapa belum pulang juga? Winna bilang dia kepingin makan pasta, jadi aku pergi duluan sama dia.]

[Nanti kamu nyusul saja sendiri.]

Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.

Padahal kami sudah berjanji akan makan bersama.

Namun, setiap kali aku terlambat sedikit saja karena pekerjaan atau terjebak macet, yang tersisa untukku hanyalah makanan yang sudah dingin.

Menghadapi kekecewaanku, Sakha hanya bersikap acuh.

"Lambung Winna memang sensitif, jadi dia makan duluan. Cuma jadi agak dingin sedikit, rasanya juga masih enak. Jangan dibesar-besarin."

Jangan banyak tingkah.

Saat pipa air di apartemenku pecah hingga rumah berantakan, aku meneleponnya meminta bantuan.

Jawabannya juga sama. "Mana sempat aku bantuin kamu? Cari tukang saja sendiri. Jangan banyak tingkah."

Sejak hari itu, aku mencuci gorden sendiri, mengganti bohlam sendiri, dan perlahan belajar untuk tidak lagi bergantung padanya.

Namun di hadapan Winna, Sakha selalu menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda.

"Kamu perempuan, nggak perlu selalu maksain diri. Mulai sekarang kalau ada apa-apa biar aku bantu. Lagi pula kamu tinggal dekat Safira, sekalian saja."

Aku benar-benar tidak mengerti.

Mengapa saat dia membantuku sebagai pacarnya, semuanya dianggap merepotkan, sedangkan membantu Winna selalu disebut sekalian?

Aku menelan pahit di dalam hati, lalu membalas pesannya. [Kalian makan saja. Aku masih ada urusan.]

Setelah sekian lama, barulah dia membalas.

[Masih ngambek juga? Safira, kita ini sudah sama-sama dewasa. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan.]

Memang dulu aku pernah membuat keributan.

Musim hujan tahun lalu, aku demam hingga tiga puluh sembilan derajat. Seluruh tubuhku menggigil, jadi aku meneleponnya dan memintanya mengantarkan obat.

Ternyata dia sedang berada di rumah Winna. Katanya, Winna sampai tak bisa bangun dari tempat tidur karena nyeri haid, jadi Sakha sedang merebus Wedang Jahe untuknya.

Aku bilang aku juga sedang tidak enak badan. Dia terdiam selama dua detik, lalu berkata, "Kalau kamu masih bisa nelepon, berarti nggak separah itu, 'kan?"

"Pesan saja lewat layanan antar. Dua puluh menit juga sampai. Tahan sedikit."

Saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa sudah tidak sanggup bertahan lagi.

Jelas-jelas aku pacarnya, tapi aku tak pernah menjadi proritasnya.

Aku pun memilih untuk putus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia justru lebih dulu memblokir semua kontakku.

Dia tahu aku terlalu mencintainya. Dia tahu aku tidak akan sanggup melepaskannya.

Karena itu dia membiarkanku menangis selama dua hari, sampai air mataku benar-benar habis.

Barulah kemudian Winna mengajakku makan bersama.

Dengan bodohnya, aku memilih untuk kembali berdamai dengan Sakha.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meributkan hubungan kami.

Namun kali ini berbeda.

Aku tidak sedang ngambek. Aku benar-benar serius.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Prioritas   Bab 9

    Sejak saat itu, hubunganku dengan mereka benar-benar berakhir.Aku tak perlu lagi menebak-nebak hubungan mereka, juga tak perlu terus terjebak dalam pergulatan batin yang menguras diriku.Hidup kembali tenang, dan aku mulai mencurahkan seluruh tenagaku pada pekerjaan.Proyek yang kuselesaikan sebelumnya berhasil melewati tahap serah terima dengan sangat baik. Klien pun merasa sangat puas.Perusahaan memberiku bonus sebagai bentuk penghargaan. Jumlahnya bahkan jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.Setelah rapat selesai, atasan menatapku sambil tersenyum."Di kantor cabang sedang ada posisi supervisor yang kosong. Safira, kamu tertarik nggak?"Aku tertegun sejenak, belum langsung memahami maksudnya."Bukan sekarang. Keputusannya baru akan dibuat setelah Tahun Baru," kata atasan sambil melambaikan tangan. "Pikirkan dulu baik-baik. Nggak perlu buru-buru menjawab."Pengakuan yang kudapat dari pekerjaanku memberiku rasa tenang dan kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Saat p

  • Bukan Prioritas   Bab 8

    Setelah hari itu, Sakha tidak pernah lagi menghubungiku ataupun datang mencariku.Aku dengar dia mengajukan diri untuk penugasan ke luar kota, ke sebuah kota yang jauh di wilayah utara.Seorang teman meneleponku dengan nada takjub."Katanya dia sendiri yang ngajuin permohonan itu. Sudah berapa orang mencoba bujuk dia, tapi dia tetap nggak mau berubah pikiran. Padahal begitu banyak proyek yang sedang dia tangani, semuanya langsung ditinggalin begitu saja. Safira ... apa ini karena kamu?"Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pembicaraan.Ada hubungannya atau tidak, semua itu sudah tidak penting lagi.Mulai sekarang kami akan menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda, tanpa saling berkaitan lagi. Mungkin memang itulah akhir terbaik bagi kami.Tak lama kemudian, aku juga mendengar kabar tentang Winna.Tidak lama setelah aku putus dengan Sakha, dia menyatakan perasaannya kepada pria itu.Namun Sakha justru bersikap sangat dingin, bahkan terus terang berk

  • Bukan Prioritas   Bab 7

    Setibanya kembali di Kota Naraya, baru saja pesawat mendarat, aku langsung menerima telepon dari rekan kerjaku."Halo, Kak Safira. Syukurlah akhirnya Kakak ngangkat telepon.""Ada orang yang mengaku sebagai pacar Kakak. Dia sudah duduk di ruang tamu sejak pagi dan tetap nggak mau pergi meski sudah kami bujuk berkali-kali."Setibanya di kantor, Sakha masih duduk di ruang tamu.Baru beberapa hari tidak bertemu, dia sudah tampak jauh lebih kuyu.Kemejanya kusut, dagunya dipenuhi janggut tipis yang mulai tumbuh, dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. Sorot matanya seketika berbinar."Safira ... kamu sudah pulang."Demi menghindari keributan di kantor, aku mengajaknya ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari sana.Setelah kami duduk berhadapan, Sakha akhirnya membuka percakapan dengan suara pelan."Safira, kamu pindah rumah. Kenapa nggak ngabarin aku?"Aku memotong ucapannya dengan tenang, "Sakha, kita sudah putus.""Putus?" Dia meng

  • Bukan Prioritas   Bab 6

    Setelah pindah rumah, hidupku menjadi jauh lebih tenang.Dulu, demi menyesuaikan jadwal Sakha, aku selalu mengesampingkan urusanku sendiri.Dinas luar kutolak, pelatihan kutolak, bahkan acara kumpul dengan teman-teman pun selalu kutolak.Setiap kali atasan bertanya siapa yang bersedia ditugaskan ke luar kota, aku hanya menundukkan kepala dan tak pernah berani mengajukan diri.Lama-kelamaan semua orang di kantor tahu. "Yang paling penting dalam hidup Safira itu memang cuma pacarnya."Aku mengosongkan seluruh waktuku agar kapan pun Sakha memanggil, aku selalu bisa datang.Namun sekarang berbeda. Yang perlu kupikirkan hanyalah diriku sendiri. Aku tak perlu lagi memusatkan hidupku pada dirinya.Hari itu, di dalam rapat, atasan kembali bertanya, "Minggu depan ada proyek di Kota Bestara. Siapa yang bersedia berangkat?"Ruang rapat langsung hening. Semua orang menundukkan kepala, menghindari tatapan atasan.Minggu depan kebetulan bertepatan dengan Hari Valentine, jadi tak seorang pun ingin be

  • Bukan Prioritas   Bab 5

    Mendengar ucapan tetangganya, Sakha langsung terpaku.Pindah rumah?Tapi kenapa Safira tidak pernah memberitahunya?Entah kenapa, kegelisahan tiba-tiba memenuhi dada Sakha.Dia segera mengeluarkan ponsel. Dengan jemari yang sedikit gemetar, dia mengirim pesan kepada Safira.[Safira, kamu pindah rumah?]Tapi pesan itu cuma berhenti di satu centang abu-abu. Nggak pernah berubah jadi dua.Dia buru-buru menelepon, dan baru menyadari kalau nomornya juga sudah diblokir.Tiba-tiba terdengar suara pintu lift terbuka.Winna menghampiri sambil berkata lembut, "Kak Sakha, Safira masih marah, ya? Gimana kalau kamu naik dulu ke apartemenku dan istirahat sebentar?"Biasanya, dalam situasi seperti ini, Sakha selalu menganggap Safira yang kekanak-kanakan, sedangkan Winna jauh lebih pengertian.Namun hari ini, entah mengapa suara Winna justru terdengar begitu mengusik telinganya."Nggak." Sakha mengernyit. Suaranya terdengar serak. "Safira sudah pindah rumah, tapi nggak ada yang ngasih tahu aku. Kamu t

  • Bukan Prioritas   Bab 4

    Beberapa hari kemudian, Sakha kembali mengirimkan sebuah alamat kepadaku.[Ibuku ngundang kamu makan bersama. Sekalian membahas soal pernikahan kita.]Berkali-kali aku mengetik balasan, lalu menghapusnya lagi. Setelah lama ragu, akhirnya aku hanya membalas singkat.[Baik.]Meskipun kami sudah memutuskan untuk berpisah, aku tetap merasa harus menjelaskannya langsung kepada orang tuanya.Bagaimanapun juga, selama tujuh tahun berpacaran, Ibu Sakha selalu bersikap baik kepadaku.Saat memasuki ruang VIP, beliau sudah lebih dulu tiba.Kami berbasa-basi sejenak sebelum Sakha datang terlambat bersama Winna."Bu, Winna ini rekan kerja dari perusahaan sebelah, sekaligus sahabat Safira. Kebetulan restoran ini dekat dari kantor, jadi sekalian aku ajak makan bersama."Ibu Sakha berdeham pelan. Raut wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak senang.Namun, Sakha seolah tidak menyadarinya. Dia langsung mengambil buku menu dan mulai memesan makanan.Dia memilih berbagai hidangan dan baru kusadari, semuanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status