INICIAR SESIÓNLangkah kaki Amira terasa sedikit berat ketika menyusuri tangga marmer menuju lantai dasar.
Rasa ngilu di bagian bawah tubuhnya masih tersisa, menjadi jejak nyata dari pergulatan panas yang ia lalui di balik kegelapan. Namun, ketika langkahnya sampai di ambang pintu ruang makan, senyum itu perlahan memudar. Atmosfer di ruangan besar itu terasa begitu janggal. Suasana hening dan kaku menyelimuti meja makan panjang berbahan kayu jati mahal. Tatapan Amira seketika terkunci pada dua sosok pria berjas rapi yang duduk saling berhadapan. Pria pertama adalah Arthur. Suaminya itu tengah menyesap kopi hitam dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca, memegang koran pagi tanpa ada sedikitpun ekspresi. Sementara pria kedua—sosok yang duduk membelakangi pintu masuk—memiliki postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dengan bahu yang lebih lebar. Pria itu tampak begitu tegap, memancarkan aura dominan yang dingin dan mengintimidasi bahkan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Arthur menoleh, lalu meletakkan cangkir kopinya ke atas lepek marmer. "Duduklah, aku sudah menunggumu hampir satu jam." Suara Arthur datar, tanpa ada nada hangat dari seorang pria yang baru saja melewati malam pertama bersama istrinya. Amira menelan saliva, merasakan sengatan kecewa yang makin mencubit dadanya. "Maaf ... " bisik Amira pelan seraya melangkah mendekati meja makan. Pria asing di hadapan Arthur mendadak menegangkan punggung. Gerakannya begitu halus, tetapi Amira sempat menangkap bagaimana buku-buku jari pria itu menegang kuat di atas meja saat mendengar suaranya. "Amira, kenalkan," Arthur memberi jeda, mengibaskan tangannya santai ke arah pria di depannya. "Maxime, ini Amira, istriku." Pria bernama Maxime itu perlahan memutar kepalanya. Mata Amira membelalak. Pandangan mereka beradu secara langsung. Pria itu memiliki rahang tegas yang dihiasi bayangan tipis rambut halus, hidung mancung yang sempurna, serta sepasang bola mata tajam berwarna coklat gelap yang kini menatap Amira tanpa berkedip. Ada kilat asing di balik manik mata itu, namun entah apa Amira tidak bisa menjelaskannya. Jantung Amira berdesir hebat. Tatapan itu, auranya, terasa begitu membakar sekaligus tak asing. Seolah ada bagian dari dirinya yang secara instingtif mengenali intensitas pria tersebut. "Maxime?" bisik Amira tanpa sadar, suaranya nyaris tenggelam oleh desakan bingung di dadanya. "Dia kakakku," potong Arthur santai sambil menyendok sarapannya. "Maxime Wilson. Dia baru saja kembali dari luar negeri tadi malam untuk mengurus beberapa aset keluarga. Kau belum sempat bertemu dengannya kemarin karena dia berhalangan hadir di pesta pernikahan kita." Maxime tetap bergeming. Ia memandangi Amira dari ujung kepala hingga ujung kaki, mengamati gaun yang melekat di tubuh wanita itu, sebelum akhirnya tatapannya berhenti tepat di ceruk leher Amira—tempat di mana bercak kemerahan samar tersembunyi di balik kerah bajunya. "Selamat atas pernikahan kalian," suara Maxime akhirnya terdengar. Seketika, seluruh tubuh Amira merinding hebat. Darahnya seolah berhenti mengalir. Suara itu… Amira mengepalkan jarinya di samping gaun, matanya menatap Maxime dengan tatapan tak percaya. "K-kita ... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya ragu, mencoba menatap lebih dalam ke balik iris mata dingin milik Maxime. Maxime menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum misterius yang hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dada Amira bergemuruh hebat. "Mungkin di dalam mimpimu," sahut Maxime, lalu meneguk air putihnya dengan gerakan setenang mungkin. "Sebab aku yakin, ini adalah pertama kalinya aku melihatmu secara langsung." Amira berdiri terpaku di tempatnya. Logikanya menjerit bahwa pria di hadapannya adalah orang asing, kakak iparnya sendiri. “Amira. Berhenti menatapnya.” Suara Arthur terdengar dingin, nyaris seperti perintah yang tidak memberi ruang untuk dibantah. Tatapannya bergeser sekilas kepada Maxime sebelum kembali mengunci wajah istrinya. “Mulai hari ini, Maxime akan tinggal disini selama aku pergi.”Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t
Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu
“Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me
Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat
Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati
“M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l







