Share

BAB 2

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-09-18 00:11:02

Langkah kaki Amira terasa sedikit berat ketika menyusuri tangga marmer menuju lantai dasar. 

Rasa ngilu di bagian bawah tubuhnya masih tersisa, menjadi jejak nyata dari pergulatan panas yang ia lalui di balik kegelapan. 

Namun, ketika langkahnya sampai di ambang pintu ruang makan, senyum itu perlahan memudar.

Atmosfer di ruangan besar itu terasa begitu janggal. Suasana hening dan kaku menyelimuti meja makan panjang berbahan kayu jati mahal. Tatapan Amira seketika terkunci pada dua sosok pria berjas rapi yang duduk saling berhadapan.

Pria pertama adalah Arthur. Suaminya itu tengah menyesap kopi hitam dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca, memegang koran pagi tanpa ada sedikitpun ekspresi.

Sementara pria kedua—sosok yang duduk membelakangi pintu masuk—memiliki postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dengan bahu yang lebih lebar. 

Pria itu tampak begitu tegap, memancarkan aura dominan yang dingin dan mengintimidasi bahkan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Arthur menoleh, lalu meletakkan cangkir kopinya ke atas lepek marmer. "Duduklah, aku sudah menunggumu hampir satu jam."

Suara Arthur datar, tanpa ada nada hangat dari seorang pria yang baru saja melewati malam pertama bersama istrinya. Amira menelan saliva, merasakan sengatan kecewa yang makin mencubit dadanya.

"Maaf ... " bisik Amira pelan seraya melangkah mendekati meja makan.

Pria asing di hadapan Arthur mendadak menegangkan punggung. 

Gerakannya begitu halus, tetapi Amira sempat menangkap bagaimana buku-buku jari pria itu menegang kuat di atas meja saat mendengar suaranya.

"Amira, kenalkan," Arthur memberi jeda, mengibaskan tangannya santai ke arah pria di depannya. "Maxime, ini Amira, istriku."

Pria bernama Maxime itu perlahan memutar kepalanya.

Mata Amira membelalak. Pandangan mereka beradu secara langsung. Pria itu memiliki rahang tegas yang dihiasi bayangan tipis rambut halus, hidung mancung yang sempurna, serta sepasang bola mata tajam berwarna coklat gelap yang kini menatap Amira tanpa berkedip.

Ada kilat asing di balik manik mata itu, namun entah apa Amira tidak bisa menjelaskannya.

Jantung Amira berdesir hebat. Tatapan itu, auranya, terasa begitu membakar sekaligus tak asing. Seolah ada bagian dari dirinya yang secara instingtif mengenali intensitas pria tersebut.

"Maxime?" bisik Amira tanpa sadar, suaranya nyaris tenggelam oleh desakan bingung di dadanya.

"Dia kakakku," potong Arthur santai sambil menyendok sarapannya. 

"Maxime Wilson. Dia baru saja kembali dari luar negeri tadi malam untuk mengurus beberapa aset keluarga. Kau belum sempat bertemu dengannya kemarin karena dia berhalangan hadir di pesta pernikahan kita."

Maxime tetap bergeming. Ia memandangi Amira dari ujung kepala hingga ujung kaki, mengamati gaun yang melekat di tubuh wanita itu, sebelum akhirnya tatapannya berhenti tepat di ceruk leher Amira—tempat di mana bercak kemerahan samar tersembunyi di balik kerah bajunya.

"Selamat atas pernikahan kalian," suara Maxime akhirnya terdengar.

Seketika, seluruh tubuh Amira merinding hebat. 

Darahnya seolah berhenti mengalir. 

Suara itu…

Amira mengepalkan jarinya di samping gaun, matanya menatap Maxime dengan tatapan tak percaya. 

Apa… mereka pernah bertemu?

Maxime menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum misterius yang hampir tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dada Amira bergemuruh hebat.

Amira berdiri terpaku di tempatnya. Logikanya menjerit bahwa pria di hadapannya adalah orang asing, kakak iparnya sendiri. 

Tapi kenapa rasanya pernah begitu dekat?

“Amira. Berhenti menatapnya.” Suara Arthur terdengar dingin, nyaris seperti perintah yang tidak memberi ruang untuk dibantah. Tatapannya bergeser sekilas kepada Maxime sebelum kembali mengunci wajah istrinya.  “Mulai hari ini, Maxime akan tinggal disini selama aku akan pergi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (66)
goodnovel comment avatar
Ugik Kph
curiga yang semalam bersama Amira adalah Maxime
goodnovel comment avatar
Eda Eunbie
ini gimana konsepnya sih Arthur, masa istri sendiri malah di biarin tinggal bareng sama kakak Lo sih
goodnovel comment avatar
Eda Eunbie
yang unboxing Amira kayaknya Maxime deh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 134

    Berto masih berdiri dengan rahang mengeras. Amarahnya tampak semakin sulit dikendalikan setelah mendengar kemungkinan bahwa putri mereka berada bersama Maxime. Sementara itu, Arthur tetap duduk dengan tenang, seolah kedatangannya malam ini semata-mata untuk mencari bantuan."Tenanglah, Ayah. Kita belum memiliki bukti apa pun.""Bagaimana aku bisa tenang? Jika benar Maxime membawa Amira pergi, itu berarti dia telah mempermainkan keluarga kita!"Theresia yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Arthur, bukankah selama ini Maxime sering membantu Amira? Ibu pernah melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan Amira dengan baik."Arthur menoleh kepada ibu mertuanya."Justru itu yang membuatku khawatir, Bu. Maxime bukan orang yang mudah menunjukkan niat sebenarnya."Berto mengembuskan napas kasar. "Aku tidak menyangka dia bisa bertindak sejauh ini."Arthur menundukkan kepala. Ia tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kedua mertuanya sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan yang se

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 133

    Arthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 132

    “Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 131

    Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 130

    “Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 129

    [Max, perutku sakit. Ada bercak merah yang keluar, mirip darah. Aku takut.]Baru saja Maxime hendak melangkah menuju area parkir, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika membuat pria itu menghentikan langkah. Tatapannya terpaku pada layar, membaca pesan dari Amira berulang kali seolah berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Jemarinya bahkan mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Bercak merah?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu untuk membalas pesan itu, Maxime langsung menekan tombol panggilan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan percakapan melalui pesan, terlebih ketika menyangkut kondisi Amira dan bayi yang dikandung wanita tersebut.“Sekarang kau di mana?” tanyanya begitu panggilan tersambung.“Di rumah.”“Kau sendirian?” Kedua alis Maxime langsung bertaut.“Ya. Bibi pulang lebih awal karena putrinya masih sakit,” jelas Amira dari seberang telepon.Maxime mengembuskan napas berat. Ia melirik arlojinya, kemudian mengalihkan pandangan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status