로그인“M–Maksudnya?”
Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi kepada Amira. Suara langkah mereka terdengar semakin jauh hingga akhirnya pintu utama mansion tertutup. Amira masih duduk diam. Entah mengapa, kepergian Maxime justru meninggalkan keganjilan yang jauh lebih besar daripada saat pria itu berada di hadapannya. Ia menundukkan wajah, mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Maxime. Mungkin mereka belum pernah bertemu. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa Amira pungkiri—suara pria itu … mengapa terasa familiar? Di sisi lain, kepala pelayan mulai membereskan meja makan. Piring-piring kosong diangkat satu per satu, sementara cangkir kopi Arthur dipindahkan ke atas nampan. Amira memperhatikan wanita paruh baya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. “Bi?” “Ya, Nyonya, ada apa?” jawab kepala pelayan itu dengan kepala tertunduk dalam. “Apa Tuan Maxime pernah datang ke mansion ini sebelumnya?” Gerakan tangan kepala pelayan itu terhenti. Wanita tersebut menoleh kepada Amira dengan tatapan sedikit terkejut. “Kenapa Nyonya bertanya begitu?” Amira berusaha tersenyum. “Aku hanya merasa seperti pernah mendengar namanya.” Kepala pelayan itu terdiam beberapa saat, seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut pantas dijawab atau tidak. “Kalau soal Tuan Maxime .…” Ia menarik napas pelan. “Dulu dia memang tinggal di mansion ini.” Amira langsung menegakkan tubuh. “Dulu?” “Ya, Nyonya. Sekitar tujuh tahun yang lalu." Pelayan itu kembali menimpali. Jantung Amira berdetak sedikit lebih cepat. “Bersama Arthur?” Kepala pelayan mengangguk. “Tentu. Waktu itu Tuan Maxime memang tinggal di sini bersama Tuan Arthur." “Lalu kenapa pergi?” Pertanyaan itu membuat kepala pelayan kembali terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan wanita tersebut yang membuat Amira merasa bahwa kisah itu bukan sekadar tentang seseorang yang memilih pindah rumah. “Setelah Nyonya Besar meninggal,” jawabnya akhirnya, “Tuan Maxime tiba-tiba pergi.” Amira terdiam. Ia tahu jika ibu Arthur sudah meninggal. Namun wanita itu baru tahu bahwa sang suami memiliki seorang kakak. Selama bertahun-tahun mengenal pria itu, tidak pernah sekalipun Arthur bercerita tentang keluarganya secara mendalam. Bahkan mengenai Maxime pun, tidak pernah ada satu nama pun yang disebut. Jawaban itu justru membuat rasa ingin tahu Amira semakin besar. “Bukankah dia tinggal di sini selama bertahun-tahun?” Kepala pelayan menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum menjawab. “Yang saya tahu, Tuan Maxime memilih tinggal di luar negeri. Kabarnya beliau mengurus beberapa perusahaan keluarga dan aset di sana dan tidak pernah pulang.” Pelayan itu mengangguk. Amira menatap meja di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu terasa begitu jauh, tetapi anehnya justru membuat pikirannya semakin tidak tenang. “Kalau begitu .…” Amira mengangkat wajah. “Semalam dia baru kembali?” “Ya, Tuan Maxime baru kembali semalam.” “Lalu ... apa lagi yang kau tahu?” Kepala pelayan tiba-tiba menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak ada, Nyonya.” Wajahnya berubah sedikit bingung. “Hanya yang saya dengar, Tuan Maxime pulang dalam keadaan mabuk.” Amira terdiam, ada sesuatu yang terasa janggal. Pria itu … mabuk?“Kau tahu kamar Tuan Maxime sebelah mana?”
Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t
Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu
“Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me
Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat
Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati
“M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l







