Share

BAB 3

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-09-18 00:12:35

“M–Maksudnya?”

Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya.

Kenapa sehari setelah pernikahannya, suaminya rela meninggalkannya berdua?

Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring.

Amira mengangkat wajah. “Sekarang?”

“Ya, aku harus pergi hari ini.”

“Tapi kau baru saja—”

“Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini."

Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan.

Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya.

Bahkan, Arthur yang meminta dirinya berhenti mengurus butik keluarganya karena jarak mansion keluarga Wilson cukup jauh dengan pusat kota. Dan kini pria itu … bekerja? Sehari setelah pernikahan?

Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.”

Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh.

Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi kepada Amira. Suara langkah mereka terdengar semakin jauh hingga akhirnya pintu utama mansion tertutup.

Amira masih duduk diam.

Entah mengapa, kepergian Maxime justru meninggalkan keganjilan yang jauh lebih besar daripada saat pria itu berada di hadapannya.

Ia menundukkan wajah, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Mungkin benar. Mungkin mereka belum pernah bertemu.

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa Amira pungkiri—suara pria itu … mengapa terasa familiar?

Di sisi lain, kepala pelayan mulai membereskan meja makan. Piring-piring kosong diangkat satu per satu, sementara cangkir kopi Arthur dipindahkan ke atas nampan.

Amira memperhatikan wanita paruh baya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. “Bi?”

“Ya, Nyonya, ada apa?” jawab kepala pelayan itu dengan kepala tertunduk dalam.

“Apa Tuan Maxime pernah datang ke mansion ini sebelumnya?”

Gerakan tangan kepala pelayan itu terhenti. Wanita tersebut menoleh kepada Amira dengan tatapan sedikit terkejut. “Kenapa Nyonya bertanya begitu?”

Amira berusaha tersenyum. “Aku hanya merasa seperti pernah mendengar namanya.”

Kepala pelayan itu terdiam beberapa saat, seolah sedang menimbang apakah pertanyaan tersebut pantas dijawab atau tidak.

“Kalau soal Tuan Maxime .…” Ia menarik napas pelan. “Dulu dia memang tinggal di mansion ini.”

Amira langsung menegakkan tubuh. “Dulu?”

“Ya, Nyonya. Sekitar tujuh tahun yang lalu." Pelayan itu kembali menimpali. “Sebelum Nyonya besar meninggal dunia.”

Jantung Amira berdetak sedikit lebih cepat. Ia memang tahu bahwa ibu Arthur baru meninggal setahun lalu.

Tapi dalam anggukannya, Amira berhenti.

“Tujuh tahun lalu?” ujarnya memastikan.

Kepala pelayan mengangguk. “Betul, Nyonya.”

“Lalu kenapa pergi?”

Pertanyaan itu membuat kepala pelayan kembali terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan wanita tersebut yang membuat Amira merasa bahwa kisah itu bukan sekadar tentang seseorang yang memilih pindah rumah.

“Setelah Nyonya Besar meninggal,” jawabnya akhirnya, “Tuan Maxime diarahkan pergi dari mansion ini.”

Pantas saja, pria itu tidak pernah memberitahunya. Bahkan mengenai Maxime pun, tidak pernah ada satu nama pun yang disebut.

Jawaban itu justru membuat rasa ingin tahu Amira semakin besar. “Bukankah dia tinggal di sini selama bertahun-tahun?”

Kepala pelayan menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum menjawab. “Yang saya tahu, Tuan Maxime memilih tinggal di luar negeri. Kabarnya beliau mengurus beberapa perusahaan keluarga dan aset di sana dan tidak pernah pulang.”

Pelayan itu mengangguk.

Amira menatap meja di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu terasa begitu jauh, tetapi anehnya justru membuat pikirannya semakin tidak tenang jika mengaitkan dengan pasca satu tahun ibunya Arthur meninggal.

“Kalau begitu .…” Amira mengangkat wajah. “Semalam dia baru kembali?”

“Ya, Tuan Maxime baru kembali semalam.”

“Lalu ... apa lagi yang kau tahu?”

Kepala pelayan tiba-tiba menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Tidak ada, Nyonya.” Wajahnya berubah sedikit bingung. “Hanya yang saya dengar, Tuan Maxime pulang dalam keadaan mabuk.”

Amira terdiam, ada sesuatu yang terasa janggal. Pria itu … mabuk?

“Kau tahu kamar Tuan Maxime sebelah mana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (54)
goodnovel comment avatar
Ugik Kph
mungkinkah Maxime salah masuk kamar karena mabuk
goodnovel comment avatar
tyas🍦🍫
fix deh yang beh duren sama Amira tuh maxim
goodnovel comment avatar
Muji Lestari
nah kan bener ini yang sama Amira semalem si Maxime...tapi Maxim mabuk...jadi Maxime gak inget kejadian semalem dong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 134

    Berto masih berdiri dengan rahang mengeras. Amarahnya tampak semakin sulit dikendalikan setelah mendengar kemungkinan bahwa putri mereka berada bersama Maxime. Sementara itu, Arthur tetap duduk dengan tenang, seolah kedatangannya malam ini semata-mata untuk mencari bantuan."Tenanglah, Ayah. Kita belum memiliki bukti apa pun.""Bagaimana aku bisa tenang? Jika benar Maxime membawa Amira pergi, itu berarti dia telah mempermainkan keluarga kita!"Theresia yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Arthur, bukankah selama ini Maxime sering membantu Amira? Ibu pernah melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan Amira dengan baik."Arthur menoleh kepada ibu mertuanya."Justru itu yang membuatku khawatir, Bu. Maxime bukan orang yang mudah menunjukkan niat sebenarnya."Berto mengembuskan napas kasar. "Aku tidak menyangka dia bisa bertindak sejauh ini."Arthur menundukkan kepala. Ia tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kedua mertuanya sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan yang se

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 133

    Arthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 132

    “Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 131

    Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 130

    “Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 129

    [Max, perutku sakit. Ada bercak merah yang keluar, mirip darah. Aku takut.]Baru saja Maxime hendak melangkah menuju area parkir, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika membuat pria itu menghentikan langkah. Tatapannya terpaku pada layar, membaca pesan dari Amira berulang kali seolah berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Jemarinya bahkan mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Bercak merah?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu untuk membalas pesan itu, Maxime langsung menekan tombol panggilan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan percakapan melalui pesan, terlebih ketika menyangkut kondisi Amira dan bayi yang dikandung wanita tersebut.“Sekarang kau di mana?” tanyanya begitu panggilan tersambung.“Di rumah.”“Kau sendirian?” Kedua alis Maxime langsung bertaut.“Ya. Bibi pulang lebih awal karena putrinya masih sakit,” jelas Amira dari seberang telepon.Maxime mengembuskan napas berat. Ia melirik arlojinya, kemudian mengalihkan pandangan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status