ANMELDEN
Amira Amber seharusnya menjadi perempuan paling bahagia malam ini.
Beberapa jam lalu, ia resmi menjadi istri Arthur Wilson—pria yang telah dicintainya selama tiga tahun. Pria itu berdiri di hadapannya dalam setelan pengantin hitam, mengucapkan janji pernikahan dengan tenang, lalu menyematkan cincin ke jari manisnya di depan keluarga mereka.
Namun, mengapa hanya Amira yang terlihat bahagia?
Bahkan sebelum pesta selesai, Arthur sudah meninggalkannya dengan alasan pekerjaan. Tidak ada penjelasan panjang ataupun pelukan perpisahan. Seorang pelayan hanya menyampaikan bahwa Amira diminta pulang lebih dahulu ke mansion keluarga Wilson.
Kini, masih mengenakan gaun pengantin, Amira berdiri di depan rumah besar yang seharusnya menjadi rumahnya juga mulai malam ini.
“Selamat datang, Nyonya Amira.” Seorang pelayan paruh baya membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. “Mari, saya antar ke kamar yang sudah disiapkan.”
Amira mengikuti langkahnya melewati aula luas yang hanya diterangi beberapa lampu dinding. Mansion itu terlihat megah dari luar, tetapi lorong-lorong di dalamnya terasa remang dan dingin.
“Di mana suamiku, Bi?” Amira akhirnya bertanya setelah tidak melihat keberadaan Arthur di mana pun.
Pelayan tersebut memperlambat langkah sebelum menundukkan kepala. “Tuan Arthur masih menyelesaikan urusan pekerjaan. Beliau mengatakan akan menyusul.”
“Pekerjaan?”
Amira mengulang kata itu sambil tersenyum tipis. Entah mengapa, kata tersebut terdengar begitu menyakitkan ketika diucapkan pada malam pertama pernikahan mereka.
“Ya, Nyonya," jawab pelayan paruh baya itu dengan nada datar.
Amira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk dan mulai mengikuti pelayan tersebut melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan mahal. Bunyi hak sepatunya terdengar samar di atas lantai marmer, sementara ujung gaun pengantin haute couture yang membungkus tubuhnya sesekali bergesekan dengan lantai.
Sejak pertama kali melihat desainnya, Amira sudah membayangkan bagaimana Arthur akan menatapnya ketika mereka akhirnya berdua saja setelah pesta berakhir.
Namun nyatanya pria itu bahkan tidak ada di sana.“Nyonya. Ada satu pesan lagi dari Tuan Arthur.” ujar pelayan berhenti di lorong.Amira mengangkat wajah.
“Beliau tidak menyukai cahaya ketika tidur. Jadi, apabila Nyonya hendak beristirahat, seluruh lampu di kamar sebaiknya dimatikan.”Amira mengernyit kecil. “Sejak kapan?”“Sudah lama, Nyonya. Tuan Arthur memang selalu tidur dalam keadaan gelap.” tambahnya.Jawaban itu terdengar ganjil. Namun, rasa lelah membuat Amira tidak ingin memperpanjang percakapan saat pelayan pamit sebelum dirinya masuk ke kamar.
Ia berdiri di tengah kamar sambil memandangi ruangan yang begitu luas.Ranjang besar berada di tengah kamar dengan kepala ranjang berbahan kayu gelap, sementara sebuah sofa panjang terletak di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion.Semuanya tampak sempurna, hanya saja, tidak ada Arthur di dalamnya.
Amira berjalan perlahan menuju nakas dan menemukan sebuah pigura kecil yang menampilkan foto suaminya. Ia mengambil benda itu lalu menatap wajah Arthur yang tampak begitu tenang di dalam foto.Senyum kecil terbit di bibirnya, tetapi senyum itu lebih menyerupai usaha untuk menghibur dirinya sendiri.Ia mengembalikan pigura tersebut ke tempatnya, kemudian duduk di tepi ranjang sambil memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.Selama tiga tahun terakhir, ia menunggu hari ini. Sampai pukul dua dini hari, pintu kamar terbuka perlahan.Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu, kemudian semakin mendekat ke arah ranjang.Amira yang masih terlelap bergerak kecil ketika kasur di sampingnya perlahan amblas, membuat kesadarannya kembali sedikit demi sedikit.Ia mengerjapkan mata dalam kegelapan.“Arthur?”
Tidak ada jawaban untuk beberapa detik.Seketika rasa kantuk Amira berkurang. Senyum kecil muncul di wajahnya ketika ia menyadari bahwa suaminya akhirnya pulang.“Kau baru pulang?”“Mm.” Hanya suara itu yang terdengar oleh Amira.Wanita itu menggeser tubuhnya sedikit, lalu menatap sosok di sampingnya meskipun wajah pria itu hampir tidak terlihat dalam gelap.
“Aku menunggumu, kukira kau tidak akan pulang."Pria itu tidak lagi bersuara. Tangannya perlahan terangkat dan menyentuh rambut Amira. Sentuhan tersebut terasa berbeda dari biasanya, seolah ada keraguan yang disembunyikan di balik gerakannya.Namun, Amira tidak memikirkannya terlalu jauh.Malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri. Mungkin Arthur hanya berusaha menunjukkan sisi dirinya yang selama ini tidak pernah ia lihat.“Arthur,” panggil Amira pelan saat pria itu menyentuh pinggangnya.Di bawah kungkungan, rasa lelah dan kerinduan yang mendalam, ia tidak menemukan satupun alasan untuk menaruh curiga.Amira mengangguk pelan dalam gelap, menyerahkan seluruh kendalinya.Seiring terucapnya kata itu, keheningan merayap cepat, menyapu sisa-sisa suara di udara.Pria di atasnya tak lagi menyahut. Tak ada satu pun kata yang lolos dari bibirnya.Keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih intens dan pekat.Ia menarik napas panjang—berat dan penuh tuntutan yang samar—sebelum akhirnya kegelapan benar-benar menelan mereka berdua.Namun detak jantung Amira yang mulai berpacu tak beraturan saat pria itu mengungkungnya.Pria itu kembali bergumam samar, "Sshh ... ," dengan suara yang sangat berat dan agak serak, terdengar seperti bisikan pria yang tengah dikuasai gairah hebat.Lalu, tangan pria itu bergerak cepat menuju bagian belakang gaun pengantin haute couture yang masih dikenakan Amira. Jemari kokohnya menelusuri deretan kancing kecil di sepanjang punggung.Dengan gerakan sabar namun tegas, ia melepas kancing demi kancing. Suara kain sutra dan brokat yang tersibak terdengar nyaring di kamar yang hening.Malam pertama itu... seharusnya begini ya?
Amira memejamkan mata. "Arthur, pelan-pelan ...." bisik Amira, merinding saat udara dingin menyentuh kulit punggungnya yang kini terbuka.
Pria itu tidak mendengarkan. Ia menyingkap gaun mewah itu hingga meluncur turun menumpuk di pinggang Amira, melucuti penghalang di antara mereka.Bibirnya mulai menjelajahi setiap inci tubuh Amira—dari garis rahang, ceruk leher, tulang selangka, hingga turun ke area dada."Ahhh!" Amira mendesah keras saat bibir pria itu menyapa kulit dadanya.Pria itu menyesap lembut, lalu bermain di atas dada Amira secara bergantian. Hisapannya membuat tubuh Amira melengkung ke atas."Mmph ... Arthur ... Pelan-pelan…!" erang Amira seraya meremas acak rambut pria di atasnya.Rasa nikmat yang asing menyerangnya begitu bertubi-tubi.Dalam gelap, pria itu terkekeh rendah, suara tawa samar yang teredam di atas kulit dada Amira."Ehm …." Amira kembali melenguh, otaknya tak sanggup lagi berpikir jernih.Tangan pria itu merayap turun, melintasi perut Amira, lalu menyibak sisa kain gaun dan miliknya yang bawah menghalangi. Jemarinya yang hangat mengelus paha dalam Amira, membuatnya spontan merenggangkan kaki."Ah ….” ***Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai dan jatuh tepat di wajah Amira.Ia mengerjapkan mata, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rasa pegal yang asing segera mengembalikan ingatannya pada malam panjang yang baru saja berlalu.
Rona merah menjalar di wajahnya. Amira menoleh ke sisi lain ranjang, berharap menemukan Arthur masih tertidur di sana.
Namun, tempat itu sudah kosong dan dingin.
Amira baru menurunkan kaki ke lantai ketika gagang pintu bergerak. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi dada saat Arthur masuk dalam keadaan telah berpakaian rapi.
Kemejanya licin tanpa kusut. Rambutnya tertata sempurna, bahkan wajahnya tidak menunjukkan sisa kantuk sedikit pun.
“Kau sudah bangun?” Arthur berhenti di dekat pintu. Tatapannya menyapu gaun pengantin yang tergeletak di lantai, seprai kusut, kemudian bekas kemerahan di leher Amira.
Amira tersenyum malu. “Kenapa kau pergi tanpa membangunkanku?”
Arthur tidak menjawab. Tatapannya justru menetap pada bercak merah di tulang selangka Amira lebih lama daripada seharusnya.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya kemudian.
Pria itu berjalan menuju jendela dan menarik tirai hingga cahaya pagi memenuhi kamar. Untuk pertama kalinya, Amira dapat melihat ruangan tersebut dengan jelas.
Tidak ada satu pun foto Arthur di sana.
Pigura yang semalam dilihatnya ternyata menampilkan dua anak laki-laki dengan wajah yang hampir serupa. Amira terlalu lelah hingga hanya memperhatikan salah satunya.
Arthur menatap pantulan wajah Amira melalui kaca jendela. “Bersiaplah,” katanya dingin. “Aku ingin mengenalkanmu kepada kakakku.”
Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t
Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu
“Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me
Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat
Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati
“M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l







