LOGIN“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”
Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri? Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati deretan lukisan keluarga Wilson, kemudian berhenti tepat di depan pintu terakhir. Kepala pelayan mengangguk sebelum kembali membereskan meja makan. Amira tidak langsung beranjak. Ia menunggu sampai wanita itu benar-benar membawa nampan meninggalkan ruang makan, barulah perlahan menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Entah kenapa, semakin banyak jawaban yang didapatkan, semakin banyak pula pertanyaan yang bermunculan di kepalanya. Tujuh tahun. Maxime pernah tinggal di mansion ini tujuh tahun lalu, kemudian pergi tepat setelah kematian ibunya dan tidak kembali sampai semalam. Dan yang paling mengganggu pikirannya bukan semua fakta itu. Melainkan perasaan aneh yang muncul setiap kali pria tersebut berada di dekatnya. Amira akhirnya berdiri. Ia tidak bermaksud melakukan sesuatu yang tidak sopan. Tidak ada niat untuk membuka barang pribadi Maxime atau mencari tahu sesuatu yang bukan urusannya. Ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana—bahwa tubuhnya telah salah mengenali sesuatu. Bahwa instingnya keliru. Bahwa suara dan aroma yang mengingatkannya pada malam tadi hanyalah kebetulan. Dengan langkah perlahan, Amira meninggalkan ruang makan menuju lantai dua. Lorong mansion terasa jauh lebih sunyi dibandingkan beberapa menit sebelumnya. Cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi memantul di lantai marmer, sementara langkah kaki Amira terdengar samar di antara dinding yang terlalu tenang. Semakin mendekati ujung lorong, langkahnya justru semakin pelan. Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua. Kamar Maxime. Amira menelan ludah tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Wanita itu sendiri tidak mengerti mengapa hanya berdiri di depan pintu itu sudah membuat deru nafasnya berubah. Jantungnya berpacu terlalu cepat, seakan tubuhnya sedang memperingatkan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh pikirannya. Tangannya terangkat, jari-jarinya menyentuh handle pintu. Dingin. Namun, telapak tangannya justru terasa panas. Amira memejamkan mata sesaat sebelum perlahan menekan handle tersebut. Pintu terbuka sedikit. Dan saat celah kecil itu terbuka, aroma sandalwood langsung menyambut indera penciumannya. Amira membeku. Aroma itu, aroma yang sama. Sekejap, pikirannya kembali pada kejadian semalam—pada kegelapan kamar pengantin, pada suara berat yang membuat seluruh tubuhnya menegang, pada kehadiran seorang pria yang sampai sekarang wajahnya tidak mampu ia lihat dengan jelas. Napas Amira tercekat. Dadanya naik turun semakin cepat, kedua lututnya bahkan terasa kehilangan kekuatan. Ia memaksa dirinya untuk tidak mundur. Dengan hati-hati, Amira mendorong pintu sedikit lebih lebar, lalu melangkah masuk. Kamar itu ternyata jauh lebih sederhana daripada kamar Arthur. Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada benda-benda yang menunjukkan kemewahan seorang pewaris keluarga Wilson. Hanya sebuah ranjang besar yang tertata sangat rapi, meja kerja dengan beberapa buku, lemari pakaian berwarna gelap, serta sebuah sofa kecil di dekat jendela. Semuanya tampak bersih, bahkan terkesan terlalu rapi. Mungkin karena kamar itu sudah sangat lama tidak dihuni. Entahlah. Amira berdiri di tengah ruangan, membiarkan pandangannya berkeliling. Tidak ada foto, tidak ada benda aneh, tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan perasaan ganjil yang sejak tadi menghantuinya. Hanya sebuah koper berukuran sedang yang terbuka sudah tergeletak di ujung kamar, tepat di dekat lemari pakaian. “Lihat? Pria ini baru sampai.” Ia tersenyum tipis kepada dirinya sendiri, berusaha menertawakan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dada. Mungkin memang hanya kebetulan. Aroma sandalwood itu tidak cukup menjadi bukti apa pun. Lagipula, aroma parfum Arthur pun hampir sama, bisa saja keluarga Wilson memang menyukai jenis parfum yang sama. Amira berbalik hendak keluar. Namun, baru dua langkah ia bergerak, sesuatu membuat kakinya berhenti. Ia menoleh kembali ke arah koper di dekat lemari. Entah mengapa, benda sederhana itu tiba-tiba terasa seperti sedang memanggil rasa penasarannya. Amira berjalan mendekat. Ia tidak berniat membukanya. Hanya ingin melihat sekilas apakah koper tersebut benar-benar baru dibawa pulang atau mungkin sudah lama berada di kamar itu. Ketika ia berdiri tepat di hadapannya, matanya menangkap sesuatu yang membuat dahinya berkerut. Ada sebuah benda kecil tergeletak di lantai, tepat di bawah sisi koper. Amira membungkuk. Sebuah kancing kecil yang begitu mirip dengan kancing dari gaun pengantin yang ia kenakan saat pesta pernikahannya dengan Arthur. Ia mengambilnya dengan ujung jari yang sedikit gemetar, lalu mengamati benda itu dengan dahi sedikit berkerut. Kancing tersebut berwarna putih mutiara, sederhana, tetapi Amira begitu yakin jika kancing itu memang miliknya. Namun, sebelum ia sempat menyusun pikirannya, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Langkah seseorang, semakin dekat. Amira sontak berdiri dan menggenggam kancing itu erat-erat, hingga akhirnya suara handle pintu bergerak. Tubuh Amira membeku. Pintu yang sejak tadi terbuka perlahan bergerak semakin lebar. Dan ketika sosok tinggi berdiri tepat di ambang pintu, tatapan Amira langsung bertemu dengan sepasang mata yang pagi tadi terlihat begitu tenang. Maxime Wilson. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya turun perlahan menuju tangan Amira yang masih menggenggam sesuatu. Lalu kembali menatap wajah wanita itu, untuk beberapa detik, tidak ada suara selain detak jantung Amira sendiri. Maxime akhirnya berjalan mendekat. Terlalu dekat hingga Amira merasa aliran darahnya berhenti mengalir. “Sedang apa kau ke kamarku?” Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi. Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?” Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik. “Lalu, kenapa kau masuk?” Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!” Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya. “Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime. “Sudah. Aku memang berniat keluar.” “Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?” Ia baru saja hendak melangkah ketika Maxime bergerak maju, membuat wanita itu spontan memundurkan kakinya. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Hingga akhirnya punggung Amira membentur meja rias di belakangnya. Amira meringis kecil, sementara Maxime berhenti tepat di hadapannya. Maxime masih bergeming, tatapannya saat ini benar-benar membuat jantung Amira sulit berdenyut. Terlebih aroma parfum yang begitu khas kembali menusuk indera penciumannya. Hingga tanpa sadar, wanita itu meraih kersh jas Maxime, menyentuh bagian dadanya dan merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan saat malam pertama dengan Arthur. Maxime yang mendapat sentuhan tersebut, tiba-tiba memejamkan matanya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ini. “Apa—” “Jangan masuk tanpa izin, adik ipar.” Maxime tiba-tiba memotong kata-kata Amira. Matanya masih terpejam, sedangkan suaranya terdengar berat dan bergetar. Tiba-tiba ia terkekeh, “Adik ipar.” Matanya mendongak tajam menghunus mata Amira saat pria itu tersenyum kecil, “Aku hanya penasaran… apa yang kau lihat dari adikku?” Mendengar hal itu, membuat Amira menahan nafas, “A–apa maksudmu?” Maxime mengangkat sebelah alis, seolah menikmati kegugupan yang berusaha disembunyikan Amira. “Aku hanya penasaran…” tukasnya terjeda. “Memangnya kau sendiri tidak penasaran dengan suamimu sendiri?” Deg. Detak jantungnya kencang. Bergemuruh hebat. Bertanya-tanya mengapa pria ini menanyakan maksudnya. Apalagi itu adalah adiknya sendiri. “Kenapa lancang sekali membicarakan adikmu sendiri, Tuan?” itu yang bisa Amira haturkan. Pria itu terbahak, “Adik tiri.” koreksinya. Belum sempat Amira menjawab, ketukan pintu yang cukup beruntun membuat keduanya saling melempar pandangan. “Maxime? Kau di dalam?” Suara ketukan pintu berserta panggilan suara Arthur bertindak bagai sambaran petir yang memutus tautan mereka. Amira mendorong dada Maxime dengan panik. Jantungnya berdegup gila-gilaan, hampir melompat keluar dari rongga dadanya. Jika Arthur melihat mereka seperti ini, semuanya akan hancur. Dengan napas memburu dan mata yang mulai berkaca-kaca, Amira menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap Maxime dengan tatapan memohon yang amat sangat. “Tolong ….” bisik Amira dengan suara hampir tak terdengar, bibirnya gemetar hebat. “Tolong sembunyikan aku …” Maxime menatap Amira sejenak. Tanpa mengatakan apa pun, Maxime menangkap pergelangan tangan Amira dan menariknya menuju celah sempit di belakang daun pintu. Tubuh Amira nyaris kehilangan keseimbangan ketika punggungnya bertemu dinding. Maxime berdiri tepat di hadapannya, menutupi tubuh Amira dengan bahunya yang lebar. “Jangan bersuara,”Berto masih berdiri dengan rahang mengeras. Amarahnya tampak semakin sulit dikendalikan setelah mendengar kemungkinan bahwa putri mereka berada bersama Maxime. Sementara itu, Arthur tetap duduk dengan tenang, seolah kedatangannya malam ini semata-mata untuk mencari bantuan."Tenanglah, Ayah. Kita belum memiliki bukti apa pun.""Bagaimana aku bisa tenang? Jika benar Maxime membawa Amira pergi, itu berarti dia telah mempermainkan keluarga kita!"Theresia yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Arthur, bukankah selama ini Maxime sering membantu Amira? Ibu pernah melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan Amira dengan baik."Arthur menoleh kepada ibu mertuanya."Justru itu yang membuatku khawatir, Bu. Maxime bukan orang yang mudah menunjukkan niat sebenarnya."Berto mengembuskan napas kasar. "Aku tidak menyangka dia bisa bertindak sejauh ini."Arthur menundukkan kepala. Ia tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kedua mertuanya sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan yang se
Arthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu
“Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba
Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan
“Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun
[Max, perutku sakit. Ada bercak merah yang keluar, mirip darah. Aku takut.]Baru saja Maxime hendak melangkah menuju area parkir, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika membuat pria itu menghentikan langkah. Tatapannya terpaku pada layar, membaca pesan dari Amira berulang kali seolah berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Jemarinya bahkan mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Bercak merah?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu untuk membalas pesan itu, Maxime langsung menekan tombol panggilan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan percakapan melalui pesan, terlebih ketika menyangkut kondisi Amira dan bayi yang dikandung wanita tersebut.“Sekarang kau di mana?” tanyanya begitu panggilan tersambung.“Di rumah.”“Kau sendirian?” Kedua alis Maxime langsung bertaut.“Ya. Bibi pulang lebih awal karena putrinya masih sakit,” jelas Amira dari seberang telepon.Maxime mengembuskan napas berat. Ia melirik arlojinya, kemudian mengalihkan pandangan ke







