Share

BAB 4

Author: Jw Hasya
last update publish date: 2026-09-18 00:15:49

Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.

“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”

Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.

“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”

Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?

Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati deretan lukisan keluarga Wilson, kemudian berhenti tepat di depan pintu terakhir.

Kepala pelayan mengangguk sebelum kembali membereskan meja makan. 

Amira tidak langsung beranjak. Ia menunggu sampai wanita itu benar-benar membawa nampan meninggalkan ruang makan, barulah perlahan menghembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Entah kenapa, semakin banyak jawaban yang didapatkan, semakin banyak pula pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.

Tujuh tahun.

Maxime pernah tinggal di mansion ini tujuh tahun lalu, kemudian pergi tepat setelah kematian ibunya dan tidak kembali sampai semalam.

Dan yang paling mengganggu pikirannya bukan semua fakta itu. Melainkan perasaan aneh yang muncul setiap kali pria tersebut berada di dekatnya.

Amira akhirnya berdiri.

Ia tidak bermaksud melakukan sesuatu yang tidak sopan. Tidak ada niat untuk membuka barang pribadi Maxime atau mencari tahu sesuatu yang bukan urusannya. Ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana—bahwa tubuhnya telah salah mengenali sesuatu.

Bahwa instingnya keliru. Bahwa suara dan aroma yang mengingatkannya pada malam tadi hanyalah kebetulan.

Dengan langkah perlahan, Amira meninggalkan ruang makan menuju lantai dua.

Lorong mansion terasa jauh lebih sunyi dibandingkan beberapa menit sebelumnya. Cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi memantul di lantai marmer, sementara langkah kaki Amira terdengar samar di antara dinding yang terlalu tenang.

Semakin mendekati ujung lorong, langkahnya justru semakin pelan.

Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua.

Kamar Maxime. Amira menelan luda tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.

Wanita itu sendiri tidak mengerti mengapa hanya berdiri di depan pintu itu sudah membuat deru napasnya berubah. Jantungnya berpacu terlalu cepat, seakan tubuhnya sedang memperingatkan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh pikirannya.

“Tenang, Amira,” bisiknya lirih.

Tangannya terangkat, jari-jarinya menyentuh handle pintu.

Dingin.

Namun, telapak tangannya justru terasa panas. Amira memejamkan mata sesaat sebelum perlahan menekan handle tersebut. Pintu terbuka sedikit.

Dan saat celah kecil itu terbuka, aroma sandalwood langsung menyambut indera penciumannya.

Amira membeku.

Aroma itu, aroma yang sama.

Sekejap, pikirannya kembali pada kejadian semalam—pada kegelapan kamar pengantin, pada suara berat yang membuat seluruh tubuhnya menegang, pada kehadiran seorang pria yang sampai sekarang wajahnya tidak mampu ia lihat dengan jelas.

Napas Amira tercekat. Dadanya naik turun semakin cepat, kedua lututnya bahkan terasa kehilangan kekuatan.

“Tidak mungkin .…” 

Ia memaksa dirinya untuk tidak mundur. Dengan hati-hati, Amira mendorong pintu sedikit lebih lebar, lalu melangkah masuk.

Kamar itu ternyata jauh lebih sederhana daripada kamar Arthur.

Tidak ada dekorasi berlebihan. Tidak ada benda-benda yang menunjukkan kemewahan seorang pewaris keluarga Wilson. Hanya sebuah ranjang besar yang tertata sangat rapi, meja kerja dengan beberapa buku, lemari pakaian berwarna gelap, serta sebuah sofa kecil di dekat jendela.

Semuanya tampak bersih, bahkan terkesan terlalu rapi. Mungkin karena kamar itu sudah sangat lama tidak dihuni. Entahlah.

Amira berdiri di tengah ruangan, membiarkan pandangannya berkeliling.

Tidak ada foto, tidak ada benda aneh, tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan perasaan ganjil yang sejak tadi menghantuinya.

Hanya sebuah koper berukuran sedang yang terbuka sudah tergeletak di ujung kamar, tepat di dekat lemari pakaian.

“Lihat? Pria ini baru sampai.” Ia tersenyum tipis kepada dirinya sendiri, berusaha menertawakan kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dada.

Mungkin memang hanya kebetulan. Aroma sandalwood itu tidak cukup menjadi bukti apa pun. Lagipula, aroma parfum Arthur pun hampir sama, bisa saja keluarga Wilson memang menyukai jenis parfum yang sama.

Amira berbalik hendak keluar.

Namun, baru dua langkah ia bergerak, sesuatu membuat kakinya berhenti.

Ia menoleh kembali ke arah koper di dekat lemari. Entah mengapa, benda sederhana itu tiba-tiba terasa seperti sedang memanggil rasa penasarannya.

Amira berjalan mendekat. Ia tidak berniat membukanya. Hanya ingin melihat sekilas apakah koper tersebut benar-benar baru dibawa pulang atau mungkin sudah lama berada di kamar itu.

Ketika ia berdiri tepat di hadapannya, matanya menangkap sesuatu yang membuat dahinya berkerut.

Ada sebuah benda kecil tergeletak di lantai, tepat di bawah sisi koper.

Amira membungkuk.

Sebuah kancing kecil yang begitu mirip dengan kancing dari gaun pengantin yang ia kenakan saat pesta pernikahannya dengan Arthur. Ia mengambilnya dengan ujung jari yang sedikit gemetar, lalu mengamati benda itu dengan dahi sedikit berkerut.

Kancing tersebut berwarna putih mutiara, sederhana, tetapi Amira begitu yakin jika kancing itu memang miliknya.

Namun, sebelum ia sempat menyusun pikirannya, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.

Langkah seseorang, semakin dekat. Amira sontak berdiri dan menggenggam kancing itu erat-erat, hingga akhirnya suara handle pintu bergerak.

Tubuh Amira membeku.

Pintu yang sejak tadi terbuka perlahan bergerak semakin lebar.

Dan ketika sosok tinggi berdiri tepat di ambang pintu, tatapan Amira langsung bertemu dengan sepasang mata yang pagi tadi terlihat begitu tenang.

Maxime Wilson.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya turun perlahan menuju tangan Amira yang masih menggenggam sesuatu.

Lalu kembali menatap wajah wanita itu, untuk beberapa detik, tidak ada suara selain detak jantung Amira sendiri.

Maxime akhirnya berjalan mendekat. Terlalu dekat hingga Amira merasa aliran darahnya berhenti mengalir.

“Sedang apa kau ke kamarku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 8

    Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 7

    Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 6

    “Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 5

    Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 4

    Amira sempat terdiam, tetapi hanya sesaat. Ia segera menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi dan memberikan senyum kecil yang dibuat senatural mungkin, seolah pertanyaannya memang tidak memiliki maksud apa pun.“Aku hanya ingin tahu saja,” jawabnya ringan. “Karena aku juga baru tahu kalau Tuan Maxime pernah tinggal di sini. Jadi, aku penasaran kamar yang dulu ditempatinya seperti apa.”Kepala pelayan itu memperhatikan wajah Amira beberapa detik, seakan berusaha mencari sesuatu dari sorot matanya. Namun, Amira tetap mempertahankan ekspresi tenang, bahkan mengambil cangkir teh di hadapannya agar rasa gugup yang mulai merambat tidak terlihat.“Kamar Tuan Maxime ada di lantai dua, Nyonya. Lorong paling ujung, sebelah kiri.”Amira membeku. Bukankah kamar yang ditempatinya semalam juga berada di ujung lorong sebelah kiri?Jemarinya yang memegang cangkir teh perlahan menegang. Ia masih mengingat jelas jalan yang dilaluinya bersama pelayan setelah kembali dari pesta—menaiki tangga utama, melewati

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 3

    “M–Maksudnya?” Amira diam-diam mencuri pandang. Maxime masih terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan setelah melihat wajah Amira yang sejak tadi tampak penuh tanda tanya. Sebaliknya, Arthur justru terlihat terburu-buru menyelesaikan sarapannya. “Aku harus pergi,” katanya tiba-tiba sambil meletakkan sendok di atas piring. Amira mengangkat wajah. “Sekarang?” “Ya, aku harus pergi hari ini.” “Tapi kau baru saja—” “Urusan di perusahaan tidak bisa menunggu,” sela Arthur begitu cepat. "Kuharap kau mengerti dengan keadaan ini." Jawaban itu membuat Amira terdiam, hatinya mencelos. Lagi-lagi pekerjaan. Bahkan setelah malam pertama mereka, Arthur masih memilih pekerjaan daripada menghabiskan sedikit waktu bersamanya. Saat hening menyergap, Maxime tampak berdiri lebih dulu. “Aku akan mengantarkanmu ke depan.” Arthur hanya mengangguk tanpa menoleh. Kedua pria itu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status