MasukDavidson membuang napasnya. Menatap Helena yang terbaring, belum sadarkan diri, ia merasa sangat kurang kerjaan.
Entah kenapa juga dia jadi merasa kasihan, tapi juga direpotkan. Hingga saat ini Helena masih belum bangun. Dokter bilang hanya kelelahan dan agak demam, tapi betah sekali perempuan itu tidur. “Kenapa aku malah menunggunya bangun?” gumam Davidson, tidak habis pikir. Ia pun bangkit dari duduknya, berjalan keluar dari kamar itu. Di luar sudah ada pelayan yang menunggu. Sebelum benar-benar menjauh, Davidson membalikkan badannya, berkata pada pelayan rumahnya, “Kalau dia sudah bangun, kasih dia makan. Jangan sampai dia mati, nanti aku yang akan kena masalah.” Pelayan itu mengangguk patuh. “Baik, Tuan.” Malas sekali memikirkan yang tidak penting, Davidson gegas menjatuhkan tubuhnya di ranjang empuknya, menarik selimut, dan tidur dengan nyaman. Tidak ada yang mampu mengganggu pria itu, semuanya dia anggap tidak penting, dan hanya ketenangan yang selalu tidak bisa diabaikan. Namun, ketenangan itu terganggu saat Davidson terbangun dini hari. Batuk yang tiba-tiba saja datang membuat tidurnya tidak nyenyak. Terpaksa dia bangkit untuk minum, namun gelas di meja samping tempat tidur kosong. “Cih! Sialan. Kenapa jadi sering bangun malam karena batuk?” gerutunya. Dengan kesal Davidson bangkit. Ia berjalan keluar untuk menuju dapur. Walaupun dia kaya raya, tetapi pada dini hari begini pelayan pasti juga sudah tidur, memanggil mereka hanya akan membuat tenggorokannya makin kering. Tanpa menyalakan lampu utama, Davidson mengeluarkan air dari lemari pendingin. Ia meminum segelas penuh hingga akhirnya dia baru menyadari ada suara di sekitarnya. Davidson mengerutkan keningnya, memicingkan mata kala melihat dalam remang seseorang tengah duduk di meja makan. Davidson berjalan dengan hati-hati, menyalakan lampu utama. Klak! Rupanya, orang yang duduk di meja makan adalah Helena. Mereka berdua sama-sama terkejut. “Kau—” Davidson menatap Helena heran. Helena merapatkan bibirnya, menelan makanan yang masih tersangkut di tenggorokannya dengan gugup. Ada remah makanan di sekitar bibir Helena, Davidson pun terheran-heran. “Maaf, Paman...” Helena nampak semakin gugup. Davidson membuang napas kasarnya. “Kenapa kau makan gelap-gelapan begini? Kalau aku tidak sedang dalam keadaan waras, mungkin aku sudah menghantam mu pakai kursi.” Helena memaksakan senyumnya. “Aku cuma... cuma tidak ingin mengganggu yang lain. Mereka pasti sudah tidur, tapi aku juga tidak bisa tahan lagi. Aku lapar sekali tadi.” “Sudah selesai makan?” tanya Davidson sambil meletakkan gelas di meja. Sambil menganggukkan kepalanya, Helena menjawab, “Sudah, Paman.” Davidson melirik pada jam dinding, memastikan waktu saat ini. “Sudah pukul 02:40. Sebentar lagi matahari juga terbit. Kau pulang saja. Mobilmu ada di garasi.” Mendengar itu, Helena pun terkejut. “Kau seorang istri, suamimu pasti khawatir karena kau tidak pulang ke rumah. Jangan sampai dia berpikir macam-macam, nanti akan jadi masalah baru untukku,” tambah Davidson. Helena mengusap mulutnya dengan tisu. Tisu itu dia remas sangat kuat pada genggamannya. Khawatir? Berpikir macam-macam? Helena justru menjadi kesal. Bagaimanapun, ekspresi yang ditunjukkan Karina dan Alex sudah menjelaskan, sejelas mungkin, mereka berdua tidak akan peduli bagaimana keadaan Helena, apa yang sedang dilakukan, yang paling penting adalah uang. Davidson kesal. Melihat Helena banyak sekali melamun saat bicara, itu membuat matanya sakit. “Kenapa kau diam saja? Cepat pulang!” Helena tersentak. Segera ia bangkit, bukan untuk pulang seperti yang Davidson inginkan, tapi untuk berdiri di hadapan pria itu. “Cih! Ekspresi apa lagi yang kau tunjukkan padaku, huh?” kesal Davidson. Helena menelan ludahnya sendiri. Sudahlah... dia juga sudah kehilangan harga dirinya. Anggap saja dirinya sendiri adalah pelacur yang tidak punya otak. “Paman, syarat yang kau katakan sebelumnya... aku setuju.” Davidson terkejut. “Apa kau bilang barusan?” Helena menatap dengan ekspresi yang begitu meyakinkan. “Aku setuju dengan syarat itu. Bantulah Alex, aku akan melakukan apa yang Paman inginkan dariku.” Tidak habis pikir, Davidson sampai menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tak percaya. “Helena, kau benar-benar melakukan semua ini hanya demi pria badjingan itu?” Semakin erat tangan Helena mencengkram. Netranya telah menjelaskan betapa benci dirinya sendiri yang harus mengambil langkah memalukan itu. Namun, Helena yang begitu mencintai Alex menganggap ini adalah sebuah pengorbanan demi cintanya. “Dia suamiku, bukankah wajar jika aku membantunya?” ujar Helena, tetapi dia tidak berani menatap mata Davidson. Entahlah... tapi mata Davidson selalu saja membuat orang yang bicara di hadapannya seolah merasa gugup, takut akan salah bicara. Senyum smirk ditambah tatapan mata yang dingin, Davidson melangkah untuk mendekati Helena. Terlalu dekat jaraknya, Helena reflek memundurkan diri. “Lihatlah, Helena. Kau saja takut padaku, bagaimana bisa kau memuaskanku di atas tempat tidur?” ucap Davidson, meremehkan dengan ekspresinya yang dingin. Helena menggigit bibir bawahnya, menyesali kakinya yang bodoh hingga tiba-tiba saja mundur. “Paman, aku—” “Ssstthhh...” Davidson semakin meremehkan Helena melalui tatapannya. “Aku tidak suka melakukan hubungan intim dengan wanita yang pasif. Sepertinya kau bukan seleraku, jadi jangan mengatakan hal yang kau sendiri saja tidak berani untuk menghadapinya.” Helena terdiam. Bicara dengan Davidson membuatnya tidak bisa berargumentasi lebih banyak. Padahal, di kepalanya ada banyak sekali kalimat-kalimat yang ingin diungkapkan. Davidson mulai menegakkan tubuhnya, bersiap untuk menjauh. Namun, sebelum pria itu mengambil langkah, Helena dengan segala keyakinan dan rasa malu yang sudah lenyap langsung memeluk tengkuk Davidson, mencium bibirnya. Davidson terkejut. Dia terdiam dengan matanya yang tajam. Helena mengeratkan lengannya. Dia sampai berjinjit tinggi karena Davidson memang jauh lebih tinggi darinya, bahkan pria itu sedikit menunduk karena lengan Helena yang masih menahannya. Helena memejamkan matanya, erat. Dia tentu merasa takut, malu, dan tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri. Tapi sudahlah... ini jalan paling memalukan yang telah dia ambil. Davidson menjauhkan tubuh Helena. Matanya semakin tajam. “Apa yang sedang kau lakukan?” Walaupun tubuhnya sampai gemetar, Helena tetapi harus menghadapinya. Mata Helena memancarkan keberanian saat menatap mata Davidson. “Paman, aku sudah melakukan sampai sejauh ini, apa tekadku masih tidak terlihat?” Mendengar itu, Davidson tersenyum mengejek. “Memangnya apa yang kau lakukan barusan?” Helena mengerutkan keningnya. “Aku... mencium Paman.” Seketika itu Davidson mencengkram dagu Helena. “Mencium? Omong kosong apa? Kau menempelkan bibirmu. Karena kau tidak bisa membedakan, maka biar aku tunjukkan apa artinya mencium padamu.” Helena bingung, tapi tidak ada kesempatan untuknya terlalu banyak berpikir. Davidson meraih pinggul Helena, membawanya lebih dekat. Tanpa jeda Davidson mencium bibir Helena. Pria itu benar-benar menunjukkan apa arti ciuman menurut versi dirinya. Helena terkejut. Cara Davidson mencium bibir di luar dugaan, bahkan terlalu buas dan liar. Tapi, entah kenapa dan dorongan dari mana, Helena justru memejamkan matanya.Helena memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Davidson berikan. “Kita seharusnya istirahat dulu, kan?” ucap Helena yang tahu benar bagaimana melelahkan hari ini untuk Davidson. Berbeda dengannya, hari ini Helena benar-benar hanya duduk dan tidak melakukan apapun, bahkan juga tidak menyambut tamu mengingat acara mereka yang sangat privat. “Tidak mau. Belakangan ini, bahkan sudah satu bulan lebih kita tidak melakukannya, kenapa aku harus menahan diri lagi? Pokoknya, aku tidak mau berhenti!” Helena tersenyum. Tanpa diberi tahu, Davidson juga peka, dia tahu kalau harus berhati-hati dengan kondisi kehamilan Helena. Malam itu, setiap sentuhan yang lembut dan menggairahkan hanya milik mereka berdua. Penuh cinta, penuh rasa lega, dan penuh harapan baru untuk hidup mereka. “David,” pnggil Helena di sela Davidson mulai mencium ke lehernya. “Hemmm” jawabnya
Kedua orang tua Helena terlihat sangat syok, langsung menatap Helena dengan tatapan menyesal. Ibunya Helena ingin meraih tangan Helena, namain cepat Helena menyembunyikan tangannya. Momen saat Ibunya memaksa menjodohkan atau mungkin lebih tepatnya menjual Helena. Ayahnya Helena nampak sekali menyesal, ia ingin menjelaskan tetapi Davidson mencegah semua itu. “Simpan saja penjelasan kalian. Helena pasti sudah bisa menebak apa yang ingin kalian katakan. Semoga kalian tidak membuat Helena kerepotan setelah ini,” ucap Davidson, ia pun langsung membawa Helena meninggalkan tempat itu. Ibunya Helena menggelengkan kepalanya, “Helena, tunggu. Kita bicara sebentar, Nak. Ibu mohon...” “Helena,” panggil Ayahnya, suaranya pelan namun penuh sesal. Meninggalkan gedung pernikahan itu, Helena dan Davidson benar-benar terlihat bahagia. Jonathan yang melihat itu pun mera
Davidson tersenyum puas. “Apa-apaan ini?” tanya Ayahnya Summer, ekspresinya benar-benar bingung walaupun memang benar dia bisa membaca dokumen yang kini ada di tangannya. Monica dn Ibunya Helena pun merasa penasaran sehingga mereka ikut membaca dokumen itu. Monica bingung, begitu juga dengan ibunya Helena. Davidson menghela nafas lalu berkata, “Itu adalah laporan kondisi mental Helena beberapa tahun lalu saat dia masih tinggal bersama kalian.” Mendengar itu, Helena langsung menatap Davidson dengan tatapan yang nampak bingung. “Sayang, hasil tes itu... kenapa bisa kau tahu?” Davidson tersenyum sambil mengusap punggung Helena dengan lembut. “Semua tentangmu, tanpa terkecuali, aku tahu itu, sayang. Helena nampak sedih, ia tidak rela jika Davidson bahkan tahu semua hal menyedihkan yang terjadi dalam hidupnya, dia malu karena itu.
Saat Helena melihat ke arah lain, dan baru menyadari ada seorang wanita memperhatikan dirinya. Penampilannya lusuh sekali, tapi Helena bisa mengenali dengan baik. Helena pun tersenyum dingin. “Sudah sampai di titik ini, tapi sayangnya aku sama sekali tidak juga merasa kasihan padanya.” Davidson yang mendengar itu langsung mengikuti arah pandang Helena. “Dia siapa?” “Diana.” Davidson menghela napas. Dia langsung memeluk Helena, tidak ingin wanitanya itu memikirkan yang tidak penting. “Sayang, tidak usah dilihat terus. Tidak kasihan padanya juga sudah cukup tepat. Kau berhenti memikirkan dia, yang pasti dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu.” Mendengar itu, Helena pun tersenyum. Entahlah, mungkin hatinya sudah benar-benar mati rasa terhadap orang-orang yang sudah memberikan rasa sakit padanya. “Ayo,” ajak Davidson
Helena menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak mau pernikahan yang megah dan mewah seperti yang kau katakan.” Davidson pun mengerutkan keningnya. Yang dia tahu memang seperti itulah wanita. Bukan hanya dari gaya hidup, bahkan pernikahan juga harus mewah, ingin seluruh dunia tahu pernikahan dan membuat pernikahan berkesan bagi pasangan dan orang lain. Helena mengeratkan genggaman tangan mereka. “Aku sudah pernah menikah dengan gaya mewah sebelumnya. Tapi, pernikahan yang mewah seperti itu tidak membuatku bahagia. Pernikahan adalah tentang kita, aku tidak butuh orang lain juga tahu.” “Apa? Kenapa?” Davidson bingung. “Kau malu menikah dengan ku?” Mendengar itu, Helena pun terkekeh. “Gila. Kenapa malu? Alasan bodoh apa yang aku punya sampai malu menikah denganmu?” Davidson menghela nafas. “Serius?” Menganggukkan kepalanya cepat, Helena tidak ingin Davidson terus berprasangka yang aneh-ane
Helena mengepalkan tangannya. Ada perasaan yang begitu menusuk di hatinya. Sejenak ia terdiam, menatap Davidson yang nampak berharap pada Helena, ada cincin yang di sodorkan. “Kenapa... kenapa tiba-tiba kau melakukan ini? Kenapa kau mengajak ku menikah? Apa tujuanmu yang sebenarnya?” Davidson terdiam sesaat. Ia tahu kalau Helena pasti akan terkejut dan bingung. Namun, dia juga tidak bisa hanya berdiam diri dan terus memaksa Helena di sisinya tanpa status yang kuat dan baik. “Karena aku ingin kau selalu di sisiku hingga akhir hayat. Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini,” Davidson bangkit, berdiri sambil menatap dengan ekspresi yang dalam dan jujur. “Aku tidak bohong bahwa aku memiliki ketakutan untuk sebuah pernikahan. Tapi, aku hanya melihat mu dan sifatmu.” Helena tidak menyela, dia akan mendengarkan semua yang Davidson katakan. “Aku percaya kau bukan







