Share

Bab 3

Author: Nadira Dewy
last update Last Updated: 2025-12-01 13:33:30

“Alex, apa kau tahu betapa memalukannya apa yang diinginkan Paman Davidson dariku?” tanya Helena, air matanya kukuh lantah tak lagi bisa ia tahan.

Padahal dia sangat mencintai Alex, melakukan hal-hal yang kadang di luar nalar nya juga bukan hanya sekali dua kali.

Namun, kenapa hasil akhirnya masih saja sama?

Kenapa dia semakin merasa tidak dicintai?

Alex mendesah sebal. Dia tidak lagi bisa menggunakan kalimat lemah lembut karena kecewa pada Helena yang bertele-tele, padahal tinggal setujui saja syaratnya, dan dapatkan uangnya.

Sudah seperti itu saja, bukankah yang paling penting hanyalah uang?

“Helena, setujui saja syarat dari Paman. Saat ini yang paling penting cuma uang, yang lain tidak!”

Barisan kalimat itu membuat tubuh Helena seperti disambar petir. Telinganya sampai berdengung, tubuhnya dingin berkeringat, napasnya pun terasa penuh dan sesak.

“Alex... kenapa kau memperlakukan ku begini? Apa aku tidak ada harganya di matamu lagi?!” protes Helena.

Plak...!

Karina menampar pipi Helena, kuat sekali, menyisakan rasa panas dan perih yang begitu jelas.

Helena terperangah, begitu juga dengan Alex. Tidak menyangka kalau Helena akan bertindak sejauh ini.

“Dasar perempuan pembawa sial!” makinya pada Helena. “Cepat temui Davidson, penuhi syarat darinya, lalu dapatkan uangnya!!”

Alex pun menarik Karina untuk sedikit menjauh. Kalau Karina terus menyiksa Helena, yang ada Helena makin enggan membantu.

Alex memegang lengan Helena dengan lembut, ekspresinya nampak penuh sesal. “Sayang, jangan menolak syarat dari Paman. Ibuku nanti bisa makin kesal, kita juga jadi punya masalah karena Ibuku pasti akan menolak kebersamaan kita.”

Helena mengusap air matanya. Walaupun perih sekali pipinya, dia mencoba untuk mengabaikan hal itu. “Kau serius, Alex? Kau benar-benar memintaku menyetujui syarat dari Paman Davidson walaupun aku sudah menyebutkan bahwa syarat itu akan melukai harga diriku, bahkan juga harga dirimu?”

Dengan cepat Alex menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Masalah harga diri sudah tidak penting lagi untuk saat ini. Bayangkan saja bagaimana menderitanya kita kalau perusahaan sampai bangkrut. Yang sulit juga bukan hanya aku saja, tapi kau juga akan kesulitan karena keuangan kita benar-benar jatuh. Mungkin saja, untuk membeli sebutir nasi kita tidak sanggup lagi.”

Helena mengepalkan tangannya lebih erat lagi.

Dia melihat keseriusan di wajah Alex saat dia mengatakan kalimat-kalimat yang semakin menghantam hatinya.

Sekarang, melanjutkan kalimat tentang syarat dari Davidson juga sudah tidak ada artinya lagi.

Tatapan yang Karina tunjukkan padanya sejak tadi sudah cukup menjelaskan bahwa jika Davidson menginginkan nyawanya, maka dengan senang hati Karina pasti akan memberikan nyawa menantunya sendiri.

Helena tersenyum sinis. Meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin, pada akhirnya dia harus tetap menjadi sosok yang bagaikan seorang pengemis.

“Baiklah...” ujar Helena pasrah. “Kau yang mendorong ku untuk sampai sejauh ini. Kau benar-benar sudah membuatku jatuh ke lubang sampah yang paling kotor dan bau.”

Alex sama sekali tidak ingin tahu lebih detail lagi. Dia justru tersenyum tanpa ada rasa bersalah. “Oke. Sekarang, kau kembalilah ke rumah paman Davidson. Katakan saja kau setuju dengan semua syarat yang dia ajukan. Aku akan tetap di sini, menunggu kabar baik darimu.”

Kabar baik?

Helena memilih untuk tidak lagi mengatakan apapun. Sudah sangat lelah, anggap saja ini pengorbanan paling besar yang bisa dia lakukan untuk Alex.

Helena digiring keluar dari rumah oleh Alex sendiri, di belakangnya Karina mengikuti dengan senyum puas.

Dipaksa kembali naik mobil, Helena pun tak berkutik.

“Aku menunggu kabar baik darimu, Sayang,” ucap Alex yang begitu tidak peduli dengan apa yang dirasakan Helena.

Tanpa mengatakan apapun, Helena mulai menjalankan mobilnya.

Sudahlah... harga dirinya sudah habis tak tersisa.

Kali ini, dia akan melakukan apa yang Alex dan Karina inginkan walaupun dia merasa begitu kejam pada dirinya sendiri.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman Davidson, Helena memang tidak mengatakan apapun, tetapi air mata yang terus berjatuhan itu sudah menjelaskan semua yang dirasakannya.

Beberapa saat kemudian, mobilnya kembali terparkir di depan gerbang utama mansion megah itu.

Matanya menatap nanar, hatinya mulai ia siapkan untuk penghinaan yang akan ditanggungnya hingga akhir hayat.

Penjaga gerbang menyadari kalau Helena kembali, ia pun menggelengkan kepalanya dengan ekspresi heran.

Helena menurunkan kaca mobilnya lalu berkata pada penjaga gerbang, “Pak, boleh bukakan gerbang? Aku... ingin menemui Paman Davidson. Pembicara tadi belum selesai.”

Penjaga gerbang itu merasa tidak enak untuk menyampaikan, tetapi dia juga tidak ada pilihan lain. “Nyonya Helena, Tuan Davidson sudah meninggalkan pesan pada saya untuk tidak membukakan pintu gerbang kepada siapapun. Beliau tidak ingin menemui kamu lagi, bahkan jika itu yang mengaku saudaranya.”

Helena mencengkram kemudian mobilnya erat. Dari sana saja dia sudah merasa ciut, tetapi anehnya memilih mundur dan menyerah saja tidak ingin dia lakukan.

Sudah sampai di titik ini, Helena yang merasa harga dirinya sudah tak lagi tersisa memilih untuk keluar dari mobil. Dia menatap penjaga gerbang dengan tatapan penuh tekad.

“Pak, tolong katakan pada Paman Davidson kalau aku akan berdiri di sini, menunggu, sampai Paman Davidson mau menemui ku,” ucap Helena, penuh tekad.

Penjaga gerbang pun hanya bisa mendesah berat. Dia tentu saja merasa kasihan, tapi pesan dari Davidson membuatnya hanya bisa berpura-pura sana tidak melihat Helena di sana.

Sementara itu, di dalam mansion, Davidson yang sibuk di ruang kerja pribadinya mengetahui kedatangan Helena dari salah satu pelayan rumahnya.

Dia tidak ingin memikirkan itu terlalu banyak, saat ini dia hanya ingin fokus dengan pekerjaannya.

Davidson terus sibuk, tidak lupa waktu, tidak juga peduli apakah Helena masih menunggu atau tidak. Hingga akhirnya... langit menjadi gelap, hujan turun dengan lebatnya.

Baru saja dia selesai dengan pekerjaan. Niatnya ingin sebentar bersantai sambil meminum wine, tetapi entah kenapa dia tertarik dengan suara hujan yang begitu bising.

Ia menyibakkan tirai. Dahinya berkerut melihat seseorang yang masih berdiri di depan gerbang. Ia pun menyipitkan matanya, melihat dengan lebih jelas siapa orang itu.

“Perempuan itu... apa dia sudah gila?” gumam Davidson.

Ia menoleh ke arah jam dinding. Kembali mengingat kalau Helena datang lagi sekitar 4 jam yang lalu, dan entah kapan hujan itu datang.

“Mobilnya ada di sana, kenapa dia justru berdiri begitu? Aneh dan bodoh.”

Davidson pun membuang napas kasarnya. “Kalau dia mati di sini, namaku juga yang akan kena imbasnya.”

Terpaksa pria itu berjalan meninggalkan ruangan. Mengambil payung yang ada di sudut ruangan menuju ruang tamu.

Dengan langkah cepat, Davidson akhirnya sampai di sana.

Helena menggigil, wajahnya benar-benar pucat.

“Mau sampai kapan kau di sini?” tangan Davidson.

Helena menaikkan pandangannya, baru sadar dengan keberadaan Davidson.

“Paman, aku...” belum selesai Helena bicara, dia jatuh pingsan.

Bruk!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 116

    Kirena menggenggam selimut di atas pangkuannya, matanya berkaca-kaca saat Davidson berdiri tegak di samping ranjang tanpa banyak ekspresi. Cahaya pagi menembus tirai, menciptakan suasana hening yang hampir menyakitkan untuknya. Davidson memang tidak banyak bicara, tapi kehadiran ria itu di sana sudah cukup menjelaskan bahwa kepedulian untuknya masih begitu besar. “David…” suara Kirena parau, nyaris bergetar. “Bolehkah aku… tinggal di sini untuk sementara waktu?” Davidson tidak menjawab langsung. Rahangnya mengeras, pandangannya tertuju ke arah jendela seolah ia sedang menahan diri agar tidak terbawa emosi. Keheningan itu membuat Kirena semakin gugup. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya... aku pergi waktu itu bukan karena aku ingin meninggalkanmu,” lanjut Kirena. Air matanya jatuh dengan sendirinya. “Aku divonis menderita leukimia. Parah. Dokter bilang aku harus segera menjalani pengobatan intensif di luar negeri.” Davidson akhirnya menatapnya, tatapan gelap, menusuk, sulit dit

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 115

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar, menerangi ruangan yang masih sunyi. Davidson duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya tegak, kedua lengan terlipat. Matanya tidak benar-benar terpejam semalaman, lebih tepatnya waspada dalam diamnya. Dia tidak menyentuh Kirena, tidak menggenggam tangan, tidak menunjukkan kelembutan berlebihan seperti kalanya mantan kekasih. Tapi dia memilih untuk tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ketika Kirena membuka mata untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa lemah. Pandangannya buram sebelum akhirnya fokus pada sosok yang duduk kaku di sampingnya. “…Davidson?” suaranya serak. Davidson membuka mata sepenuhnya. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasa, tapi kilatan lega sekilas tampak, cukup cepat untuk mudah terlewat kalau tidak memperhatikannya. “Kau sudah sadar,” katanya singkat, suaranya rendah dan tegas. Kirena melihat sekeliling, tampak bingung. “Apa… yang terjadi?” “ Kau pingsan kemarin,” jawab Davidson, masih de

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 114

    Helena mulai merasa gelisah melihat reaksi Davidson. Sejak dokter pergi, ruang tamu itu terasa terlalu hening. Kirena sudah dibaringkan di kamar tamu, napasnya teratur namun lemah. Sementara Davidson… tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan yang begitu pahit. Helena memperhatikan gelagatnya. Pria itu berdiri kaku di depan pintu kamar Kirena, kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun matanya… penuh kekhawatiran yang sulit untuk disembunyikan. Helena menghela napas dan mendekat pelan. “David…” panggilnya hati-hati. Davidson tak menjawab. Ia hanya menatap Kirena yang terbaring tak berdaya. Ada campuran marah, takut, dan bingung di wajahnya. Emosi yang bahkan Helena sendiri tak pernah lihat sebelumnya. “Kenapa dokter bilang dia sudah lama menjalani pengobatan? Apa kau tahu sesuatu?” tanya Helena pelan. Davidson menggeleng cepat, seperti menolak kenyataan. “Aku… aku tidak tahu apa pun. Dia tidak bilang apa-apa waktu datang. Dia cuma menangis dan bicara

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 113

    “Aku tahu aku dulu pengecut,” ucap Kirena, suaranya retak. “Aku tahu aku melukai mu dengan cara paling buruk. Tapi… aku juga manusia, David. Aku takut.” Davidson menghela napas panjang. “Takut apa maksudnya?” “Takut menikah dengan pria yang aku cintai… tapi yang waktu itu terlalu posesif sampai aku bahkan tak bisa bernapas.” Dia menatap Davidson penuh penyesalan. “Aku takut rumah tangga kita akan hancur sebelum dimulai. Aku takut kau tidak bisa berubah… dan aku salah karena pergi dengan cara seperti itu.” Hening. Davidson menatapnya tajam, tapi di balik tatapan itu, ada luka lama yang masih terasa. Kirena melanjutkan, suaranya menurun. Sungguh, dia tidak peduli dengan Helena yang justru menonton di sana. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap tahun berlalu, aku tetap memikirkan mu. Kau mungkin berubah jadi lebih tenang, lebih dewasa. Tapi aku tetap dengan rasa bersalah yang sama.” Wajah Davidson sedikit melunak, meski dia belum mengatakan apa pun. Kirena membe

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 112

    Davidson menuruni anak tangga dengan langkah tenang namun wajahnya sudah berubah kaku sejak mendengar nama Kirena. Ia tidak mengatakan apa-apa pada Helena sebelum turun, hanya satu kalimat singkat, “Aku ke bawah dulu. Kau mandilah.” Helena mengangguk dan tidak memaksa ikut, apalagi ia masih mengenakan pakaian Davidson. Ia masuk ke kamar mandi sementara Davidson turun ke lantai bawah. Begitu Davidson muncul, Kirena, seorang wanita muda dengan pakaian elegan dan riasan yang jelas dipersiapkan matang langsung berdiri. Matanya berbinar melihat sosok Davidson, lalu tanpa ragu sedikit pun ia melangkah cepat mendekat. “Davidson!” serunya. Sebelum Davidson sempat menahan, Kirena langsung memeluknya erat. Davidson terdiam. Tubuhnya kaku, kedua tangannya tidak bergerak satu sentimeter pun untuk membalas. Ia hanya berdiri tegak dengan tatapan datar, persis seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menepis pelukan itu secara kasar. Kirena memejamkan mata, seolah rindu yang me

  • Bukan Salahku Selingkuh   Bab 111

    Helena bangkit dari tempat tidur sambil memegangi bokongnya. Ia meringis menahan panas karena hukuman yang Davidson maksud benar-benar tidak masuk akal. “Orang gila. Dia pikir aku ini bocah? Hukuman macam apa sih sebenernya? Memukul bokong sampai panas begini,” gumam Helena. Tidak ada Davidson di sana, pria itu tengah sibuk dengan rapat dadakan yang diadakan secara daring di ruang kerjanya. Davidson masuk ke kamarnya, sebenarnya hanya berniat mengganti baju dan beristirahat setelah rapat dadakan itu. Tapi suara air yang mengalir dari kamar mandi membuat langkahnya terhenti. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, senyum yang hanya muncul setiap kali menyangkut Helena. Setelah menegaskan untuk fokus pada Davidson, Helena dengan patuh tinggal di kamarnya. Pintu kamar mandi tidak dikunci. Helena memang sering lupa kalau laki-laki itu tidak pernah tahu aturan privasi. Davidson mendorong pintu perlahan. Uap hangat langsung menguar keluar, memenuhi wajahnya. Helena sedang berdiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status