LOGINHelena menjawab tanpa sedikit pun ragu, “Buat Alex terpojok. Buat dia menawarkan saham… atas kemauannya sendiri. Imbalan yang Paman dapatkan... tentu saja Paman tahu kalau aku tidak punya apapun lagi. Semua sudah Paman dapatkan, bukan?”
Mendengar itu, suara Davidson jadi bersemangat. “Baiklah. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, aku juga butuh melihat bagaimana penampilan mu.” Helena hanya bisa tersenyum dengan ekspresi kesal. Tentu saja dia tahu apa yang dipikirkan Davidson dengan kalimat itu, jelas Helena harus benar-benar bersiap dengan tubuhnya yang akan dihajar habis-habisan. “Baiklah,” jawab Helena pasrah. Telepon pun berakhir. Helena meletakkan ponselnya. Ia membuang napas, memejamkan mata sejenak. Begitu membuka mata, Helena menatap lurus penuh kebencian. “ “Alex, kau sudah mengkhianati ku dengan bAlex menunggu dengan gelisah karena setelah beberapa kali nada tersambung terdengar, Helena tak kunjung menerima panggilan telepon darinya. Tepat setelah Alex mulai meyakini bahwa orang yang sedang berciuman dengan Davidson saat ini adalah Helena, tiba-tiba saja suara Helena terdengar di seberang telepon. “Halo?” Alex terdiam. Padahal dia sudah bersiap untuk melangkah, berjalan cepat, lalu menyingkirkan topeng yang dikenakan oleh wanita itu. Namun, niatnya itu gagal untuk dia lakukan karena suara Helena sudah cukup membuktikan bahwa wanita yang sedang berciuman dengan Davidson saat ini bukanlah Helena. “Ah, Sayang... kau ada di mana sekarang?” tanya Alex. Suaranya agak gugup, tetapi juga terdengar lega. “Aku ada di mansion nya Paman Davidson. Dia memintaku untuk membantu sekretaris Jonathan menyelesaikan beberapa dokumen penting yang akan digunakan untuk meeting besok siang.” Alex menghela nafas lega. “Baguslah.” “Aku sedang sangat sibuk. Akan aku telepon nanti.”
Alex berdiri di antara kerumunan, berbicara dengan beberapa rekan bisnisnya ketika sorotan kamera tiba-tiba berubah arah. Para tamu mulai berbisik, suara-suara kecil bergema di seluruh aula gedung itu. Alex mengikuti arah tatapan mereka saat itu. Dan di sana, Davidson melangkah masuk dengan seorang wanita anggun di sisinya. Wanita itu memakai topeng hitam elegan yang menutupi sebagian wajahnya, menambahkan aura misterius yang justru membuat semua orang semakin sulit mengalihkan pandangan darinya. Rambut panjangnya terurai lembut, bergerak mengikuti langkahnya yang anggun. Gaun hitam panjang berpotongan sempurna membingkai lekuk tubuhnya tanpa terlihat berlebihan. High heels hitam membuat sosoknya tampak lebih tinggi, lebih berkelas, lebih memancarkan aura indah yang mematikan. Alex pun terpaku. Jantungnya, anehnya, memukul dadanya dengan ritme yang terasa tidak nyaman. “Aku pernah melih
Helena membuang napas. Dia tidak bisa tawar menawar, tentu saja dia harus sadar akan hal itu. Telepon dengan Davidson sudah berakhir ketika pria itu meminta Helena untuk tidak banyak berdebat. “Sudahlah... bagaimanapun dia juga banyak memberikan keuntungan untukku. Lebih baik turuti saja apa maunya, sekalian aku mau lihat apa yang Alex dan keluarga bahagianya itu lakukan,” gumam Helena pasrah. Helena menuju ke tempat Davidson berada. Tidak butuh waktu lama, dia sampai dan bersiap untuk pergi ke pesta. Menggunakan pakaian dari desainer ternama, riasan wajah dari make up artist tebaik, Helena benar-benar terlihat sangat luar biasa. Gaun elegan berwarna hitam itu membuat siluet yang nyata pada tubuh Helena. Riasan wajahnya membuat lebih tegas sehingga kesan anggun memancar sempurna. Kalung berlian dengan desain minimalis tapi menggunakan bahan terbaik melingkar indah di lehernya. Anting dan gelang berpadu, menambahkan kilau yang memancar tegas. Davidson yang sudah si
Helena turun dari mobil dengan langkah ringan, map berisi dokumen penting itu tersimpan rapi di tasnya dalam keadaan yang tertutup, aman, dan tak mungkin Alex curigai. Davidson sudah memastikan setiap detail pengalihan saham itu tidak akan memunculkan pertanyaan dari siapa pun, semuanya terlihat seperti prosedur bisnis biasa yang bahkan kecil kemungkinan untuk bocor. Begitu Helena memasuki rumah, Alex yang sedang duduk di ruang tamu langsung menoleh. Ada senyum tipis sekaligus rasa bersalah di wajah pria itu. Sejak beberapa hari terakhir, Helena seolah berubah jauh lebih lembut dan mudah dipuaskan, tanpa Alex tahu bahwa semua itu adalah strategi yang membahayakan. “Kau sudah pulang,” ucap Alex bangkit, segera mendekat. Helena tersenyum manis, tenang, dan bahkan sangat natural. “Iya. Maaf agak lama. Aku menemani Paman Davidson bertemu klien untuk urusan charity.” Itu adalah alasan yang Davidson sarankan, alasan yang
Helena menjawab tanpa sedikit pun ragu, “Buat Alex terpojok. Buat dia menawarkan saham… atas kemauannya sendiri. Imbalan yang Paman dapatkan... tentu saja Paman tahu kalau aku tidak punya apapun lagi. Semua sudah Paman dapatkan, bukan?” Mendengar itu, suara Davidson jadi bersemangat. “Baiklah. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, aku juga butuh melihat bagaimana penampilan mu.” Helena hanya bisa tersenyum dengan ekspresi kesal. Tentu saja dia tahu apa yang dipikirkan Davidson dengan kalimat itu, jelas Helena harus benar-benar bersiap dengan tubuhnya yang akan dihajar habis-habisan. “Baiklah,” jawab Helena pasrah. Telepon pun berakhir. Helena meletakkan ponselnya. Ia membuang napas, memejamkan mata sejenak. Begitu membuka mata, Helena menatap lurus penuh kebencian. “ “Alex, kau sudah mengkhianati ku dengan b
Helena baru saja meninggalkan ruang makan ketika suara Diana tiba-tiba meninggi dari belakang. Jelas itu menarik perhatian Helena. Karina yang tadinya hendak beranjak pun ikut terkejut. Diana makin meledak. “Alex! Kau pikir aku tidak tahu?! Uang sebanyak itu kau berikan hanya ke Helena?” Suara Diana bergetar antara marah dan tersinggung. Bagaimanapun, dia merasa kalau dia lah yang paling harus mendapatkan semua itu. “Kau kira aku bodoh? Nilainya pasti jauh lebih besar daripada yang pernah kau berikan kepadaku! Apa kau lupa kalau aku sedang mengandung anakmu?!” Alex yang sejak tadi berusaha sabar langsung kehilangan kendali. Ia menepis kasar tuduhan Diana. “Apa masalahnya untukmu, hah? Itu uang istriku! Dia berhak untuk uangnya!” bentak Alex. Diana memukul meja dengan tangan yang gemetar. “Aku ini juga mengandung anakmu, Alex! Anakmu! Tapi







