LOGINHelena menjawab tanpa sedikit pun ragu, “Buat Alex terpojok. Buat dia menawarkan saham… atas kemauannya sendiri. Imbalan yang Paman dapatkan... tentu saja Paman tahu kalau aku tidak punya apapun lagi. Semua sudah Paman dapatkan, bukan?”
Mendengar itu, suara Davidson jadi bersemangat. “Baiklah. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Tapi, aku juga butuh melihat bagaimana penampilan mu.” Helena hanya bisa tersenyum dengan ekspresi kesal. Tentu sajaHelena memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang Davidson berikan. “Kita seharusnya istirahat dulu, kan?” ucap Helena yang tahu benar bagaimana melelahkan hari ini untuk Davidson. Berbeda dengannya, hari ini Helena benar-benar hanya duduk dan tidak melakukan apapun, bahkan juga tidak menyambut tamu mengingat acara mereka yang sangat privat. “Tidak mau. Belakangan ini, bahkan sudah satu bulan lebih kita tidak melakukannya, kenapa aku harus menahan diri lagi? Pokoknya, aku tidak mau berhenti!” Helena tersenyum. Tanpa diberi tahu, Davidson juga peka, dia tahu kalau harus berhati-hati dengan kondisi kehamilan Helena. Malam itu, setiap sentuhan yang lembut dan menggairahkan hanya milik mereka berdua. Penuh cinta, penuh rasa lega, dan penuh harapan baru untuk hidup mereka. “David,” pnggil Helena di sela Davidson mulai mencium ke lehernya. “Hemmm” jawabnya
Kedua orang tua Helena terlihat sangat syok, langsung menatap Helena dengan tatapan menyesal. Ibunya Helena ingin meraih tangan Helena, namain cepat Helena menyembunyikan tangannya. Momen saat Ibunya memaksa menjodohkan atau mungkin lebih tepatnya menjual Helena. Ayahnya Helena nampak sekali menyesal, ia ingin menjelaskan tetapi Davidson mencegah semua itu. “Simpan saja penjelasan kalian. Helena pasti sudah bisa menebak apa yang ingin kalian katakan. Semoga kalian tidak membuat Helena kerepotan setelah ini,” ucap Davidson, ia pun langsung membawa Helena meninggalkan tempat itu. Ibunya Helena menggelengkan kepalanya, “Helena, tunggu. Kita bicara sebentar, Nak. Ibu mohon...” “Helena,” panggil Ayahnya, suaranya pelan namun penuh sesal. Meninggalkan gedung pernikahan itu, Helena dan Davidson benar-benar terlihat bahagia. Jonathan yang melihat itu pun mera
Davidson tersenyum puas. “Apa-apaan ini?” tanya Ayahnya Summer, ekspresinya benar-benar bingung walaupun memang benar dia bisa membaca dokumen yang kini ada di tangannya. Monica dn Ibunya Helena pun merasa penasaran sehingga mereka ikut membaca dokumen itu. Monica bingung, begitu juga dengan ibunya Helena. Davidson menghela nafas lalu berkata, “Itu adalah laporan kondisi mental Helena beberapa tahun lalu saat dia masih tinggal bersama kalian.” Mendengar itu, Helena langsung menatap Davidson dengan tatapan yang nampak bingung. “Sayang, hasil tes itu... kenapa bisa kau tahu?” Davidson tersenyum sambil mengusap punggung Helena dengan lembut. “Semua tentangmu, tanpa terkecuali, aku tahu itu, sayang. Helena nampak sedih, ia tidak rela jika Davidson bahkan tahu semua hal menyedihkan yang terjadi dalam hidupnya, dia malu karena itu.
Saat Helena melihat ke arah lain, dan baru menyadari ada seorang wanita memperhatikan dirinya. Penampilannya lusuh sekali, tapi Helena bisa mengenali dengan baik. Helena pun tersenyum dingin. “Sudah sampai di titik ini, tapi sayangnya aku sama sekali tidak juga merasa kasihan padanya.” Davidson yang mendengar itu langsung mengikuti arah pandang Helena. “Dia siapa?” “Diana.” Davidson menghela napas. Dia langsung memeluk Helena, tidak ingin wanitanya itu memikirkan yang tidak penting. “Sayang, tidak usah dilihat terus. Tidak kasihan padanya juga sudah cukup tepat. Kau berhenti memikirkan dia, yang pasti dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu.” Mendengar itu, Helena pun tersenyum. Entahlah, mungkin hatinya sudah benar-benar mati rasa terhadap orang-orang yang sudah memberikan rasa sakit padanya. “Ayo,” ajak Davidson
Helena menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak mau pernikahan yang megah dan mewah seperti yang kau katakan.” Davidson pun mengerutkan keningnya. Yang dia tahu memang seperti itulah wanita. Bukan hanya dari gaya hidup, bahkan pernikahan juga harus mewah, ingin seluruh dunia tahu pernikahan dan membuat pernikahan berkesan bagi pasangan dan orang lain. Helena mengeratkan genggaman tangan mereka. “Aku sudah pernah menikah dengan gaya mewah sebelumnya. Tapi, pernikahan yang mewah seperti itu tidak membuatku bahagia. Pernikahan adalah tentang kita, aku tidak butuh orang lain juga tahu.” “Apa? Kenapa?” Davidson bingung. “Kau malu menikah dengan ku?” Mendengar itu, Helena pun terkekeh. “Gila. Kenapa malu? Alasan bodoh apa yang aku punya sampai malu menikah denganmu?” Davidson menghela nafas. “Serius?” Menganggukkan kepalanya cepat, Helena tidak ingin Davidson terus berprasangka yang aneh-ane
Helena mengepalkan tangannya. Ada perasaan yang begitu menusuk di hatinya. Sejenak ia terdiam, menatap Davidson yang nampak berharap pada Helena, ada cincin yang di sodorkan. “Kenapa... kenapa tiba-tiba kau melakukan ini? Kenapa kau mengajak ku menikah? Apa tujuanmu yang sebenarnya?” Davidson terdiam sesaat. Ia tahu kalau Helena pasti akan terkejut dan bingung. Namun, dia juga tidak bisa hanya berdiam diri dan terus memaksa Helena di sisinya tanpa status yang kuat dan baik. “Karena aku ingin kau selalu di sisiku hingga akhir hayat. Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini,” Davidson bangkit, berdiri sambil menatap dengan ekspresi yang dalam dan jujur. “Aku tidak bohong bahwa aku memiliki ketakutan untuk sebuah pernikahan. Tapi, aku hanya melihat mu dan sifatmu.” Helena tidak menyela, dia akan mendengarkan semua yang Davidson katakan. “Aku percaya kau bukan
Davidson duduk di kursi kerjanya, membungkuk sedikit ke arah monitor, mengetik cepat tanpa berhenti. Malam semakin larut, tapi konsentrasinya masih tajam, sampai suara, tok… tok… tok… memotong kesunyian senyap. Davidson mengangkat wajah, kening berkerut. Pintu terbuka pelan sekali, seolah memang
Helena menyelesaikan pekerjaannya di kamar dengan gerakan otomatis, melipat selimut, merapikan bantal, menata baju Davidson yang sempat dia lepaskan semalam. Saat akhirnya ia menekan tombol mesin penghisap debu dan alat itu mulai menyusuri lantai sambil berdengung pelan, barulah pikirannya kembal
Davidson terdiam sesaat. “Tidak juga. Kau hanya tunggu saja aku bosan.” Jawaban itu benar-benar membuat Helena tidak lagi bisa bicara. Bukan sepenuhnya salah Alex, yang dia tahu hanyalah sebatas apa yang dia rasakan. Padahal, kalau mengingat jelas isi surat perjanjian secara penuh, ten
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah tenang. Alex langsung bangkit dari kursinya, hampir berlari mendekat karena dia memang sangat khawatir saat ini. “Dokter, bagaimana kondisi kandungan Diana? Tidak terjadi sesuatu dengan bayinya, kan?” suara Alex terdengar tegang d







