LOGIN“Saya tahu dan saya sudah membatalkannya dengan menghubungi tiga klien untuk dijadwalkan ulang,” jawab Kris secepat kilat tanpa ekspresi lalu mengambil air mineral yang dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada Zahra.
Zahra mematung ketika tangan kekar memegang gelas bening yang diberikan kepadanya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sikap Kris yang tidak pernah dilihat olehnya selama sepuluh tahun.
“Untuk saya, Pak?” tanya Zahra lagi.
“Lalu, buat siapa coba,” jawab Kris dingin.
Zahra merapikan tubuhnya dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas bening berisi air mineral dari tangan Kris.
Zahra meminum air mineral dengan pandangan lurus ke depan sampai tidak ada setetes pun yang keluar dari gelas. Kamar khusus menjadi hening dan hanya terdengar suara alat infus.
“Bukankah rapat besok adalah rapat yang penting dan bisa diganti oleh Mbak Anggun yang bekerja sebagai sekretaris?” tanya Zahra nada heran.
“Saya tidak cocok.”
“Mbak Anggun bekerja lebih lama dari pada saya, Pak. Sebelumnya, bapak juga sama dia. Kenapa tiba-tiba tidak cocok?” tanya Zahra terkekeh pelan.
Kris menoleh dengan tatapan yang tajam. “Ada yang lucu?” tanya Kris datar.
“Maaf, Pak.”
“Istirahat selama tiga hari dan semua jadwal saya sudah dijadwalkan ulang,” ucap Kris dengan intonasi penekanan.
“Oleh?” tanya Zahra penasaran.
“Saya sendiri, seperti yang saya katakan tadi. Saya tidak memedulikan jadwal pertemuan dengan klien karena mereka biasanya juga menjadwalkan ulang pertemuannya, yang penting sekarang adalah kesembuhanmu, tanpamu, jadwal saya pasti berantakan dan tidak ada yang merapikan pakaian, dasi dan rambut,” cerocos Kris sambil membuka jas kerjanya lalu duduk di sofa.
Zahra membisu saat mendengar semua perkataan Kris, CEO yang terkenal dingin, disiplin dan tidak berperasaan menjadi peduli dengannya. Karyawan yang hanya bekerja sebagai Asisten Pribadi.
Pekerjaan Asisten Pribadi biasanya dipandang sebelah oleh kebanyakan orang, tetapi itu tidak masalah untuknya karena yang terpenting adalah pekerjaan yang upahnya dihasilkan dari upaya kerja keras.
Ada apa dengannya? Apakah habis terbentur kepalanya? Atau sedang banyak pikiran?
Kris tidak pernah mengeluarkan kalimat peduli dan tidak ingin ditinggal oleh karyawannya, kecuali kepadanya. Bahkan, Zahra terkejut mendengar pernyatannya yang ternyata suka diperhatikan, disiapkan dan dilayani.
Zahra mencoba untuk memejamkan mata, tetapi matanya masih terjaga dan tidak ingin tertutup saat ini juga. Ia terbangun dari ranjang lalu membaca pesan dari rekan kerja yang berharap dirinya segera kembali ke kantor.
[Cepat sembuh, ya. Rekan kesayanganku. Kalau tidak ada kamu di sini, Pak Kris marah-marah setiap hari dan memecat tiga orang karyawannya.]
[Tolong segera kembali, ya. Aku merindukanmu dan cegah Pak Kris untuk tidak marah-marah lagi kepada karyawannya yang sangat membutuhkan pekerjaan. Aku kasihan terhadap karyawannya yang sudah berumur dan tinggal beberapa lagi pensiun, tapi diberhentikan karena masalah sepele.]
Zahra menggeleng pelan beberapa kali saat membaca pesan dari teman-temannya.
Pesan yang didapatkan olehnya berisi tentang pengaduan atas sikap atasannya yang suka memberhentikan karyawannya ketika terjadi sesuatu yang tidak diingin atau cocok dengan Kris.
Zahra meletakkan ponsel di meja dekat ranjangnya lalu menatap atasannya yang sudah tertidur terlelap di sofa tanpa selimut dengan kedua tangan mengepal di dadanya dan kedua kaki ditekuk rapat.
“Kenapa kamu mudah sekali memberhentikan karyawanmu yang sudah lama bekerja denganmu? Kenapa kamu tidak ada rasa toleransi sedikit pun terhadap karyawanmu?” tanya Zahra nada heran dan pelan sembari menutup tubuh atletis Kris dengan selimut.
Zahra jongkok sambil memandangi wajah Kris yang terlihat garang saat kedua matanya terbuka lebar, tetapi ketika dia sedang tertidur, wajahnya menjadi teduh dan terlihat seperti menyimpan luka dan rahasia dalam dirinya.
“Kamu sebenarnya adalah pria baik, tetapi karena sikap jutek dan prinsip hidupmu yang tidak memberikan ampun kepada siapa pun ketika ada kesalahan kecil yang dilanggar secara tidak sengaja,” ucap Zahra pelan lalu tersenyum tipis dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Zahra beranjak pergi dari hadapannya, tetapi pergelangan tangan digenggam erat secepat kilat hingga membuatnya membulatkan bola mata sambil mengernyitkan dahi.
“Mati aku. Aku sudah ngomong tentang dia beberapa detik yang lalu. Bagaimana kalau dia memecatku,” pikirnya sambil menarik tangannya pelan untuk melepaskan genggamannya.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Kris pelan sambil menatapnya.
“Sa-saya belum mengantuk dan habis memeriksa pintu kamar saja,” jawab Zahra terbata-bata.
Kris menarik tangannya dengan keras hingga membuat Zahra terjatuh di atas tubuh atletisnya dan alat infus ditahan oleh satu tangannya.
Jarak wajah hanya terpisah antara hidung Zahra dengan Kris. Jantung Zahra berdegup dengan kencang dan hendak berdiri dari tubuhnya, satu tangan yang berada di punggungnya menahan tubuh mungilnya.
“Ma-maaf, Pak. Saya harus tidur dan bapak besok juga ke kantor,” ucap Zahra yang masih melawan dan menghindar dari tatapannya.
“Temani saya tidur dan sofanya cukup untuk berdua,” ucap Kris yang melarang Zahra untuk pergi dari hadapannya.
“Ti-tidak, Pak. Bagaimana kalau ada dokter, suster atau teman-teman yang lain masuk lalu lihat kita begini?” Zahra menolak dengan sopan.
“Tidak ada dokter atau suster masuk ke kamar pasiennya tengah malam dan … saya kedinginan,” jawab Kris lembut sambil mengusap bibir Zahra pelan.
Bulu halus Zahra berdiri semuanya ketika ibu jari Kris mengusap bibirnya perlahan. Jantung semakin berdegup dengan kencang dan membuat dirinya bingung tentang perasaan yang dialaminya saat ini.
“Ada apa ini? kenapa aku berdegup dengan kencang? Perasaan apa ini?” batin Zahra bertanya-tanya.
“Kenapa diam? Apakah jawaban dari diammu menandakan bahwa kamu mau menemani saya tidur di sini?” tanya Kris sekali lagi.
Zahra menyingkirkan jari Kris dari bibirnya lalu memberontak dari sikap Kris. Kris membiarkan Zahra pergi menuju ranjangnya.
Kris mengikuti langkahnya sambil membawa selimut dan tidur di ranjang Zahra lalu menarik dan memeluk Zahra dari belakang. Kris menutup tubuhnya dan Zahra menggunakan selimut.
Zahra kaget bukan main, tiba-tiba atasannya main memeluknya secepat kilat dan membuatnya bingung sendiri.
“Saya tidak akan berbuat macam-macam, kecuali kamu mengizinkannya,” bisik Kris lalu tersenyum nakal dan memejamkan matanya.
Zahra meringkuk dalam pelukan Kris sambil mengernyitkan dahi saat mendengar bisikannya. Ia tidak paham pada sosok Kris malam ini.
Kris sudah memiliki calon istri, tetapi masih menggoda wanita lain. Zahra tidak ingin menjadi masalah untuknya dan calon istrinya, tetapi tidak bisa melepaskan tangan kekarnya yang melingkar di perut ratanya.
“Malam ini, aku biarkan, tapi jangan harap ada malam berikutnya seperti ini,” ucap Zahra dalam hati.
Zahra tertidur dalam pelukan Kris sepanjang malam dan merasa hangat dan nyaman saat dirinya dipeluk. Ia merasakan kehangatan lagi setelah puluhan tahun tidak mendapat pelukan dari ayahnya.
Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,” jawab Maya nada manja sembari mengusap pipinya pelan.Perawakan Maya yang langsing, wajah tirus, mata yang tajam dan bentuk wajah yang tajam pantas menjadi seorang model dan status sosialnya setara dengan Kris.Maya menghampiri dan duduk di pangkuan Kris lalu memberikan kecupan pagi hari untuk tunangannya. Bahkan, wajahnya terlihat sedang mengejek Zahra seakan menunjukkan kepadanya tentang Kris adalah miliknya.“Apa-apaan kamu? Ada karyawanku, kamu tidak malu?” Kris menolak dengan memalingkan wajahnya.Maya tetap memaksa untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar kecupan di pagi hari, tetapi Kris tetap menolak dan tanpa sengaja, lengannya mengenai lengan Maya hingga membuatnya hampir terj
Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Zahra secepat kilat.“Ini yang saya suka dari kamu.”Zahra mengernyitkan dahi saat Kris mengatakan hal itu kepadanya. Ia tidak paham dengan kalimat seperti itu karena memiliki banyak arti.Tatapan mereka semakin dekat dan tubuh mereka saling menempel. Jantung Zahra semakin berdetak kencang sampai membuat Kris tersenyum lebar ketika merasakan detak jantungnya.“Jantungmu berdegup kencang, kamu gugup?” tanya Kris sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya yang bulat lalu mengusap pipinya pelan.Zahra sudah lama tidak merasakan sentuhan kelembutan di pipi dari seorang pria sehingga merasakan kehangatan dan kenyamanan bak dilindungi oleh ayahnya.Kris semakin mendekatkan wajahnya dan b
Mata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memin
“Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.“Hmm?”“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status
“Saya tahu dan saya sudah membatalkannya dengan menghubungi tiga klien untuk dijadwalkan ulang,” jawab Kris secepat kilat tanpa ekspresi lalu mengambil air mineral yang dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada Zahra.Zahra mematung ketika tangan kekar memegang gelas bening yang diberikan kepadanya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sikap Kris yang tidak pernah dilihat olehnya selama sepuluh tahun.“Untuk saya, Pak?” tanya Zahra lagi.“Lalu, buat siapa coba,” jawab Kris dingin.Zahra merapikan tubuhnya dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas bening berisi air mineral dari tangan Kris.Zahra meminum air mineral dengan pandangan lurus ke depan sampai tidak ada setetes pun yang keluar dari gelas. Kamar khusus menjadi hening dan hanya terdengar suara alat infus.“Bukankah rapat besok adalah rapat yang penting dan bisa diganti oleh Mbak Anggun yang bekerja sebagai sekretaris?” tanya Zahra nada heran.“Saya tidak cocok.”“M
“Ya.” Zahra menjawab sekilas dengan tegas.Zahra tiba di kantor untuk rapat keuangan bersama Kris. Ia telah mempersiapkan semua peralatan dan materi yang sangat bagus.Tidak ada kesalahan atau kerusakan sedikit pun dan sesuai dengan permintaan atasannya untuk setiap kali rapat.Kris pernah berpesan kepadanya bahwa semua perlengkapan dan bahan materi untuk rapat dengan siapa pun harus dipersiapkan dengan baik dan bagus agar tidak merusak reputasinya sebagai CEO yang rapi dan disiplin.“Keuangan dalam perusahaan kita terus meningkat, Pak, tetapi entah kenapa saya curiga, ya, ketika pendapatan dalam perusahaan meningkat?” tanya seorang pria muda yang memiliki rahang yang tegas.“Apa maksudmu?” tanya Kris nada menekan.“Laporan mengatakan bahwa pendapatan kita meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Naik sekitar 50%, tetapi saat saya memeriksa rekening perusahaan ada lalu saya periksa lagi dua hari kemudian, uang senilai tiga ratus lima puluh juta menghilang dari rekening perusahaan,” j







