แชร์

5. Kecupan CEO

ผู้เขียน: Angdan
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-16 11:05:20

“Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.

Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.

Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.

Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.

“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.

“Hmm?”

“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.

“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.

Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.

Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status sosial yang sangat berbeda.

“Keadaan Mbak membaik dan sebaiknya, Mbak, jangan berpikir yang berat dulu karena Mbak memiliki riwayat pengobatan psikologi dengan Dokter Burhan. Beliau kemarin menghampiri saya di ruangan saya dan mengatakan bahwa Mbak pernah menjalani perawatan selama kurang lebih setahun. Dokter Burhan juga berpesan untuk mendatangi ruangannya karena ingin berbicara dengan Mbak,” ucap Dokter dengan lembut.

Zahra membisu dengan bola mata membesar dan kelopak mata dipenuhi dengan air mata yang hendak mengalir di pipi setelah mendengar kondisi fisik dan mentalnya.

Dokter Burhan ternyata mengetahui Zahra sedang dirawat di rumah sakit Internasional.

“Terima kasih, Dok.”

“Sama-sama. Mbak sudah boleh pulang, besok.”

Zahra mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Dokter dan perawat keluar dari kamar Zahra.

Zahra hanya membuang napas perlahan sambil memijat keningnya pelan. Ia tidak melanjutkan pengobatan karena masalah finansial dan tidak ingin ketergantungan minum obat.

Zahra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari memikirkan semua kejadian yang terulang kembali kemarin. Ia tidak akan bisa tenang sebelum pelaku yang sesungguhnya terungkap.

Lima belas menit berlalu, Zahra keluar dari kamar mandi lalu membersihkan ranjang secara perlahan dengan berusaha mengalihkan pikiran yang membuatnya penat.

Saat Zahra melipat selimut, suara pintu kamar terbuka dan melihat Kris masuk dengan membawa tas plastik yang memenuhi kedua tangannya.

“Makan dulu, biarkan saya yang merapikannya.” Kris menggiring Zahra ke arah sofa dan mendudukkannya.

Kris membuka makanan dan minuman lalu memberikan sendok dan garpu kepadanya. Kemudian, Kris merapikan kasur rumah sakit dengan rapi lalu mencuci tangan.

Zahra memandangi makanan yang sangat banyak sampai ada susu dan roti. Kris duduk di sampingnya.

“Makanan kesukaanmu adalah nasi jagung dengan lauk telur dadar dan ayam goreng. Minuman kesukaanmu adalah susu sari kedelai rasa cokelat dan air mineral.” Kris berucap dengan lancar sambil menyiapkan makanannya.

Zahra membisu dengan bola mata yang terarah kepadanya. Ia tidak percaya bahwa seorang Kris yang dikenal tidak memiliki perasaan, tidak kenal ampun dalam hal pekerjaan, dingin dan disiplin bisa mengingat makanan dan minuman kesukaannya.

Ia merasa ada yang aneh dengan atasannya dan aneh dengan perasaannya saat ini. Satu sisi, Zahra tidak ingin merepotkan siapa pun dan meletakkan rasa kasihan kepadanya, tetapi sisi lain, sikap hangat atasannya mengobati rasa rindu dan kakunya terhadap siapa pun, terutama seorang pria.

Zahra membatasi jarak dan hubungannya dengan seorang pria mana pun karena masa lalu yang kelam, tetapi sikap hangat Kris kepadanya meruntuhkan batasan itu.

Bahkan, ia heran dengan kelakuan Kris yang bisa sehangat itu kepadanya, padahal hanya karyawan sebagai asisten pribadi.

“Kamu jangan memandangku seperti itu dan makanlah nasinya,” ucap Kris tanpa membalas tatapannya.

Zahra memakan nasi jagung yang dibelikan olehnya. Bahkan, ia penasaran dengan dia yang tiba-tiba membelikan nasi jagung dan minuman air susu kedelai rasa cokelat.

“Bapak tahu dari mana kalau saya suka nasi jagung dan air susu kedelai rasa cokelat?” tanya Zahra pelan sembari mengarahkan nasi ke mulutnya.

“Panggil saja Kris karena tidak sedang di kantor.”

“Baiklah.”

“Saat kamu makan bersama saya sebelum rapat pagi, kamu selalu membeli nasi jagung dan air susu kedelai yang ada di dekat museum pahlawan.”

Zahra mengangguk-angguk pelan dan datar.

Zahra semakin tidak percaya dengan jawaban yang disampaikan oleh Kris. Dia ternyata memperhatikan kebiasaannya, meskipun terlihat tidak peduli dan selalu datang tepat waktu di kantor dengan pakaian yang rapi.

Lima belas menit berlalu, semua makanan dan minuman habis tanpa sisa. Lagi dan lagi, Kris membersihkannya dan tidak meninggalkan bau sisa makanan dan minuman.

“Aku pulang hari ini saja,” ucap Kris saat memasukkan minuman botol yang masih utuh.

Kris menghentikan aktivitasnya lalu menutup tasnya dan mendekati Zahra dengan wajah datarnya.

“Apa alasanmu ingin pulang hari ini?” tanya Kris datar.

“Alasanku adalah … ingin bisa istirahat di rumah saja,” kilah Zahra sambil menyengir.

“Ingin bisa istirahat di rumah?” tanya Kris lagi sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra.

Zahra memundurkan tubuhnya hingga bersandar di sofa dan urat leher menegang saat wajah mereka berdekatan untuk kedua kali. Napas Kris merasuk ke kulit bagian lehernya.

“Ya. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun, apalagi kamu sebagai atasanku,” jawab Zahra secepat kilat sembari mengalihkan pandangannya.

Kris memegang dagu Zahra dan mengalihkan wajahnya menjadi berdekatan lagi. Zahra menelan ludah saat dada berdebar-debar.

“Kamu merasa saya direpotkan sama kamu?” tanya Kris lembut.

Zahra mengangguk cepat. “Iya. Kamu adalah atasanku dan tidak seharusnya begini. Bapak harusnya fokus ke pekerjaan dan abaikan saja aku, tidak perlu begini,” protes Zahra dengan napas naik turun cepat.

Kris mengalihkan tubuh atletisnya dari tubuh Zahra dan duduk tegap di sampingnya dengan menundukkan kepala. Dia memberikan ruang bernapas untuk rasa protesnya.

“Bagaimana jika saya tidak bisa mengabaikanmu?” tanya Kris saat Zahra protes.

Zahra menghentikan ucapannya sembari mengernyitkan dahi dan menatap Kris dengan penuh heran dan penasaran.

Tanpa sengaja, netra Zahra melihat sebuah tanda lahir berukuran kecil di dekat bagian bawah daun telinga Kris. Ia merasa pernah melihat tanda lahir itu, tapi lupa milik seseorang.

“Bapak bisa mengabaikanku dan anggap saja, aku adalah karyawan asisten pribadi yang dipandang sebelah,” jawab Zahra secepat kilat dan tegas.

Kris menoleh dengan tatapan yang tajam. “Bagaimana kalau sebaliknya?” tanya Kris dengan intonasi penekanan sembari mendekatkan kembali tubuh dan wajahnya.

“A-apa maksudnya? Aku tidak mengerti,” tanya Zahra bingung dengan urat leher yang menegang kembali.

Kris mengecup bibir Zahra pelan dan lembut sampai membuat Zahra terkejut saat bibirnya bersatu dengan bibir atasannya yang menjadi pria idaman banyak wanita.

Kris melepas kecupannya pelan. “Itu jawaban saya. Kamu harus menunggu saya menjemput di sini dan mengantar kamu pulang,” ucap Kris lembut lalu mengecup keningnya pelan hingga membuat Zahra mematung.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   8. Hasil dari Rapat Penting

    Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,” jawab Maya nada manja sembari mengusap pipinya pelan.Perawakan Maya yang langsing, wajah tirus, mata yang tajam dan bentuk wajah yang tajam pantas menjadi seorang model dan status sosialnya setara dengan Kris.Maya menghampiri dan duduk di pangkuan Kris lalu memberikan kecupan pagi hari untuk tunangannya. Bahkan, wajahnya terlihat sedang mengejek Zahra seakan menunjukkan kepadanya tentang Kris adalah miliknya.“Apa-apaan kamu? Ada karyawanku, kamu tidak malu?” Kris menolak dengan memalingkan wajahnya.Maya tetap memaksa untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar kecupan di pagi hari, tetapi Kris tetap menolak dan tanpa sengaja, lengannya mengenai lengan Maya hingga membuatnya hampir terj

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   7. Penolakan dan Penerimaan

    Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Zahra secepat kilat.“Ini yang saya suka dari kamu.”Zahra mengernyitkan dahi saat Kris mengatakan hal itu kepadanya. Ia tidak paham dengan kalimat seperti itu karena memiliki banyak arti.Tatapan mereka semakin dekat dan tubuh mereka saling menempel. Jantung Zahra semakin berdetak kencang sampai membuat Kris tersenyum lebar ketika merasakan detak jantungnya.“Jantungmu berdegup kencang, kamu gugup?” tanya Kris sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya yang bulat lalu mengusap pipinya pelan.Zahra sudah lama tidak merasakan sentuhan kelembutan di pipi dari seorang pria sehingga merasakan kehangatan dan kenyamanan bak dilindungi oleh ayahnya.Kris semakin mendekatkan wajahnya dan b

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   6. Teh Lemon

    Mata Zahra berkedip beberapa kali setelah mendapat kecupan dan sikap hangat dari atasannya. Ada apa dengannya?Saat Kris mengecup bibir dan keningnya, detak jantung Zahra berdegup semakin kencang. Detak jantung yang tidak pernah dirasakan olehnya selama puluhan tahun.Zahra tidak pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang lelaki sedikit pun karena hidupnya sudah sangat rumit sehingga tidak pernah merasakan jantung berdegup kencang.Ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan bekerja demi bertahan hidup dari kerasnya dunia dan tidak sempat memikirkan hubungan spesial dengan pria lain.Zahra menggeleng cepat untuk menyadarkan diri bahwa Kris hanya kasihan kepadanya karena sebatang kara dan tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya.Kris sudah punya calon istri yang status sosialnya setara dengannya.Zahra kembali ke kasur sambil memainkan layar ponsel dan melihat foto dari hasil pengambilan gambar saat kejadian ayahnya meninggal dunia yang didapat olehnya dari pihak kepolisian ketika memin

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   5. Kecupan CEO

    “Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.“Hmm?”“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   4. Sikap Hangat Kris

    “Saya tahu dan saya sudah membatalkannya dengan menghubungi tiga klien untuk dijadwalkan ulang,” jawab Kris secepat kilat tanpa ekspresi lalu mengambil air mineral yang dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada Zahra.Zahra mematung ketika tangan kekar memegang gelas bening yang diberikan kepadanya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat sikap Kris yang tidak pernah dilihat olehnya selama sepuluh tahun.“Untuk saya, Pak?” tanya Zahra lagi.“Lalu, buat siapa coba,” jawab Kris dingin.Zahra merapikan tubuhnya dengan posisi duduk di atas ranjang rumah sakit sambil bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas bening berisi air mineral dari tangan Kris.Zahra meminum air mineral dengan pandangan lurus ke depan sampai tidak ada setetes pun yang keluar dari gelas. Kamar khusus menjadi hening dan hanya terdengar suara alat infus.“Bukankah rapat besok adalah rapat yang penting dan bisa diganti oleh Mbak Anggun yang bekerja sebagai sekretaris?” tanya Zahra nada heran.“Saya tidak cocok.”“M

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   3. Zahra Dirawat

    “Ya.” Zahra menjawab sekilas dengan tegas.Zahra tiba di kantor untuk rapat keuangan bersama Kris. Ia telah mempersiapkan semua peralatan dan materi yang sangat bagus.Tidak ada kesalahan atau kerusakan sedikit pun dan sesuai dengan permintaan atasannya untuk setiap kali rapat.Kris pernah berpesan kepadanya bahwa semua perlengkapan dan bahan materi untuk rapat dengan siapa pun harus dipersiapkan dengan baik dan bagus agar tidak merusak reputasinya sebagai CEO yang rapi dan disiplin.“Keuangan dalam perusahaan kita terus meningkat, Pak, tetapi entah kenapa saya curiga, ya, ketika pendapatan dalam perusahaan meningkat?” tanya seorang pria muda yang memiliki rahang yang tegas.“Apa maksudmu?” tanya Kris nada menekan.“Laporan mengatakan bahwa pendapatan kita meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Naik sekitar 50%, tetapi saat saya memeriksa rekening perusahaan ada lalu saya periksa lagi dua hari kemudian, uang senilai tiga ratus lima puluh juta menghilang dari rekening perusahaan,” j

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status