เข้าสู่ระบบ“Selamat pagi, Mbak Zahra.” Sapa seorang wanita dengan ramah.
Zahra membuka mata perlahan dan disuguhkan pemandangan perawat dan dokter sudah berada di sampingnya untuk memeriksa keadaannya.
Sontak, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun di ruangan.
Zahra merasa lega ketika tidak ada yang memergokinya bersama Kris, CEO yang pastinya sudah dikenal oleh banyak orang.
“Mbak Zahra mencari pacarnya, ya?” tanya perawat dengan lesung pipi sambil tersenyum lebar.
“Hmm?”
“Pacarnya tadi bilang ke Dokter kalau keluar sebentar, beli makanan dan minuman. Jadi, kalau ada apa-apa disuruh bilang kepadanya,” ucap perawat nada menggoda.
“Dia bukan pacar saya, Dok,” sanggah Zahra secepat kilat.
Dokter dan perawat hanya tersenyum lebar dan menggeleng pelan setelah Zahra mengatakan bahwa Kris bukanlah kekasihnya.
Zahra berpikir bahwa mereka saja yang mengatakan hal begitu karena Kris menitip pesan kepadanya. Ia juga tidak mungkin menjadi kekasihnya karena dia sudah memiliki calon istri dan status sosial yang sangat berbeda.
“Keadaan Mbak membaik dan sebaiknya, Mbak, jangan berpikir yang berat dulu karena Mbak memiliki riwayat pengobatan psikologi dengan Dokter Burhan. Beliau kemarin menghampiri saya di ruangan saya dan mengatakan bahwa Mbak pernah menjalani perawatan selama kurang lebih setahun. Dokter Burhan juga berpesan untuk mendatangi ruangannya karena ingin berbicara dengan Mbak,” ucap Dokter dengan lembut.
Zahra membisu dengan bola mata membesar dan kelopak mata dipenuhi dengan air mata yang hendak mengalir di pipi setelah mendengar kondisi fisik dan mentalnya.
Dokter Burhan ternyata mengetahui Zahra sedang dirawat di rumah sakit Internasional.
“Terima kasih, Dok.”
“Sama-sama. Mbak sudah boleh pulang, besok.”
Zahra mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Dokter dan perawat keluar dari kamar Zahra.
Zahra hanya membuang napas perlahan sambil memijat keningnya pelan. Ia tidak melanjutkan pengobatan karena masalah finansial dan tidak ingin ketergantungan minum obat.
Zahra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari memikirkan semua kejadian yang terulang kembali kemarin. Ia tidak akan bisa tenang sebelum pelaku yang sesungguhnya terungkap.
Lima belas menit berlalu, Zahra keluar dari kamar mandi lalu membersihkan ranjang secara perlahan dengan berusaha mengalihkan pikiran yang membuatnya penat.
Saat Zahra melipat selimut, suara pintu kamar terbuka dan melihat Kris masuk dengan membawa tas plastik yang memenuhi kedua tangannya.
“Makan dulu, biarkan saya yang merapikannya.” Kris menggiring Zahra ke arah sofa dan mendudukkannya.
Kris membuka makanan dan minuman lalu memberikan sendok dan garpu kepadanya. Kemudian, Kris merapikan kasur rumah sakit dengan rapi lalu mencuci tangan.
Zahra memandangi makanan yang sangat banyak sampai ada susu dan roti. Kris duduk di sampingnya.
“Makanan kesukaanmu adalah nasi jagung dengan lauk telur dadar dan ayam goreng. Minuman kesukaanmu adalah susu sari kedelai rasa cokelat dan air mineral.” Kris berucap dengan lancar sambil menyiapkan makanannya.
Zahra membisu dengan bola mata yang terarah kepadanya. Ia tidak percaya bahwa seorang Kris yang dikenal tidak memiliki perasaan, tidak kenal ampun dalam hal pekerjaan, dingin dan disiplin bisa mengingat makanan dan minuman kesukaannya.
Ia merasa ada yang aneh dengan atasannya dan aneh dengan perasaannya saat ini. Satu sisi, Zahra tidak ingin merepotkan siapa pun dan meletakkan rasa kasihan kepadanya, tetapi sisi lain, sikap hangat atasannya mengobati rasa rindu dan kakunya terhadap siapa pun, terutama seorang pria.
Zahra membatasi jarak dan hubungannya dengan seorang pria mana pun karena masa lalu yang kelam, tetapi sikap hangat Kris kepadanya meruntuhkan batasan itu.
Bahkan, ia heran dengan kelakuan Kris yang bisa sehangat itu kepadanya, padahal hanya karyawan sebagai asisten pribadi.
“Kamu jangan memandangku seperti itu dan makanlah nasinya,” ucap Kris tanpa membalas tatapannya.
Zahra memakan nasi jagung yang dibelikan olehnya. Bahkan, ia penasaran dengan dia yang tiba-tiba membelikan nasi jagung dan minuman air susu kedelai rasa cokelat.
“Bapak tahu dari mana kalau saya suka nasi jagung dan air susu kedelai rasa cokelat?” tanya Zahra pelan sembari mengarahkan nasi ke mulutnya.
“Panggil saja Kris karena tidak sedang di kantor.”
“Baiklah.”
“Saat kamu makan bersama saya sebelum rapat pagi, kamu selalu membeli nasi jagung dan air susu kedelai yang ada di dekat museum pahlawan.”
Zahra mengangguk-angguk pelan dan datar.
Zahra semakin tidak percaya dengan jawaban yang disampaikan oleh Kris. Dia ternyata memperhatikan kebiasaannya, meskipun terlihat tidak peduli dan selalu datang tepat waktu di kantor dengan pakaian yang rapi.
Lima belas menit berlalu, semua makanan dan minuman habis tanpa sisa. Lagi dan lagi, Kris membersihkannya dan tidak meninggalkan bau sisa makanan dan minuman.
“Aku pulang hari ini saja,” ucap Kris saat memasukkan minuman botol yang masih utuh.
Kris menghentikan aktivitasnya lalu menutup tasnya dan mendekati Zahra dengan wajah datarnya.
“Apa alasanmu ingin pulang hari ini?” tanya Kris datar.
“Alasanku adalah … ingin bisa istirahat di rumah saja,” kilah Zahra sambil menyengir.
“Ingin bisa istirahat di rumah?” tanya Kris lagi sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra.
Zahra memundurkan tubuhnya hingga bersandar di sofa dan urat leher menegang saat wajah mereka berdekatan untuk kedua kali. Napas Kris merasuk ke kulit bagian lehernya.
“Ya. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun, apalagi kamu sebagai atasanku,” jawab Zahra secepat kilat sembari mengalihkan pandangannya.
Kris memegang dagu Zahra dan mengalihkan wajahnya menjadi berdekatan lagi. Zahra menelan ludah saat dada berdebar-debar.
“Kamu merasa saya direpotkan sama kamu?” tanya Kris lembut.
Zahra mengangguk cepat. “Iya. Kamu adalah atasanku dan tidak seharusnya begini. Bapak harusnya fokus ke pekerjaan dan abaikan saja aku, tidak perlu begini,” protes Zahra dengan napas naik turun cepat.
Kris mengalihkan tubuh atletisnya dari tubuh Zahra dan duduk tegap di sampingnya dengan menundukkan kepala. Dia memberikan ruang bernapas untuk rasa protesnya.
“Bagaimana jika saya tidak bisa mengabaikanmu?” tanya Kris saat Zahra protes.
Zahra menghentikan ucapannya sembari mengernyitkan dahi dan menatap Kris dengan penuh heran dan penasaran.
Tanpa sengaja, netra Zahra melihat sebuah tanda lahir berukuran kecil di dekat bagian bawah daun telinga Kris. Ia merasa pernah melihat tanda lahir itu, tapi lupa milik seseorang.
“Bapak bisa mengabaikanku dan anggap saja, aku adalah karyawan asisten pribadi yang dipandang sebelah,” jawab Zahra secepat kilat dan tegas.
Kris menoleh dengan tatapan yang tajam. “Bagaimana kalau sebaliknya?” tanya Kris dengan intonasi penekanan sembari mendekatkan kembali tubuh dan wajahnya.
“A-apa maksudnya? Aku tidak mengerti,” tanya Zahra bingung dengan urat leher yang menegang kembali.
Kris mengecup bibir Zahra pelan dan lembut sampai membuat Zahra terkejut saat bibirnya bersatu dengan bibir atasannya yang menjadi pria idaman banyak wanita.
Kris melepas kecupannya pelan. “Itu jawaban saya. Kamu harus menunggu saya menjemput di sini dan mengantar kamu pulang,” ucap Kris lembut lalu mengecup keningnya pelan hingga membuat Zahra mematung.
Zahra membisu sambil menatap lamat. Jantung berdegup dengan kencang dan aliran darah mengalir dengan deras seakan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dan merinding akan terjadi kepadanya.Zahra takut ketika melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang belum resmi menjadi suaminya. Ia takut jika Kris tidak bertanggung jawab atas perbuatannya kelak dan merusak semua rencana dan masa depannya.“Kalau kamu tidak mengizinkannya, aku tidak akan melakukannya cukup memeluk dan mengecupmu sebelum tidur,” ucap Kris lembut.Zahra menelan air saliva setelah Kris mengatakan hal seperti itu. Kalimat keputusasaan dari seorang pria ketika tidak mendapat izin dari perempuan yang akan disentuh.“Pakai pengaman dulu,” ucap Zahra pelan sembari menatap lamat.Kris tersenyum miring dan nakal seakan memahami ucapan Zahra. Kalimat seperti itu artinya bahwa lawan main menyetujui untuk disentuh.“Tidak perlu.”Kris menolak memakai pengaman lalu melancarkan aksinya. Sentuhan lembut dari tangan kekarn
Kris mendekati Zahra yang terdengar masih tidak yakin tentang perasaan terhadapnya. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh, jika perasaan yang dimiliki oleh atasannya tidak murni mencintainya.Zahra juga tidak ingin merusak hubungan orang lain, apalagi dia sedang berstatus tunangan orang lain, tetapi perasaannya fokus kepadanya.Kris memegang kedua tangannya. “Perasaan suka dan cintaku kepadamu adalah murni dari hatiku, kamu yang membuatku jatuh hati. Bahkan, sikapmu sebagai karyawanku bukan hanya sekadar tugas asisten pribadi. Kamu melakukan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh dan menganggapku seperti manusia karena semua diperhatikan sampai hal kecil yang tidak pernah dilakukan oleh mantanku sebelumnya, malah kamu melakukannya. Kamu juga memperhatikan kesehatanku disaat semuanya sibuk. Sikapmu mirip dengan ibuku dan membuatku bercita-cita memiliki istri yang memiliki sifat dan sikap sepertinya. Semua itu ada padamu. Bahkan, saat mengetahui kemampuan bela dirimu ketika kamu menyelamatkank
“Cepat ganti baju. Aku mau mengajakmu jalan-jalan sekalian ke pantai untuk menikmati matahari terbenam,” jawab Kris sambil tersenyum lebar.“Jalan-jalan ke mana?” tanya Zahra penasaran sembari mendekatinya.“Ada deh. Kamu ganti sekarang di kamar baru,” ucap Kris sambil mengambil koper Zahra lalu menarik dua koper sekaligus.Kris keluar dari kamar lama menuju resepsionis untuk meminta kunci kamar baru yang dipesan olehnya.“Tunjukkan kamar baru yang sudah kamu pesan,” ucap Kris santai.Zahra menunjukkan sebuah aplikasi pemesanan kamar hotel kepada resepsionis untuk dicocokkan data saat pemesanan dan melakukan reservasi kamar sebelum masuk ke hotel.“Kalian berdua cocok, semoga cepat diberi anak. Anak kalian pasti lucu-lucu,” ucap karyawan resepsionis perempuan.“Terima kasih, Mbak. Kita sangat cocok dan menawan, kan, Mbak?” sambar Kris secepat kilat dan penuh percaya diri.“Kalian sangat cocok dan pasti datang untuk bulan madu sampai pindah kamar ke kamar yang paling mewah di hotel ini
“Kamu menangis?” tanya Kris heran.“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Zahra bertanya kembali kepada Kris.“Aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah sampai menangis begini. Aku ingat semua pesanmu dan aku juga ingat dengan janjiku kepadamu saat kamu menolongku dari pria yang berusaha menusukku dari belakang. Aku janji tidak akan mengulanginya,” jawab Kris pelan dan lembut.Zahra masih membisu dengan butiran bening menetes di pipinya. Kris merasa bersalah telah membuat wanita yang disukai dan dicintai menjadi menangis karenanya.Kris memutar tubuh Zahra menjadi menghadap ke arahnya dan tatapan mereka saling bertemu. Zahra menatap lembut kepadanya.Kris menyeka air matanya dengan lembut lalu mengecup keningnya dan memeluknya erat.“Maafkan aku. Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi.”Zahra memeluk Kris dengan erat dan merasakan detak jantungnya yang berdegup berirama dan beraturan.“Aku tidak perlu semua janjimu, Kris. Aku ingin kamu bisa menjaga semua ucapanmu kepada si
“Aku sudah bilang kalau jangan alkohol terlalu banyak kalau mau bertemu dengan klien,” gerutu Zahra sambil melepaskan tangannya yang melingkar di perut.Kris memiliki kebiasaan melampiaskan amarah yang terpendam dengan meminum alkohol dengan jumlah tiga botol besar.Zahra tidak ingin kejadian masa lalu membuat dirinya rugi karena klien pergi dari tempatnya.Zahra membuat kentang, brokoli, jamur dan wortel yang diisi dengan ayam untuk menghilangkan pengar.Zahra memiliki perasaan yang kuat bahwa dia pasti minum saat suasana hati sedang buruk.Setengah jam berlalu, Zahra selesai membuat sup sehat penghilang pengar dan menyajikannya di meja. Ia membangunkan Kris dengan lembut sambil mengusap kepalanya.“Bangun, Kris sudah waktunya pergi ke Bandara.”Hitungan detik, Kris terbangun sambil memegang kepala, dahi mengernyit dan mata tertutup rapat bak menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.“Ayo, bangun. Kamu harus segera bergegas ke bandara agar pertemuan kita dengan klien tidak ter
“Saya bilang satu kamar saja,” Kris menjawab sambil terus melangkah dan membalas sapaan karyawan lainnya hanya dengan sekali anggukan lalu masuk ke ruangan.Zahra pun membalas sapaan rekan kerjanya sambil tersenyum lebar, melambaikan tangan dan suara sebagai keakraban.Zahra berhenti melangkah dan mengikuti Kris untuk masuk ke ruangan lalu melanjutkan perbincangan dengan rekan kerjanya yang berasal dari divisi keuangan.“Kamu keren, Zahra di rapat tadi.” Seorang wanita berambut pendek memuji penampilannya yang sudah mencari tahu tentang sesuatu yang mencurigakan di gudang.“Sudah menjadi tugas pekerjaanku,” balas Zahra merendah sambil tersenyum lebar dan memukul lengan rekan kerjanya pelan.“Pak Kris besok ada jadwal rapat di luar dengan perusahaan pangan terbesar se negeri ini, ya?” tanya rekan kerjanya penasaran sambil mengecilkan suara bicaranya.“Iya. Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Zahra penasaran.“Lega banget dan kamu tahu sendiri kalau habis rapat lalu ada karyawan ya
“Kamu tahu kebiasaan dia yang bisa membahayakan siapa pun yang dekat dengannya. Ibu tidak ingin dia bekerja di perusahaan yang lain demi keselamatan bersama,” jawab Ibu Kris lembut.“Dia sudah dewasa dan seharusnya mengerti untuk mengubah perilaku yang buruk dan memperhatikan sekitarnya, bukan meng
“Ya, aku mengusirmu. Kamu merepotkan dan tidak membantu sama sekali!”Kris mengusir Maya dengan nada sedikit tinggi di depan Zahra. Zahra menatap Maya saat Kris mengusirnya.Maya menatap Zahra dengan sinis dan memperhatikannya mulai dari atas hingga bawah. Dia sangat kesal kepada Kris karena sudah
“Maaf, Mbak, saya tidak tahu.”“Tidak tahu?” tanya Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.“Iya. Saya tidak tahu, tapi saya hanya tahu kalau dia datang bersama seorang pria berbadan tinggi dan besar, tato bintang yang melingkar di lehernya, tidak memiliki rambut. Dia datang dua bulan
Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Z







