Share

3. Zahra Dirawat

Author: Angdan
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-16 11:04:01

“Ya.” Zahra menjawab sekilas dengan tegas.

Zahra tiba di kantor untuk rapat keuangan bersama Kris. Ia telah mempersiapkan semua peralatan dan materi yang sangat bagus.

Tidak ada kesalahan atau kerusakan sedikit pun dan sesuai dengan permintaan atasannya untuk setiap kali rapat.

Kris pernah berpesan kepadanya bahwa semua perlengkapan dan bahan materi untuk rapat dengan siapa pun harus dipersiapkan dengan baik dan bagus agar tidak merusak reputasinya sebagai CEO yang rapi dan disiplin.

“Keuangan dalam perusahaan kita terus meningkat, Pak, tetapi entah kenapa saya curiga, ya, ketika pendapatan dalam perusahaan meningkat?” tanya seorang pria muda yang memiliki rahang yang tegas.

“Apa maksudmu?” tanya Kris nada menekan.

“Laporan mengatakan bahwa pendapatan kita meningkat dari beberapa bulan sebelumnya. Naik sekitar 50%, tetapi saat saya memeriksa rekening perusahaan ada lalu saya periksa lagi dua hari kemudian, uang senilai tiga ratus lima puluh juta menghilang dari rekening perusahaan,” jelas pria muda dengan intonasi penekanan.

Pria muda yang menjelaskan tentang hilangnya uang perusahaan senilai yang sangat besar bernama Jonathan Wongso Adiguna, karyawan terbaik bagian keuangan selama bekerja di perusahaan Kris.

Pikiran Zahra sedang tidak berada di ruangan rapat, melainkan mengingat kejadian beberapa menit yang lalu yang serupa dengan kematian adiknya.

‘Jika kasus yang serupa muncul lagi, apakah artinya aku harus meneruskan niatku untuk mencari keadilan atas kematian ayah dan adikku, meskipun harus melawan orang-orang yang memiliki kekuasaan untuk menutupi pelaku sebenarnya?’

Zahra memiliki trauma masa kecil ketika ayahnya meninggal secara mendadak dan mengeluarkan busa di mulutnya di depan matanya setelah meminum minuman berwarna cokelat.

Tidak ada satu orang pun berniat untuk menolong ayahnya saat itu. Zahra sendirian meminta pertolongan kepada siapa pun, tetapi tidak ada yang mendengar hingga sang pencipta mengirim teman ayah ke sebuah bangunan besar berwarna putih dengan halaman yang sangat luas.

Ingatan masa lalu yang membuatnya marah dan berusaha dihilangkan olehnya agar tidak menyimpan dendam, ternyata masih teringat dan membekas, meskipun samar.

Kepala Zahra menjadi sakit saat mengingat kejadian masa kecilnya. Tidak ada yang tahu cerita hidupnya, kecuali sahabat SMA-nya, Regita Cahaya Muri.

Suara beberapa orang dalam ruang rapat mendadak menghilang, pandangan menjadi kabur dan ganda sambil berputar hingga semuanya menjadi gelap dalam hitungan detik.

Zahra hanya mendengar keributan orang yang meminta tolong untuk memanggil ambulan. Ia hanya mendengar suara keributan orang yang samar-samar sampai suara itu menghilang.

Tujuh jam kemudian, tepat pukul sembilan malam, pandangan Zahra disuguhkan lampu berwarna putih, dinding berwarna putih, alat infus, pendingin ruangan, sofa dan pendingin makanan di dalam ruangan.

Zahra melihat tangannya diberi cairan melalui infus. Pintu kamar dibuka dan tanpa disangka olehnya bahwa Kris datang bersama Jonathan dan seorang wanita yang pernah bertemu di sebuah restoran Auto Notive yang mengecup bibir Kris dan mengaku sebagai calon istrinya.

“Kamu sudah sadar, Zahra?” tanya Jonathan lembut sambil mendekatinya.

“Bagaimana bisa aku ada di sini?” tanya Zahra pelan.

“Kamu tadi pingsan saat rapat bersama tim keuangan dan … kata Dokter kamu kelelahan saja dan kurang tidur,” jawab Jonathan sambil mengelus pundaknya pelan.

“Dokter siapa yang menanganiku tadi?” tanya Zahra penasaran.

“Dokter Paulus Cahya.”

“Lalu, aku sudah boleh pulang besok?”

“Tunggu, hasil pemeriksaan dokter besok. Kamu harus istirahat karena pekerjaanmu berat,” tutur Jonathan lembut sambil memegang tangan Zahra.

Zahra tersenyum lemas. “Namanya juga bekerja ikut orang, pasti berat, Jonathan. Aku lupa minum vitamin saja makanya jatuh sakit,” balas Zahra sambil memejamkan mata sekilas.

“Ada Pak Kris sama Ibu Maya, calon istrinya datang menjenguk,” bisik Jonathan lalu melepas genggaman tangannya.

Bola mata Zahra teralihkan kepada Pak Kris dan seorang wanita yang memiliki kulit sawo matang dengan riasan wajah yang sangat tebal, celana panjang yang membentuk lekuk tubuhnya yang ramping dan Impian banyak wanita.

“Eh, Bapak. Ini sudah malam, Pak, kenapa bapak repot-repot datang menjenguk saya? Saya jadi tidak enak, apalagi membawa seorang wanita yang cantik dan seksi.”

“Tuh, kan, aku bilang apa. Asisten pribadimu aja bilang kayak gitu. Kamu tidak mendengarkanku sama sekali yang ngotot untuk menjenguknya, padahal sudah ada rekan kerjamu yang bernama Jonathan,” cerocos Maya.

“Saya hanya memastikan kamu baik-baik saja.” Kris berucap datar tanpa ekspresi.

“Oke. Bapak bisa istirahat di rumah dan … jangan pedulikan saya karena saya tetap mengerjakan pekerjaan saya sebagai asisten pribadi,” balas Zahra nada sedikit mengusir.

“Baiklah.”

Kris dan Maya pergi dari rumah sakit setelah memastikan keadaan Zahra. Jonathan masih berada di rumah sakit untuk menemaninya.

“Kenapa kamu tidak pulang juga? Bagaimana kalau ibumu atau calon istrimu mencarimu dan tahu menungguku sedang sakit?” tanya Zahra nada heran.

“Aku disuruh menjagamu sama Bapak Kris sebagai tanggung jawab dia sebagai atasanmu yang memintamu untuk bekerja 24 jam tanpa henti saat kapanpun dia membutuhkanmu,” jawab Jonathan terbata-bata.

“Pulanglah. Kamu pasti lelah mengurus pekerjaan masalah uang perusahaan dan aku sendirian tidak apa. Aku sudah terbiasa sendiri sejak masih kecil,” pinta Zahra lembut.

“Sungguh? Bagaimana kalau Pak Kris memecatku nanti?” Jonathan bertanya dengan nada ketakutan.

“Aku yang bilang kepadanya nanti bahwa aku yang menyuruhmu pulang,” jawab Zahra lembut dan tenang.

“Baiklah. Terima kasih, Zahra. Kamu memang bisa diandalkan dan menjadi kepercayaan rekan kerjamu di kantor. Mereka sangat menyayangimu, kecuali beberapa orang yang tidak menyukaimu.”

Zahra hanya mengangguk sekilas sambil tersenyum lemas ketika Jonathan melambaikan tangan kepadanya.

Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit yang tidak memiliki tetangga di sisi kanan dan kirinya. Pak Kris pasti meminta pihak rumah sakit untuk berada di kamar khusus.

Dokter yang menanganinya bukanlah Dokter yang pernah ditemui olehnya selama lima tahun yang lalu sehingga dikatakan sebagai kelelahan dan kurang tidur.

Zahra sempat berobat ke psikiater untuk menangani masalah mental dalam dirinya sejak diterima bekerja di perusahaan milik Pak Kris. Rasa trauma, takut ketika melihat berita kematian orang lain dan penyiksaan manusia dan hewan secara langsung, maupun televisi.

Zahra memiliki riwayat sakit mental yang bernama Post Traumatic Stress Disorder yang berusaha disembuhkan olehnya sekuat tenaga. Ia tidak ingin penyakit itu muncul kembali ke dalam hidupnya sehingga berusaha mengendalikan emosi dengan menggunakan logika dan kepercayaan agama.

Zahra hendak turun dari ranjang untuk mengambil minum, tiba-tiba tangan kekar menekan kakinya yang artinya dilarang untuk bergerak lebih banyak.

“Pak Kris?” sontak Zahra sambil membulatkan bola mata.

“Kamu mau ngapain? Apa yang mau kamu ambil?” tanya Kris sambil merapikan selimutnya.

“Kenapa bapak kembali lagi? Bukannya besok ada jadwal rapat bersama klien lagi?” tanya Zahra nada heran.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   17. Malam yang Menggairahkan dan Berkeringat

    Zahra membisu sambil menatap lamat. Jantung berdegup dengan kencang dan aliran darah mengalir dengan deras seakan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dan merinding akan terjadi kepadanya.Zahra takut ketika melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang belum resmi menjadi suaminya. Ia takut jika Kris tidak bertanggung jawab atas perbuatannya kelak dan merusak semua rencana dan masa depannya.“Kalau kamu tidak mengizinkannya, aku tidak akan melakukannya cukup memeluk dan mengecupmu sebelum tidur,” ucap Kris lembut.Zahra menelan air saliva setelah Kris mengatakan hal seperti itu. Kalimat keputusasaan dari seorang pria ketika tidak mendapat izin dari perempuan yang akan disentuh.“Pakai pengaman dulu,” ucap Zahra pelan sembari menatap lamat.Kris tersenyum miring dan nakal seakan memahami ucapan Zahra. Kalimat seperti itu artinya bahwa lawan main menyetujui untuk disentuh.“Tidak perlu.”Kris menolak memakai pengaman lalu melancarkan aksinya. Sentuhan lembut dari tangan kekarn

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   16. Resmi Menjadi Sepasang Kekasih

    Kris mendekati Zahra yang terdengar masih tidak yakin tentang perasaan terhadapnya. Ia tidak ingin melakukan hal bodoh, jika perasaan yang dimiliki oleh atasannya tidak murni mencintainya.Zahra juga tidak ingin merusak hubungan orang lain, apalagi dia sedang berstatus tunangan orang lain, tetapi perasaannya fokus kepadanya.Kris memegang kedua tangannya. “Perasaan suka dan cintaku kepadamu adalah murni dari hatiku, kamu yang membuatku jatuh hati. Bahkan, sikapmu sebagai karyawanku bukan hanya sekadar tugas asisten pribadi. Kamu melakukan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh dan menganggapku seperti manusia karena semua diperhatikan sampai hal kecil yang tidak pernah dilakukan oleh mantanku sebelumnya, malah kamu melakukannya. Kamu juga memperhatikan kesehatanku disaat semuanya sibuk. Sikapmu mirip dengan ibuku dan membuatku bercita-cita memiliki istri yang memiliki sifat dan sikap sepertinya. Semua itu ada padamu. Bahkan, saat mengetahui kemampuan bela dirimu ketika kamu menyelamatkank

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   15. Pergi Bersama Menikmati Senja

    “Cepat ganti baju. Aku mau mengajakmu jalan-jalan sekalian ke pantai untuk menikmati matahari terbenam,” jawab Kris sambil tersenyum lebar.“Jalan-jalan ke mana?” tanya Zahra penasaran sembari mendekatinya.“Ada deh. Kamu ganti sekarang di kamar baru,” ucap Kris sambil mengambil koper Zahra lalu menarik dua koper sekaligus.Kris keluar dari kamar lama menuju resepsionis untuk meminta kunci kamar baru yang dipesan olehnya.“Tunjukkan kamar baru yang sudah kamu pesan,” ucap Kris santai.Zahra menunjukkan sebuah aplikasi pemesanan kamar hotel kepada resepsionis untuk dicocokkan data saat pemesanan dan melakukan reservasi kamar sebelum masuk ke hotel.“Kalian berdua cocok, semoga cepat diberi anak. Anak kalian pasti lucu-lucu,” ucap karyawan resepsionis perempuan.“Terima kasih, Mbak. Kita sangat cocok dan menawan, kan, Mbak?” sambar Kris secepat kilat dan penuh percaya diri.“Kalian sangat cocok dan pasti datang untuk bulan madu sampai pindah kamar ke kamar yang paling mewah di hotel ini

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   14. Tanda Tangan Proyek Besar

    “Kamu menangis?” tanya Kris heran.“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” Zahra bertanya kembali kepada Kris.“Aku minta maaf kalau sudah membuatmu marah sampai menangis begini. Aku ingat semua pesanmu dan aku juga ingat dengan janjiku kepadamu saat kamu menolongku dari pria yang berusaha menusukku dari belakang. Aku janji tidak akan mengulanginya,” jawab Kris pelan dan lembut.Zahra masih membisu dengan butiran bening menetes di pipinya. Kris merasa bersalah telah membuat wanita yang disukai dan dicintai menjadi menangis karenanya.Kris memutar tubuh Zahra menjadi menghadap ke arahnya dan tatapan mereka saling bertemu. Zahra menatap lembut kepadanya.Kris menyeka air matanya dengan lembut lalu mengecup keningnya dan memeluknya erat.“Maafkan aku. Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi.”Zahra memeluk Kris dengan erat dan merasakan detak jantungnya yang berdegup berirama dan beraturan.“Aku tidak perlu semua janjimu, Kris. Aku ingin kamu bisa menjaga semua ucapanmu kepada si

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   13. Mengingkari Janji

    “Aku sudah bilang kalau jangan alkohol terlalu banyak kalau mau bertemu dengan klien,” gerutu Zahra sambil melepaskan tangannya yang melingkar di perut.Kris memiliki kebiasaan melampiaskan amarah yang terpendam dengan meminum alkohol dengan jumlah tiga botol besar.Zahra tidak ingin kejadian masa lalu membuat dirinya rugi karena klien pergi dari tempatnya.Zahra membuat kentang, brokoli, jamur dan wortel yang diisi dengan ayam untuk menghilangkan pengar.Zahra memiliki perasaan yang kuat bahwa dia pasti minum saat suasana hati sedang buruk.Setengah jam berlalu, Zahra selesai membuat sup sehat penghilang pengar dan menyajikannya di meja. Ia membangunkan Kris dengan lembut sambil mengusap kepalanya.“Bangun, Kris sudah waktunya pergi ke Bandara.”Hitungan detik, Kris terbangun sambil memegang kepala, dahi mengernyit dan mata tertutup rapat bak menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.“Ayo, bangun. Kamu harus segera bergegas ke bandara agar pertemuan kita dengan klien tidak ter

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   12. Jangan Pergi, Tetaplah di Sisiku!

    “Saya bilang satu kamar saja,” Kris menjawab sambil terus melangkah dan membalas sapaan karyawan lainnya hanya dengan sekali anggukan lalu masuk ke ruangan.Zahra pun membalas sapaan rekan kerjanya sambil tersenyum lebar, melambaikan tangan dan suara sebagai keakraban.Zahra berhenti melangkah dan mengikuti Kris untuk masuk ke ruangan lalu melanjutkan perbincangan dengan rekan kerjanya yang berasal dari divisi keuangan.“Kamu keren, Zahra di rapat tadi.” Seorang wanita berambut pendek memuji penampilannya yang sudah mencari tahu tentang sesuatu yang mencurigakan di gudang.“Sudah menjadi tugas pekerjaanku,” balas Zahra merendah sambil tersenyum lebar dan memukul lengan rekan kerjanya pelan.“Pak Kris besok ada jadwal rapat di luar dengan perusahaan pangan terbesar se negeri ini, ya?” tanya rekan kerjanya penasaran sambil mengecilkan suara bicaranya.“Iya. Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Zahra penasaran.“Lega banget dan kamu tahu sendiri kalau habis rapat lalu ada karyawan ya

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   9. Mobil 69 dan Faiz

    “Ya, aku mengusirmu. Kamu merepotkan dan tidak membantu sama sekali!”Kris mengusir Maya dengan nada sedikit tinggi di depan Zahra. Zahra menatap Maya saat Kris mengusirnya.Maya menatap Zahra dengan sinis dan memperhatikannya mulai dari atas hingga bawah. Dia sangat kesal kepada Kris karena sudah

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   10. Terpanah

    “Maaf, Mbak, saya tidak tahu.”“Tidak tahu?” tanya Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.“Iya. Saya tidak tahu, tapi saya hanya tahu kalau dia datang bersama seorang pria berbadan tinggi dan besar, tato bintang yang melingkar di lehernya, tidak memiliki rambut. Dia datang dua bulan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   7. Penolakan dan Penerimaan

    Bola mata perlahan turun ke arah bawah yang kancing kemeja sudah terbuka tiga. Sontak, Zahra membuka mulut dengan lebar lalu menutupnya kembali sambil menggeleng cepat. “Maaf, Pak. Saya tidak sadar dan … reflek membersihkan kemeja bapak yang mahal dan tidak ingin merusak dan mengotorinya,” jelas Z

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   8. Hasil dari Rapat Penting

    Maya merupakan perempuan yang dilihat oleh Zahra di restoran pertama kali saat sedang mengecup Kris. Dia juga pernah bertemu di rumahnya ketika Kris dijodohkan dengannya.“Aku ingin bersamamu, Sayang. Mama dan Papa tahu kalau aku tidak ikut. Aku sengaja membiarkan mereka menghabiskan waktu bersama,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status