MasukBramantya merapatkan rangkulannya, membawa tubuh Angel semakin dekat ke dalam dekapannya seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa dunia luar yang kejam tidak akan bisa menyentuhnya lagi.Tangan kokohnya bergerak lembut, mengusap helai demi helai rambut Angel yang harum, menyalurkan kehangatan yang begitu tulus."Istirahatlah, Angel," bisik Bramantya dekat di telinganya, suaranya terdengar sehalus beledu. "Perjalanan kita hari ini cukup menguras tenagamu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu memikul beban ini sendirian lagi. Biarkan aku yang berdiri di depanmu."Bramantya lalu menurunkan tangannya secara perlahan. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—seolah takut mengejutkannya—telapak tangan pria itu mendarat di atas perut Angel yang masih rata. Tidak ada tuntutan di sana, hanya sebuah janji perlindungan yang sunyi dari seorang pria yang siap menjadi pelindung bagi anak yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.Momen itu terasa begitu manis, begitu sempurna. Sentuhan Bramantya adalah def
Viona mematung dengan rahang mengeras, sementara napasnya memburu menahan amarah yang membakar ulu hatinya.Bisikan Angel bukan sekadar gertakan; itu adalah pernyataan perang terbuka yang langsung menusuk harga diri Keluarga Permana.Sebelum Viona sempat membalas, Angel sudah memundurkan langkahnya, kembali ke samping Bramantya. Penguasa bisnis Surabaya itu langsung melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Angel, sebuah gestur posesif yang mempertegas posisi Angel yang kini berada di bawah perlindungan penuh seorang Bramantya."Ayo, Angel. Waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan di ruangan sekotor ini," ucap Bramantya dingin, matanya melirik meremehkan ke arah Kepala Dinas yang kini menunduk lesu sambil memegangi kepalanya yang pening.Bramantya dan Angel berbalik, melangkah keluar dari ruang pertemuan privat dengan langkah tegap, meninggalkan Viona yang masih gemetar di tempatnya berdiri."Ibu Viona... ini... bagaimana dengan bukti aliran dana itu? Karier saya bisa hancur kalau
Bramantya menegakkan tubuhnya, memancarkan aura dominasi yang selama ini menjadikannya penguasa bisnis di Jawa Timur.Sorot matanya yang tajam beralih kembali kepada Angel, melembut seketika hanya untuk wanita itu."Kevin, kerjakan sekarang. Jangan biarkan tim hukum kita tidur sebelum gugatan itu selesai," perintah Bramantya tanpa menoleh."Dimengerti, Pak Bram. Aku akan pastikan mereka bergerak cepat," sahut Kevin penuh semangat, langsung membalikkan badan dan keluar dari ruangan dengan langkah mantap. Kehadiran Bramantya yang begitu kokoh memberikan suntikan kepercayaan diri yang besar bagi pemuda itu.Kini, ruangan kerja itu kembali hening. Angel menatap Bramantya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa sangat terhina oleh sabotase kejam yang dilakukan Viona. Di sisi lain, tawaran komitmen Bramantya yang sempat tertunda beberapa jam lalu kini terasa kian mendesak di tengah kepungan badai ini.Bramantya duduk di samping Angel, dengan lembut merapikan anak rambut yang m
Di dalam kamar presidential suite yang kini terasa kosong, tangis Clarissa langsung mereda begitu pintu tertutup.Rasa tersinggungnya kini mengkristal menjadi kepanikan yang luar biasa. Ia tahu, jika Lexi sudah mulai menjaga jarak secara fisik dan menolak kendalinya, itu adalah alarm bahaya bahwa ingatan pria itu sedang berada di ambang pintu untuk kembali.Dengan tangan gemetar, Clarissa mengabaikan Viona yang sedang sibuk di luar, dan memilih untuk langsung menghubungi sang otoritas tertinggi, Abraham Permana.Telepon berdering tiga kali sebelum suara berat dan berwibawa milik Abraham menyahut di seberang sana."Halo, Clarissa. Bagaimana situasi di Surabaya? Viona sudah mendarat, bukan?""Om Abraham...," Clarissa terisak, sengaja mendramatisasi suaranya agar terdengar sebagai pihak yang paling tidak berdaya. "Lexi, Om..., Lexi sudah benar-benar tidak bisa dikontrol lagi!"Mendengar nada suara Clarissa yang histeris, Abraham di ruang kerjanya di Jakarta langsung menegakkan punggung.
Setelah pintu kamar suite tertutup rapat mengiringi kepergian Viona dan Hendra, keheningan yang canggung kembali menyelimuti ruangan mewah itu. Clarissa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum termanisnya demi mencairkan suasana. Ia melangkah mendekati sofa, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk memeluk lengan Lexi. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh kain kemeja pria itu, Lexi sudah lebih dulu berdiri. Ia melangkah menjauh menuju meja kerja di sudut ruangan, menghindari kontak fisik dari Clarissa untuk kesekian kalinya. Penolakan yang begitu terang-terangan itu membuat senyum di wajah Clarissa langsung lenyap. Rasa cemas yang sejak semalam ia tahan kini berubah menjadi rasa tersinggung yang membakar egonya. "Sampai kapan, Lexi?" tanya Clarissa, suaranya melengking tajam, tidak mampu lagi menahan kekesalannya. "Mbak Viona sudah menjelaskan semuanya! Wanita itu penipu, dia masa lalu yang buruk untukmu! Tapi kenapa setelah mendengar itu semua, sikapmu padaku
Bramantya tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.Sorot matanya yang tajam kini melunak, dipenuhi kesabaran dan ketulusan yang belum pernah Angel lihat dari pria mana pun sebelumnya. Pria itu menurunkan sedikit tubuhnya, menyamakan tinggi dengan Angel yang masih duduk terpaku."Bagaimana, Angel?" tanya Bramantya perlahan, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan di tengah gemerisik daun-daun taman."Saya tidak meminta jawabanmu detik ini juga. Saya hanya ingin kamu tahu, bahwa di dunia yang kejam ini, kamu tidak perlu lagi menanggung semuanya sendirian."Angel meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya bergemuruh hebat. Penawaran Bramantya adalah sebuah perlindungan mutlak yang bisa menyelamatkannya dari cakar Keluarga Permana, sekaligus memberikan masa depan yang aman bagi janin di rahimnya. Namun, luka masa lalu dari Baron dan rasa sakit akibat takdir Alexis masih menyisakan trauma yang mendalam.Angel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang me
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung







