Share

Bab 3

Author: Bekzy
Udara di dalam ruang rawat membuat Yessy merasa sesak.

"Beberapa hari ini aku ada urusan. Kamu suruh perawat saja yang rawat kamu."

Dia takut kalau terus berada di sana, dia tidak akan bisa bernapas. Setelah berkata demikian, Yessy pergi dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan kekecewaan yang jelas terlihat di wajah Matthew.

Setelah pulang dan menutup pintu kamar, barulah dia melemaskan dirinya, membiarkan tubuhnya perlahan merosot ke lantai.

Klik. Sebuah foto jatuh dari dalam tasnya. Di foto itu, dia dan Matthew mengenakan seragam SMA, berdiri di bawah pohon kamper sambil saling tersenyum. Itu adalah foto yang diambil pada hari mereka selesai ujian masuk perguruan tinggi.

Yessy masih ingat, pemuda berusia 18 tahun itu menggenggam tangannya, matanya yang melengkung seperti bulan sabit itu penuh dengan bayangannya.

"Yessy, kita harus bersama seumur hidup, nggak boleh berpisah!" kata Matthew saat itu.

Namun sekarang, di dalam hatinya sudah ada perempuan lain. Yessy sendiri juga akan pergi ke Kota Nansa yang jauh untuk menikah dan tidak akan pernah kembali lagi.

Yessy bangkit dan mulai membereskan semua hal yang berkaitan dengan Matthew. Boneka yang Matthew berikan saat usia 3 tahun, patung tanah liat yang Matthew buat sendiri untuknya saat usia 9 tahun, surat cinta pertama yang Matthew tulis saat usia 16 tahun, cincin pasangan yang mereka saling berikan saat usia 18 tahun ....

Namun, Matthew telah mengisi seluruh waktunya sejak kecil hingga sekarang. Kenangan di antara mereka seolah-olah tidak bisa dibuang sepenuhnya.

Yessy membereskan sepanjang sore, tetapi masih tersisa cukup banyak. Akhirnya, dia berhenti, lalu keluar mencari agen properti untuk menjual rumah. Karena tidak bisa dibuang bersih, dia akan meninggalkan semuanya.

Beberapa hari berikutnya, dia sibuk mengurus berbagai prosedur penjualan rumah. Sosok Matthew seakan-akan perlahan tersingkirkan dari pikirannya.

Dia tidak lagi seperti dulu yang selalu berdiri di depan pintu menantikan kedatangan pria itu setiap hari. Terhadap kabar yang disampaikan orang lain pun, dia hanya membalas sekadarnya.

Hari itu, setelah menyelesaikan semua prosedur penjualan rumah, dia menerima telepon dari Matthew. "Yessy, kamu di mana? Hari ini aku keluar dari rumah sakit. Aku sudah siapkan kejutan."

Yessy mengatupkan bibirnya, lalu menyuruhnya datang ke rumah. Hubungan lebih dari 20 tahun ini juga seharusnya diakhiri dengan cara yang layak.

Tak lama kemudian, Matthew pun datang. Begitu melihatnya, dia langsung menutup mata Yessy dengan kain dan membawanya ke dalam jip, dengan alasan ingin memberi kejutan.

Setelah sampai di tempat tujuan, Matthew membuka kain itu. Yessy baru menyadari bahwa ini adalah restoran tempat Matthew menyatakan cinta padanya saat usia 16 tahun.

Di aula restoran tergantung spanduk bertuliskan "Merayakan hari anniversary ke-10 Matthew & Yessy".

Yessy tertegun, lalu melirik kalender di dinding dan baru ingat bahwa hari ini adalah hari jadi mereka. Dia menunduk tanpa menunjukkan ekspresi bahagia. 'Nggak apa-apa, hubungan dimulai di sini, maka berakhir di sini juga.'

Matthew tidak menyadari keanehannya. Dia merangkul Yessy dan berjalan ke dalam. "Ini adalah sepuluh tahun pertama kita bersama, harus dirayakan dengan baik."

Seluruh restoran telah disewa. Di sudut ruangan ada pemutar piringan hitam yang memutar lagu romantis yang Matthew nyanyikan saat menyatakan cinta dulu.

Hanya saja .... Yessy melihat sekeliling. Bunga hiasan yang digunakan adalah mawar merah yang selama ini tidak dia sukai. Foto-foto yang ditempel di dinding pun berantakan, bahkan ada yang jatuh ke lantai.

Di meja makan jelas untuk dua orang, tetapi hanya ada satu set peralatan makan. Pengaturan yang asal-asalan seperti ini disebut merayakan dengan baik?

Jelas, Matthew juga menyadarinya. Dia memanggil manajer restoran dan menegur dengan nada dingin, "Kenapa berantakan seperti ini?"

Manajer restoran berkeringat dingin dan menjawab dengan gemetar, "Komandan, semua ini ditata sesuai instruksi asisten Anda. Kami juga merasa nggak pantas dan sudah berkali-kali bertanya, tapi asisten Anda bersikeras, jadi kami hanya bisa ...."

Mendengar itu, wajah Matthew semakin masam, tetapi amarahnya justru mereda. Dia mendekat ke Yessy dan membujuknya, "Aku akan potong tunjangan Rachel selama tiga bulan sebagai hukuman. Jangan marah ya, Yessy? Hari ini hari jadi kita, jangan biarkan orang yang nggak penting merusak suasana hati kita."

Matthew memiliki ingatan yang sangat baik. Tidak mungkin dia lupa bahwa beberapa hari lalu dia sendiri mengatakan akan langsung memindahkan Rachel jika wanita itu berbuat salah.

Namun, sekarang dia justru menawarkan bentuk hukuman lain, hanya untuk mempertahankan posisi Rachel sebagai asisten agar tetap berada di sisinya.

Niatnya itu terlihat jelas oleh Yessy. Namun, dia tidak membongkarnya, hanya duduk dengan tenang.

Bagaimanapun, ke depan Matthew ingin membiarkan Rachel tetap di sisinya selama apa pun, itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya.

Tubuh Matthew yang tegang pun akhirnya sedikit rileks, lalu dia menyuruh pelayan mendorong kue yang telah dia pesan.

Saat kue itu disajikan di meja, Yessy hanya bisa menghela napas dalam hati. Ternyata kue kastanye. Sepertinya Rachel benar-benar tidak ingin mereka merayakan hari jadi ini.

"Aku alergi kastanye."

Matthew yang telah bersamanya lebih dari 20 tahun tentu tahu hal ini. Kali ini, amarahnya tidak bisa lagi dia tahan.

"Aku akan cari Rachel. Aku mau tanya dia, gimana sebenarnya dia melakukan pekerjaannya!" Setelah berkata demikian, dia bangkit dengan marah dan berjalan keluar.

Melihat punggungnya yang menjauh, Yessy ragu sejenak, tetapi tetap mengikutinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 17

    Suara Rachel langsung membuat Yessy merasa sesak."Rachel, kamu mau apa?" Yessy berusaha menjaga suaranya tetap tenang, agar tidak memicu emosinya."Mau apa? Kamu sudah mau menikah, kenapa masih harus merebut Matthew dariku? Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun, apa yang kurang dariku dibanding kamu!"Semakin dia bicara, emosinya semakin memuncak. Tangan yang memegang pisau tanpa sadar mengencang, dan di leher Yessy langsung muncul garis merah. Melihat garis merah itu, Rachel malah semakin bersemangat."Selama kamu nggak ada, Matthew akan melihatku dan bersama denganku! Ikut aku!"Dengan satu tangan menempelkan pisau di leher Yessy, tangan lainnya menarik Yessy keluar dari ruang rias. Sepanjang jalan, dia sengaja menghindari kamera pengawas.Hotel tempat pernikahan itu memang dipilih khusus dengan pemandangan laut. Tidak jauh dari hotel terdapat tebing, dan di bawahnya ombak laut yang bergelora.Rachel menyeret Yessy sampai ke tepi tebing. Dia mendorong Yessy jatuh ke tanah, lal

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 16

    Tiga hari sebelum pernikahan, Yessy dan Arthur datang ke butik gaun pengantin untuk melakukan fitting terakhir. Begitu tirai dibuka, semua pegawai di tempat itu tanpa sadar menghela napas kagum."Ya ampun, Bu Yessy, kamu cantik sekali.""Iya, kamu benar-benar cocok sama Pak Arthur, pasangan yang serasi."Yessy merasa agak malu dipuji seperti itu, tapi matanya tetap menelusuri bayangannya di cermin sedikit demi sedikit.Arthur mengetahui bahwa Yessy pernah ebrkuliah di Kota Garja, kota pelabuhan dengan hubungan perdagangan luar negeri yang erat. Dia pasti sudah sering melihat model pakaian luar negeri yang modern, jadi dia tidak memilih gaun merah tradisional, melainkan khusus memilih gaun pengantin bergaya luar negeri.Gaun ini dijahit sepenuhnya dengan tangan, bagian roknya memantulkan cahaya seperti bintang-bintang kecil di bawah lampu, membuat kulitnya tampak semakin cerah. Tanpa sadar, Yessy mengusap rok yang mengembang itu dan hatinya sedikit melayang.Empat tahun lalu, saat baru

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 15

    Saat itu, dari belakang terdengar suara panggilan yang bergetar karena tangis."Matthew!"Rachel berlari kecil, berusaha membantu Matthew berdiri dari tanah."Kamu tadi juga sudah lihat, 'kan? Yessy itu jelas-jelas perempuan yang nggak setia! Dia sudah meninggalkan kamu dan masuk ke pelukan pria lain, cuma aku yang akan terus mencintaimu!"Melihat Matthew dalam keadaan hancur, hati Rachel terasa sakit. Namun, di dalam suaranya terselip sedikit kegembiraan."Kembali ke Kota Garja sama aku, ya? Aku akan selalu di sisimu, nggak akan pernah ....""Cukup!" Matthew memotong kata-katanya dengan mata merah menyala dan tatapan dingin."Aku nggak izinkan kamu memfitnah Yessy seperti itu. Dia nggak seperti yang kamu katakan, aku yang menyakitinya!"Matthew mengibaskan tangannya dengan keras, Rachel yang tidak siap terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh. Dia menatap pria di depannya dengan tidak percaya.Padahal Matthew sudah melihat sendiri Yessy bersama pria lain, tapi dia masih memb

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 14

    Matthew terhuyung mundur dua langkah, rona wajahnya memudar sedikit demi sedikit sampai pucat tak bersisa.Yessy ... ternyata tahu kalau dia mengubah pengajuan pernikahan?Bibirnya bergetar, tapi di dalam hatinya masih menyimpan secercah harapan terakhir. Dia memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis."Ka ... kamu bicara apa, Yessy?"Melihat dia masih berbohong, rasa sindiran di hati Yessy hampir meluap."Sudahlah, nggak usah pura-pura. Aku melihat sendiri kamu menambahkan satu kata 'tidak' di telegram panglima.""Kamu terus bilang kamu mencintaiku, tapi demi Rachel, selama empat tahun berturut-turut kamu mengubah persetujuan pernikahan dari setuju menjadi tidak setuju. Bahkan di hari perayaan sepuluh tahun hubungan kita pun, kamu mencium dia. Itu yang kamu sebut cinta?""Maaf, cinta seperti itu, aku nggak butuh dan juga nggak mau."Arthur hanya tahu Matthew menunda pernikahan selama empat tahun, tapi tidak tahu ternyata Yessy sudah melalui begitu banyak hal menyakitkan.

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 13

    Mata Matthew tampak memerah. Kepalan tangannya berderit, tatapannya terpaku pada buku nikah di tangan Yessy."Kamu ... kamu sudah menikah sama dia?"Menghadapi tamu tak diundang ini, Yessy sama sekali tidak bersikap ramah. Dia mengerutkan kening, tatapannya jelas menunjukkan penolakan. "Iya, seperti yang kamu lihat, aku sudah menikah."Arthur yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggang Yessy dengan alami, seolah menegaskan posisinya. "Halo, aku suami Yessy."Dia sengaja menekankan kata "suami". Yessy yang berada dalam pelukannya, langsung merasa telinganya panas dan wajahnya kembali merona.Matthew melihat semua interaksi mereka dengan jelas, dia menggertakkan gigi dengan kuat untuk menahan amarah yang hampir meledak. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan diri bahwa Yessy hanya terlalu marah padanya, sehingga Yessy menikah untuk membuatnya cemburu.Setelah berusaha menenangkan diri, Matthew memaksakan senyuman."Yessy, jangan marah lagi sama aku, ya? Aku ini tunanganmu. Kalian perg

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 12

    Setelah membeli tiket, Matthew hampir tidak berhenti sama sekali. Dia langsung menginjak gas pulang ke rumah, mengambil dokumen, lalu bersiap pergi ke stasiun.Entah dari mana Rachel mendapat kabar, dia bergegas dari klinik dan mengadang Matthew di depan rumah, tidak membiarkannya pergi."Matthew, Yessy sudah meninggalkan kamu dan menikah sama pria lain, kenapa kamu masih mau cari dia?!" teriak Rachel dengan histeris. Air matanya mengalir deras.Namun Matthew tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelembutan seperti dulu, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin."Yessy cuma masih marah padaku. Selama aku minta maaf padanya, dia akan kembali bersamaku.""Kamu mau bawa dia kembali? Lalu aku gimana!" Rachel menarik lengannya, ekspresinya penuh emosi. "Kamu juga suka aku, 'kan? Sekarang dia sudah nggak menginginkanmu, bukankah lebih baik kamu sama aku?"Suka Rachel?Tidak mungkin!Matthew tanpa ragu melepaskan Rachel dan memandangnya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak disembunyikan."S

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 8

    Menatap pemandangan itu, Yessy tanpa sadar teringat suatu kejadian saat kuliah. Ada seorang mahasiswa satu jurusan yang pernah menyatakan perasaan padanya.Dia sudah memberi tahu Matthew bahwa dia telah menolak pria itu dan mengatakan dirinya sudah punya pacar, Matthew tetap nekat, mengambil risiko

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 7

    Suasana ruang privat yang semula ramai seketika menjadi hening.Dua orang yang tadi berbicara lebih dulu berdiri dengan canggung di tempat. "Se ... serius?"Yessy menjawab dengan tenang, "Ya, memang belum nikah."Ke depannya juga tidak akan menikah dengannya.Matthew menatap Rachel dengan wajah mura

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 6

    Yessy bangkit dan pulang ke rumah. Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Kota Nansa.Sementara Matthew yang tadi berkata "akan segera kembali", sepanjang sore justru tidak memberi kabar sama sekali.Hingga larut malam, telepon di ruang tamu akhirnya berdering. Yessy sudah menebak it

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 5

    Setengah jam kemudian, Matthew baru kembali ke restoran. Di belakangnya masih ada Rachel.Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu merangkul Yessy sambil berucap dengan nada lembut seperti sedang membujuk, "Yessy, tadi aku sudah kasih dia pelajaran. Sekarang aku suruh dia minta maaf lang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status