LOGINSuara Rachel langsung membuat Yessy merasa sesak."Rachel, kamu mau apa?" Yessy berusaha menjaga suaranya tetap tenang, agar tidak memicu emosinya."Mau apa? Kamu sudah mau menikah, kenapa masih harus merebut Matthew dariku? Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun, apa yang kurang dariku dibanding kamu!"Semakin dia bicara, emosinya semakin memuncak. Tangan yang memegang pisau tanpa sadar mengencang, dan di leher Yessy langsung muncul garis merah. Melihat garis merah itu, Rachel malah semakin bersemangat."Selama kamu nggak ada, Matthew akan melihatku dan bersama denganku! Ikut aku!"Dengan satu tangan menempelkan pisau di leher Yessy, tangan lainnya menarik Yessy keluar dari ruang rias. Sepanjang jalan, dia sengaja menghindari kamera pengawas.Hotel tempat pernikahan itu memang dipilih khusus dengan pemandangan laut. Tidak jauh dari hotel terdapat tebing, dan di bawahnya ombak laut yang bergelora.Rachel menyeret Yessy sampai ke tepi tebing. Dia mendorong Yessy jatuh ke tanah, lal
Tiga hari sebelum pernikahan, Yessy dan Arthur datang ke butik gaun pengantin untuk melakukan fitting terakhir. Begitu tirai dibuka, semua pegawai di tempat itu tanpa sadar menghela napas kagum."Ya ampun, Bu Yessy, kamu cantik sekali.""Iya, kamu benar-benar cocok sama Pak Arthur, pasangan yang serasi."Yessy merasa agak malu dipuji seperti itu, tapi matanya tetap menelusuri bayangannya di cermin sedikit demi sedikit.Arthur mengetahui bahwa Yessy pernah ebrkuliah di Kota Garja, kota pelabuhan dengan hubungan perdagangan luar negeri yang erat. Dia pasti sudah sering melihat model pakaian luar negeri yang modern, jadi dia tidak memilih gaun merah tradisional, melainkan khusus memilih gaun pengantin bergaya luar negeri.Gaun ini dijahit sepenuhnya dengan tangan, bagian roknya memantulkan cahaya seperti bintang-bintang kecil di bawah lampu, membuat kulitnya tampak semakin cerah. Tanpa sadar, Yessy mengusap rok yang mengembang itu dan hatinya sedikit melayang.Empat tahun lalu, saat baru
Saat itu, dari belakang terdengar suara panggilan yang bergetar karena tangis."Matthew!"Rachel berlari kecil, berusaha membantu Matthew berdiri dari tanah."Kamu tadi juga sudah lihat, 'kan? Yessy itu jelas-jelas perempuan yang nggak setia! Dia sudah meninggalkan kamu dan masuk ke pelukan pria lain, cuma aku yang akan terus mencintaimu!"Melihat Matthew dalam keadaan hancur, hati Rachel terasa sakit. Namun, di dalam suaranya terselip sedikit kegembiraan."Kembali ke Kota Garja sama aku, ya? Aku akan selalu di sisimu, nggak akan pernah ....""Cukup!" Matthew memotong kata-katanya dengan mata merah menyala dan tatapan dingin."Aku nggak izinkan kamu memfitnah Yessy seperti itu. Dia nggak seperti yang kamu katakan, aku yang menyakitinya!"Matthew mengibaskan tangannya dengan keras, Rachel yang tidak siap terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh. Dia menatap pria di depannya dengan tidak percaya.Padahal Matthew sudah melihat sendiri Yessy bersama pria lain, tapi dia masih memb
Matthew terhuyung mundur dua langkah, rona wajahnya memudar sedikit demi sedikit sampai pucat tak bersisa.Yessy ... ternyata tahu kalau dia mengubah pengajuan pernikahan?Bibirnya bergetar, tapi di dalam hatinya masih menyimpan secercah harapan terakhir. Dia memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis."Ka ... kamu bicara apa, Yessy?"Melihat dia masih berbohong, rasa sindiran di hati Yessy hampir meluap."Sudahlah, nggak usah pura-pura. Aku melihat sendiri kamu menambahkan satu kata 'tidak' di telegram panglima.""Kamu terus bilang kamu mencintaiku, tapi demi Rachel, selama empat tahun berturut-turut kamu mengubah persetujuan pernikahan dari setuju menjadi tidak setuju. Bahkan di hari perayaan sepuluh tahun hubungan kita pun, kamu mencium dia. Itu yang kamu sebut cinta?""Maaf, cinta seperti itu, aku nggak butuh dan juga nggak mau."Arthur hanya tahu Matthew menunda pernikahan selama empat tahun, tapi tidak tahu ternyata Yessy sudah melalui begitu banyak hal menyakitkan.
Mata Matthew tampak memerah. Kepalan tangannya berderit, tatapannya terpaku pada buku nikah di tangan Yessy."Kamu ... kamu sudah menikah sama dia?"Menghadapi tamu tak diundang ini, Yessy sama sekali tidak bersikap ramah. Dia mengerutkan kening, tatapannya jelas menunjukkan penolakan. "Iya, seperti yang kamu lihat, aku sudah menikah."Arthur yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggang Yessy dengan alami, seolah menegaskan posisinya. "Halo, aku suami Yessy."Dia sengaja menekankan kata "suami". Yessy yang berada dalam pelukannya, langsung merasa telinganya panas dan wajahnya kembali merona.Matthew melihat semua interaksi mereka dengan jelas, dia menggertakkan gigi dengan kuat untuk menahan amarah yang hampir meledak. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan diri bahwa Yessy hanya terlalu marah padanya, sehingga Yessy menikah untuk membuatnya cemburu.Setelah berusaha menenangkan diri, Matthew memaksakan senyuman."Yessy, jangan marah lagi sama aku, ya? Aku ini tunanganmu. Kalian perg
Setelah membeli tiket, Matthew hampir tidak berhenti sama sekali. Dia langsung menginjak gas pulang ke rumah, mengambil dokumen, lalu bersiap pergi ke stasiun.Entah dari mana Rachel mendapat kabar, dia bergegas dari klinik dan mengadang Matthew di depan rumah, tidak membiarkannya pergi."Matthew, Yessy sudah meninggalkan kamu dan menikah sama pria lain, kenapa kamu masih mau cari dia?!" teriak Rachel dengan histeris. Air matanya mengalir deras.Namun Matthew tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelembutan seperti dulu, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin."Yessy cuma masih marah padaku. Selama aku minta maaf padanya, dia akan kembali bersamaku.""Kamu mau bawa dia kembali? Lalu aku gimana!" Rachel menarik lengannya, ekspresinya penuh emosi. "Kamu juga suka aku, 'kan? Sekarang dia sudah nggak menginginkanmu, bukankah lebih baik kamu sama aku?"Suka Rachel?Tidak mungkin!Matthew tanpa ragu melepaskan Rachel dan memandangnya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak disembunyikan."S
Menatap pemandangan itu, Yessy tanpa sadar teringat suatu kejadian saat kuliah. Ada seorang mahasiswa satu jurusan yang pernah menyatakan perasaan padanya.Dia sudah memberi tahu Matthew bahwa dia telah menolak pria itu dan mengatakan dirinya sudah punya pacar, Matthew tetap nekat, mengambil risiko
Udara di dalam ruang rawat membuat Yessy merasa sesak."Beberapa hari ini aku ada urusan. Kamu suruh perawat saja yang rawat kamu."Dia takut kalau terus berada di sana, dia tidak akan bisa bernapas. Setelah berkata demikian, Yessy pergi dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan kekecewaan yang jelas te
"Oke! Ibu akan segera atur untukmu."Setelah mengakhiri panggilan, Matthew yang baru selesai menerima cambukan militer kebetulan melewati ruang komunikasi dengan ditopang oleh tentara.Saat melihat Yessy yang wajahnya masih basah oleh air mata, di matanya terlintas kepanikan yang tak bisa disembunyi
Seluruh orang di wilayah militer ibu kota tahu bahwa Matthew setiap tahun harus menerima hukuman yang sangat keras, demi menikahi Yessy.Hal itu karena Keluarga Handoko telah menjadi tentara selama tiga generasi. Ada aturan tertulis bahwa anggota Keluarga Handoko harus mendapat persetujuan panglima







