Share

Bab 2

Author: Bekzy
"Oke! Ibu akan segera atur untukmu."

Setelah mengakhiri panggilan, Matthew yang baru selesai menerima cambukan militer kebetulan melewati ruang komunikasi dengan ditopang oleh tentara.

Saat melihat Yessy yang wajahnya masih basah oleh air mata, di matanya terlintas kepanikan yang tak bisa disembunyikan.

"Yessy, sejak kapan kamu datang?"

Yessy mengusap air matanya kuat-kuat, menekan gejolak emosi di dalam hatinya. "Tadi saat kamu dicambuk."

Matthew tanpa sadar menghela napas lega. Dengan penuh rasa bersalah, dia lantas menggenggam tangan Yessy. Nadanya dipenuhi penyesalan saat berkata, "Maaf, tahun ini persetujuan pernikahan masih belum turun. Yessy, tunggu aku satu tahun lagi ya, tahun depan aku pasti menikahimu."

'Tahun depan? Bahkan kalau nanti dapat persetujuan pun, kamu tetap akan mengubahnya menjadi nggak disetujui, 'kan?' Setelah kuku Yessy hampir melukai telapak tangannya sendiri, barulah dia bisa menahan pertanyaan yang hampir keluar dari mulutnya. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa.

Sembilan puluh sembilan cambukan terlalu berat. Luka di punggung Matthew terus berdarah dan dia harus dibawa ke klinik militer.

Begitu naik mobil, Matthew langsung menyandarkan sebagian besar tubuhnya ke Yessy. Nadanya manja seperti biasanya. "Yessy, punggungku perih sekali. Nanti kamu bantu oleskan obat ya?"

Sejak kecil, setiap kali dia terluka, dia selalu mendekat pada Yessy, menunjukkan sisi rapuh yang tak pernah dilihat orang lain demi mendapatkan perhatiannya.

Setiap kali, Yessy akan meneteskan air mata karena iba sambil mengobati lukanya dengan hati-hati. Namun sekarang, melihat punggungnya yang penuh darah, yang dia rasakan hanyalah ironi.

Tentara yang sedang menyetir melihat pemandangan itu lewat kaca spion. Dia lalu bercanda, "Komandan harus berusaha menikahi Kak Yessy lho. Nggak ada orang yang akan selamanya nunggu di tempat. Kalau suatu hari Kak Yessy nggak mau nunggu lagi, kami jadi nggak bisa makan-makan di acara pernikahanmu."

Yessy tahu, tentara itu tidak tega melihat cinta masa kecil mereka hancur dan tidak sampai ke pernikahan, jadi mencoba menasihati dengan cara bercanda.

Namun, Matthew tidak menganggapnya serius, suaranya penuh keyakinan. "Nggak mungkin. Yessy cuma mencintaiku. Dia pasti akan nunggu sampai hari aku mendapat persetujuan dan menikahinya."

Mendengar itu, Yessy tersenyum tipis. 'Nggak, Matthew, kamu salah. Aku punya harga diri. Aku nggak akan mencintai seseorang yang hatinya masih memiliki wanita lain, apalagi menikah dengan orang yang nggak setia.'

Setibanya di klinik militer, dokter memeriksa dan mengatur agar Matthew dirawat inap.

Di dalam ruang rawat, setelah Yessy selesai mengoleskan obat dan hendak bangkit, Matthew tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dan memeluknya.

"Yessy, lukanya sudah diobati, boleh aku cium kamu? Kamu nggak tahu, saat menerima hukuman militer, yang kupikirkan cuma kamu. Selama kamu ada di sisiku, aku nggak merasakan sakit sama sekali ...."

Sambil berkata begitu, napas panas pria itu semakin mendekat. Saat Yessy hendak mencari alasan untuk menghindar, pintu kamar tiba-tiba terbuka keras.

Itu Rachel. Begitu melihat punggung Matthew yang penuh perban, matanya langsung memerah. Dia menunjuk Yessy dan berteriak histeris.

"Sudah empat tahun berturut-turut permohonan pernikahan nggak disetujui, itu berarti kalian memang nggak cocok! Kenapa kamu nggak bisa menyerah saja? Kamu tahu nggak, setiap kali melihatmu terluka, hatiku sakit sekali!"

Air mata berputar di pelupuk matanya, Rachel hampir seperti memohon.

"Apa nggak bisa kamu sama orang lain saja? Bahkan kalau orang itu bukan aku pun nggak apa-apa. Aku cuma nggak ingin kamu terus terluka lagi."

Wajah Matthew langsung menjadi suram, suaranya dingin seperti es. "Rachel, sekarang kamu cuma asistenku. Siapa yang kasih kamu hak untuk mencampuri kehidupan pribadiku?"

"Lagi pula, sejak SMA aku sudah bilang, aku cuma mencintai Yessy. Dalam hidup ini, aku juga hanya akan menikahinya."

"Jangankan empat tahun, bahkan enam tahun atau sepuluh tahun pun, selama belum mendapat persetujuan, aku akan terus mengajukan permohonan sampai aku dan Yessy bisa nikah!"

Wajah Rachel memucat. Dia terhuyung mundur beberapa langkah, suaranya bergetar. "Oke, oke. Sepertinya aku yang terlalu berlebihan karena merasa kasihan padamu!"

Setelah berkata begitu, dia berlari keluar dengan mata merah.

Matthew menunduk melihat Yessy dalam pelukannya, lalu mengganti ekspresinya menjadi lembut. "Yessy, jangan masukkan kata-katanya ke hati. Aku cuma mencintaimu. Aku nggak akan pernah menyerah seperti yang dia katakan."

Yessy memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari pelukan Matthew. Dia menunduk melihat pergelangan tangannya. Ada bekas merah yang jelas.

Mungkin bahkan Matthew sendiri tidak menyadari, saat dia mengucapkan kata-kata dingin kepada Rachel tadi, genggamannya pada tangan Yessy tanpa sadar semakin mengencang.

Padahal dulu, pria ini selalu memperlakukannya dengan sangat hati-hati, bahkan tidak pernah membiarkannya terluka sedikit pun, meskipun itu hanya bekas merah seperti ini.

Matanya tanpa sadar terasa perih, tetapi Yessy berusaha menahan diri agar suaranya tetap normal. "Rachel asistenmu? Sejak kapan?"

Ekspresi Matthew sempat membeku, tetapi dia segera menjawab dengan nada penuh kejengkelan, "Bulan lalu. Soal pemilihan asisten, aku nggak terlalu memperhatikan. Nggak kusangka tim milih dia. Aku juga nggak bisa tanpa alasan memindahkannya, nanti tentara lain bisa jadi resah."

Yessy mendengar kebohongan yang begitu buruk itu dan tersenyum tipis.

Matthew selalu sangat ketat dalam memilih orang, apalagi untuk posisi asisten yang hampir 24 jam harus berada di sisinya. Tanpa persetujuannya, tidak mungkin tim menentukan orang itu sendiri.

Menyadari Yessy hanya diam, Matthew segera menambahkan, "Kamu tenang saja. Begitu dia melakukan kesalahan, aku akan langsung memindahkannya, membuatnya benar-benar menghilang. Dari SMA sampai sekarang, aku sudah sangat muak dengannya."

Mendengar kebohongan demi kebohongan itu, hati Yessy seolah-olah direndam dalam air es. Dinginnya menusuk tulang.

Betapa lucunya. Di mulutnya dia berkata hanya mencintainya dan ingin menikahinya, tetapi dia berkali-kali mengubah persetujuan pernikahan. Di mulutnya dia berkata muak pada Rachel, tetapi dia berusaha keras mempertahankannya di sisinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 17

    Suara Rachel langsung membuat Yessy merasa sesak."Rachel, kamu mau apa?" Yessy berusaha menjaga suaranya tetap tenang, agar tidak memicu emosinya."Mau apa? Kamu sudah mau menikah, kenapa masih harus merebut Matthew dariku? Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun, apa yang kurang dariku dibanding kamu!"Semakin dia bicara, emosinya semakin memuncak. Tangan yang memegang pisau tanpa sadar mengencang, dan di leher Yessy langsung muncul garis merah. Melihat garis merah itu, Rachel malah semakin bersemangat."Selama kamu nggak ada, Matthew akan melihatku dan bersama denganku! Ikut aku!"Dengan satu tangan menempelkan pisau di leher Yessy, tangan lainnya menarik Yessy keluar dari ruang rias. Sepanjang jalan, dia sengaja menghindari kamera pengawas.Hotel tempat pernikahan itu memang dipilih khusus dengan pemandangan laut. Tidak jauh dari hotel terdapat tebing, dan di bawahnya ombak laut yang bergelora.Rachel menyeret Yessy sampai ke tepi tebing. Dia mendorong Yessy jatuh ke tanah, lal

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 16

    Tiga hari sebelum pernikahan, Yessy dan Arthur datang ke butik gaun pengantin untuk melakukan fitting terakhir. Begitu tirai dibuka, semua pegawai di tempat itu tanpa sadar menghela napas kagum."Ya ampun, Bu Yessy, kamu cantik sekali.""Iya, kamu benar-benar cocok sama Pak Arthur, pasangan yang serasi."Yessy merasa agak malu dipuji seperti itu, tapi matanya tetap menelusuri bayangannya di cermin sedikit demi sedikit.Arthur mengetahui bahwa Yessy pernah ebrkuliah di Kota Garja, kota pelabuhan dengan hubungan perdagangan luar negeri yang erat. Dia pasti sudah sering melihat model pakaian luar negeri yang modern, jadi dia tidak memilih gaun merah tradisional, melainkan khusus memilih gaun pengantin bergaya luar negeri.Gaun ini dijahit sepenuhnya dengan tangan, bagian roknya memantulkan cahaya seperti bintang-bintang kecil di bawah lampu, membuat kulitnya tampak semakin cerah. Tanpa sadar, Yessy mengusap rok yang mengembang itu dan hatinya sedikit melayang.Empat tahun lalu, saat baru

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 15

    Saat itu, dari belakang terdengar suara panggilan yang bergetar karena tangis."Matthew!"Rachel berlari kecil, berusaha membantu Matthew berdiri dari tanah."Kamu tadi juga sudah lihat, 'kan? Yessy itu jelas-jelas perempuan yang nggak setia! Dia sudah meninggalkan kamu dan masuk ke pelukan pria lain, cuma aku yang akan terus mencintaimu!"Melihat Matthew dalam keadaan hancur, hati Rachel terasa sakit. Namun, di dalam suaranya terselip sedikit kegembiraan."Kembali ke Kota Garja sama aku, ya? Aku akan selalu di sisimu, nggak akan pernah ....""Cukup!" Matthew memotong kata-katanya dengan mata merah menyala dan tatapan dingin."Aku nggak izinkan kamu memfitnah Yessy seperti itu. Dia nggak seperti yang kamu katakan, aku yang menyakitinya!"Matthew mengibaskan tangannya dengan keras, Rachel yang tidak siap terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh. Dia menatap pria di depannya dengan tidak percaya.Padahal Matthew sudah melihat sendiri Yessy bersama pria lain, tapi dia masih memb

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 14

    Matthew terhuyung mundur dua langkah, rona wajahnya memudar sedikit demi sedikit sampai pucat tak bersisa.Yessy ... ternyata tahu kalau dia mengubah pengajuan pernikahan?Bibirnya bergetar, tapi di dalam hatinya masih menyimpan secercah harapan terakhir. Dia memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis."Ka ... kamu bicara apa, Yessy?"Melihat dia masih berbohong, rasa sindiran di hati Yessy hampir meluap."Sudahlah, nggak usah pura-pura. Aku melihat sendiri kamu menambahkan satu kata 'tidak' di telegram panglima.""Kamu terus bilang kamu mencintaiku, tapi demi Rachel, selama empat tahun berturut-turut kamu mengubah persetujuan pernikahan dari setuju menjadi tidak setuju. Bahkan di hari perayaan sepuluh tahun hubungan kita pun, kamu mencium dia. Itu yang kamu sebut cinta?""Maaf, cinta seperti itu, aku nggak butuh dan juga nggak mau."Arthur hanya tahu Matthew menunda pernikahan selama empat tahun, tapi tidak tahu ternyata Yessy sudah melalui begitu banyak hal menyakitkan.

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 13

    Mata Matthew tampak memerah. Kepalan tangannya berderit, tatapannya terpaku pada buku nikah di tangan Yessy."Kamu ... kamu sudah menikah sama dia?"Menghadapi tamu tak diundang ini, Yessy sama sekali tidak bersikap ramah. Dia mengerutkan kening, tatapannya jelas menunjukkan penolakan. "Iya, seperti yang kamu lihat, aku sudah menikah."Arthur yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggang Yessy dengan alami, seolah menegaskan posisinya. "Halo, aku suami Yessy."Dia sengaja menekankan kata "suami". Yessy yang berada dalam pelukannya, langsung merasa telinganya panas dan wajahnya kembali merona.Matthew melihat semua interaksi mereka dengan jelas, dia menggertakkan gigi dengan kuat untuk menahan amarah yang hampir meledak. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan diri bahwa Yessy hanya terlalu marah padanya, sehingga Yessy menikah untuk membuatnya cemburu.Setelah berusaha menenangkan diri, Matthew memaksakan senyuman."Yessy, jangan marah lagi sama aku, ya? Aku ini tunanganmu. Kalian perg

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 12

    Setelah membeli tiket, Matthew hampir tidak berhenti sama sekali. Dia langsung menginjak gas pulang ke rumah, mengambil dokumen, lalu bersiap pergi ke stasiun.Entah dari mana Rachel mendapat kabar, dia bergegas dari klinik dan mengadang Matthew di depan rumah, tidak membiarkannya pergi."Matthew, Yessy sudah meninggalkan kamu dan menikah sama pria lain, kenapa kamu masih mau cari dia?!" teriak Rachel dengan histeris. Air matanya mengalir deras.Namun Matthew tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelembutan seperti dulu, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin."Yessy cuma masih marah padaku. Selama aku minta maaf padanya, dia akan kembali bersamaku.""Kamu mau bawa dia kembali? Lalu aku gimana!" Rachel menarik lengannya, ekspresinya penuh emosi. "Kamu juga suka aku, 'kan? Sekarang dia sudah nggak menginginkanmu, bukankah lebih baik kamu sama aku?"Suka Rachel?Tidak mungkin!Matthew tanpa ragu melepaskan Rachel dan memandangnya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak disembunyikan."S

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 7

    Suasana ruang privat yang semula ramai seketika menjadi hening.Dua orang yang tadi berbicara lebih dulu berdiri dengan canggung di tempat. "Se ... serius?"Yessy menjawab dengan tenang, "Ya, memang belum nikah."Ke depannya juga tidak akan menikah dengannya.Matthew menatap Rachel dengan wajah mura

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 6

    Yessy bangkit dan pulang ke rumah. Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Kota Nansa.Sementara Matthew yang tadi berkata "akan segera kembali", sepanjang sore justru tidak memberi kabar sama sekali.Hingga larut malam, telepon di ruang tamu akhirnya berdering. Yessy sudah menebak it

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 5

    Setengah jam kemudian, Matthew baru kembali ke restoran. Di belakangnya masih ada Rachel.Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu merangkul Yessy sambil berucap dengan nada lembut seperti sedang membujuk, "Yessy, tadi aku sudah kasih dia pelajaran. Sekarang aku suruh dia minta maaf lang

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 4

    Di tangga, Yessy melihat Matthew menarik pergelangan tangan Rachel. Amarah di wajahnya masih belum mereda."Rachel, kamu sengaja merusak perayaan hari jadi ke-10 kami ya? Aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu soal dekorasi restoran, bahkan khusus mengingatkan kalau Yessy alergi kastanye. Apa yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status