Share

Bab 8

Author: Bekzy
Menatap pemandangan itu, Yessy tanpa sadar teringat suatu kejadian saat kuliah. Ada seorang mahasiswa satu jurusan yang pernah menyatakan perasaan padanya.

Dia sudah memberi tahu Matthew bahwa dia telah menolak pria itu dan mengatakan dirinya sudah punya pacar, Matthew tetap nekat, mengambil risiko dihukum dan naik kereta tercepat ke kampusnya. Kemudian, dia menggandeng tangan Yessy sambil berjalan di kampus untuk menyatakan hak milik.

Sekarang, rasa posesif itu diberikan kepada wanita lain. Yessy merasa sesak. Setelah berpamitan pada semua orang, dia bangkit dan meninggalkan ruangan.

Tak disangka, pertemuan terakhir justru berakhir dengan kacau. Begitu keluar dari restoran, dia berdiri di pinggir jalan menunggu mobil.

Dari belakang, terdengar suara Matthew yang sangat panik. "Yessy, dengarkan penjelasanku! Tadi aku cuma bohong buat bantu Rachel. Dia bawahanku. Sebagai komandan, aku nggak mungkin biarin dia diganggu. Kamu bisa ngerti, 'kan?"

Keringat terlihat di dahinya, dia berbicara dengan sangat cepat, seolah-olah takut wanita di depannya akan pergi jika terlambat satu detik saja.

Yessy menarik lengannya dengan tenang, lalu tersenyum menatapnya. "Nggak perlu dijelaskan, aku ngerti."

'Mengerti bahwa itu adalah kata-kata dari hatimu,' batin Yessy.

Setelah mendapat jawaban itu, Matthew justru tidak merasa tenang. Perasaan gelisah kembali muncul. Dia hendak meraih pergelangan tangan Yessy.

"Yessy, kamu kenapa ...." Belum selesai dia berbicara, Rachel sudah menyusul. Suaranya masih bercampur tangis.

"Matthew, kamu bisa antar aku pulang? Aku takut dia akan terus menggangguku."

Mendengar itu, Matthew ragu sejenak. Kebetulan pada saat itu mobil yang menjemput Yessy sudah datang. Dia tidak lagi melihat mereka berdua, langsung naik ke mobil dan pergi, membiarkan pria di belakang memanggil namanya.

Setelah sampai di rumah, dia mengirim semua barangnya ke Kota Nansa dan hanya menyisakan satu koper tangan.

Saat itu, terdengar ketukan pintu yang tergesa-gesa dari luar. Yessy mengira itu adalah pemilik rumah baru, lalu bangkit membuka pintu.

Namun, begitu pintu terbuka, Matthew langsung mencengkeram pergelangan tangannya dengan wajah penuh amarah.

"Aku sudah berkali-kali bilang pasti akan menikahimu dan Rachel cuma asistenku. Kenapa kamu menyuap keluarganya untuk suruh dia kembali ke desa dan menikahkannya?!"

Di belakangnya, tampak wajah Rachel yang basah oleh air mata. "Yessy, aku nggak pernah berebut atau bersaing denganmu. Aku hanya ingin tetap di sisi Matthew dan melihatnya saja."

"Bahkan itu pun kamu nggak bisa terima? Kamu tahu nggak, betapa sulitnya aku dulu keluar dari desa? Aku nggak mau diseret kembali untuk menikah dengan pria tua!"

Yessy dihujani tuduhan tanpa henti, padahal dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi!

"Menyuap keluarganya? Aku nggak tahu apa-apa!"

Matthew yakin dia berbohong. Amarah di hatinya semakin membara, suaranya sedingin es. "Kamu masih berbohong. Keluarganya mengaku sendiri ada wanita bermarga Tanadi yang kasih mereka uang untuk datang. Kalau aku nggak kebetulan mengantar Yessy pulang dan bertemu mereka, dia sudah dibawa kembali ke desa!"

Setelah berkata demikian, dia melepaskan tangan Yessy dengan kasar.

Yessy kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai, telapak tangannya tergores. Namun, dia seolah-olah tidak merasakan sakit. Sudut bibirnya bahkan membentuk senyuman tipis.

"Matthew, hubungan kita sudah lebih dari 20 tahun, tapi ternyata di matamu aku sama sekali nggak layak dipercaya."

Tangan Matthew yang tergantung di samping tubuhnya tanpa sadar mengepal, tetapi saat melihat air mata di mata Rachel, tekadnya kembali bulat.

"Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Gimana aku bisa percaya padamu? Sepertinya selama ini aku terlalu baik padamu, sampai membuatmu jadi manja dan berani menyentuh orangku. Sekarang juga, minta maaf pada asistenku."

Yessy tertawa pelan, menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku nggak melakukan kesalahan, kenapa harus minta maaf?"

Melihat dia tetap tidak mau mengaku, wajah Matthew semakin dingin. Kemudian, dia memberikan ultimatum terakhir.

"Panglima nggak akan mengizinkan wanita berhati kejam menikah denganku dan menjadi istri komandan. Yessy, pikirkan baik-baik." Setelah berkata demikian, dia menggenggam tangan Rachel dan pergi tanpa menoleh lagi.

Yessy bangkit dengan langkah terhuyung. Menatap punggung Matthew yang menjauh, dia tersenyum penuh ironi.

"Aku juga sudah nggak ingin menikah denganmu."

Saat itu, ponselnya berbunyi. Itu pesan dari ibunya.

[ Yessy, pernikahan sudah diatur, undangan juga sudah dikirim. Kamu cuma perlu pulang dan menjadi pengantin yang cantik dan bahagia. ]

Dia mematikan layar, lalu membawa koper tangannya menuju stasiun. Mulai sekarang, dia akan menjalani kehidupan baru yang menjadi miliknya sendiri. Dalam kehidupan itu, tidak akan ada lagi Matthew.

....

Di sisi lain, Matthew membawa Rachel ke klinik untuk mengobati luka akibat tarik-menarik dengan keluarganya tadi. Kebetulan sahabat Matthew adalah dokter di klinik itu. Dia segera datang setelah mendapat kabar.

Melihat perawat sedang membalut luka Rachel, dia menarik Matthew ke lorong. "Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kamu mencintai Yessy atau wanita ini?"

"Tentu saja Yessy," jawab Matthew tanpa ragu. "Hanya saja selama ini aku selalu yang mengejarnya, lama-lama pasti lelah. Tapi Rachel berbeda, di matanya hanya ada aku. Seiring waktu, aku merasa kasihan padanya. Aku jadi nggak ingin dia pergi dan ingin melindunginya."

Sahabatnya menghela napas. "Baiklah. Tapi gimana kalau Yessy marah? Sudah pikirkan cara menenangkannya?"

Matthew terdiam sejenak, lalu menjawab dengan kaku, "Nggak perlu. Kali ini dia sudah kelewatan. Kebetulan malam ini dia pergi ke Kota Nansa, biarkan dia tenangkan diri beberapa hari."

"Lagi pula sebelum dia pergi, aku sudah menyebut soal permohonan pernikahan. Keinginannya yang terbesar adalah menikah denganku. Setelah kembali dari Kota Nansa, dia pasti akan mencariku untuk minta maaf. Selama dia mau minta maaf pada Rachel, masalah ini selesai."

Sahabatnya tahu Matthew tidak bisa dinasihati, jadi hanya mengangkat alis dan mengalihkan topik. "Kamu sudah dengar belum soal Keluarga Kosasih di Kota Nansa? Kolonel termuda mereka akan nikah. Undangannya bahkan sampai ke tanganku. Tsk, aku kira dia nggak akan nikah seumur hidup. Aku jadi penasaran siapa wanita yang berhasil menaklukkannya ...."

Dia tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak, seolah-olah melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.

Matthew menyadari keanehannya, lalu mengambil undangan itu dan membukanya. "Siapa?"

Detik berikutnya, nama pengantin pria dan wanita terpampang jelas di hadapannya.

[ Arthur Kosasih dan Yessy Tanadi ]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 17

    Suara Rachel langsung membuat Yessy merasa sesak."Rachel, kamu mau apa?" Yessy berusaha menjaga suaranya tetap tenang, agar tidak memicu emosinya."Mau apa? Kamu sudah mau menikah, kenapa masih harus merebut Matthew dariku? Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun, apa yang kurang dariku dibanding kamu!"Semakin dia bicara, emosinya semakin memuncak. Tangan yang memegang pisau tanpa sadar mengencang, dan di leher Yessy langsung muncul garis merah. Melihat garis merah itu, Rachel malah semakin bersemangat."Selama kamu nggak ada, Matthew akan melihatku dan bersama denganku! Ikut aku!"Dengan satu tangan menempelkan pisau di leher Yessy, tangan lainnya menarik Yessy keluar dari ruang rias. Sepanjang jalan, dia sengaja menghindari kamera pengawas.Hotel tempat pernikahan itu memang dipilih khusus dengan pemandangan laut. Tidak jauh dari hotel terdapat tebing, dan di bawahnya ombak laut yang bergelora.Rachel menyeret Yessy sampai ke tepi tebing. Dia mendorong Yessy jatuh ke tanah, lal

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 16

    Tiga hari sebelum pernikahan, Yessy dan Arthur datang ke butik gaun pengantin untuk melakukan fitting terakhir. Begitu tirai dibuka, semua pegawai di tempat itu tanpa sadar menghela napas kagum."Ya ampun, Bu Yessy, kamu cantik sekali.""Iya, kamu benar-benar cocok sama Pak Arthur, pasangan yang serasi."Yessy merasa agak malu dipuji seperti itu, tapi matanya tetap menelusuri bayangannya di cermin sedikit demi sedikit.Arthur mengetahui bahwa Yessy pernah ebrkuliah di Kota Garja, kota pelabuhan dengan hubungan perdagangan luar negeri yang erat. Dia pasti sudah sering melihat model pakaian luar negeri yang modern, jadi dia tidak memilih gaun merah tradisional, melainkan khusus memilih gaun pengantin bergaya luar negeri.Gaun ini dijahit sepenuhnya dengan tangan, bagian roknya memantulkan cahaya seperti bintang-bintang kecil di bawah lampu, membuat kulitnya tampak semakin cerah. Tanpa sadar, Yessy mengusap rok yang mengembang itu dan hatinya sedikit melayang.Empat tahun lalu, saat baru

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 15

    Saat itu, dari belakang terdengar suara panggilan yang bergetar karena tangis."Matthew!"Rachel berlari kecil, berusaha membantu Matthew berdiri dari tanah."Kamu tadi juga sudah lihat, 'kan? Yessy itu jelas-jelas perempuan yang nggak setia! Dia sudah meninggalkan kamu dan masuk ke pelukan pria lain, cuma aku yang akan terus mencintaimu!"Melihat Matthew dalam keadaan hancur, hati Rachel terasa sakit. Namun, di dalam suaranya terselip sedikit kegembiraan."Kembali ke Kota Garja sama aku, ya? Aku akan selalu di sisimu, nggak akan pernah ....""Cukup!" Matthew memotong kata-katanya dengan mata merah menyala dan tatapan dingin."Aku nggak izinkan kamu memfitnah Yessy seperti itu. Dia nggak seperti yang kamu katakan, aku yang menyakitinya!"Matthew mengibaskan tangannya dengan keras, Rachel yang tidak siap terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh. Dia menatap pria di depannya dengan tidak percaya.Padahal Matthew sudah melihat sendiri Yessy bersama pria lain, tapi dia masih memb

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 14

    Matthew terhuyung mundur dua langkah, rona wajahnya memudar sedikit demi sedikit sampai pucat tak bersisa.Yessy ... ternyata tahu kalau dia mengubah pengajuan pernikahan?Bibirnya bergetar, tapi di dalam hatinya masih menyimpan secercah harapan terakhir. Dia memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis."Ka ... kamu bicara apa, Yessy?"Melihat dia masih berbohong, rasa sindiran di hati Yessy hampir meluap."Sudahlah, nggak usah pura-pura. Aku melihat sendiri kamu menambahkan satu kata 'tidak' di telegram panglima.""Kamu terus bilang kamu mencintaiku, tapi demi Rachel, selama empat tahun berturut-turut kamu mengubah persetujuan pernikahan dari setuju menjadi tidak setuju. Bahkan di hari perayaan sepuluh tahun hubungan kita pun, kamu mencium dia. Itu yang kamu sebut cinta?""Maaf, cinta seperti itu, aku nggak butuh dan juga nggak mau."Arthur hanya tahu Matthew menunda pernikahan selama empat tahun, tapi tidak tahu ternyata Yessy sudah melalui begitu banyak hal menyakitkan.

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 13

    Mata Matthew tampak memerah. Kepalan tangannya berderit, tatapannya terpaku pada buku nikah di tangan Yessy."Kamu ... kamu sudah menikah sama dia?"Menghadapi tamu tak diundang ini, Yessy sama sekali tidak bersikap ramah. Dia mengerutkan kening, tatapannya jelas menunjukkan penolakan. "Iya, seperti yang kamu lihat, aku sudah menikah."Arthur yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggang Yessy dengan alami, seolah menegaskan posisinya. "Halo, aku suami Yessy."Dia sengaja menekankan kata "suami". Yessy yang berada dalam pelukannya, langsung merasa telinganya panas dan wajahnya kembali merona.Matthew melihat semua interaksi mereka dengan jelas, dia menggertakkan gigi dengan kuat untuk menahan amarah yang hampir meledak. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan diri bahwa Yessy hanya terlalu marah padanya, sehingga Yessy menikah untuk membuatnya cemburu.Setelah berusaha menenangkan diri, Matthew memaksakan senyuman."Yessy, jangan marah lagi sama aku, ya? Aku ini tunanganmu. Kalian perg

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 12

    Setelah membeli tiket, Matthew hampir tidak berhenti sama sekali. Dia langsung menginjak gas pulang ke rumah, mengambil dokumen, lalu bersiap pergi ke stasiun.Entah dari mana Rachel mendapat kabar, dia bergegas dari klinik dan mengadang Matthew di depan rumah, tidak membiarkannya pergi."Matthew, Yessy sudah meninggalkan kamu dan menikah sama pria lain, kenapa kamu masih mau cari dia?!" teriak Rachel dengan histeris. Air matanya mengalir deras.Namun Matthew tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelembutan seperti dulu, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin."Yessy cuma masih marah padaku. Selama aku minta maaf padanya, dia akan kembali bersamaku.""Kamu mau bawa dia kembali? Lalu aku gimana!" Rachel menarik lengannya, ekspresinya penuh emosi. "Kamu juga suka aku, 'kan? Sekarang dia sudah nggak menginginkanmu, bukankah lebih baik kamu sama aku?"Suka Rachel?Tidak mungkin!Matthew tanpa ragu melepaskan Rachel dan memandangnya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak disembunyikan."S

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 7

    Suasana ruang privat yang semula ramai seketika menjadi hening.Dua orang yang tadi berbicara lebih dulu berdiri dengan canggung di tempat. "Se ... serius?"Yessy menjawab dengan tenang, "Ya, memang belum nikah."Ke depannya juga tidak akan menikah dengannya.Matthew menatap Rachel dengan wajah mura

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 6

    Yessy bangkit dan pulang ke rumah. Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Kota Nansa.Sementara Matthew yang tadi berkata "akan segera kembali", sepanjang sore justru tidak memberi kabar sama sekali.Hingga larut malam, telepon di ruang tamu akhirnya berdering. Yessy sudah menebak it

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 5

    Setengah jam kemudian, Matthew baru kembali ke restoran. Di belakangnya masih ada Rachel.Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu merangkul Yessy sambil berucap dengan nada lembut seperti sedang membujuk, "Yessy, tadi aku sudah kasih dia pelajaran. Sekarang aku suruh dia minta maaf lang

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 4

    Di tangga, Yessy melihat Matthew menarik pergelangan tangan Rachel. Amarah di wajahnya masih belum mereda."Rachel, kamu sengaja merusak perayaan hari jadi ke-10 kami ya? Aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu soal dekorasi restoran, bahkan khusus mengingatkan kalau Yessy alergi kastanye. Apa yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status