แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Bekzy
Setengah jam kemudian, Matthew baru kembali ke restoran. Di belakangnya masih ada Rachel.

Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu merangkul Yessy sambil berucap dengan nada lembut seperti sedang membujuk, "Yessy, tadi aku sudah kasih dia pelajaran. Sekarang aku suruh dia minta maaf langsung ke kamu."

Rachel langsung mengakui kesalahannya, "Maaf, Yessy, semua ini kelalaianku. Karena Komandan sudah 'menghukumku', kuharap kamu bisa memaafkanku."

Kata "menghukum" sengaja dia tekankan dengan sangat jelas.

Ekspresi Matthew sedikit kaku, lalu wajahnya langsung menjadi suram dan dia membentak, "Kalau sudah minta maaf, pergi sana! Ngapain masih berdiri di sini?"

Tatapan menantang Rachel seketika membeku, lalu dia menatap Matthew dengan penuh keluhan. "Baik, aku yang sudah berbuat salah ini memang nggak pantas mengganggu kalian merayakan hari jadi."

Setelah berkata begitu, dia pergi dengan mata memerah.

Tatapan Matthew tanpa sadar mengikuti arah kepergian wanita itu. Namun, ketika sudut matanya menangkap Yessy yang tetap menatapnya dengan ekspresi tenang, dia memaksa dirinya menarik kembali pandangannya.

Dia berpura-pura tidak peduli dan berkata, "Biarkan dia pergi merenungkan kesalahannya sendiri. Sekarang nggak ada yang ganggu kita merayakan hari jadi. Hari ini aku akan menemanimu seharian."

Yessy menatapnya cukup lama.

Pria di hadapannya tidak jauh berbeda dari pemuda sepuluh tahun lalu yang wajahnya memerah saat menyatakan cinta padanya. Hanya saja, kini dia sudah kehilangan kepolosan dan bertambah beberapa kesan dewasa dan tenang.

Namun, di tempat yang sama, pada waktu yang sama, Yessy sama sekali tidak bisa menyatukan kedua sosok itu.

Sepuluh tahun lalu, di dalam hati dan mata Matthew hanya ada dirinya seorang. Sekarang, di hati dan matanya sudah ada sosok wanita lain.

Yessy memejamkan mata sesaat, menenangkan emosinya, dan hendak mengatakan keputusannya untuk pindah ke Kota Nansa dan menikah.

Tiba-tiba, dari luar terdengar teriakan wanita dengan suara tangisan. Itu suara Rachel.

Matthew langsung berdiri. Kecemasan dan kepanikan di wajahnya tak sempat dia sembunyikan. Dia hanya sempat berkata, "Yessy, aku keluar sebentar lihat apa yang terjadi, aku segera kembali."

Dia pun bergegas pergi. Karena terlalu terburu-buru, dia tidak mendengar kalimat Yessy. "Aku akan menikah dan pengantin prianya bukan kamu."

Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dinyalakan dari luar. Rachel bersandar di pelukan Matthew, menatap ke arah Yessy, lalu memperlihatkan senyuman penuh kemenangan. Bibirnya bergerak tanpa suara. 'Lihat, di hati Matthew aku lebih penting darimu.'

Melalui jendela, Yessy melihat mobil yang begitu familier itu perlahan menjauh hingga menghilang. Dia tersenyum getir. Bukankah dia pernah merasakan bagaimana saat Matthew mencintai sepenuh hati? Bagaimana mungkin dia tidak tahu?

Hanya saja, dia sudah memutuskan untuk melepaskan hubungan ini sejak awal. Dia juga tidak akan peduli lagi, siapa yang sebenarnya lebih penting di hati pria itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 17

    Suara Rachel langsung membuat Yessy merasa sesak."Rachel, kamu mau apa?" Yessy berusaha menjaga suaranya tetap tenang, agar tidak memicu emosinya."Mau apa? Kamu sudah mau menikah, kenapa masih harus merebut Matthew dariku? Aku sudah menyukainya selama bertahun-tahun, apa yang kurang dariku dibanding kamu!"Semakin dia bicara, emosinya semakin memuncak. Tangan yang memegang pisau tanpa sadar mengencang, dan di leher Yessy langsung muncul garis merah. Melihat garis merah itu, Rachel malah semakin bersemangat."Selama kamu nggak ada, Matthew akan melihatku dan bersama denganku! Ikut aku!"Dengan satu tangan menempelkan pisau di leher Yessy, tangan lainnya menarik Yessy keluar dari ruang rias. Sepanjang jalan, dia sengaja menghindari kamera pengawas.Hotel tempat pernikahan itu memang dipilih khusus dengan pemandangan laut. Tidak jauh dari hotel terdapat tebing, dan di bawahnya ombak laut yang bergelora.Rachel menyeret Yessy sampai ke tepi tebing. Dia mendorong Yessy jatuh ke tanah, lal

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 16

    Tiga hari sebelum pernikahan, Yessy dan Arthur datang ke butik gaun pengantin untuk melakukan fitting terakhir. Begitu tirai dibuka, semua pegawai di tempat itu tanpa sadar menghela napas kagum."Ya ampun, Bu Yessy, kamu cantik sekali.""Iya, kamu benar-benar cocok sama Pak Arthur, pasangan yang serasi."Yessy merasa agak malu dipuji seperti itu, tapi matanya tetap menelusuri bayangannya di cermin sedikit demi sedikit.Arthur mengetahui bahwa Yessy pernah ebrkuliah di Kota Garja, kota pelabuhan dengan hubungan perdagangan luar negeri yang erat. Dia pasti sudah sering melihat model pakaian luar negeri yang modern, jadi dia tidak memilih gaun merah tradisional, melainkan khusus memilih gaun pengantin bergaya luar negeri.Gaun ini dijahit sepenuhnya dengan tangan, bagian roknya memantulkan cahaya seperti bintang-bintang kecil di bawah lampu, membuat kulitnya tampak semakin cerah. Tanpa sadar, Yessy mengusap rok yang mengembang itu dan hatinya sedikit melayang.Empat tahun lalu, saat baru

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 15

    Saat itu, dari belakang terdengar suara panggilan yang bergetar karena tangis."Matthew!"Rachel berlari kecil, berusaha membantu Matthew berdiri dari tanah."Kamu tadi juga sudah lihat, 'kan? Yessy itu jelas-jelas perempuan yang nggak setia! Dia sudah meninggalkan kamu dan masuk ke pelukan pria lain, cuma aku yang akan terus mencintaimu!"Melihat Matthew dalam keadaan hancur, hati Rachel terasa sakit. Namun, di dalam suaranya terselip sedikit kegembiraan."Kembali ke Kota Garja sama aku, ya? Aku akan selalu di sisimu, nggak akan pernah ....""Cukup!" Matthew memotong kata-katanya dengan mata merah menyala dan tatapan dingin."Aku nggak izinkan kamu memfitnah Yessy seperti itu. Dia nggak seperti yang kamu katakan, aku yang menyakitinya!"Matthew mengibaskan tangannya dengan keras, Rachel yang tidak siap terhuyung mundur beberapa langkah dan hampir jatuh. Dia menatap pria di depannya dengan tidak percaya.Padahal Matthew sudah melihat sendiri Yessy bersama pria lain, tapi dia masih memb

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 14

    Matthew terhuyung mundur dua langkah, rona wajahnya memudar sedikit demi sedikit sampai pucat tak bersisa.Yessy ... ternyata tahu kalau dia mengubah pengajuan pernikahan?Bibirnya bergetar, tapi di dalam hatinya masih menyimpan secercah harapan terakhir. Dia memaksakan senyum yang bahkan lebih buruk dari menangis."Ka ... kamu bicara apa, Yessy?"Melihat dia masih berbohong, rasa sindiran di hati Yessy hampir meluap."Sudahlah, nggak usah pura-pura. Aku melihat sendiri kamu menambahkan satu kata 'tidak' di telegram panglima.""Kamu terus bilang kamu mencintaiku, tapi demi Rachel, selama empat tahun berturut-turut kamu mengubah persetujuan pernikahan dari setuju menjadi tidak setuju. Bahkan di hari perayaan sepuluh tahun hubungan kita pun, kamu mencium dia. Itu yang kamu sebut cinta?""Maaf, cinta seperti itu, aku nggak butuh dan juga nggak mau."Arthur hanya tahu Matthew menunda pernikahan selama empat tahun, tapi tidak tahu ternyata Yessy sudah melalui begitu banyak hal menyakitkan.

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 13

    Mata Matthew tampak memerah. Kepalan tangannya berderit, tatapannya terpaku pada buku nikah di tangan Yessy."Kamu ... kamu sudah menikah sama dia?"Menghadapi tamu tak diundang ini, Yessy sama sekali tidak bersikap ramah. Dia mengerutkan kening, tatapannya jelas menunjukkan penolakan. "Iya, seperti yang kamu lihat, aku sudah menikah."Arthur yang berdiri di sampingnya, merangkul pinggang Yessy dengan alami, seolah menegaskan posisinya. "Halo, aku suami Yessy."Dia sengaja menekankan kata "suami". Yessy yang berada dalam pelukannya, langsung merasa telinganya panas dan wajahnya kembali merona.Matthew melihat semua interaksi mereka dengan jelas, dia menggertakkan gigi dengan kuat untuk menahan amarah yang hampir meledak. Di dalam hatinya, dia terus meyakinkan diri bahwa Yessy hanya terlalu marah padanya, sehingga Yessy menikah untuk membuatnya cemburu.Setelah berusaha menenangkan diri, Matthew memaksakan senyuman."Yessy, jangan marah lagi sama aku, ya? Aku ini tunanganmu. Kalian perg

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 12

    Setelah membeli tiket, Matthew hampir tidak berhenti sama sekali. Dia langsung menginjak gas pulang ke rumah, mengambil dokumen, lalu bersiap pergi ke stasiun.Entah dari mana Rachel mendapat kabar, dia bergegas dari klinik dan mengadang Matthew di depan rumah, tidak membiarkannya pergi."Matthew, Yessy sudah meninggalkan kamu dan menikah sama pria lain, kenapa kamu masih mau cari dia?!" teriak Rachel dengan histeris. Air matanya mengalir deras.Namun Matthew tidak lagi menunjukkan sedikit pun kelembutan seperti dulu, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin."Yessy cuma masih marah padaku. Selama aku minta maaf padanya, dia akan kembali bersamaku.""Kamu mau bawa dia kembali? Lalu aku gimana!" Rachel menarik lengannya, ekspresinya penuh emosi. "Kamu juga suka aku, 'kan? Sekarang dia sudah nggak menginginkanmu, bukankah lebih baik kamu sama aku?"Suka Rachel?Tidak mungkin!Matthew tanpa ragu melepaskan Rachel dan memandangnya dengan tatapan penuh kebencian yang tidak disembunyikan."S

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 8

    Menatap pemandangan itu, Yessy tanpa sadar teringat suatu kejadian saat kuliah. Ada seorang mahasiswa satu jurusan yang pernah menyatakan perasaan padanya.Dia sudah memberi tahu Matthew bahwa dia telah menolak pria itu dan mengatakan dirinya sudah punya pacar, Matthew tetap nekat, mengambil risiko

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 7

    Suasana ruang privat yang semula ramai seketika menjadi hening.Dua orang yang tadi berbicara lebih dulu berdiri dengan canggung di tempat. "Se ... serius?"Yessy menjawab dengan tenang, "Ya, memang belum nikah."Ke depannya juga tidak akan menikah dengannya.Matthew menatap Rachel dengan wajah mura

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 6

    Yessy bangkit dan pulang ke rumah. Dia mulai mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Kota Nansa.Sementara Matthew yang tadi berkata "akan segera kembali", sepanjang sore justru tidak memberi kabar sama sekali.Hingga larut malam, telepon di ruang tamu akhirnya berdering. Yessy sudah menebak it

  • Bukan Tak Direstui, Tetapi Memang Tak Berniat Menikah   Bab 4

    Di tangga, Yessy melihat Matthew menarik pergelangan tangan Rachel. Amarah di wajahnya masih belum mereda."Rachel, kamu sengaja merusak perayaan hari jadi ke-10 kami ya? Aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu soal dekorasi restoran, bahkan khusus mengingatkan kalau Yessy alergi kastanye. Apa yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status