공유

Bab 4

작가: Khai Tsan
last update 게시일: 2026-09-14 13:23:00

“Teh… Teh Sinta?”

Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” 

“Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. 

“Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”

Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. 

Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. 

“Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.”

 Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.

Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh mana mukaku?! batin Tono histeris. Ia menggigit bibirnya, menahan napas agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun.

“Oalah kirain ada dia,” keluh Anggi. 

 “Emangnya kenapa sih, Jeng, kok nyariin Tono sampai segitunya? Kan cuma mau beli garam?” pancing Sinta.

Anggi tertawa kecil, suara tawanya terdengar genit. “Eh, Jeng Sinta.. sini deh,” bisik Anggi, menarik lengan Sinta agar lebih dekat.  

“Si Tono itu matanya jelalatan ya! Tadi pagi masa dia liatin punya saya karena daster saya robek?!”

Sinta menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura cuek walau sebenarnya dadanya ikut berdesir mengingat apa yang baru saja ia lakukan pada tukang sayur itu beberapa menit yang lalu. 

“...Ya namanya juga masih muda, Jeng! Masih seger! Masih tajam matanya!”

“Ih, beneran, Jeng!” balas Anggi penuh semangat, suaranya naik satu oktaf.  "Sebel banget saya!”

Sinta cekikikan tanpa rasa malu, menutupi mulutnya dengan ujung daster. “Tapi kalau saya sih… kalau di apa-apain Tono saya sih mau, Jeng!”

Mendengar itu, Anggi tersenyum miring.  “Maksudnya jeng?”

Hasrat yang sempat padam karena ingin menggoda bujangan itu kini perlahan kembali menyala. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Anggi, ikut larut dalam obrolan panas itu. “Tadi pagi ya jeng. Si Tono beuh beda banget jeng!”

“Gak tahu sejak kapan tukang sayur suka olahraga! Tubuhnya gedhe dhuwur!”

“Masa sih sampai segitunya, Jeng?” ucap Anggi, memancing lebih jauh. “Tadi pagi Tono kusam sekali!”

Sinta sengaja melirik ke arah lorong kamarnya, seolah tahu kalau Tono sedang menguping dari dalam.

Ia menjilat bibir bawahnya perlahan. 

 “Ih Jeng Anggi belum liat ya kalau otongnya brondong. Bawaannya pengen dienakin.”

Mata Anggi membelalak kegirangan mendengar pancingan Sinta. Ia menyenggol lengan Sinta dengan genit meledak dalam tawa, “Ah, Jeng Sinta mah bisa aja! Ya urat yang mana aja boleh, Jeng, asal keras!”

Kedua ibu-ibu itu pun tertawa bersamaan, suara mereka menggema di ruang tamu.

Di dalam kamar, Tono yang dari tadi deg-degan setengah mati kini hanya bisa menelan ludah. Meski ketakutan, ia tak bisa membohongi tubuhnya sendiri yang semakin menegang mendengar obrolan erotis dua wanita matang di luar sana.

Tiba-tiba, tawa Sinta mereda. “Eh, ya ampun, sampai lupa! Jeng Anggi tadi perlu apa? Garam kan, Jeng? Ya udah, bentar ya tak ambilin dulu ke dapur.”

“Oh iya! Tolong ya, Jeng!”

Tono yang penasaran mencoba mengintip dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Tono melihat Anggi sedang berdiri mengamati seisi rumah. 

Pandangan Anggi lalu tertuju ke arah lorong kamar. Wanita itu melangkah maju. Matanya memicing ke arah celah pintu tempat Tono mengintip.

 Tubuh Tono kaku. Mati aku! Dia mau ke sini!

 Namun, sebelum langkah Anggi semakin dekat ke pintu kamar, suara Sinta menggelegar dari arah dapur. “Ini, Jeng, garamnya!”

“Eh, oh, iya! Makasih banyak ya, Jeng Sinta!”

 “Iya, sama-sama. Aduh, eh maaf banget ya, Jeng, aku nggak bisa ngobrol lama-lama lagi. Ini aku tak lanjut masak dulu ya !” ucap Sinta dengan nada mengusir yang sangat halus.

“Oh, iya iya, Jeng! Silakan. Saya juga tak pulang saja kalau begitu. Makasih lho garamnya,” ucap Anggi seraya berbalik ke arah pintu depan. 

Tepat sebelum keluar, ia menoleh lagi sambil tersenyum nakal. 

“Oh iya, Jeng… nanti kalau Jeng Sinta ketemu sama si Tono, suruh mampir ke rumahku ya, Jeng. Bilang aja ditungguin Anggi…gitu.”

Sinta tersenyum kaku menahan gemas. “Iya, Jeng. Baik. Nanti kalau ketemu pasti tak sampein langsung ke orangnya.”

Anggi pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan pekarangan. Begitu suara pagar besi depan terdengar ditutup, Sinta buru-buru membalikkan badannya. 

Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar dengan tatapan lapar. Dengan langkah cepat, Sinta menyusuri lorong dan mendorong pintu kamarnya yang memang tidak terkunci.

Brak!

Tono yang masih berada di balik pintu terlonjak kaget melihat Sinta masuk dengan napas memburu.

“Teh? Jeng Anggi udah pulang, Teh? Aman kan—”

 Belum sempat Tono menyelesaikan kalimatnya. Wanita itu langsung maju, mencengkeram dada kemeja Tono, dan mendorong pemuda itu dengan keras. Tono kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung ke belakang hingga akhirnya terjatuh dan terlentang di atas kasur yang empuk.

 “Aduh, Teh! Kenapa ini?!” pekik Tono panik bercampur kaget.

 Sinta tidak peduli. Ia berbalik. Tangannya bergerak sangat cepat dan agresif, langsung meraih dasternya

 “Teh… Teteh mau ngapain…” suara Tono bergetar. Wajahnya memerah melihat tatapan liar Sinta yang menatapnya seperti mangsa yang siap diterkam.

Tanpa basa-basi, Sinta menaikkan dasternya hingga punggungnya terbuka.

“Kita lanjutin yang tadi tertunda, yuk, Ton?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 7

    "Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 6

    "Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 5

    "A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 4

    “Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 3

    Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 2

    Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status