공유

Bab 3

작가: Khai Tsan
last update 게시일: 2026-09-12 11:26:15

Itu… suara apa?!

Tono menajamkan pendengarannya.

“Lho…?”

Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.

“Ah… … sakit….”

Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.

“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.

“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”

Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.

Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.

Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.

“Ah!”

Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.

Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir terjatuh. Ia lekas memalingkan wajah begitu menyadari betapa terbukanya posisi wanita tersebut.

“Astaga! Maaf, Teh!” Tono buru-buru mundur. “Saya kira Teteh kenapa-kenapa.”

Sinta mendongak. Keterkejutan sempat muncul di wajahnya, tetapi segera digantikan senyum geli ketika melihat kepanikan Tono.

“Mas Tono?” Ia buru-buru menarik ujung daster untuk menutupi pahanya. “Kok masuk enggak bilang-bilang?”

“Saya sudah panggil dari depan berkali-kali.” Tono masih menghadap ke luar kamar. “Pintunya terbuka, terus saya dengar Teteh mendesah kesakitan. Saya pikir habis diapain orang.”

“Memangnya Mas Tono mengira aku sedang diapakan?”

Tono terdiam.

Nada Sinta terdengar terlalu santai untuk seseorang yang baru saja dipergoki dengan pakaian tersingkap.

“Gak papa, Teh! Gak papa! Lanjutin aja urusannya! Saya taruh sini aja ikannya, saya pulang dulu!” sahut Tono cepat-cepat, berniat langsung memutar balik badannya.

“Lho, tunggu dulu dong, Mas Tono. Ikannya kan belum dibayar? Bentar, aku ambilin ya uangnya di dalem!”

“I-iya, Mbak... eh, Teh... aku tunggu di luar sini aja!” balas Tono yang sudah ngacir duluan ke ruang tamu, jantungnya berdebar tidak karuan.

Tak lama, Sinta keluar dari kamar, dasternya melambai seiring langkah kakinya yang gemulai.

“Nah, ini Mas Tono uangnya,” kata Sinta menyodorkan selembar uang seratus ribuan.

Tono masih menunduk malu, menerima uang itu dengan tangan gemetar. Ia melirik sekilas ke arah nominalnya.

“Aduh, Teh... ini uangnya gedhe amat. Ada uang pas aja nggak, Mbak? Lima puluh ribu aja. Aku udah nggak ada kembalian lagi ini.”

“Hmm... masa sih habis? Bentar ya, kalau gitu tak cariin dulu recehannya di laci TV ya,” balas Sinta sambil pura-pura sibuk mencari.

“Eh, gak papa, Teh! Gak usah repot-repot! Besok aja sekalian bayarnya pas saya keliling lagi! Saya permisi dulu!” Tono mencoba mencari alasan untuk segera kabur dari situasi panas itu.

“Lho, lho... kok buru-buru banget sih, Mas Tono?” Sinta malah melangkah mendekat, menghalangi jalan Tono. “Sini dulu dong, duduk dulu sekalian saya cariin recehan.”

Tanpa aba-aba, Sinta menyandarkan bahunya dengan manja ke lengan Tono. Aroma parfum bercampur keringat khas wanita itu langsung menyerbu hidung Tono. “Mas Tono kelihatan beda hari ini”

“T-Teh Sinta... ini siang bolong, Teh... ndak enak dilihat tetangga kalau dari luar...” ucap Tono gelagapan, masih enggan menatap wajah Sinta.

“Tetangga pada tidur jam segini, Mas. Lagian, kamu kenapa sih? Keringetan banget, mukanya merah gitu. Tadi kamu lihat apa, hayo di dalam?” goda Sinta sambil tersenyum nakal, telunjuknya mencolek dada Tono.

“Nggak! Saya nggak lihat apa-apa, Teh! Sumpah, gelap tadi!” kilah Tono, walau ia tahu alasannya sama sekali tidak masuk akal.

“Masa sih gelap? Terus, kalau nggak lihat apa-apa, kenapa burungnya terbang?” bisik Sinta, pandangannya nakal turun ke arah celana kain Tono yang memang sudah menonjol.

“A-anu, Teh... itu... m-masuk angin, Teh. S-saya harus beneran pulang sekarang...” Tono mundur selangkah, namun Sinta menahan pinggangnya.

“Mas Tono jahat ih... gara-gara Mas Tono jatuhin ikan tadi, aku gak jadi lanjut lho. Padahal aku belum... Ehm... Tanggung banget rasanya di sini...” rengek Sinta manja, jemarinya mulai nakal menelusuri perut Tono ke bawah.

“M-maksudnya, Teteh? S-saya ndak paham...”

“Paham dong, Mas Tono kan laki-laki. Bantuin Teh Sinta sebentar ya? Biar adil...”

Sinta makin gencar merapatkan tubuhnya. Tanpa ragu, ia menempelkan dadanya ke lengan Tono. Tanpa balutan bra di balik daster tipis yang dikenakannya, kekenyalan itu terasa nyata menekan lengan pria tersebut.

Kenyal… batin Tono, mematung seketika.

Wajah Tono makin tegang dan memerah menahan sensasi mendadak itu.

"Ini.. minyaknya, Mas."

... Minyak?

Tono membeku, menatap Sinta penuh tanya.

"Bisa olesin minyak ke belakang gak, Mas?"

Tangan kanan Sinta masih menahan lengan Tono agar tak bergeser, sementara tangan kirinya kini mulai menyusuri bagian bawah betisnya.

Napas Tono makin sesak. Dada pria itu naik-turun cepat, benar-benar tak berkutik menerima perlakuan Sinta yang kian berani.

Tono pun hanya bisa menelan ludah.

“Teh... jangan, Teh... nanti kalau ada yang—"

SREKKKK! KLENG!

Belum sempat Sinta menaikkan dasternya, terdengar suara gerbang besi depan yang tiba-tiba didorong terbuka paksa dari luar.

“Lho, ini motornya Mas Tono ada di sini to?”

Suara Anggi terdengarr dari halaman depan, memecah keheningan.

Mata Sinta membelalak panik. Tangannya refleks menaikkan daster.

“Mas Tono, gawat!” bisik Sinta panik setengah mati.

“Tuh kan, Teh! Saya bilang juga apa! S-saya pergi ya teh!” balas Tono tak kalah histeris, wajahnya pucat pasi.

“Aduh! Udah, Mas Tono buru-buru sembunyi masuk ke kamarku sana! Masuk ke kolong kasur atau ke lemari, pokoknya ngumpet! Cepat!” dorong Sinta sekuat tenaga mengarahkan tubuh Tono kembali ke kamar.

“Hah? Kamar?! Tapi, Teh—"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 7

    "Mbak ... kok di kamar?" tanya Tono dengan nada tergagap, menahan langkahnya di ambang pintu.Tono tiba-tiba merasa dejavu. Pikirannya seketika melayang pada kejadian di rumah Sinta beberapa saat yang lalu, membuatnya takut kejadian serupa akan terulang kembali.Anggi, yang seolah menyadari perubahan raut wajah Tono, segera membalikkan badan."Tenang, cuma mijit, Ton," bujuk Anggi lembut. "Lagian, kamu kan harus tanggung jawab sama kaki aku.""I-iya, Mbak, kalau begitu," jawab Tono akhirnya mengalah, tidak berani membantah lagi.Tono kemudian kembali memapah Anggi dengan hati-hati menuju ke dalam kamarnya. Aroma wangi khas bunga dari ruangan itu langsung menyeruak, membuat jantung Tono berdebar kencang saat ia mendudukkan Anggi di pinggir kas

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 6

    "Maksud Mbak apa?" tanya Tono dengan nada bingung, menatap Anggi yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.Anggi terkejut pelan saat mendengar pertanyaan itu. Jantungnya berdegup kencang karena merasa telah salah bicara di depan pemuda ini. Ia berusaha keras menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menguasai rongga dadanya."Sudah, jangan banyak ngomong! Buruan pergi sana," kilah Anggi cepat, nada suaranya dibuat seketus mungkin. "Kamu ini bukannya kerja keliling, malah godain istri orang di sini. 'Dah, aku mau pulang!"Tanpa menunggu balasan Tono, Anggi berbalik dan berjalan membelakangi pemuda itu. Langkahnya terlihat tergesa-gesa, seolah ada yang sedang mengejarnya."Lho, Mbak, aku nggak gitu!" seru Tono panik, merasa harus meluruskan tuduhan tersebut.Tono tidak ingin wanita itu menaruh prasangka buruk kepadanya. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Anggi yang semakin menjauh."Sudahlah, Ton! Aku lihat semuanya tadi," sahut Anggi tanpa menoleh sedikit pun."Mbak A

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 5

    "A-apa yang tertunda, Teh?" tanya Tono dengan napas tercekat, berusaha menahan kedua tangan Sinta yang semakin beringas mencengkeram kemejanya."Nggak usah pura-pura gak tau gitu dong, Ton. Kamu harus tanggung jawab sudah buat teteh kentang gini," bisik Sinta dengan napas menderu panas.Tangan Sinta meluncur turun, merayap lembut di atas paha Tono yang bidang. Jari-jari lentiknya perlahan bergerak naik ke atas, menyusuri kontur otot paha hingga tepat berhenti di pangkal paha.Sinta dengan sengaja memberikan elusan-elusan provokatif di atas celana jins Tono, tepat di area kejantanannya yang kini mulai bereaksi hebat dan membengkak drastis."Eh, Teh! Jangan, Teh! Mau ngapain?!" Tono merenggut panik, berusaha keras menepis tangan Sinta.Glodak!Karena panik secara tak sengaja Tono menyentuh lampu tidur di atas nakas hingga jatuh, hingga membuat keduanya terkejut.“Ma.. maaf teh! Jangan, teh. Saya gak pernah begitu—”“Teteh ajarin lho, Ton!”Tono menelan ludah dengan susah payah. Tubuhny

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 4

    “Teh… Teh Sinta?”Suara Anggi kini sudah sampai persis di depan pintu ruang tamu. Ketukan di kusen pintu terdengar dua kali. “Teh Sinta! Punya garem gak teh!” “Iya, Jeng Anggi! Sebentar!” balas Sinta sedikit berteriak dari dalam. Ia buru-buru merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. “Eh, tapi, Jeng… itu motornya si Tono kok ada parkir di sini? Orangnya ke mana ya?”Sinta tersentak pelan, tapi dengan cepat ia menguasai diri. Ia melangkah keluar pintu dan pura-pura ikut celingukan melihat ke arah motor bebek dengan keranjang sayur di depannya itu. “Hah? Iya kah?” ucap Sinta santai. “Aduh, Jeng, saya juga nggak tahu di mana Mas Tononya. Ini saya juga dari tadi asyik di dapur masak, nggak merhatiin keluar.” Di dalam kamar, Tono yang meringkuk di balik pintu menempelkan telinganya di daun pintu. Jantungnya berdetak seperti mau copot. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.Gila! Mati aku! Kalau sampai Mbak Anggi tahu aku di sini, bisa viral satu komplek! Mau ditaruh

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 3

    Itu… suara apa?!Tono menajamkan pendengarannya.“Lho…?”Suara itu kembali terdengar dari balik salah satu kamar di ujung lorong.“Ah… … sakit….”Dahi Tono langsung berkerut. Kekhawatiran mengalahkan keraguannya untuk memasuki rumah orang tanpa izin.“Teh Sinta?” panggilnya sembari melangkah mendekat. “Teteh kenapa?”Tidak ada jawaban.Pintu kamar tersebut terbuka sedikit. Tono mengetuk permukaannya dua kali sebelum mendorongnya perlahan.“Teh, ini saya, Tono. Saya masuk, ya?”Begitu celah pintu melebar, langkah Tono langsung terhenti.Sinta sedang duduk di tepi kasur dengan sebelah kaki terangkat. Daster rumahan yang dikenakannya tersingkap sampai pertengahan paha, sedangkan kedua tangannya sibuk memijat betis menggunakan minyak urut.Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai. Keringat tipis membasahi pelipisnya setiap kali jemarinya menekan bagian kaki yang terasa nyeri.“Ah!”Rintihan Sinta kembali lolos ketika ia salah menekan.Bungkusan ikan asap di tangan Tono hampir

  • (Bukan) Tukang Sayur Biasa   Bab 2

    Tono menatap nanar jalanan kosong di depannya. Pikirannya masih berkecamuk antara kebingungan dan rasa merinding yang belum hilang."Ini bukan mimpi, kan?" gumam Tono pelan menatap wajahnya di spion. Sudah dua ribu dua puluh se…Plak! Ia menampar pipi kanannya sendiri dengan cukup keras."Aduh! Beneran sakit!" ringisnya sambil mengusap pipi yang memerah.Saat pandangannya kembali turun, cincin itu masih bertengger di jari manisnya.Mending dijual buat tambahan modal besok, atau dikembalikan saja kalau ketemu si Nenek lagi, ya? batinnya bimbang. Ia kemudian tidak mengindahkan karena waktu berjalan siang, ia harus buru-buru berjualan sebelum sayurannya layu.Tono pun kembali memacu motor tuanya menuju gang perumahan tempatnya biasa mangkal. Sepanjang jalan, ia terus melamunkan nasib cincin kusam di jarinya itu."Tono! Heh, kok bablas?!"Terdengar teriakan melengking dari pinggir jalan. Kaget bukan main, Tono sampai kehilangan keseimbangan. Ban depan motornya nyaris menghantam batu besar

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status