Share

Bunga Begonia Tak Tergantikan
Bunga Begonia Tak Tergantikan
Penulis: Mira

Bab 1

Penulis: Mira
Saat aku memasukkan kunci ke dalam tas, Andi mengulurkan tangan dan menahan pergelangan tanganku.

Ujung jarinya terasa dingin, menekan tulang pergelangan tanganku, dengan nada seolah sedang membujuk seseorang yang tidak mengerti aturan.

"Nola, renovasinya sudah sampai tahap akhir. Kalau kau membuat keributan sekarang, para pekerja harus mengulang pekerjaan mereka. Tidak perlu begitu, kan?"

Aku menatap lukisan bunga matahari itu, lalu menjawab dengan tenang, "Aku tidak menyuruhmu mengulang pekerjaan."

Andi sedikit melonggarkan cengkeramannya, seolah merasa puas dengan kepatuhanku.

"Baguslah. Hari ini Sinta juga sengaja datang melihat, katanya kalau lukisan ini digantung di kamar, ruangan ini akan terlihat lebih terang."

Aku tersenyum tipis, "Dia memang perhatian."

"Dia memang paham hal-hal seperti ini." Andi menimpali sambil mengambil ponselnya untuk membalas pesan, jempolnya bergerak cepat di atas layar.

"Tidak seperti kau, yang selalu terpaku pada barang-barang lama."

Barang-barang lama.

Lukisan peninggalan ibuku, kini hanya dianggap barang lama yang bisa diganti begitu saja.

Desainer di sampingnya mendengar dengan canggung, dia bertanya pelan sambil memegang gawainya.

"Pak Andi, untuk seprai kamar utama apa masih sesuai warna krem terang pilihan Bu Sinta?"

Tanpa mengangkat kepala, Andi menjawab, "Iya, tidurnya mudah terganggu, jangan pilih warna yang terlalu gelap."

Desainer itu tertegun sejenak, lalu melirikku dengan cepat.

Baru saat itu Andi menyadari ucapannya yang kurang tepat, alisnya bergerak tipis, tetapi segera kembali tenang.

"Maksudku, dia cuma membantu soal pencahayaannya saja. Pendapatnya juga cukup profesional, kau jangan berpikiran macam-macam."

Aku mengangguk. Dengan nada datar, aku berkata, "Aku tidak berpikir macam-macam."

Dia tampak sedikit terpaku oleh ketenanganku. Tatapannya berhenti di wajahku sebelum akhirnya bertanya.

"Kenapa kau terlihat aneh hari ini?"

Aku tidak menjawab, lalu berbalik menuju ruang ganti pakaian.

Rak-raknya telah diturunkan, dan area gantungan baju juga diubah sesuai tinggi gaun panjang yang biasa dipakai Sinta.

Dulu aku pernah bilang bahwa mantel musim dinginku banyak, jadi ingin menyisakan satu area yang cukup tinggi.

Andi berkata bahwa rumah pernikahan bukanlah gudang, dan menyuruhku jangan membuatnya terlihat seperti rumah kontrakan.

Namun, begitu Sinta mengatakan suka gaun panjang, lemari itu pun disesuaikan dengan kebutuhannya.

Aku membuka laci, di dalamnya ada sebuah pajangan patung rusa kecil dari keramik berwarna putih krem.

Itu bukan barang milikku.

Andi berjalan mendekat, tatapannya terhenti sejenak saat melihat patung rusa kecil itu, lalu dengan santai mengambilnya dan meletakkannya ke tempat semula.

"Itu barang Sinta yang ketinggalan. Nanti, kusuruh dia mengambilnya."

Aku bertanya, "Dia sudah datang berapa kali?"

"Karena renovasi, tentu saja dia harus datang." Nada suara Andi terdengar datar.

"Kau kan sibuk bekerja, jadi aku minta dia untuk mengawasi. Itu demi meringankan bebanmu."

"Apa dia punya kuncinya?"

Andi menggenggam ponsel di telapak tangannya, lalu terkekeh pelan.

"Nola, apa kau harus berbicara dengan nada sekasar itu? Dia datang membantu, bukan untuk mencuri."

Aku menatapnya dan berkata, "Aku hanya bertanya apakah dia punya kuncinya."

Dari pintu terdengar suara kunci yang dibuka.

Sinta masuk sambil membawa kue, gerak-geriknya begitu luwes seolah-olah pulang ke rumahnya sendiri.

"Andi, aku beli kue kastanye favoritmu, sekalian aku juga belikan satu untuk Nola."

Saat melihatku, senyumnya tidak berubah sedikit pun. Dia lalu bertanya, "Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?"

Andi mengambil kantong itu dari tangannya sambil menjawab santai, "Tidak. Dia baru saja bilang kau sangat perhatian."

Sinta tersenyum semakin lebar, "Nola, jangan sungkan-sungkan padaku. Rumah pernikahan itu sangat penting, tentu saja aku ingin membantu kalian menyiapkannya."

Aku memandang sepasang sandal bersol lembut yang dikenakannya.

Di rak sepatu hanya ada satu pasang sandal baru berwarna kuning muda, ukurannya satu nomor lebih kecil daripada milikku.

Andi mengikuti arah pandangku, dengan nada yang mulai tidak sabar, dia menjelaskan.

"Cuma sandal saja. Dia kan sering datang, jadi kubiarkan satu pasang di sini supaya tidak perlu repot berganti sepatu setiap kali datang."

Sinta menggigit bibir bawahnya pelan, lalu berkata lirih, "Kalau begitu, biar kubawa pulang saja. Nola mungkin merasa keberatan."

"Tidak perlu." Andi langsung memotong ucapannya, "Dia tidak sepicik itu."

Aku menunduk, mengeluarkan kunci dari tasku, lalu meletakkannya di atas lemari ruang masuk. Aku berkata dengan tenang, "Kalau begitu, kunci ini juga kutaruh di sini saja."

Andi menatap kunci itu, raut wajahnya sedikit muram, lalu bertanya, "Apa maksudmu?"

Aku menjawab singkat, "Kalian lebih membutuhkannya."

Dia menatapku selama beberapa detik, seolah berusaha memastikan apakah aku benar-benar marah atau hanya ingin memaksanya mengalah lagi.

Sinta lebih dulu angkat bicara.

"Nola, jangan salah paham. Aku dan Andi memang sudah seperti ini sejak kecil. Banyak kebiasaan yang sulit diubah, tapi kami benar-benar hanya teman."

Andi langsung menyambung, "Kau dengar sendiri, kan? Jangan sampai dia jadi tidak enak hati untuk membantu lagi."

Aku mengambil tasku, dan menjawab singkat, "Iya."

Tangan Andi kembali mencengkeram pergelangan tanganku, kali ini jauh lebih kuat, dan bicara dengan nada rendah.

"Aku akan suruh sopir mengantarmu pulang. Malam ini aku masih ada acara, jadi jangan menelepon ibuku dan cerita hal yang macam-macam."

Aku mengangkat pandangan dan bertanya, "Kau takut aku bilang apa?"

"Takut kau akan membesar-besarkan masalah ini." Dia merendahkan suaranya, "Pernikahan tinggal tiga bulan lagi. Jangan sampai membuat kedua keluarga kehilangan muka."

Tiga bulan.

Aku sudah bertunangan dengannya selama dua tahun. Saat tanggal pernikahan kami akhirnya ditetapkan, aku begitu bahagia sampai menandai tanggal itu tiga kali di kalender.

Sekarang, di dalam rumah pernikahan yang dulu begitu kunantikan, dipenuhi jejak keberadaan Sinta yang ada di mana-mana.

Desainer itu membereskan barang-barangnya dan bersiap pergi. Saat melewatiku, layar gawainya tiba-tiba menyala.

Aku melihat beberapa kata tertulis pada kolom nama proyek.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 9

    Saat Andi kembali datang ke rumahku, lukisan bunga begonia sudah kembali tergantung di dinding.Dimas baru saja pergi, dan di depan pintu masih ada pot bunga begonia yang baru diganti.Aku membuka pintu, Andi berdiri di bawah anak tangga tanpa membawa hadiah maupun berkas apa pun.Dia berkata, "Aku datang untuk meminta maaf."Aku tidak mengizinkannya masuk, "Katakan saja."Andi menatap lukisan itu, dengan suara serak, dia berkata, "Soal lukisan, soal rumah pernikahan, soal Sinta, dan soal aku yang selama ini menganggap pengorbananmu sebagai sesuatu yang wajar ... semuanya adalah salahku."Aku mendengarkan dengan tenang, tanpa ada gejolak apa pun di dalam hati.Dia mengeluarkan cincin pertunangan itu dari sakunya, di bagian dalam cincin masih tampak goresan tipis, lalu berkata lirih, "Aku sudah meminta orang untuk memperbaikinya, tapi bekasnya tetap tidak bisa hilang."Aku berkata, "Sesuatu yang pernah rusak memang akan selalu meninggalkan bekas."Mata Andi sedikit memerah, "Nola, aku s

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 8

    Pukul tiga sore, Andi memasuki ruang rapat bersama timnya.Saat melihatku duduk di kursi utama, langkahnya jelas terhenti sejenak.Aku berdiri seperti saat menyambut rekan bisnis biasa, "Pak Andi, silakan duduk."Pandangan Andi tertuju pada kartu identitas kerjaku.Dulu dia pernah berkata bahwa setelah menikah, aku tidak perlu bekerja sekeras ini karena Keluarga Fuwasa mampu menghidupiku.Saat itu aku menganggapnya hanya sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya kepadaku.Setelah presentasi proyek dimulai, aku mendorong dokumen proposal ke hadapannya."Ini adalah anggaran dan jadwal pengerjaan yang sudah kami sesuaikan. Kalau Pak Andi tidak keberatan, maka perjanjian tambahannya sudah dapat ditandatangani minggu depan."Andi membuka dua halaman, lalu bertanya, "Kau yang bertanggung jawab?"Aku menjawab, "Iya."Dia menatapku, lalu berkata, "Kondisimu sekarang tidak stabil, ganti dengan orang lain untuk berkoordinasi denganku."Ruang rapat menjadi sunyi.Aku tersenyum tipis dan menang

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 7

    Saat Dimas sedang memperbaiki lukisan itu, aku duduk di sampingnya sambil menyusun daftar hal-hal yang harus dibereskan setelah pernikahan dibatalkan.Dia berkata, "Bekas lipatannya bisa memudar, tapi tidak mungkin hilang sepenuhnya."Aku menjawab, "Tidak apa-apa kalaupun masih terlihat."Dimas mengangkat pandangannya ke arahku, lalu bertanya, "Bukannya dulu kau paling takut kalau lukisan ini sampai rusak?"Aku mengirimkan konfirmasi pengembalian dana hotel ke bagian keuangan, kemudian menjawab dengan tenang, "Dulu aku takut, karena selalu merasa masih banyak hal yang tidak boleh rusak."Dia tidak bertanya lagi.Terdengar suara ketukan dari pintu.Andi berdiri di luar, membawa sarapan di tangannya, nada suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada kemarin, "Kau punya sakit maag, makanlah dulu sedikit."Aku menolak dengan singkat, "Tidak perlu."Dimas mengangkat kepala dari depan kanvas, "Dia sudah makan."Andi melihat semangkuk bubur di meja, tatapannya langsung menggelap, dan berkata

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 6

    Aku kembali ke rumah lama peninggalan ibuku dan memesan makanan.Saat bel pintu berbunyi, aku mengira itu adalah pengantar makanan.Setelah membuka pintu, tampak Andi sedang berdiri di luar sambil memeluk lukisan bunga begonia itu. Ujung lengan jasnya berdebu, dan di sudut matanya dipenuhi gurat merah karena kurang tidur.Dia berkata, "Lukisannya sudah kubawa kembali."Aku memandang lukisan itu dan berkata, "Terima kasih."Dua kata yang terdengar begitu sopan itu justru membuat raut wajahnya langsung membeku.Dia mengulurkan lukisan itu ke depan sambil berkata, "Aku sudah menyuruh orang untuk membingkai ulang, kanvasnya bisa diperbaiki, dan rumah pernikahan kita juga bisa diubah sesuai keinginanmu."Aku menerima lukisan itu, tanpa mengizinkannya masuk, lalu berkata, "Tidak usah, lukisannya akan kuperbaiki sendiri."Andi menatap jari manisku yang kini kosong dan bertanya, "Mana cincinmu?"Aku menjawab, "Sudah kuberikan padamu.""Bukan itu maksudku." Suaranya merendah, "Nola, kata-kataku

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 5

    Andi menghantamkan tangannya dengan keras ke tepi meja sambil berkata, "Nola, ikut aku keluar."Dia membawaku ke balkon, pintu kaca ditutup, namun tawa Tante Lia dan Sinta masih bisa terdengar dari dalam.Suaranya sangat dingin, "Apa kau harus membuatku malu hari ini?"Aku menatapnya dan berkata, "Yang malu itu kau?""Sudah kubilang, Tante Lia sedang tidak sehat." Andi memegang bahuku, kembali melanjutkan, "Apa kau harus bersikeras mempertahankan harga dirimu?"Aku bertanya, "Lalu, bagaimana denganku?"Dia terdiam sejenak.Aku menyerahkan ponselku padanya, di layarnya terpampang foto gudang sambil berkata, "Lukisan ibuku, kenapa kau bilang sudah tidak dipakai lagi?"Andi meliriknya, raut wajahnya tampak sedikit canggung dan menjawab, "Bingkainya sudah tua, aku sebenarnya sudah menyuruh orang membingkai ulang.""Lalu kenapa nama proyeknya ‘Rekonstruksi gaya rumah lama Sinta’, rencana pernikahan pakai referensinya Sinta, dan Tante Lia juga mengira rumah ini milik kalian?"Andi terdiam se

  • Bunga Begonia Tak Tergantikan   Bab 4

    [Referensi pilihan pengantin wanita: Sinta.]Aku meletakkan map itu ke tempat semula, ujung jariku berhenti sejenak di sampulnya.Andi berjalan mendekat dan bertanya, "Lihat apa?"Aku menengadah, lalu menjawab, "Susunan acara pernikahan, kenapa referensinya Sinta?"Dia melirik sekilas, raut wajahnya tidak banyak berubah, "Perencana acaranya malas, mereka menggunakan templat rencana lamanya Sinta. Aku akan suruh mereka mengubahnya."Sinta langsung berkata, "Aku memang pernah membantu mengirimkan beberapa dokumen, mungkin mereka salah paham. Nola, jangan marah ya."Aku bertanya pada Andi, "Hanya salah paham?"Kesabarannya seolah habis terkikis, lalu berkata, "Kalau bukan begitu, apa lagi? Nola, apa sekarang kau merasa seluruh dunia jadi tidak adil padamu hanya karena melihat nama Sinta?"Aku tidak bertanya lagi.Sore harinya, aku pergi ke gudang seorang diri.Petugas gudang mencari cukup lama sebelum akhirnya mengeluarkan lukisan bunga begonia itu, lalu berkata, "Asisten Pak Andi bilang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status