Se connecter
Malam itu aku bermimpi tentang bunga biru.
Ia tumbuh di antara reruntuhan basah, rapuh namun menolak mati. Aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti setiap pagi. Kosong. Tanganku kotor oleh tanah saat merapikan pot di rumah kaca. Daun-daun kering menempel di jemari dan kubersihkan tanpa benar-benar melihat. Bau lembap tanah basah memenuhi napas, menenangkan sekaligus menyesakkan. Aku tidak percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ada, tetapi karena terlalu banyak orang hancur karenanya. Rumah kaca itu sunyi seperti biasa. Cahaya sore jatuh miring di kelopak bunga yang mulai layu. Tetes air dari atap kaca berdetak pelan, teratur, seperti jam yang hampir habis. Di tempat ini, waktu berhenti sejak ibuku pergi. Aku menatap tanganku sendiri lalu menggenggamnya erat, seolah ada sesuatu yang harus kutahan agar tidak lepas, entah bunga atau diriku sendiri. Sudah lama aku tidak merasa hidup. Hari-hariku hanya tanah, pot, dan sunyi. Di balik kaca yang berembun, laut terlihat jauh di sana. Tenang dan pucat di bawah cahaya senja, seakan menyimpan sesuatu yang belum terjadi. Garisnya samar di cakrawala, namun selalu terasa dekat, seperti panggilan yang tak pernah benar-benar terdengar. Sesuatu yang kelak akan mengusik kesendirianku. “Evelune, sayang… sudah waktunya makan malam.” Suara Madam Rouselle membuatku tersentak. Aku menoleh cepat, napas sedikit tercekat. “Madam… Anda mengagetkanku.” Ia berdiri di ambang pintu rumah kaca dengan senyum lembut yang selalu sama sejak aku kecil. Rambut peraknya disanggul rapi, dan gaun tuanya beraroma sabun yang bersih. Perempuan itu telah lebih lama mengenalku daripada siapa pun di dunia ini. “Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah kaca lagi,” katanya pelan. Aku menunduk pada bunga-bunga di depanku, merapikan satu kelopak yang hampir lepas. “Tempat ini lebih memahami aku.” Madam tidak segera menjawab. Ia hanya menatapku lama, seperti seseorang yang melihat retakan yang tak terlihat orang lain. “Bahkan bunga pun butuh dunia luar untuk hidup, Evelune.” Kata-kata itu tinggal di udara di antara kami. Aku tidak membantah. Di dalam diriku selalu ada sesuatu yang menolak melangkah, ketakutan yang tak bernama, gelap seperti dasar laut yang tak pernah tersentuh cahaya. Aku meletakkan gunting kecil di meja kayu lalu mengikuti Madam keluar. Udara sore di luar rumah kaca terasa lebih dingin. Aroma laut yang jauh bercampur dengan wangi rumput basah. Langit mulai meredup ke warna biru pucat yang hampir kelabu. Rumah tua keluarga D’Amour berdiri diam di antara pepohonan tua. Dinding batunya memudar dimakan waktu, namun jendelanya selalu bersih. Madam menjaganya seperti menjaga kenangan. Di ruang makan, lampu kecil sudah dinyalakan. Cahaya kuningnya lembut dan hangat, memantul di permukaan meja kayu yang telah aus oleh tahun-tahun panjang. Sup hangat mengepul di mangkuk, dan roti panggang tersusun rapi di piring. Aku duduk di kursiku seperti setiap hari. Kursi yang sama sejak aku cukup tinggi untuk mencapainya sendiri. Madam menuangkan sup ke mangkukku. Gerakannya pelan dan hati-hati, seperti semua hal yang ia lakukan di rumah ini. “Sudah lama aku tidak melihatmu berjalan ke pantai,” katanya setelah beberapa saat. Aku mengaduk sup tanpa benar-benar melihatnya. Uapnya naik perlahan, mengaburkan pandanganku sesaat. “Aku tidak punya alasan ke sana.” “Dulu kau suka sekali laut,” kata Madam. “Kau berlari ke ombak bahkan sebelum belajar berjalan lurus.” Aku tersenyum samar. Ingatan itu terasa seperti milik orang lain. “Itu dulu.” Madam duduk di seberangku. Matanya tetap lembut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana malam ini, sesuatu yang seperti kekhawatiran yang tak lagi bisa disembunyikan. “Evelune,” katanya pelan, “rumah ini tidak akan menyakitimu. Tapi dunia di luar juga tidak selalu menyakitkan.” Aku mengangkat wajahku. “Dunia luar selalu mengambil sesuatu, Madam.” Ia tidak menyangkal. Hanya mengangguk kecil. “Benar. Tetapi ia juga memberi.” Aku menatap cahaya lilin yang bergetar di meja. Bayangannya bergerak di dinding, tipis dan rapuh. “Aku tidak tahu harus menginginkan apa dari dunia,” kataku pelan. Madam mengulurkan tangan dan menutup tanganku dengan jemarinya yang hangat. “Kadang kita tidak perlu tahu dulu. Kita hanya perlu berani melihat.” Aku diam. Kata-kata itu terasa terlalu besar untuk sesuatu yang begitu kecil seperti diriku. Di luar jendela ruang makan, langit telah berubah gelap. Laut di kejauhan hampir tak terlihat, hanya kilau pucat yang bergerak pelan di antara bayang malam. Namun entah mengapa, kehadirannya terasa lebih kuat daripada siang tadi. Seperti sesuatu yang menunggu. Aku menarik napas panjang. “Mungkin… suatu hari nanti aku akan mencoba berjalan ke sana lagi.” Madam tersenyum. Tidak lebar, hanya cukup untuk membuat garis halus di sudut matanya tampak lebih dalam. “Itu sudah cukup untuk malam ini.” Kami makan dalam tenang setelah itu. Hanya suara sendok menyentuh mangkuk dan detik jam tua di dinding. Namun kesunyian malam itu terasa berbeda, tidak sepenuhnya berat seperti biasanya. Saat aku berdiri untuk kembali ke kamar, langkahku melambat di dekat jendela. Tanpa sadar aku menoleh keluar. Gelap menyelimuti kebun. Pohon-pohon hanya bayangan. Tetapi di baliknya, jauh di sana, laut berkilau redup di bawah cahaya bulan yang baru naik. Aku menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada perasaan kecil yang bergerak di dalam dadaku. Bukan harapan. Belum. Namun sesuatu yang mendekatinya. Perasaan bahwa kesunyian ini mungkin tidak akan tinggal selamanya. Di luar sana, ombak bergerak perlahan menuju pantai yang tak terlihat dari rumah ini. Seakan suatu saat nanti, ia juga akan sampai kepadaku.Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”
Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann
Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb
Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu
Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu
Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba







