Accueil / Romansa / Bunga Biru / Chapter 2: Masa lalu kelam

Share

Chapter 2: Masa lalu kelam

Auteur: Feyaa
last update Dernière mise à jour: 2025-12-21 15:34:14

Setiap jiwa terhubung oleh takdir pertemuan. Segala sesuatu seolah telah diatur oleh waktu yang tepat, seperti ada benang tak terlihat yang diam-diam menyatukan kehidupan.

Tujuh tahun sebelum malam-malam sunyi di rumah kaca, dunia Evelune runtuh untuk pertama kalinya.

Menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas, ibunya jatuh sakit.

Penyakit itu datang perlahan, tanpa suara. Eloise D’Amour yang dulu selalu bergerak ringan di antara bunga-bunga, kini lebih sering terbaring di kamar dengan napas pendek dan tubuh yang semakin pucat. Namun senyumnya tetap sama, lembut dan menenangkan, seolah ingin menyembunyikan semua rasa sakit dari mata putrinya.

Rumah yang dulu hangat mulai dipenuhi kesunyian yang berat.

Jacques D’Amour, kepala keluarga, hampir tidak pernah pulang. Namanya hanya tersisa dalam bisik-bisik pelayan dan kabar samar tentang pesta dan perempuan muda di kota. Bagi Evelune, ayahnya perlahan berubah menjadi bayangan yang jauh dan asing.

Yang tersisa hanyalah ibunya yang melemah dari hari ke hari.

Pada musim semi pertama setelah Eloise tak lagi mampu bangun dari tempat tidur, Madam Rouselle datang ke rumah itu.

Ia hadir dengan langkah tenang dan mata teduh, membawa kehangatan yang tidak banyak bicara.

Sejak hari pertama, ia merawat rumah dan bunga-bunga seolah semuanya miliknya sendiri. Ia menyiapkan teh hangat untuk Eloise setiap pagi, menata rumah kaca yang mulai terbengkalai, dan berbicara lembut kepada tanaman-tanaman yang kehilangan tangan tuannya.

Evelune yang saat itu masih remaja memandangnya dari kejauhan dengan hati yang takut berharap. Namun Madam tidak pernah memaksa kedekatan. Ia hanya hadir, konsisten, seperti cahaya kecil yang tidak pernah padam.

Penyakit Eloise terus berjalan tanpa belas kasih.

Hari-hari yang dulu dipenuhi wangi mawar dan suara nyanyian berubah menjadi ruang panjang yang sunyi. Kadang Evelune berdiri di balik pintu kamar ibunya, memandangi sosok yang semakin rapuh di ranjang. Ia ingin masuk, ingin memeluk, tetapi ketakutan bahwa air matanya akan melukai ibunya membuat langkahnya tertahan.

Suatu malam, Eloise memanggilnya.

“Evelune.”

Suaranya tipis seperti angin.

Gadis itu segera duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan ibunya yang dingin.

“Jika suatu hari aku tidak lagi di sini… jaga bunga-bunga itu, ya?”

Napas Evelune tercekat.

“Jangan bicara seperti itu, Ibu. Madam bilang musim ini lili akan mekar, dan setelah itu Ibu pasti—”

Eloise tersenyum samar. Jemarinya yang gemetar menyentuh pipi putrinya.

“Tidak semua musim bisa kita lewati bersama, Sayang. Tapi cinta tidak mati ketika tubuh pergi. Ia hanya berubah wujud. Menjadi angin yang menyentuhmu, atau wangi bunga yang menemanimu saat sendiri.”

Air mata Evelune jatuh tanpa suara.

Malam itu, angin laut menyusup dari celah jendela. Lilin di meja hampir habis. Dan di antara cahaya yang meredup, Evelune merasakan dunia bergeser perlahan di bawah kakinya.

Eloise D’Amour mengembuskan napas terakhirnya dengan senyum yang damai.

Tangis Evelune pecah tanpa suara di pelukan Madam Rouselle. Rumah kaca yang dulu penuh kehidupan menjadi saksi bisu kepergian perempuan yang menanam cintanya di setiap kelopak bunga.

Sejak malam itu, rumah keluarga D’Amour berubah.

Ruang-ruangnya kehilangan napas. Tidak ada lagi nyanyian di pagi hari, tidak ada lagi langkah ringan di antara pot-pot tanah. Yang tersisa hanyalah aroma melati kering dan gema kenangan yang tidak mau pudar.

Evelune hidup seperti bayangan di dalam rumah itu.

Ia berjalan perlahan di lorong-lorong, menyentuh meja, kursi, dan jendela seolah semua benda masih menyimpan jejak ibunya. Pada malam-malam terpanjang, ia menatap langit dari jendela kamar dan berharap satu bintang jatuh agar ia bisa bermimpi bertemu lagi.

Namun yang paling sering ia datangi adalah rumah kaca.

Di sanalah ia merasa ibunya masih dekat. Ia merawat bunga-bunga yang ditinggalkan Eloise, berbicara pada daun dan kelopak seakan mereka mampu mendengar. Wangi mawar putih menjadi satu-satunya ketenangan yang ia terima.

Madam Rouselle mengawasinya dari jauh.

Ia tahu gadis itu tidak hanya merawat tanaman. Ia sedang mencoba menambal jiwanya yang retak dengan cara paling lembut yang ia tahu.

Namun di balik ketenangan Evelune, ada ketakutan yang tumbuh diam-diam.

Sejak kehilangan ibunya, ia mulai percaya bahwa cinta selalu berakhir dengan luka. Bahwa setiap kehangatan hanya pertanda kehilangan yang menunggu di masa depan.

Malam-malamnya sering dihabiskan menulis di meja kayu tua milik Eloise. Di bawah cahaya bulan yang menembus kaca berembun, pena Evelune bergerak perlahan di atas kertas.

“Ibu, malam terasa sangat panjang. Dingin ini seperti datang dari dalam diri. Aku takut membuka jendela, takut angin membawa kenangan yang belum siap kuhadapi. Aku takut mencintai. Aku takut kehilangan lagi.”

Air mata menetes di kertas.

Ia melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya dalam kotak kayu kecil yang kini penuh dengan kata-kata yang tak pernah terkirim. Surat-surat itu bukan untuk dibaca siapa pun. Itu adalah bagian-bagian hatinya yang ia titipkan pada seseorang yang tak lagi bisa menjawab.

Suatu malam, Evelune tertidur di rumah kaca dengan kepala di atas meja.

Madam Rouselle datang pelan, menyelimutinya, lalu berbisik lembut,

“Tidurlah, sayangku. Bahkan bunga terkuat pun perlu istirahat untuk bisa mekar kembali.”

Di luar, bulan menggantung pucat di langit.

Cahayanya menembus kaca dan jatuh di wajah Evelune yang tenang dalam tidur.

Dan mungkin, dalam mimpinya malam itu, Eloise benar-benar datang.

Membelai rambut putrinya dan berbisik dalam cahaya yang lembut,

“Cintaku tidak pernah pergi. Ia hanya berubah menjadi sesuatu yang menjagamu dari jauh.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 10: Pria dan Laut

    Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”

  • Bunga Biru   chapter 9: Pelabuhan Clairhaven

    Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann

  • Bunga Biru   Chapter 8: Toko Bunga

    Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb

  • Bunga Biru   Chapter 7: Keluarga Vervelle

    Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu

  • Bunga Biru   Chapter 6: Fleur Bleue

    Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu

  • Bunga Biru   Chapter 5: Fajar Laut

    Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status