Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 12: Dinamika Hati

Share

Chapter 12: Dinamika Hati

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-03-11 17:17:53

Evelune baru saja selesai menata bunga-bunga di rak depan ketika pintu toko kembali berdenting pelan.

Seorang pelanggan masuk, seorang wanita paruh baya yang biasa membeli bunga untuk jendela rumahnya. Alira menyambutnya dengan ramah, sementara Evelune kembali ke meja kerja untuk merapikan beberapa tangkai hydrangea yang tersisa.

Pagi berjalan seperti biasanya.

Namun entah mengapa, setiap kali pintu berdenting, pikirannya sempat terangkat sedikit.

Seolah ada kemungkinan seseorang lain yang masu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 32: Rahasia

    Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Nama itu ditulis dengan tinta hitam, rapi, dan jelas. Bukan tulisan ibunya. Tulisan itu berbeda, lebih tegas, lebih tajam, seperti ditulis oleh seseorang yang terbiasa menulis dokumen, bukan surat pribadi.Evelune melangkah mendekat perlahan.Ia bisa mendengar suara langkahnya sendiri di lantai kayu yang kosong. Neriel berdiri tidak jauh di belakangnya, sementara Elian memperhatikan sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di dalam gudang itu.Amplop itu terletak tepat di tengah meja, seolah memang sengaja ditinggalkan agar mudah ditemukan.Evelune menyentuhnya.Kertasnya tidak berdebu seperti meja di sekitarnya.Artinya benar, belum lama ini seseorang datang ke sini.Seseorang tahu Evelune akan datang.Perlahan ia membuka amplop itu.Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.Ia membuka dan mulai membaca.Nona Evelune Arséline D’Amour,Jika Anda membaca surat ini, berarti Anda sudah menemukan gudang ini dan membuka apa yang ditinggalkan

  • Bunga Biru   Chapter 31: Gudang Tua

    Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.Evelune hampir tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang gudang di pelabuhan utara. Tentang orang yang datang ke tokonya beberapa waktu lalu. Dan entah kenapa, tentang Neriel.Ia bangun sebelum matahari benar-benar naik, merapikan rambutnya dengan sederhana, lalu mengenakan mantel tipis. Kota pesisir di pagi hari selalu memiliki udara yang berbeda, lebih dingin, lebih sepi, dan terasa seperti menyimpan rahasia sebelum orang-orang benar-benar bangun.Ketika ia sampai di depan toko, Alira sudah ada di sana.Alira sedang menyusun beberapa ember bunga di depan, bunga-bunga yang baru datang dari bukit dan dari kebun belakang rumah seorang langganan lama. Ada lili putih, anyelir pucat, chamomile kecil, dan beberapa tangkai lavender yang masih membawa aroma segar.Alira menoleh ketika mendengar langkah Evelune.“Kau tidak tidur, ya?” tany

  • Bunga Biru   Chapter 30: Cerita Lama

    Jika kau sampai di sini, berarti kau mengikuti petunjukku dengan benar. Maafkan Ibu karena membuatmu harus melalui semua ini seperti sebuah teka-teki. Tetapi ada beberapa hal yang hanya akan aman jika disembunyikan, bahkan dari orang yang kita cintai.Tangan Evelune sedikit gemetar saat membalik halaman.Kunci ini adalah kunci untuk gudang lama di pelabuhan bagian utara. Dahulu itu adalah tempat penyimpanan barang milik ayahmu dan beberapa rekannya. Setelah kejadian itu, tempat itu ditutup dan tidak pernah digunakan lagi.Di sanalah kau akan menemukan jawaban terakhir. Tentang siapa yang datang mencari kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita.Angin laut berembus lebih kencang, membuat pita di surat itu bergerak pelan.Evelune menatap kunci kecil di dalam kotak itu.Dingin.Berat.Seperti membawa sesuatu yang lebih dari sekadar besi.Neriel berdiri di sampingnya.“Kita belum sampai di akhir,” katanya pelan.Evelune menggenggam kunci itu perlahan.“Tidak,” jawabnya

  • Bunga Biru   Chapter 29: Rahasia

    Halaman berikutnya dipenuhi tulisan tangan yang rapi dan tenang, seperti orang yang menulis tanpa terburu-buru, seperti orang yang tahu bahwa suatu hari tulisannya akan benar-benar dibaca.Evelune membaca perlahan.Setiap kata terasa seperti suara yang kembali dari masa lalu.Anakku,Jika kau membaca ini, berarti kau sudah cukup kuat untuk mengetahui beberapa hal yang dulu tidak bisa Ibu ceritakan. Bukan karena Ibu tidak ingin kau tahu, tetapi karena Ibu ingin kau tumbuh tanpa membawa beban yang bukan milikmu.Tulisan itu sedikit bergetar di beberapa bagian, seolah ditulis dengan perasaan yang ditahan.Keluarga kita tidak selalu hidup tenang seperti yang kau ingat. Ada masa di mana kita hampir kehilangan segalanya. Pada masa itu, keluarga Vervelle membantu kita. Mereka bukan hanya penolong, mereka adalah keluarga yang kita pilih dengan hati.Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Tentang ayahmu. Tentang nama D’Amour yang kau bawa.Tangan Evelune berhenti.Neriel dan Elian tidak me

  • Bunga Biru   Chapter 28: Rumah Lama

    Jalan menuju rumah lama tidak banyak berubah.Batu-batu yang sama masih tersusun di sepanjang jalan setapak, pohon-pohon tua masih berdiri diam seperti penjaga waktu, dan pagar besi di kejauhan mulai terlihat seiring mereka mendekat.Namun bagi Evelune, tempat itu terasa berbeda.Lebih sunyi.Lebih… jauh.Langkahnya melambat tanpa ia sadari.Neriel yang berjalan di sampingnya tidak mengatakan apa pun, tetapi ia menyesuaikan langkahnya. Tidak mendahului, tidak juga tertinggal.Sementara Alira berjalan sedikit di depan, sesekali menoleh ke belakang, memastikan Evelune tetap baik-baik saja.Ketika mereka akhirnya sampai di depan pagar, Evelune berhenti.Tangannya terangkat perlahan.Menyentuh besi yang sudah dingin dan sedikit berkarat.Suara gesekan pelan terdengar saat ia mendorongnya.Pagar itu terbuka.Seperti menerima mereka kembali tanpa perlawanan.Halaman rumah terbentang di depan.Rumput liar tumbuh tidak beraturan, beberapa pot bunga lama tergeletak kosong di sudut, dan jendela

  • Bunga Biru   Chapter 27: Pelabuhan

    “Ayahku pernah mengatakan hal yang hampir sama,” katanya pelan. “Bahwa pelabuhan bukan hanya tempat kapal datang dan pergi.” Ia berhenti di dekat mereka. “Tapi juga tempat banyak rahasia bersembunyi.” Keheningan kecil muncul lagi. Namun kali ini, bukan hanya penuh pertanyaan. Ada arah yang mulai terlihat. Evelune melipat kembali kertas itu dengan hati-hati. Lalu menyimpannya lagi ke dalam kotak. “Berarti kita benar,” katanya pelan. “Apa yang terjadi pada keluargaku… berkaitan dengan tempat itu.” Alira menyilangkan tangan. “Dan besok kita akan mencari tahu.” Evelune mengangguk. Namun sebelum menutup kotak itu sepenuhnya, ia sempat berhenti sebentar. Seolah merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ingatan yang hampir muncul. Atau firasat yang belum sepenuhnya jelas. Ia menutup kotak itu perlahan. Dan malam itu, meskipun semuanya tampak kembali tenang— ada sesuatu yang mulai bergerak lebih dekat dari yang mereka sadari.-Malam akhirnya memaksa mereka untuk beristirahat.Bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status