Se connecterPintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.
Lonceng kecil berdenting pelan. Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi. Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar. Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja. “Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.” Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh. Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya. “Pagi,” ujar Alira santai. “Pagi,” jawab Evelune. Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu pucat dan putih yang baru saja ia petik dari ladang di pinggir Clairhaven. “Kau datang lebih pagi hari ini,” kata Evelune. “Aku selalu datang lebih pagi. Hanya saja kau jarang menyadarinya,” jawab Alira ringan. Ia mengambil gunting kecil dan mulai memangkas batang-batang bunga liar itu dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa. Sudah bertahun-tahun mereka melakukan ini bersama. Alira bukan sekadar pekerja di toko bunga itu. Ia adalah bagian dari hidup Evelune sejak lama. Sejak masa-masa ketika toko ini bahkan belum ada. Ketika Evelune masih tinggal di rumah lama yang terasa terlalu besar dan terlalu sunyi setelah ibunya meninggal. Ketika segala sesuatu terasa seperti runtuh perlahan. Keluarga Vervelle adalah salah satu dari sedikit orang yang tetap tinggal di sisi mereka saat itu. Ibu Alira, Marianne Vervelle, adalah sahabat dekat Eloise sejak muda. Mereka tumbuh bersama di Clairhaven, berbagi cerita, mimpi, dan juga kesulitan hidup yang tidak selalu mudah. Ketika Eloise jatuh sakit dan keadaan keluarga Evelune mulai goyah, keluarga Vervelle tidak pernah benar-benar pergi. Mereka membantu dengan cara yang sederhana. Membawakan makanan. Menjaga rumah ketika Evelune harus pergi mengurus sesuatu. Dan kadang, hanya duduk bersama dalam keheningan yang tidak terasa canggung. Setelah Eloise meninggal, Marianne-lah yang pertama kali mengatakan sesuatu yang masih Evelune ingat sampai sekarang. “Rumah tidak selalu tempat kau dilahirkan. Kadang rumah adalah orang-orang yang tetap tinggal ketika yang lain pergi.” Sejak saat itu, Alira hampir selalu ada di sekitar Evelune. Mereka tumbuh dengan cara yang berbeda, tetapi berjalan di jalan yang hampir sama. Ketika Evelune akhirnya membuka toko bunga kecil ini, Alira adalah orang pertama yang datang membawa sekotak bibit bunga dan berkata dengan nada santai, “Kalau kau butuh seseorang yang tidak terlalu cerewet tapi cukup rajin, aku bisa membantu.” Dan sejak hari itu, ia tidak pernah benar-benar pergi. Alira menata bunga liar itu ke dalam ember air, lalu tanpa sengaja melirik meja dekat jendela. Matanya langsung menangkap sesuatu yang berbeda. “Mawar merah?” Evelune berhenti sejenak. “Ya.” Alira mendekat sedikit, menatap bunga itu dengan alis yang sedikit terangkat. “Kau jarang sekali menyimpan yang seperti ini.” “Hanya satu tangkai.” Alira mengamati kelopak merah itu beberapa detik sebelum tersenyum tipis. “Biasanya kau bilang warna merah terlalu keras untuk ruangan ini.” Evelune mengambil kain kecil dan mulai membersihkan meja kerja. “Mungkin aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda.” Alira tidak langsung menjawab. Ia mengenal Evelune terlalu lama untuk tidak menyadari perubahan kecil seperti ini. Namun ia juga tahu kapan harus bertanya, dan kapan cukup membiarkan sesuatu berjalan sendiri. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau begitu kita lihat apakah toko ini siap menerima sedikit warna baru.” Ia mengambil beberapa tangkai bunga putih dan mulai menyusunnya di meja kerja. Evelune kembali merapikan hydrangea. Suasana toko terasa tenang seperti biasanya. Namun kehadiran Alira selalu membuat tempat ini terasa lebih hidup. Bukan karena ia banyak bicara. Justru karena ia tidak perlu berbicara terlalu banyak untuk dimengerti. Di luar jendela, Clairhaven semakin ramai. Orang-orang mulai berjalan di jalan berbatu, beberapa berhenti sejenak untuk melihat bunga-bunga di depan toko. Angin laut masuk perlahan, membawa aroma asin yang ringan. Kelopak mawar merah di atas meja bergerak sedikit tertiup angin. Alira memperhatikannya sekilas. “Jadi,” katanya santai sambil memotong batang bunga, “kau pergi ke tebing lagi pagi ini?” Evelune sedikit terdiam. “Ya.” “Sendirian?” Pertanyaan itu terdengar biasa saja, tetapi cukup untuk membuat Evelune berhenti sejenak. Ia menatap mawar merah itu lagi. Lalu menjawab dengan tenang, “Tidak sepenuhnya.” Alira menoleh. Namun ia tidak bertanya lebih jauh. Dan untuk saat ini, pagi di toko bunga itu terasa cukup damai untuk membiarkan cerita itu tumbuh perlahan. Alira tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia hanya mengambil pita linen dari laci kecil di meja kerja, lalu mulai mengikat beberapa tangkai bunga liar yang tadi ia bawa. Suara gunting memotong batang terdengar pelan di antara keheningan pagi. Evelune masih berdiri di dekat jendela. Tangannya merapikan daun hydrangea yang sedikit menguning, namun pikirannya sesaat melayang pada percakapan singkat di tebing tadi pagi. Angin. Ombak. Dan seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana. Ia menghela napas pelan, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “Alira,” ucapnya akhirnya. “Hmm?” sahut Alira tanpa mengangkat kepala. “Pesanan Madame Vionelle untuk akhir pekan… kita masih punya cukup peony putih?” Alira berhenti memotong batang bunga dan berpikir sebentar. “Di ruang belakang masih ada beberapa. Tapi kalau untuk rangkaian besar, mungkin kita harus ambil lagi dari ladang utara besok pagi.” Evelune mengangguk kecil. “Baik.” Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu Alira tiba-tiba berbicara lagi, nadanya ringan seperti biasanya. “Kalau kau pergi ke tebing lagi besok, sekalian saja lewat ladang utara. Jaraknya tidak terlalu jauh.” Evelune meliriknya sekilas. “Kau sepertinya yakin aku akan kembali ke sana.” Alira akhirnya menatapnya, senyum kecil muncul di sudut bibirnya. “Bukan yakin,” katanya santai. “Hanya merasa… kau terlihat lebih tenang setelah dari sana.” Evelune tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela sekali lagi. Cahaya pagi kini sudah lebih terang, memantul di kaca-kaca rumah kaca dan membuat kelopak bunga terlihat hampir berkilau. Di meja dekat jendela, mawar merah itu masih berdiri di dalam vas kecil. Tenang. Seolah ia memang selalu berada di sana. Evelune menatapnya beberapa detik, lalu kembali pada pekerjaannya. Hari baru di Clairhaven akhirnya benar-benar dimulai.Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”
Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann
Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb
Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu
Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu
Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba







