LOGINJalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan.
Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu besar untuk tubuhnya. Dunia berjalan seperti biasa. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergeser sedikit. Tidak besar. Hanya cukup untuk membuatnya menyadari bahwa hari ini tidak sepenuhnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Ketika Evelune tiba di depan toko bunganya, papan kayu kecil yang tergantung di atas pintu masih bergoyang pelan tertiup angin. Tulisan Fleur de Bleue yang terukir di sana tampak sedikit memudar oleh waktu, namun tetap indah dalam kesederhanaannya. Ia membuka kunci pintu. Bunyi lonceng kecil langsung berdenting lembut ketika pintu didorong. Aroma bunga segar menyambutnya, bercampur dengan wangi tanah lembap dari pot-pot tanaman yang baru disiram semalam. Cahaya pagi masuk melalui jendela besar di depan toko, memantulkan warna-warna lembut dari kelopak bunga yang tersusun rapi di rak kayu. Evelune menggantung mantelnya di dekat pintu. Beberapa tangkai lavender sudah menunggu untuk dirapikan. Hydrangea biru di sudut ruangan tampak sedikit lebih mekar dari kemarin. Semua terlihat seperti biasa. Namun pandangannya segera tertarik ke meja kayu di dekat jendela. Mawar merah itu masih berada di dalam vas bening kecil. Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding semalam. Warnanya tetap pekat. Seolah menolak memudar. Evelune berjalan mendekat dan menyentuh batangnya dengan hati-hati. Air di dalam vas masih jernih, namun ia tetap menggantinya dengan yang baru. Ia memotong sedikit ujung batangnya, seperti yang selalu ia lakukan pada bunga yang ingin ia pertahankan lebih lama. Gerakan tangannya tenang dan terlatih. Namun kali ini ia tidak segera menjauh setelah selesai. Ia berdiri beberapa detik, menatap mawar itu. Lalu tanpa sadar, ia tersenyum tipis. “Sepertinya kau memang berniat tinggal lebih lama,” gumamnya pelan. Suara pintu yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan toko. Lonceng kecil berdenting lagi. Evelune menoleh. Seorang wanita tua masuk sambil membawa keranjang kecil berisi beberapa botol kaca kosong. Rambutnya yang putih disanggul rapi, dan mantel wolnya terlihat sedikit kebesaran untuk tubuhnya yang kurus. “Pagi, Evelune,” sapanya hangat. “Pagi, Madam Rouselle.” Wanita tua itu meletakkan keranjang di meja depan. “Aku membawa botol-botol ini lagi. Kupikir kau bisa menggunakannya untuk bunga kecil.” Evelune mengambil salah satu botol kaca itu. Bentuknya ramping, dengan kaca yang sedikit berwarna kehijauan. “Ini cantik sekali,” katanya tulus. Madam Rouselle mengikuti arah pandangannya ke meja dekat jendela. Matanya langsung menangkap warna yang berbeda di antara bunga-bunga biru dan putih. “Mawar merah lagi,” katanya dengan nada ringan. Evelune sedikit terdiam sebelum menjawab. “Hanya satu.” Madam tersenyum, seolah memahami sesuatu yang tidak diucapkan. “Kadang satu saja sudah cukup untuk mengubah suasana ruangan.” Ia berjalan perlahan mengelilingi toko, memperhatikan bunga-bunga yang tertata rapi. “Clairhaven terasa lebih hidup sejak toko ini ada,” lanjutnya. “Sebelumnya sudut jalan ini selalu terlihat sepi.” Evelune menunduk sedikit, merasa tidak terlalu nyaman menerima pujian. “Aku hanya menjual bunga.” “Tidak,” kata Madam pelan. “Kau memberi orang alasan untuk berhenti sebentar dari hari mereka.” Kata-kata itu menggantung di udara selama beberapa detik. Evelune tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya kembali merapikan beberapa tangkai bunga di meja kerja. Pintu toko kembali berdenting. Kali ini seorang pria paruh baya masuk, membawa topi di tangannya. “Pagi, Nona Evelune,” katanya ramah. “Istriku ulang tahun hari ini. Aku butuh sesuatu yang tidak terlalu mencolok, tapi tetap indah.” Evelune mengangguk dan mulai memilih bunga. Tangannya secara otomatis mengambil beberapa tangkai bunga putih, menambahkan sedikit baby’s breath, lalu mengikatnya dengan pita tipis berwarna krem. Gerakannya tenang, hampir seperti ritual. Saat ia menyerahkan buket itu, pria itu tersenyum puas. “Istriku pasti menyukainya,” katanya sebelum pergi. Pintu kembali tertutup. Lonceng kecil kembali sunyi. Madam Rouselle sudah duduk di kursi kecil dekat jendela, memandangi jalan luar dengan santai. Evelune kembali menatap mawar merah di atas meja. Untuk sesaat, ia teringat kembali pada pria di tebing pagi tadi. Senyumnya yang tenang. Cara bicaranya yang sederhana. Dan kalimat tentang laut yang belum membawa cerita siapa pun. Ia menggeleng kecil, seolah mencoba mengusir pikiran itu. Hari baru saja dimulai. Masih banyak bunga yang harus dirapikan, pesanan yang harus disiapkan, dan pelanggan yang akan datang. Namun entah mengapa, ketika angin laut masuk melalui celah jendela dan menggerakkan kelopak mawar merah itu sedikit, Evelune tidak bisa menahan satu pikiran kecil yang muncul tanpa diminta. Mungkin laut belum selesai membawa ceritanya hari ini.Evelune berhenti berjalan.Alira yang berada beberapa langkah di belakangnya mengikuti arah pandangannya.“Kenalanmu?” bisik Alira pelan.Evelune tidak langsung menjawab.Di saat yang sama, pria itu tampaknya mendengar suara langkah mereka. Ia menoleh perlahan.Mata mereka bertemu sekali lagi.Untuk sesaat, ekspresi pria itu berubah menjadi sedikit terkejut. Namun seperti kemarin, keterkejutan itu segera digantikan oleh senyum kecil yang tenang.“Pagi lagi,” katanya.Angin laut berembus di antara mereka.Evelune mengangguk ringan.“Pagi.”Alira memandang keduanya dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan terlalu baik.Evelune menoleh sedikit ke arahnya.“Ini Alira,” katanya singkat.Alira mengangkat tangan kecil sebagai salam.“Alira Calliste Vervelle.”Pria itu mengangguk sopan.“Senang bertemu denganmu.”Ia kemudian memandang Evelune lagi.“Aku tidak menyangka akan bertemu lagi secepat ini.”Evelune menatap laut sebentar sebelum menjawab.“Kami hanya lewat menuju pelabuhan.”
Malam semakin dalam di Clairhaven.Setelah menutup toko, Evelune kembali ke rumah kaca yang berada tepat di belakang bangunan utama. Tempat itu selalu menjadi ruang paling tenang baginya, jauh dari suara kota meskipun jaraknya tidak benar-benar jauh.Ia membuka pintu kayu dengan hati-hati. Derit kecil dari engselnya terdengar akrab, seperti sapaan yang sudah terlalu sering ia dengar.Aroma tanah lembap langsung menyambutnya.Lampu kecil yang menggantung di tengah ruangan menyinari pot-pot bunga yang tersusun rapi. Bayangan daun dan kelopak bergerak pelan di dinding kaca setiap kali angin malam menyentuh permukaannya.Evelune menggantung mantelnya lalu berjalan menuju meja kayu di dekat jendela.Di sanalah mawar merah itu masih berada.Kelopaknya terbuka sedikit lebih lebar dibanding pagi tadi. Warnanya tetap pekat, kontras di antara bunga-bunga putih dan biru yang memenuhi rumah kaca.Ia mengganti air di dalam vas dengan yang baru, seperti yang selalu ia lakukan setiap malam.Gerakann
Pagi terus bergerak perlahan di Clairhaven. Cahaya matahari yang semakin tinggi menyelinap melalui kaca jendela toko, memantul pada vas-vas bening dan membuat kelopak bunga tampak lebih hidup dari biasanya.Evelune berdiri di meja kerja, menata beberapa tangkai peony putih yang baru saja ia keluarkan dari ruang penyimpanan. Tangannya bergerak pelan namun terlatih, seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun.Di sisi lain ruangan, Alira sedang membersihkan etalase depan. Ia mengelap kaca dengan kain lembut, sesekali bersenandung kecil tanpa melodi yang jelas.Suasana toko terasa tenang.Hanya ada suara batang bunga yang dipotong, kertas pembungkus yang digesek perlahan, dan angin pagi yang masuk melalui celah jendela.“Lun,” panggil Alira tiba-tiba.Evelune mengangkat wajah sedikit. “Ya?”“Aku baru ingat sesuatu.” Alira berhenti mengelap kaca. “Besok pagi ada pasar bunga di pelabuhan. Petani dari luar kota biasanya memb
Pintu toko kembali terbuka beberapa saat setelah pelanggan terakhir pergi.Lonceng kecil berdenting pelan.Evelune tidak langsung menoleh. Ia masih merapikan beberapa tangkai hydrangea di meja kerja, menyusun kelopak-kelopak yang sedikit jatuh agar kembali terlihat rapi.Namun langkah kaki yang masuk terdengar sangat familiar.Ringan, sedikit cepat, dan selalu berhenti tepat dua langkah dari meja kerja.“Kalau kau merapikan bunga sepelan itu, kita bisa tutup toko sebelum semuanya selesai.”Suara itu membuat Evelune akhirnya menoleh.Alira Calliste Vervelle berdiri di dekat pintu dengan senyum tipis di wajahnya. Rambut cokelatnya yang panjang diikat sederhana, dan keranjang kecil berisi beberapa tangkai bunga liar tergantung di lengannya.“Pagi,” ujar Alira santai.“Pagi,” jawab Evelune.Alira berjalan masuk lebih jauh ke dalam toko, meletakkan keranjangnya di meja kerja tanpa banyak bicara. Ia mulai mengeluarkan bunga-bunga kecil berwarna ungu
Jalan setapak yang menurun menuju Clairhaven masih sepi ketika Evelune berjalan pulang. Matahari mulai naik perlahan, mengubah kabut tipis menjadi cahaya lembut yang menyelimuti kota. Rumah-rumah kecil dengan atap batu tampak mulai hidup satu per satu. Beberapa jendela terbuka, dan suara langkah orang-orang yang memulai hari mereka mulai terdengar dari kejauhan. Namun pikiran Evelune masih tertinggal di tebing. Bukan pada percakapan mereka. Melainkan pada kesunyian yang terasa berbeda dari biasanya. Ia sudah sering datang ke sana, sering berdiri sendiri memandang laut tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Laut selalu menjadi tempat ia menyimpan pikirannya yang paling sunyi. Tapi pagi ini, seseorang berdiri di sana bersamanya. Dan anehnya, ia tidak merasa perlu pergi. Langkahnya melambat ketika ia memasuki jalan utama kota. Aroma roti hangat dari toko roti di sudut jalan menyebar ke udara. Seorang anak kecil berlari melewati dengan tas sekolah yang hampir terlalu
Langkah Evelune menyusuri jalan berbatu yang mengarah ke tebing terasa lebih ringan dari biasanya. Pagi masih muda; cahaya matahari belum sepenuhnya menghangatkan kota kecil Clairhaven. Kabut tipis menggantung di antara rumah-rumah, seolah menunda dunia untuk benar-benar terjaga. Udara laut membawa aroma asin yang lembut. Setiap kali ia berjalan ke arah ini, Evelune selalu merasa seperti sedang mendekati sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan sekadar laut. Lebih seperti ruang luas tempat pikirannya bisa bernapas. Suara ombak mulai terdengar lebih jelas ketika ia tiba di jalan kecil yang menanjak menuju tebing. Rumput-rumput liar di sisi jalan masih basah oleh embun, dan angin pagi membuat ujung-ujungnya bergetar halus. Ia berhenti sejenak di puncak. Laut terbentang luas di hadapannya, berwarna biru pucat yang perlahan berubah terang saat matahari naik lebih tinggi. Permukaan air tampak tenang, hanya sesekali terpecah oleh gelombang kecil yang bergerak menuju ba







