Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 38: Laut dan Rahasianya

Share

Chapter 38: Laut dan Rahasianya

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-03-26 21:47:27

Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.

Kapal kecil milik Neriel tidak terlihat mencolok. Dari luar, ia tampak seperti kapal biasa yang digunakan untuk mengangkut barang ringan antar pelabuhan kecil. Tidak ada yang akan mengira bahwa mereka berlayar bukan untuk berdagang, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 38: Laut dan Rahasianya

    Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.Kapal kecil milik Neriel tidak terlihat mencolok. Dari luar, ia tampak seperti kapal biasa yang digunakan untuk mengangkut barang ringan antar pelabuhan kecil. Tidak ada yang akan mengira bahwa mereka berlayar bukan untuk berdagang, melainkan untuk mencari sesuatu yang telah hilang bertahun-tahun.Evelune berdiri di atas dermaga sebentar sebelum naik. Ia menoleh ke arah kota, ke arah jalan-jalan yang sudah ia kenal sejak kecil, ke arah kehidupan yang selama ini terasa tetap dan tidak berubah.“Kalau kau ragu, kita bisa menundanya,” kata Neriel dari atas kapal.Evelune menggeleng pelan. “Aku tidak ragu. Aku hanya merasa… setelah aku naik ke kapal itu, hidupku tidak akan kembali seperti sebelumnya.”Neriel tidak langsung menjaw

  • Bunga Biru   Chapter 37: Kompas

    Malam semakin larut ketika Evelune akhirnya melangkah pulang.Namun langkahnya kali ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal di persimpangan itu, bukan sesuatu yang hilang, melainkan sesuatu yang perlahan tumbuh dan belum ia beri nama.Di dalam kamarnya, ia meletakkan kompas itu di atas meja kecil dekat jendela.Jarumnya masih menunjuk ke arah yang sama.Laut.Seolah tidak peduli apakah Evelune siap atau tidak, arah itu tidak akan berubah.Evelune duduk di kursinya, menatap benda kecil itu cukup lama. Pikirannya penuh, tetapi tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Ada benang-benang yang mulai terhubung, meskipun belum sepenuhnya jelas.Ayahnya menyembunyikan sesuatu.Kapten Merovyn membawanya pergi.Dan sekarang, kompas itu meminta untuk mengikuti arah yang sama.Namun di antara semua itu, ada satu hal lain yang terus muncul di pikirannya.Bukan tentang peti.Bukan tentang masa lalu.Tetapi tentang Neriel.Tentang cara ia selalu berada di sana tanpa mem

  • Bunga Biru   Chapter 36: Kapten Rhon

    Angin laut berembus lebih kencang, membuat ujung mantel Evelune bergerak pelan. Ia menatap Neriel cukup lama, seolah baru menyadari bahwa pertemuan mereka mungkin bukan kebetulan sederhana.“Jadi sejak awal,” kata Evelune pelan, “keluargaku dan keluargamu sudah saling terlibat dalam semua ini.”Neriel tidak menghindari tatapannya. “Sepertinya begitu.”Pria di dermaga itu mengeluarkan sesuatu dari dalam mantelnya, sebuah benda kecil yang dibungkus kain gelap.“Aku tidak memanggilmu ke sini hanya untuk bercerita,” katanya. “Ada sesuatu yang ayahmu titipkan padaku, untuk diberikan kepada keluarganya jika suatu hari keluarganya datang mencarinya.”Ia menyerahkan bungkusan itu kepada Evelune.Perlahan Evelune membukanya.Di dalamnya ada sebuah kompas tua, terbuat dari logam berwarna perak yang sudah sedikit kusam. Di bagian belakangnya ada ukiran kecil.Lambang keluarga D’Amour.Dan di bawahnya, ukiran huruf kecil:Pour trouver ce qui est perdu.“Apa artinya?” tanya Elian.“Itu bahasa Pran

  • Bunga Biru   Chapter 35: Pria Surat

    Pria itu berdiri membelakangi mereka, menghadap laut yang gelap. Mantelnya panjang, tertiup angin pelan, dan topinya menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak ketika mendengar langkah kaki mendekat, seolah ia sudah tahu mereka akan datang.Evelune berhenti beberapa langkah sebelum mendekat lebih jauh.“Aku datang,” kata Evelune.Pria itu akhirnya berbalik perlahan.Wajahnya tidak sepenuhnya tua, tetapi jelas lebih tua dari Neriel dan Elian. Matanya tajam, seperti orang yang sudah melihat banyak hal dalam hidupnya.“Evelune Arséline D’Amour,” katanya pelan. “Kau sangat mirip ibumu.”Nama itu terdengar asing dan akrab di saat yang bersamaan.“Anda yang menulis surat itu?” tanya Evelune.Pria itu mengangguk. “Ya.”“Anda bilang mengenal ayah saya.”“Aku tidak hanya mengenalnya,” jawab pria itu. “Aku bekerja untuknya.”Elian dan Neriel tetap berdiri sedikit di belakang Evelune, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk melihat dan mendengar semuanya.Pria itu melirik mereka sebentar. “Ka

  • Bunga Biru   Chapter 34: Malam yang Panjang

    Mereka tidak langsung pulang setelah percakapan itu.Untuk beberapa waktu, mereka hanya berdiri di sana, memandang laut yang gelap dan mendengarkan suara ombak yang datang dan pergi seperti napas yang panjang. Tidak ada yang berbicara, tetapi keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.Evelune menyandarkan kedua tangannya pada pagar kayu, menatap garis cahaya di kejauhan.“Dulu aku berpikir hidupku akan selalu sederhana,” katanya pelan. “Merangkai bunga, membuka toko setiap pagi, berbicara dengan pelanggan, lalu pulang. Aku pikir hidupku akan berhenti di situ saja.”Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Dan sekarang?”“Sekarang rasanya seperti aku membuka pintu yang tidak pernah aku tahu ada di hidupku,” jawab Evelune. “Dan aku tidak tahu di balik pintu itu ada apa.”“Kalau kau takut dengan apa yang ada di balik pintu itu,” kata Neriel pelan, “aku akan berdiri di belakangmu. Kalau kau ingin membukanya, aku di sana. Kalau kau ingin menutupnya lagi, aku juga di sana.”Evelune

  • Bunga Biru   Chapter 33: Hubungan

    Malam itu, Evelune tidak langsung pulang ke rumah.Ia meminta Neriel dan Elian berhenti sebentar di jalan yang menghadap laut. Dari sana, lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti garis cahaya panjang yang mengambang di atas air hitam.Angin malam cukup dingin, membuat rambut Evelune berantakan tertiup pelan.“Aku ingin bertanya sesuatu,” kata Evelune tiba-tiba.Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Tanyakan.”Evelune terdiam beberapa detik, seperti menyusun kalimat yang tepat.“Waktu di surat itu tertulis jangan percaya terlalu mudah, bahkan pada orang yang berdiri di dekatku sekarang… aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu terus terngiang di kepalaku.”Elian menyandarkan punggungnya pada pagar kayu. Ia tidak menyela, tetapi jelas mendengarkan.Evelune melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Pada orang yang tidak terlihat tapi tahu banyak tentang keluargaku, atau pada orang yang berdiri di sampingku sekarang.”Neriel tidak langsung menjawab. Ia menata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status