แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Ochos
Pukul tujuh keesokan paginya, Fiona bangun tepat waktu karena jam biologisnya. Begitu membuka mata, dia melihat Nicholas sedang berdiri di depan cermin dan merapikan kemejanya.

Selama ini, jadwal hidupnya selalu terbalik. Dalam ingatan Fiona, ini adalah pertama kalinya pria itu bangun sepagi ini.

Mendengar langkah kaki Fiona, Nicholas menoleh dan bertanya, "Setelan Kakak hari ini cakep nggak?"

Nicholas memang terlahir dengan tubuh yang cocok mengenakan pakaian apa saja. Bahkan kemeja hitam sederhana juga terlihat bagus di tubuhnya. Hari ini, karena benar-benar memperhatikan penampilannya, dia terlihat sangat memukau. Hanya satu lirikannya saja sudah bisa membuat para gadis terpesona.

Fiona tidak tahu kenapa pria itu tiba-tiba begitu memperhatikan penampilannya. Dulu, penampilan seperti ini pasti akan membuat jantungnya berdegup kencang. Sekarang, dia hanya mengangguk dengan tenang. "Emm, cakep."

Nicholas tidak menyadari ada yang aneh. Dia tersenyum dan berujar, "Ada acara kumpul-kumpul yang mau kuhadiri hari ini. Kamu tunggu di rumah dengan baik, ya. Aku akan bawakan kamu kue waktu pulang nanti."

Seusai berbicara, Nicholas pun berbalik dan pergi.

Setelah sosok Nicholas menghilang, Fiona pergi mengambil segelas air. Namun, pandangannya tertuju pada ponsel yang tertinggal di atas meja. Saat mengambil ponsel itu, dia tanpa sengaja menekan tombol daya. Layar menyala dan menampilkan sebuah pesan baru. Pesan itu berasal dari seseorang yang disimpan dengan nama "Brenda".

[ Nico, sudah delapan tahun kita nggak ketemu. Aku sangat menantikan pertemuan hari ini. Gimana denganmu? ]

Fiona seketika mematung saat membaca pesan itu. Ternyata, cinta pertama Nicholas kembali ke dalam negeri hari ini. Pantas saja pria itu bangun begitu pagi dan begitu memperhatikan penampilannya. Bahkan sudut matanya juga memancarkan kegembiraan.

Sesaat kemudian, pintu terbuka. Nicholas yang sudah pergi tiba-tiba kembali untuk mengambil ponselnya. Sebelum pergi lagi, dia melirik layar ponselnya dan langkahnya terhenti sesaat. Dia melirik Fiona yang sedang makan.

"Tadi, kamu ada lihat ponselku nggak?"

Fiona mendongak sedikit. Tatapannya terlihat tenang. "Nggak. Memangnya kenapa?"

Mendengar jawaban itu, Nicholas baru tersenyum lega dan berkata tidak apa-apa. Kemudian, dia baru pergi.

Untuk pertama kalinya, Fiona merasa dirinya tidak dapat memahami pria itu. Hati Nicholas dipenuhi oleh cinta pertamanya. Setiap pacar yang dimilikinya setelah putus hanyalah pengganti Brenda. Secara logika, Nicholas seharusnya tidak peduli padanya. Jadi, kenapa pria itu peduli apakah dia mengetahui kebenarannya atau tidak? Mungkinkah ... Nicholas takut kehilangan dirinya?

Fiona tidak ingin menganggap dirinya masih memiliki harapan. Lagi pula, dia tahu bahwa perpisahan sudah menjadi akhir yang tak terelakkan.

Setelah sarapan, Fiona duduk di depan laptop dan membuka aplikasi menggambar. Dia adalah seorang komikus. Setelah pulang ke rumah untuk mempersiapkan pernikahan, dia kemungkinan besar tidak akan bisa bekerja untuk waktu yang lama. Selagi masih memiliki waktu luang, dia berencana menyelesaikan draf-draf yang tersisa.

Fiona sibuk bekerja sepanjang pagi, lalu mengirim hasil karyanya kepada editor sebelum makan siang. Setelah makan siang, berhubung cuaca cerah, dia meluangkan waktu untuk membereskan banyak barang.

Ada botol minum, gantungan kunci, syal, jaket, dan barang pasangan lainnya. Ini adalah barang-barang yang telah Fiona beli sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Semuanya memenuhi sebuah kotak besar.

Melihat barang-barang itu, Fiona seketika teringat pada reaksi Nicholas. Setiap kali dia baru membeli barang-barang ini dan bersikeras meminta Nicholas mengenakan atau menggunakannya, Nicholas selalu terlihat tidak berdaya.

"Ini semua barang-barang yang disukai gadis muda. Kamu benar-benar mau Kakak bawa keluar, lalu ditertawakan teman-teman Kakak?"

Mengingat kata-kata itu, Fiona membawa kotak itu ke lantai bawah, lalu membuang semuanya ke tong sampah, beserta kotaknya. Sekarang, tidak akan ada lagi yang menertawakan Nicholas.

Setelah menuntaskan urusan itu, Fiona berbalik dan hendak kembali. Namun, dia malah menabrak seseorang dan masuk ke pelukannya yang terasa sejuk nan menyegarkan.

Entah sejak kapan, Nicholas sudah kembali. Dia merangkul bahu Fiona dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menyibakkan poni Fiona yang basah oleh keringat.

"Apa yang kamu buang? Kenapa kamu berkeringat begitu deras?"

"Cuma sampah nggak berguna."

Fiona mengarang alasan dengan tenang. Nicholas juga tidak curiga, hanya menuntun Fiona naik ke lantai atas. Tepat saat pintu lift terbuka, sebuah truk sampah melintas dengan suara yang bising. Fiona memperhatikan kotak berisi barang-barang itu diangkut oleh truk sampah, lalu mengalihkan pandangannya.

Sampah? Bagaimana mungkin ada begitu banyak sampah di rumah? Sebenarnya, hanya satu lirikan saja sudah cukup untuk mengungkapkan kejanggalannya. Namun, Nicholas tidak menanyakan apa pun. Itu semata-mata karena dia tidak peduli.

Fiona menertawakan dirinya sendiri. Saat menangkap senyum yang masih tersisa di wajah pria itu dengan sudut matanya, dia tertegun sejenak.

Nicholas memiliki mata yang memikat. Setiap kali dia tersenyum, orang akan kesulitan untuk mengalihkan pandangan darinya. Mungkin karena menyadari hal itu, dia hampir selalu tersenyum.

Orang lain mengira Nicholas bertemperamen baik. Namun, hanya Fiona yang tahu bahwa senyumnya tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. Namun, hari ini, setiap kali Nicholas tersenyum, matanya memancarkan kegembiraan yang tulus dan mendalam. Sepertinya, dia benar-benar gembira bertemu dengan Brenda.

Begitu masuk ke rumah, Nicholas menyadari rumah itu terasa jauh lebih kosong. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan ekspresi terkejut.

"Apa rumah kita kemalingan? Kok kayaknya ada banyak barang yang hilang? Di mana botol minumku? Bantalnya juga hilang."

Saat Fiona hendak menjawab, ponsel Nicholas berbunyi beberapa kali. Dia melirik notifikasi, lalu segera melupakan pertanyaannya dan berjalan menuju ruang kerja. Sebelum menutup pintu, dia tidak lupa berpesan, "Fio, aku ada sedikit urusan. Kamu tidur saja dulu. Nggak usah tunggu aku."

Fiona tidak menanyakan apa pun, hanya kembali ke kamar tidur sendirian. Lewat tengah malam, ponsel yang terselip di bawah bantalnya mulai bergetar tanpa henti.

[ Selamat ulang tahun, Fio! ]

[ Selamat ulang tahun yang ke-23, Fio sayang! Jangan lupa makan kue, ya! ]

Semua itu adalah pesan yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Fiona. Meskipun berada jauh di kota lain, orang tuanya, kakaknya, dan teman-temannya tidak lupa mengirimkan ucapan selamat kepadanya. Namun, kekasihnya yang berada tepat di dekatnya sepertinya sudah melupakan hal ini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status