แชร์

Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi
Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi
ผู้แต่ง: Ochos

Bab 1

ผู้เขียน: Ochos
"Jangan khawatir soal masalah pernikahan, kami yang akan urus persiapannya. Kamu cuma perlu kembali tepat waktu. Orang yang kami pilihkan buat kamu sudah diseleksi dengan cermat oleh aku, Ayah, dan Ibu. Latar belakang keluarga, kepribadian, dan penampilannya sempurna. Dia pasti sesuai seleramu."

"Oh iya. Kali ini, kamu kan balik buat nikah. Jangan lupa gantikan aku untuk undang sahabat lamaku, si Nicholas. Waktu kamu bersikeras mau kuliah di Kota Jabura dulu, kamu kan juga sempat tinggal di rumahnya untuk sementara. Waktu itu, dia juga menjagamu dengan sangat baik. Jadi, ingat mau undang dia ke pernikahanmu."

Fiona tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal itu. Setelah terdiam cukup lama, dia akhirnya menjawab dengan suara pelan, "Dia nggak bisa hadir."

Baru saja Fiona menjawab, pintu rumah sudah dibuka. Dia segera menutup telepon dan menatap Nicholas Winata yang baru saja pulang. Pria itu mengangkat sebelah alisnya. Di wajahnya yang memancarkan aura bad boy, tersungging senyum penuh percaya diri.

"Aku nggak bisa hadir? Nggak bisa hadir di mana?"

'Pernikahanku,' jawab Fiona dalam hati. Namun, ekspresinya tetap tenang saat menjawab, "Nggak usah dipikirkan."

Nicholas juga tidak memasukkannya ke hati. Dia dengan santai membuka kancing kemeja hitamnya sambil bertanya, "Tadi kamu lagi teleponan sama kakakmu?"

Fiona mengiakan sambil bangkit untuk kembali ke kamarnya. Namun, Nicholas menarik tangannya dan mendekapnya. Embusan napas hangat pria itu menyentuh telinganya, menciptakan suasana intim di antara mereka.

"Jadi, apa kamu sudah kasih tahu dia hubungan kita?"

Fiona tersenyum, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Bukannya kamu nggak mau dia tahu?"

"Bukannya nggak mau, tapi nggak bisa. Mengingat sifat kakakmu, kalau tahu sahabatnya dan adik kesayangannya pacaran, dia pasti akan langsung terbang ke Kota Jabura dan menghajarku sampai aku nggak bisa bangun dari tempat tidur."

Mendengar nadanya yang penuh gurauan, sorot mata Fiona sedikit bergetar. Dia bertanya dengan nada yang tetap tenang, "Jadi, di hatimu, apa aku ini pacarmu?"

Mendengar pertanyaan mendadak itu, Nicholas mengangkat alisnya. "Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan tinggal bersamamu selama enam tahun? Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan langsung peluk kamu begitu aku pulang? Kalau kamu bukan pacarku, apa aku akan melakukan ini padamu?"

Sambil berbicara, bibir hangat Nicholas menyentuh leher Fiona dan membuat tubuhnya seketika menegang. Dia segera memalingkan wajah untuk menghindari ciuman itu. "Aku ... aku lagi nggak enak badan hari ini."

Nicholas mengira Fiona hanya sedang malu. Dia pun tak kuasa menahan tawa. "Sayang, kita sudah bersama begitu lama. Kenapa kamu masih begitu malu?"

Seusai berbicara, Nicholas mengelus kepala Fiona, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Mendengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh, Fiona bergumam pelan, "Pacar? Bukankah seharusnya ... cuma pengganti?"

Fiona pertama kali bertemu Nicholas pada delapan tahun yang lalu. Dia dan Francis adalah teman sekamar saat kuliah. Berhubung mereka sangat akrab, Francis sering mengajaknya pulang ke rumah untuk bermain video game bersama.

Saat pertama kali mengenal cinta di masa remaja, hampir pada pandangan pertama, Fiona jatuh hati pada sosok kakak yang terlihat dingin, santai, dan begitu tampan hingga membuat jantungnya berdegup kencang.

Kemudian, Fiona lulus SMA, sedangkan Nicholas juga lulus kuliah dan kembali ke kampung halamannya, Kota Jabura. Berhubung tidak dapat melupakan Nicholas, meskipun ditentang keluarganya, dia diam-diam mendaftar ke universitas di kota tempat Nicholas tinggal.

Fiona memiliki paras yang sangat cantik. Jadi, dia sering diganggu oleh para pemuda nakal sejak masa SMA. Berhubung khawatir Fiona tinggal sendirian di kota asing, Francis menitipkannya kepada Nicholas, bahkan mengatur agar Fiona tinggal di apartemen Nicholas.

Awalnya, interaksi di antara mereka sangat minim. Fiona sibuk dengan kuliahnya, sedangkan Nicholas sibuk dengan dunia balap dan bergonta-ganti pacar. Pria itu berganti pasangan hampir setiap tiga hari sekali.

Situasinya baru berubah pada semester kedua tahun pertama kuliah Fiona. Saat itu, Nicholas pulang dalam keadaan mabuk berat. Jadi, Fiona merawatnya dengan kewalahan.

Malam sudah larut. Saat menatap pria yang sepertinya sudah tertidur lelap di sofa, Fiona tiba-tiba merasakan dorongan yang tak bisa dijelaskan untuk menghaluskan kerutan di antara alis pria itu. Tepat saat tangannya menyentuh dahi Nicholas, sepasang mata yang tadinya terpejam rapat itu tiba-tiba terbuka.

Nicholas membuka kelopak matanya dengan malas. Suaranya terdengar rendah, memikat, dan santai. "Kamu suka sama aku?"

Fiona yang rahasianya terbongkar sontak bangkit sambil menjawab, "Ng ... nggak."

Pria itu tersenyum santai. "Kalau nggak, kenapa wajahmu selalu memerah setiap kali melihat Kakak?"

Fiona tidak menyangka bahwa Nicholas ternyata menyadari setiap lirikan yang diam-diam dilemparkannya. Saat dia makin panik, pria itu tersenyum, menangkup belakang kepalanya, lalu mencondongkan tubuh untuk mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Dia benar-benar terhanyut, tak mampu melepaskan diri dari ciuman yang lembut dan penuh perasaan itu.

Setelah malam penuh gairah itu, kehidupan Fiona yang semula tenang berubah total. Nicholas yang sebelumnya hidup layaknya playboy tanpa beban, terlihat mulai serius menjalani hidup dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada hubungan mereka.

Fiona juga berulang kali menolak desakan keluarganya untuk pulang dan menerima perjodohan yang diaturkan untuknya. Dia bersikeras tetap tinggal di Kota Jabura agar bisa berada di sisi Nicholas.

Kakaknya sering bertanya, "Siapa sebenarnya yang ada di Kota Jabura? Sampai-sampai kamu betah hidup di sana selama enam tahun, tanpa pernah pulang sekali pun?"

Berkali-kali, Fiona ingin mengungkapkan kebenaran tentang hubungannya dengan Nicholas. Dia ingin memberi tahu semua orang bahwa dia sedang berpacaran dengan sahabat kakaknya. Namun, Nicholas selalu mencegahnya dan dia tak pernah tahu alasannya.

Sampai beberapa hari yang lalu, Nicholas mabuk berat di sebuah acara kumpul-kumpul. Saat Fiona datang menjemputnya, salah satu teman Nicholas yang juga sudah mabuk menunjuk ke arahnya sambil berkata dengan nada prihatin, "Kenapa Nico juga tega hancurkan hidup gadis secantik kamu?"

"Dik, dengar baik-baik. Jangan sampai kamu jatuh cinta sama Nico. Dia nggak punya hati. Kamu dan semua mantannya dulu cuma pengganti Brenda."

Itu adalah pertama kalinya Fiona mendengar nama Brenda. Sejak saat itu, dia tidak pernah bisa melupakannya. Setelah mencari tahu lebih lanjut, dia akhirnya mengetahui kebenarannya.

Nicholas dan Brenda adalah cinta pertama satu sama lain. Di masa Nicholas paling mencintainya, Brenda memutuskan hubungan mereka dan dengan tegas memilih pindah ke luar negeri. Berhubung tidak mampu melupakan masa lalu, dia pun menjalani hidup sebagai playboy yang terus bergonta-ganti pacar.

Setiap pacar Nicholas juga selalu memiliki kemiripan dengan Brenda, termasuk Fiona. Keputusannya untuk tidak meneruskan bisnis keluarga setelah lulus, malah bersikeras menjadi pembalap mobil, berawal dari ucapan Brenda di masa muda mereka.

"Pria yang balapan mobil itu keren banget. Calon suamiku nanti haruslah seorang pembalap."

Ternyata, enam tahun masa muda dan ketulusannya hanyalah mimpi semu. Saat itulah, Fiona memutuskan untuk pulang dan menerima perjodohan. Dia tidak menginginkan Nicholas lagi, juga tidak akan mencintai pria itu lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status