แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ochos
Sebab, ada hal jauh lebih penting yang sedang dilakukan Nicholas saat ini.

Fiona menghentikan film yang sedang ditontonnya di laptop, lalu mengklik ikon WhatsApp di sudut kanan bawah yang terus memunculkan notifikasi sejak tadi.

Itu adalah percakapan antara Nicholas dan Brenda. Pria itu tidak menyadari bahwa akun WhatsApp-nya masih aktif di laptop ini. Jadi, Fiona bisa membaca setiap pesan yang mereka kirim.

Fiona menyaksikan bagaimana kedua orang itu berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam deretan pesan yang panjang dan padat itu, Nicholas sama sekali tidak menyebutkan namanya. Namun, itu tidak mengherankan. Bagaimanapun, dia hanyalah sosok pelipur lara. Tidak ada hal istimewa tentang dirinya yang layak dibicarakan.

Sambil menatap pesan baru yang terus masuk, Fiona menekan tombol daya untuk mematikan laptop. Malam ini, dia tidur nyenyak tanpa bermimpi.

Keesokan paginya, Fiona terbangun oleh suara bel pintu. Sambil mengusap mata, dia berjalan ke ruang tamu dan melihat Nicholas yang sudah bangun entah sejak kapan. Pria itu berbalik sambil memegang buket bunga dan kue ulang tahun.

"Fio, kamu yang pesan kue? Kenapa tiba-tiba pengen makan kue?"

Suasana di dalam ruangan sempat hening sejenak sebelum Fiona menjawab dengan tenang, "Ini hari ulang tahunku. Seharusnya temanku yang mengirimkannya."

Mendengar hal itu, Nicholas mematung di tempat. Dia secara refleks melirik kalender dinding dan baru menyadari bahwa hari ini adalah tanggal 12 Juli. Dia telah melupakan ulang tahun Fiona.

Secercah rasa bersalah melintas di mata Nicholas. Dia buru-buru meletakkan barang yang dipegangnya, lalu mendorong Fiona kembali ke kamar.

"Hari ini ulang tahunmu. Ayo kita pergi kencan. Kamu pengen makan apa?"

"Nggak perlu. Kita rayakan di rumah saja."

Fiona menolak usulan itu. Namun, Nicholas bersikeras untuk merayakannya di luar. Dia bahkan mengambil sebuah gaun dari lemari dan menyerahkannya kepada Fiona. Berhubung tidak bisa menolak permintaannya, Fiona pun bersiap-siap, lalu pergi ke luar bersamanya.

Mereka sarapan di restoran favorit mereka dulu, menonton film yang baru saja dirilis, dan berjalan-jalan sebentar di mal. Di sela waktu itu, Fiona sempat pergi ke kamar mandi. Saat kembali, dia melihat Nicholas sedang menelepon anggota keluarganya untuk meminta bantuan memesan sebuah kalung yang sangat mahal.

Itu adalah kalung yang sama dengan yang membuat Fiona jatuh cinta, setelah melihatnya di sebuah majalah setengah bulan yang lalu. Melihat Nicholas yang begitu antusias, dia merasakan gejolak emosi yang campur aduk. Dia benar-benar tidak memahami apa yang ada di benak pria itu.

Nicholas mengingat kalung yang hanya Fiona lirik sedikit lebih lama, tetapi melupakan hari ulang tahunnya yang paling penting. Apakah pria itu benar-benar tidak bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting?

Namun jika dipikir-pikir lagi, tentu saja Nicholas bisa membedakannya. Sebelum Brenda kembali, dia menganggap Fiona sebagai sosok pengganti. Jadi, dia tentu saja memperhatikan Fiona. Namun, setelah Brenda kembali, dia mengalihkan seluruh perhatiannya kepada wanita itu. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan Fiona dikesampingkan dan dilupakannya.

Fiona terlihat lesu sepanjang pagi dan tidak tertarik pada apa pun. Menyadari sikapnya yang tidak fokus, Nicholas mengelus kepalanya. "Kenapa gadis yang sedang berulang tahun ini kelihatan begitu murung? Kamu nggak suka dengan rencanaku hari ini?"

Jika dipikir-pikir sekarang, Nicholas sangat suka mengelus kepala Fiona. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, dia selalu menganggap Fiona sebagai adik perempuan, bukan kekasih.

Fiona menggeleng, lalu berniat mengatakan bahwa dia lelah dan ingin pulang. Akan tetapi, Nicholas memanggil taksi dan memberikan alamat sebuah vila di pegunungan kepada sopir.

Melihat raut wajah Fiona yang terkejut, Nicholas mengangkat alisnya dan berujar, "Kamu selalu bilang pengen ketemu teman-temanku. Hari ini, mereka semua sedang luang. Aku akan ajak kamu temui mereka. Mungkin itu bisa membuatmu lebih ceria."

Perubahan rencana yang tak terduga ini membuat Fiona tertegun sejenak. Dulu, dia memang ingin bertemu teman-teman Nicholas, terutama karena pria itu enggan bertemu keluarga dan teman-temannya. Namun, Nicholas selalu mencari berbagai alasan untuk menolak. Akhirnya, dia pun berhenti membahas hal itu.

Kini, Fiona akan segera meninggalkan Kota Jabura, tetapi pria itu malah mengajaknya bertemu teman-temannya karena merasa sedikit bersalah. Hidup ini memang penuh dengan kejutan yang aneh.

Fiona menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Taksi berhenti di pertengahan lereng gunung. Nicholas menggenggam tangan Fiona dan membawanya berjalan memasuki vila. Saat pintu dibuka, terdengar suara letupan. Konfeti dan pita kertas segera menghujani mereka.

Kemudian, sekelompok orang berhamburan keluar dari balik pintu dan berseru sambil tersenyum lebar, "Selamat ulang tahun!"

Melihat kehebohan itu, Nicholas buru-buru melindungi Fiona dalam pelukannya. Dia mengambil pita-pita yang menempel di rambut Fiona sambil menghalau teman-temannya yang berkerumun di sekitar mereka.

"Kalian jangan terlalu heboh dan ngagetin pacarku. Dia ...."

Kata-kata Nicholas tiba-tiba terhenti. Saat melihat sosok yang familier di tengah kerumunan, ekspresinya seketika berubah.

Sebaliknya, Brenda berjalan mendekat sambil tersenyum. Dia terlihat sangat santai. "Nico, aku sudah lama berada di luar negeri dan nggak ikut acara kumpul-kumpul seperti ini. Pagi ini, waktu dengar kamu mau rayakan ulang tahun pacarmu, aku pun kepikiran untuk ikut meramaikan suasana. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Nicholas melirik semua orang dengan tatapan dingin. Tak ada seorang pun yang berani menatap balik. Mereka buru-buru memalingkan wajah dan bersikap seolah hal itu tidak ada hubungannya dengan mereka.

Tepat saat suasana mulai terasa kaku dan dingin, Fiona dengan sopan mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri, "Nggak keberatan kok. Salam kenal, aku Fiona Kongadi."

Brenda mengamati Fiona cukup lama, lalu baru bersikap seolah menyadari sesuatu. Dia menjabat tangan Fiona dengan senyum tipis dan menyahut, "Halo, aku Brenda. Aku ... teman Nico. Fio, apa pernah ada yang bilang kalau kita sedikit mirip?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status