แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Ochos
Mendengar kata-kata itu, lengan Nicholas yang merangkul Fiona tiba-tiba mengencang.

Namun, Fiona tetap tenang. "Benarkah? Kalau begitu, kita mungkin berjodoh."

Menyadari suasananya agak canggung, orang-orang di sekitar segera berusaha mencairkannya. Sekelompok orang yang saling mengenal berkumpul dan bermain game sambil minum-minum. Keadaannya pun menjadi riuh.

Fiona tidak mengenal siapa pun dan tidak tertarik untuk berbaur. Jadi, dia hanya duduk di sofa. Meskipun Nicholas tetap berada di sisinya, tatapannya terus tertuju ke arah meja di sebelah kiri mereka.

Fiona mengikuti arah pandangannya dan langsung melihat Brenda, orang yang terlihat paling gembira di antara kerumunan.

Awalnya, Nicholas masih berusaha menahan diri. Namun, saat Brenda mengangkat gelas alkoholnya, dia tidak bisa diam lagi. Dia bangkit dengan tiba-tiba, lalu menghampiri Brenda dan merebut gelas dari tangan wanita itu. Dia berkata dengan suara yang menyiratkan ketidaksenangan, "Kamu alergi alkohol, tapi malah mau minum? Apa kamu sudah gila?"

Suaranya terdengar begitu keras dan emosional sehingga seluruh ruangan mendadak sunyi. Semua orang menoleh ke arah mereka.

Brenda memainkan dadu di tangannya sambil tersenyum penuh arti. "Setelah sekian tahun, kamu masih ingat hal itu?"

Sebelum Nicholas sempat menjawab, beberapa teman yang sudah mabuk berat tiba-tiba mencondongkan tubuh dan berseru, "Mana mungkin Nico lupa? Waktu kalian masih pacaran, si bucin ini nggak pernah melirik wanita lain selain kamu."

Mendengar itu, Nicholas secara refleks menoleh ke arah Fiona. Raut wajahnya seketika menjadi gelap. Dia pun membentak, "Kalau sudah mabuk, pergi sadarkan diri sana. Jangan bicara omong kosong!"

Wajah beberapa orang itu langsung memucat begitu dibentak Nicholas. Saat ini, mereka baru tersadar bahwa Fiona ada di sana dan buru-buru mencairkan suasana.

"Jangan minum sebanyak itu! Permainannya belum selesai!"

"Ayo, kita mulai ronde berikutnya!"

Suasana yang sempat membeku itu akhirnya kembali normal. Sambil menahan gejolak emosi di dalam hatinya, Nicholas kembali ke sofa. Dia mengambil segelas jus dari meja, lalu memberikannya kepada orang di sebelahnya.

Fiona tidak berbicara atau menanyakan apa pun. Dia hanya menerima gelas itu dan menyesap isinya. Namun, sikap tenangnya justru membuat Nicholas merasa makin gelisah. Tepat saat dia hendak memberikan penjelasan, suara sorakan meledak di belakangnya.

"Brenda kalah! Biar aku yang ambil kartunya! Coba kulihat .... kamu dapat kartu 'Truth'. Pertanyaannya adalah, jika memungkinkan, apakah kamu mau balikan dengan mantan pacarmu?"

Setelah hening sejenak, Brenda menatap lurus ke arah Nicholas dan menyunggingkan senyum. "Nggak akan pernah."

Begitu kata itu terucap, udara di dalam ruangan itu seolah berubah menjadi sedingin es. Tak ada seorang pun yang berani bersuara.

Brenda yang seolah tidak menyadari ketegangan itu bersikeras ingin memulai permainan baru. Sekelompok orang itu menuruti kemauannya sembari sesekali melirik cemas ke arah Nicholas. Nicholas duduk tak jauh dari sana dengan wajah begitu kelam, seolah siap menghancurkan seisi ruangan. Semua orang pun merasa waswas.

Pada ronde berikutnya, Brenda kalah lagi. Tepat saat dia hendak menerima hukuman, Nicholas tak bisa lagi menahan diri. Dia mencengkeram tangan Brenda dan menariknya keluar dari ruangan.

Semua orang sepertinya sudah mengantisipasi kejadian ini. Tidak ada yang mencoba mencari tahu apa yang terjadi, hanya melanjutkan permainan masing-masing.

Namun, melalui dinding kaca, Fiona bisa melihat dua sosok yang sedang bertengkar tidak jauh dari sana. Suara perdebatan sengit juga terdengar samar dari luar.

Saat menyaksikan kejadian ini, berbagai emosi yang rumit terpancar di mata Fiona. Dalam ingatannya, Nicholas adalah sosok yang selalu bersikap acuh tak acuh terhadap segalanya, juga selalu menampilkan senyum santai dan tenang.

Selama delapan tahun mengenalnya, baru kali ini Fiona melihat Nicholas kehilangan kendali seperti itu. Semua itu juga hanya karena ucapan "nggak akan pernah" yang Brenda ucapkan.

Ternyata, saat tidak dicintai, semua orang terlihat sama menyedihkannya.

Sampai akhirnya, Nicholas yang terlihat sangat marah pergi tanpa menoleh. Melihat Brenda kembali sendirian, semua orang juga menyadari bahwa pesta itu sudah usai. Mereka pun mulai mencari alasan untuk berpamitan.

Fiona yang merupakan tokoh utama acara, tetapi ditinggalkan itu, juga bangkit di tengah situasi yang kacau. Sebelum pergi, dia mampir ke kamar mandi. Dari balik pintu, dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Sesaat kemudian, dia mendengar suara gadis yang sebelumnya paling ribut ketika bermain.

"Brenda, kamu jelas-jelas masih suka sama Nicholas. Kamu bahkan kembali demi dia. Kenapa kamu bicara seperti itu dan membuatnya pergi dengan marah? Gimana kalian bisa balikan?"

Terdengar suara air mengalir, diikuti suara Brenda yang menjawab sambil tertawa.

"Kalau nggak bertengkar, mana bisa aku buat dia teringat kejadian delapan tahun lalu? Aku memang mau dia mengingat kembali rasa sakit menyayat hati ketika kami putus dulu. Dengan begitu, dia baru akan terus mengingatku."

"Sudah delapan tahun, lho. Kamu mau dia gimana lagi? Lihat saja semua wanita yang pernah jadi pacarnya. Mereka semua mirip denganmu. Soal wanita yang dia bawa datang hari ini, mereka memang sudah pacaran cukup lama. Tapi, dia sepertinya juga cuma main-main."

"Lihat saja kejadian tadi. Ini hari ulang tahunnya, tapi mata dan perhatian Nicholas tertuju sepenuhnya padamu. Dia itu tokoh utama hari ini, tapi malah diabaikan. Lucu banget!"

Mendengar ejekan temannya, Brenda terkekeh pelan sebelum berbicara dengan suara rendah dan penuh pertimbangan, "Kamu nggak ngerti. Keluarga Winata itu keluarga terpandang di Kota Jabura, sedangkan Nico juga menonjol dalam segala hal, baik dari segi penampilan ataupun kepribadian."

"Anggota Keluarga Winata nggak akan terima aku yang latar belakangnya biasa-biasa saja. Mereka pasti akan carikan istri yang sempurna dan sepadan dalam segala aspek untuknya. Ini satu-satunya cara agar aku bisa benar-benar memenangkan hatinya."

"Hari ini, kami memang bertengkar. Tapi begitu emosinya mereda dalam beberapa hari ke depan, aku tinggal kasih dia kesempatan untuk menjaga harga dirinya. Dia pasti nggak akan mempermasalahkannya lagi, lalu kembali padaku."

Baru saja Brenda selesai berbicara, pintu toilet tiba-tiba dibuka. Fiona berdiri tidak jauh dari sana dan menatap tajam ke arah mereka berdua.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status