Home / Romansa / CANDU CINTA CEO AROGAN 2 / 2. Makan Malam Keluarga Besar Levin

Share

2. Makan Malam Keluarga Besar Levin

last update publish date: 2026-10-12 01:22:19

Senja turun perlahan di atas langit Kita Jakarta yang penuh dengan aktivitas rutin warga kota metropolitan itu.

Di sebuah Mansion mewah, cahaya oranye keemasan menembus jendela besar ruang Keluarga Levin Residence, memantulkan warna lembut pada marmer putih yang mengkilap.

Di tengah ruangan, sebuah foto besar terpajang, keluarga besar Levin berkumpul di pesta ulang tahun Opa Buyut Robi Levin, tahun sebelumnya.

Wajahnya yang penuh keriput tampak bersinar dengan senyum bijak, dikelilingi anak, cucu, hingga cicitnya.

Kini, sosok itu sedang duduk di kursi goyang kayu jati, berselimut rajutan abu-abu.

Tubuhnya tampak menua, rambutnya memutih seluruhnya, tapi matanya masih tajam dan hangat.

Di tangannya tergenggam sebuah tongkat perak yang menjadi ciri khasnya.

“Opa,” suara lembut itu datang dari arah pintu.

Ayin berlari kecil mendekat, membawa secangkir teh hangat. “Ini tehnya, Opa. Teh chamomile kesukaan Opa.”

Tuan Robi tersenyum, menerima cangkir itu dengan tangan bergetar.

“Terima kasih, cucuku. Kamu selalu ingat favorit Opa, ya.”

“Tentu dong, Opa,” jawab Ayin sambil tersenyum bangga. “Opa kan guru besar paling baik di keluarga ini.”

“Ha-ha-ha.”

Opa Robi tertawa pelan, suara tawanya serak tapi penuh kehangatan.

“Ah, aku hanya orang tua yang suka mengomel.”

“Omelan Opa malah bikin rumah ini terasa hidup,” timpal Mommy Mitha yang baru masuk dari dapur, membawa tumpukan piring porselen.

Dia menatap kakek mertuanya dengan penuh hormat. “Malam ini semua sudah aku siapkan. Kita makan malam keluarga, Opa. Semua akan hadir.”

Tuan Robi mengangguk pelan, matanya tampak berbinar. “Sudah lama sekali kita tak berkumpul seperti ini. Aku ingin melihat kalian semua, sebelum ….”

Tuan Robi berhenti sejenak, menatap langit senja dari jendela.

“Sebelum malam terlalu larut.”

Ayin segera memeluk lengan kakek buyutnya tersebut seraya berkata,

“Opa jangan berpikir macam-macam, ya. Aku yakin Opa akan panjang umur, tidak sakit-sakitan lagi,” tutur Ayin sambil berusaha tersenyum menahan suatu gejolak aneh di dadanya.

Entah kenapa gadis cantik itu punya firasat buruk tentang kakek buyutnya itu. Tapi Ayin cepat-cepat membuang jauh-jauh rasa khawatirnya tersebut.

“Semoga semuanya baik-baik saja,” gumamnya dalam hati.

Satu per satu anggota keluarga datang.

Daddy Erlan dengan jas hitam khasnya, disusul oleh Mommy Mitha yang sibuk memastikan semua kursi teratur.

Asher muncul dengan kemeja putih dan wajah serius, sementara Elrod, sepupunya menyusul di belakang sambil membawa buket bunga mawar putih.

“Opa, ini untuk Opa,” ujar Elrod sambil menyerahkan bunga itu. “Kata Oma Rini, bunga ini lambang kedamaian.”

Tuan Robi menatap cucunya itu dan mengangguk lembut. “Kamu tumbuh jadi pemuda yang sopan, Elrod. Opa bangga sekali.”

Asher, yang berdiri di sisi lain ruangan, hanya menatap pemandangan itu dalam diam. Ada senyum tipis di wajahnya, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tak diucapkan.

Tuan Fred, anak dari Tuan Robi dan istrinya, Nyonya Anisa, yang selama ini tinggal di luar negeri baru saja tiba di Kediaman Levin.

Tak lupa juga kedua orang tua Elrod, Tuan Arjuna Levin dan istrinya, Nyonya Jane ikut memeriahkan acara keluarga malam itu.

“Jadi,” Suara Oma Rini, istri Opa Robi, terdengar dari arah dapur. “Malam ini kita makan besar ya, Darling. Aku masak ayam panggang madu dan sup jamur kesukaanmu.”

Tuan Robi tertawa ringan. “Wah, istriku yang satu ini, masih saja memperlakukanku seperti raja.”

“Memang Opa itu rajanya keluarga Levin,” sela Nyonya Mitha sambil tersenyum.

“Dan semua raja butuh permaisuri yang galak,” timpal Oma Rini sambil terkekeh.

Suasana pun semakin mencair.

Tak lama, semua sudah duduk di meja makan panjang.

Lampu kristal di atas meja berkilau indah, menciptakan cahaya keemasan yang hangat.

Hidangan disusun rapi. Ada ayam panggang madu, steak daging sapi, salad segar, sup jamur, dan sepiring besar nasi mentega.

Aroma rempah menyebar memenuhi ruangan.

“Baiklah,” ucap Opa Robi sambil mengetuk sendok ke gelas pelan. “Sebelum kita makan, izinkan aku bicara sedikit.”

Semua mata tertuju padanya.

Bahkan Asher yang biasanya sibuk dengan ponselnya pun kini menatap penuh hormat.

“Aku tahu,” mulai Opa Robi dengan suara pelan tapi berwibawa. “Usia Opa sudah tak muda lagi. Dokter bilang jantung Opa lemah, tapi malam ini aku merasa sangat kuat.

Kuat karena dikelilingi orang-orang yang sangat aku cintai.”

Oma Rini menggenggam tangan suaminya erat.

Air mata kecil tampak di sudut matanya.

“Aku ingin kalian semua tahu,” lanjut Opa Robi, “keluarga ini berdiri karena kebersamaan. Karena cinta yang utuh dari setiap orang, bukan hanya karena ikatan darah saja. Aku bangga melihat bagaimana kalian tumbuh, Fred, Anisa. Erlan, Mitha, Asher, Ayin. Biela, Lui. Arjuna, Jane dan Elrod, kalian semua adalah bagian penting dari keluarga besar Levin.”

Opa berhenti sejenak, lalu menatap Asher lama.

“Asher,” katanya dengan nada lembut tapi penuh makna, “kamu akan memikul tanggung jawab besar suatu hari nanti. Tapi ingatlah, menjadi pemimpin bukan berarti berkuasa. Menjadi pemimpin berarti harus melindungi.”

Asher menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah kerasnya melembut.

“Aku tahu, Opa,” ujarnya pelan. “Aku akan berusaha.”

Tuan Robi tersenyum. “Bukan berusaha, cucuku. Kamu harus yakin.”

“Dan juga untukmu, Elrod. Sama seperti nasihatku kepada sepupumu, Asher. Jadilah pemimpin yang bijaksana, suatu saat nanti. Kamu dan Asher harus selalu akur. Jangan sampai ada pertikaian di antara kalian berdua. Karena wajah kalianlah cerminan Levin Group di masa depan,” ucap Opa Robi panjang lebar.

Dengan tegas Elrod menjawab,

“Siap, Opa! Aku akan mengingat semua ucapan Opa dan akan melaksanakannya dengan sepenuh hati,” janjinya kepada sang kakek buyut.

“Untukmu, putraku, Fred. Siapkan dirimu sebagai pemimpin generasi kedua untuk Keluarga Besar Levin,” ucapnya penuh emosi.

“Iya, Daddy. Meskipun aku dan Anisa tinggal di luar negeri, aku akan tetap pantau semuanya,” sahut Tuan Fred menatap ayahnya dengan mata sedikit sembab.

Lalu semua berpindah ke meja makan.

Tawa ceria mulai terdengar di meja makan.

Ayin bercerita tentang kampusnya, Elrod menceritakan proyek fotografinya, dan Oma Rini menimpali dengan candaan klasik tentang masa mudanya.

Suasana benar-benar hangat, tawa bersahut-sahutan, sendok dan garpu berdenting lembut.

“Asher,” Tiba-tiba Opa Robi bertanya, “kamu masih bekerja sampai malam?”

“Ya, Opa. Aku sedang mengurus audit cabang baru.”

Tuan Robi menggeleng pelan. “Jangan biarkan pekerjaan membuatmu lupa hidup. Kadang, orang terlalu sibuk mencari uang, sampai lupa mencari kebahagiaan.”

Tuan Erlan menimpali dengan nada setengah bercanda, “Ah, Opa ini. Kalau tidak kerja keras, keluarga ini tidak akan sebesar sekarang.”

“Tapi jangan lupa, Erlan,” ucap Opa Robi sambil menatapnya lembut. “Aku dulu membangun semua ini bukan hanya dengan kerja keras, tapi juga dengan doa. Harta bisa hilang, tapi cinta dan doa yang menjaga keturunan kita.”

Hening sejenak.

Semua mata tertuju pada Opa Robi yang kini terlihat begitu berwibawa, seperti pohon tua yang menaungi seluruh keluarga di bawahnya.

Setelah makan malam, mereka pindah ke ruang keluarga.

Piano di sudut ruangan mulai berbunyi, dimainkan oleh Ayin.

Nada-nada lembut memenuhi udara, menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.

“Opa,” ucap Ayin sambil menoleh. “Lagu ini Opa sangat suka, kan? Lagu, Fly Me to the Moon.”

Tuan Robi tertawa pelan.

“Ya benar sekali, Ayin.”

“Itu lagu yang Opamu nyanyikan waktu melamarku,” celetuk Oma Rini, membuat semua tertawa.

“Serius, Oma?” tanya Elrod, tak percaya.

“Iya! Suaranya dulu serak-serak romantis,” jawab Oma Rini sambil menatap suaminya penuh nostalgia.

Tuan Robi mengangkat bahu. “Sekarang masih serak, tapi romantisnya sudah berkurang,” ujarnya, membuat semua meledak tertawa.

Asher pun ikut tersenyum. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa rumah itu benar-benar rumah yang tenang bukan medan perang antara ambisi dan harapan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   13. Asher Yang Suka Memaksa

    Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   12. Malam Pertama Dalam Ketakutan

    Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   11. Pernikahan Paksa

    Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   10. Asher Menculik Sarah

    Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   9. Sarah Terpaksa Mencari Pekerjaan Lain

    Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   8. Asher Mengawasi dari Jauh

    Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status