홈 / Romansa / CANDU CINTA CEO AROGAN 2 / 3. Opa Robi Kena Serangan Jantung

공유

3. Opa Robi Kena Serangan Jantung

last update 게시일: 2026-10-12 01:22:53

Malam itu sangat sunyi.

Jarum jam menunjuk pukul satu dini hari ketika hujan gerimis mulai turun di luar jendela besar Rumah Keluarga Levin. Angin malam menggetarkan tirai tipis di kamar Opa Buyut Robi.

Di dalam kamar, lampu tidur menyala redup. Opa Robi berbaring dengan tubuh yang tampak tenang, tapi dadanya naik turun tidak teratur. Napasnya mulai tersengal-sengal. Dia berusaha bangun, tapi tubuhnya terlalu lemah.

Tangannya bergetar, mencari tongkat di sisi tempat tidur. “Rini,” panggilnya lirih.

Tak ada jawaban. Oma Rini ternyata tertidur di kamar sebelah.

Tubuh Opa Robi goyah. Dia mencoba berdiri, namun seketika jantungnya terasa seperti diremas. Rasa nyeri menjalar ke dada kiri, menembus hingga ke bahu dan rahang.

Dia terhuyung dan

Brak!

Tubuhnya jatuh ke lantai marmer. Suara benturan keras membangunkan seluruh rumah.

Dari kamar sebelah, Oma Rini berteriak, “Robi? Darling!”

Dia berlari dengan langkah terburu-buru, membuka pintu kamar dan menjerit melihat suaminya tergeletak di lantai.

“Ya Tuhan! Asher! Erlan! Cepat ke sini!”

Langkah kaki berlarian dari berbagai arah.

Daddy Erlan dan Mommy Mitha muncul pertama kali, disusul Asher dengan piyama abu-abu, wajahnya masih setengah ngantuk tapi berubah panik seketika melihat pemandangan itu.

“Opa!” Asher segera berlutut di samping tubuh tua itu. “Opa! Dengar aku, ini Asher!”

Opa Robi berusaha bicara, tapi yang keluar hanya suara napas berat.

“Dadaku … sangat sakit.”

Nyonya Mitha menjerit, “Erlan! Telepon ambulans! Cepat!”

Tuan Erlan sudah lebih dulu menekan nomor darurat.

“Satu pasien serangan jantung! Rumah Keluarga Levin, Menteng Timur!” Suaranya terburu-buru.

Sementara itu, Asher mulai menepuk-nepuk pelan pipi Opa Robi. “Opa, tolong bertahan ya. Aku di sini. Jangan tidur!”

Oma Rini menangis di sisi tempat tidur. “Kenapa tadi kamu nggak bilang kalau lagi sakit, Darling? Kenapa diam aja?”

“Karena Opa nggak mau bikin kita khawatir,” jawab Tuan Erlan lirih sambil membantu mengangkat tubuh Opa Robi ke atas kasur.

Beberapa menit kemudian, suara sirine ambulans meraung di depan gerbang. Petugas medis segera masuk membawa tandu dan peralatan darurat.

“Pasien usia berapa?” tanya salah satu paramedis cepat.

“Tujuh puluh delapan tahun,” jawab Erlan cepat. “Riwayat jantung lemah.”

Paramedis memeriksa tekanan darah dan detak jantung. “Denyut jantungnya lemah, tekanan darah juga turun cepat. Kita harus bawa ke rumah sakit sekarang!”

Asher menggenggam tangan Opa Robi saat mereka membaringkannya di tandu. “Opa, aku ikut ya. Aku janji Opa bakal selamat.”

Opa Robi membuka matanya samar, menatap cucu buyutnya itu dan tersenyum tipis.

“Asher, kuatlah jika terjadi sesuatu kepada Opa.”

Lalu matanya terpejam lagi.

“Opa, tolong jangan katakan apapun. Opa akan sehat kembali! Aku berjanji Opa pasti baik-baik saja!” ucap Erlan penuh tekad.

Hujan turun semakin deras ketika ambulans melaju menembus malam menuju Rumah Sakit Heart Center, Jakarta.

Suara monitor jantung terus berbunyi, “bip … bip… bip …” dengan ritme yang tidak stabil.

Di ruang tunggu IGD, Keluarga Besar Levin berkumpul dalam kecemasan.

Oma Rini duduk di kursi dengan wajah pucat, sementara Nyonya Mitha memeluknya erat.

Asher berjalan mondar-mandir, gelisah.

“Kenapa lama sekali penanganannya, Daddy?” Suaranya serak karena menahan emosi. “Kenapa tim dokter belum keluar juga dari rumah operasi dan memberi informasi tentang kesehatan Opa?”

Tuan Erlan hanya menatap jam di pergelangan tangannya, tapi matanya kosong. “Kita harus sabar, Asher.”

“Bagaimana bisa sabar? Ini tentang Opa!” Asher membentak ayahnya tanpa sadar, lalu segera menyesal. “Maaf, Daddy. Aku cuma takut.”

Nyonya Mitha menatap putranya lembut. “Kita semua juga takut, Asher. Tapi kita harus percaya pada tim dokter.”

Tak lama kemudian, seorang pria berjas putih keluar dari ruang darurat.

Tubuhnya tegap, berusia matang, wajahnya tenang tapi berwibawa. Namanya dokter Paul Subroto. Seorang dokter bedah jantung terkenal, lulusan luar negeri, yang sudah menangani banyak kasus besar.

“Selamat malam,” sapanya dengan nada profesional namun hangat. “Saya dokter Paul, dokter jantung yang menangani Tuan Robi Levin.”

Semua langsung berdiri. “Bagaimana kondisi ayah saya?” tanya Tuan Fred tergesa-gesa yang dari tadi memilih berdiam diri di ruang tunggu.

Dokter Paul menatap mereka satu per satu sebelum menjawab. “Serangan jantungnya cukup berat. Kami sudah stabilkan tekanan darahnya, tapi ada penyumbatan serius di pembuluh koroner. Kami harus segera melakukan operasi pemasangan ring.”

Oma Rini menutup mulutnya, terisak. “Operasi? Malam ini juga?”

“Ya,” jawab dokter Paul tegas. “Setiap detik sangat berarti. Jika terlambat, jantung pasien bisa berhenti.”

Asher menatap dokter itu lekat-lekat. “Anda yakin bisa menyelamatkannya?”

Dokter Paul tidak tersinggung, hanya menatap balik dengan tenang. “Saya sudah menangani ratusan kasus serupa, Tuan Asher. Tapi saya tidak akan berbohong, operasi ini sangat berisiko tinggi, mengingat usia dan kondisi jantung Beliau.”

Nyonya Mitha memegang tangan Asher. “Kita harus izinkan operasi itu. Opa harus diselamatkan.”

Nyonya Anisa, juga ikut membujuk suaminya, Tuan Fred untuk menyetujui tindakan operasi tersebut.

“Saya setuju dengan operasinya.” Tuan Erlan ikut angkat bicara.

Asher mengangguk pelan, meski wajahnya masih tegang. “Baik, dokter. Lakukan yang terbaik. Tapi saya ingin laporan lengkap. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.”

Dokter Paul mengangguk mantap. “Kami akan lakukan yang terbaik. Mohon doanya.”

Beberapa menit kemudian, Opa Robi dibawa ke ruang operasi.

Keluarga menunggu di lorong panjang yang sepi, hanya diterangi cahaya lampu putih kebiruan.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.

Ayin datang menyusul dengan pakaian seadanya, wajahnya masih bengkak karena menangis. “Mommy, gimana keadaan Opa?”

Nyonya Mitha segera memeluk putrinya. “Opa sedang dioperasi, Sayang. Dokter bilang harus pasang ring.”

Ayin menatap kaca besar menuju ruang operasi. Di balik sana, bayangan dokter dan perawat tampak bergerak cepat, mengenakan masker dan sarung tangan.

“Kenapa harus Opa?” gumamnya lirih. “Dia kan baru saja bahagia tadi malam.”

Asher berdiri di samping adik perempuannya, menatap pemandangan itu. “Kadang Tuhan punya rencana lain.”

Tapi suaranya bergetar mengatakan itu.

Waktu berjalan terlalu lambat.

Oma Rini berdoa pelan, bibirnya bergetar.

Tuan Fred dan Tuan Erlan duduk terpaku, menatap lantai, sesekali mengusap wajahnya.

Sementara Asher berdiri tanpa bergerak di depan kaca, matanya tak lepas dari pintu ruang operasi.

Nyonya Mitha menghampiri putranya. “Asher, duduk dulu. Kamu belum makan apapun sejak semalam.”

“Aku tidak lapar, Mommy,” jawab Asher pendek. “Aku harus di sini. Aku ingin jadi orang pertama yang tahu kalau Opa sudah sadar dan sehat kembali.”

Nyonya Mitha menatap wajah keras putranya. Dia tahu, di balik keangkuhan itu, Asher menyimpan hati yang rapuh.

“Kalau Opa lihat kamu sekarang, dia pasti bangga,” bisiknya.

Asher menoleh, matanya memerah. “Opa selalu bilang aku harus kuat. Tapi sekarang aku merasa lemah, Mom.”

Nyonya Mitha memegang pipi putranya lembut. “Kuat itu bukan berarti tidak menangis, Asher. Kuat itu jika tetap berdiri walaupun hati retak.”

Tak berapa lama kemudian.

Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka sedikit.

Seorang perawat keluar, wajahnya tertutup masker. “Operasi sedang berjalan. Mohon tetap tenang.”

“Berapa lama lagi?” tanya Erlan cepat.

“Masih proses pemasangan ring kedua, Tuan. Mohon doa.”

Perawat menutup pintu kembali.

Ayin menatap Nyonya Mitha dengan cemas. “Berarti Opa masih bertahan, kan?”

“Iya, Sayang. Masih.”

Tapi suaranya terdengar gemetar.

Asher berjalan ke pojok lorong, menatap langit-langit rumah sakit. “Kalau saja aku bisa gantikan posisi Opa,” gumamnya. “Aku rela.”

Elrod yang baru datang dari luar menepuk bahu Asher. “Kita semua sayang Opa, Bro. Tapi sekarang kita harus percaya sama dokter.”

Asher hanya mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tidak percaya pada keajaiban, tapi pada hasil akhir.”

Elrod tersenyum tipis. “Mungkin kali ini, kamu perlu percaya pada keajaiban juga.”

Setelah dua jam, pintu ruang operasi kembali terbuka.

dokter Paul keluar, melepas sarung tangan dan masker, wajahnya sedikit lelah.

Semua langsung berdiri. “Bagaimana, Dokter?” tanya Erlan cemas.

Dokter Paul menatap mereka dengan ekspresi serius. “Kami sudah berhasil memasang dua ring. Tekanan darah beliau sempat turun drastis, tapi sekarang mulai stabil.”

“Puji syukur,” seru Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha bersamaan, merasa lega.

Namun dokter Paul belum selesai berbicara. “Tapi … ada hal lain. Kami masih khawatir dengan satu pembuluh kecil yang tersumbat. Kami sedang pantau kondisinya. Pasien masih dalam keadaan kritis.”

Oma Rini langsung menangis. “Berarti masih belum aman, Dok?”

Dokter Paul menggeleng pelan. “Belum sepenuhnya, Nyonya. Tapi kami akan lakukan segalanya.”

Asher menatap dokter itu lekat-lekat. “Anda harus berjanji, dokter. Jika Anda akan selamatkan Opa buyut saya!”

Dokter Paul menatap matanya dengan ketulusan yang tenang. “Saya akan berusaha sekuat tenaga. Tapi hidup dan mati bukan di tangan saya, Tuan Asher. Tapi di tangan Tuhan.”

Asher terdiam. Namun dia berkata lagi.

“Saya tidak mau tahu, dokter! Anda harus bisa menyelamatkan Opa Robi, bagaimanapun caranya!” serunya tajam.

Malam semakin larut.

Lampu di ruang operasi kini sudah redup. dokter Paul kembali masuk, dibantu beberapa dokter lain dan juga perawat.

Keluarga Levin kembali menunggu dalam hening.

Suara detak jam dinding kembali terdengar, satu-satunya suara yang menemani kecemasan mereka.

Waktu terus berjalan, dan di antara harapan dan ketakutan itu, semua orang hanya bisa berdoa dalam diam.

“Tuhan, tolong selamatkan Opa Robi.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   13. Asher Yang Suka Memaksa

    Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   12. Malam Pertama Dalam Ketakutan

    Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   11. Pernikahan Paksa

    Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   10. Asher Menculik Sarah

    Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   9. Sarah Terpaksa Mencari Pekerjaan Lain

    Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   8. Asher Mengawasi dari Jauh

    Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status