Partager

Episode 53

Auteur: El Barra
last update Date de publication: 2026-10-15 08:13:03

Sejak utang keluarganya lunas, suasana di desa terasa lebih cerah — terutama bagi Agus. Ratna terlihat berubah banyak. Wajahnya yang dulu sering murung dan cemas, kini mulai berseri. Senyumnya lebih lepas, tawanya lebih sering terdengar.

Dia juga makin dekat dengan Agus, seakan setiap hari ada alasan untuk mampir ke rumah pria itu.

Hampir tiap malam atau pagi, Ratna datang — kadang membawa pisang rebus, kadang kue kering yang dia buat sendiri, kadang sekadar segelas teh hangat dengan senyum t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 75

    "Sreeekk...sreekkk..." Dengan gerakan perlahan Agus mulai menggesek-gesekkan ujung cangkulnya. berharap terkena sedikit air agar mudah saat mengayunkan ke tengah sawah nanti. "Plug....!!!" jlebb...!!" Cangkul Agus menghujam kembali ke tengah sawah milik Ratna, ayunan demi ayunan ia hantambkan dengan gerakan cepat dan mantap. "Aaaaahh....!!! Oooh....!!!" Suara rintihan Ratna mulai terdengar disela-sela kerja keras Agus. diiringi alunan cangkul yang terus menerus mengolah sawah agar siap ditanami. "Oooh... Ratna, sawah ini sungguh luar biasa, selain hangat juga sempit sekali, sampai-sampai cangkul kesayanganku ini susah untuk bergerak" ucap Agus penuh kenikmatan. "Aaaah...!!" cangkulanmu juga mantap mas," jawab Ratna lirih sembari menutup mulutnya, takut suaranya makin keras. Ayunan demi ayunan cangkul Agus terus menyusuri sawah yang terlihat makin basah oleh air. sedangkan buah semangka yang tadi ditangan Agus, sekarang terlepas dan bergelantungan ditempat yang seharusnya

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 74

    Keheningan malam itu membuat mereka seakan dibuai oleh keringat yang terus menetes dari pelipis.. Cangkul kesayangan Agus sudah terbenam sepenuhnya di tengah sawah yang terlihat berair karena ayunan cangkul Agus yang terus menerus. "Aaaahhh... nikmat sekali masss.." ucap Ratna lirih, tubuhnya terus mengaduk cangkul dengan gerakan perlahan. "ehmmm...oooh..." balas Agus sembari mengelus punggung Ratna yang berkilau terkena keringat. Tubuh Ratna melengkung ke belakang sembari terus mengaduk cangkul kesayangan Agus. Dua buah semangka yang tadi terlihat menganggur, kini nampak dipegang oleh kedua tangan Agus. "kresss...kresss..." Jemari Agus meremas buah itu perlahan, keras tapi lembut, rasa kenyal dan hangat memenuhi telapak tangannya yang kini terlihat menegang sampai urat-uratnya menonjol keluar. "Sreeeeeekkk...!" Tubuh Ratna berbalik, punggungnya terasa pegal karena terus menerus mengolah tanah dengan cangkul yang begitu besar. "Hossh.. hosh.." napasnya tersengal seakan oksig

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 73

    “Klik…” Pintu rumah terbuka, lalu mereka masuk dengan sedikit canggung. “Kau duduk sebentar ya. Aku mau mandi dulu untuk membersihkan badan yang penuh keringat,” ucap Agus sambil mengambil handuk dari gantungan dinding. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi di sudut belakang rumah, "Sreeet" bunyi hordeng penutup kamar mandi terdengar pelan. Tiba‑tiba "Derrrtttt.." bunyi ponsel bergetar di saku tasnya, Ia mengeluarkannya, layar menyala menampilkan nama Marni. “Halo… Kak?” ucap Ratna lembut. “Ratna, aku cuma mau beri kabar singkat,” suara Marni terdengar cerah tapi masih lelah di seberang telepon. “Bapak sudah sadar sebentar tadi. Dokter katanya kondisinya makin stabil. Kamu istirahat saja dengan tenang malam ini, jangan khawatir berlebihan" jawab Marni semangat. “Benarkah…?” bisik Ratna, jantungnya terasa ringan tiba‑tiba. “Iya. Istirahatlah yang cukup. Aku tutup telepon dulu ya.” sahut Marni. "Tut…" Suara sambungan terputus. Ratna meletakkan ponsel ke samping meja, na

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 72

    "Tap..tap..tap…" Suara langkah Pak Budi perlahan hilang di tikungan lorong yang panjang. Marni menatap punggung suaminya sampai bayangannya lenyap, lalu berbalik lagi menuju jendela kaca ruang intensif. Jari‑jarinya mengetuk‑ngetuk pelan permukaan kaca yang dingin, matanya memandang ke dalam tanpa berkedip lama. Ratna duduk menunduk di kursinya, kedua tangannya saling memutar di pangkuan. Sesekali ia mengangkat kepala, matanya memindah setiap garis gerak dari alat pemantau yang berkedip samar di balik kaca. Agus duduk di sebelahnya, siku bertumpu ke lutut, pandangannya tertuju ke lantai keramik yang berkilau terkena cahaya lampu lorong. Hanya bunyi detak‑detak jam dinding yang berirama lambat membelah keheningan. “Mas Agus…” bisik Ratna pelan, suaranya nyaris tertelan angin dingin lorong. Agus mengangkat wajah sedikit, matanya yang merah karena lelah menoleh ke arahnya. “Ya?” jawab Agus. “Menurutmu… apakah besok bapak sudah bisa membuka mata?” tanya Ratna lirih. Agus menoleh,

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 71

    "klek.." Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Dua perawat mendorong ranjang beroda menuju lorong yang lebih pendek, menuju ruang perawatan intensif di ujung koridor. Cahaya lampu lorong menyapu wajah Bapak Ratna yang masih pucat, kelopak matanya tertutup rapat. Selang‑selang tipis menempel di lengan dan dadanya, bergerak mengikuti irama napas yang baru saja stabil. Ratna melangkah mengikuti di samping ranjang, jari‑jarinya hampir menyentuh sisi bingkai kaca ruang intensif sebelum perawat mengulurkan tangan untuk menahannya. “Hanya bisa dilihat dari luar jendela kaca,” bisik perawat itu dengan suara rendah. “Belum boleh masuk mendekat.” imbuhnya. Langkah Ratna terhenti sejenak. Bahunya terkulai, kakinya terasa lunak seolah tak sanggup menahan berat badannya sendiri. "Tap.." Ia menempelkan telapak tangan ke permukaan kaca dingin itu, jari‑jarinya terbuka lebar menatap bayangan ayahnya yang terbaring diam di baliknya. Sementara itu Agus berdiri di sebelah kirinya, pundaknya hamp

  • CANGKUL AJAIB SI AGUS   Episode 70

    "Sreeet...sreet…" Ujung pena dokter Sinta mengetuk pelan permukaan meja ruang konsultasi. Dia meletakkan lembar hasil rekam jantung di antara mereka berdua. “Dok, bagaimana keadaan Bapak??” tanya Ratna dengan suara bergetar kecil. Tangannya saling meremas di pangkuan. "Sreeet.." dokter Sinta mendorong kertas itu sedikit ke depan. “Dinding jantungnya sudah makin menipis. Satu‑satunya jalan sekarang: operasi penyangga pembuluh koroner.” ucap dokter Sinta lembut. "Plak.." Ratna menutup mulutnya dengan telapak tangan. Napasnya tersengal. Sedangkan Agus menekan kedua telapak tangan ke dahinya. Bahunya berguncang sekali, lalu ia tegakkan punggung kembali. “Berapa peluang berhasilnya Dok?” tanya Agus suaranya rendah, sedikit bergetar. “Lima puluh persen, tidak ada jaminan penuh. Tapi kalian harus memutuskan, kalau bisa secepatnya.” jawab dokter Sinta pelan. Ratna berbalik ke dinding, bahunya naik‑turun. Air mata menetes jatuh ke lantai keramik satu per satu tanpa suara. Agus melang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status