Se connecter"Sreeekk...sreekkk..." Dengan gerakan perlahan Agus mulai menggesek-gesekkan ujung cangkulnya. berharap terkena sedikit air agar mudah saat mengayunkan ke tengah sawah nanti. "Plug....!!!" jlebb...!!" Cangkul Agus menghujam kembali ke tengah sawah milik Ratna, ayunan demi ayunan ia hantambkan dengan gerakan cepat dan mantap. "Aaaaahh....!!! Oooh....!!!" Suara rintihan Ratna mulai terdengar disela-sela kerja keras Agus. diiringi alunan cangkul yang terus menerus mengolah sawah agar siap ditanami. "Oooh... Ratna, sawah ini sungguh luar biasa, selain hangat juga sempit sekali, sampai-sampai cangkul kesayanganku ini susah untuk bergerak" ucap Agus penuh kenikmatan. "Aaaah...!!" cangkulanmu juga mantap mas," jawab Ratna lirih sembari menutup mulutnya, takut suaranya makin keras. Ayunan demi ayunan cangkul Agus terus menyusuri sawah yang terlihat makin basah oleh air. sedangkan buah semangka yang tadi ditangan Agus, sekarang terlepas dan bergelantungan ditempat yang seharusnya
Keheningan malam itu membuat mereka seakan dibuai oleh keringat yang terus menetes dari pelipis.. Cangkul kesayangan Agus sudah terbenam sepenuhnya di tengah sawah yang terlihat berair karena ayunan cangkul Agus yang terus menerus. "Aaaahhh... nikmat sekali masss.." ucap Ratna lirih, tubuhnya terus mengaduk cangkul dengan gerakan perlahan. "ehmmm...oooh..." balas Agus sembari mengelus punggung Ratna yang berkilau terkena keringat. Tubuh Ratna melengkung ke belakang sembari terus mengaduk cangkul kesayangan Agus. Dua buah semangka yang tadi terlihat menganggur, kini nampak dipegang oleh kedua tangan Agus. "kresss...kresss..." Jemari Agus meremas buah itu perlahan, keras tapi lembut, rasa kenyal dan hangat memenuhi telapak tangannya yang kini terlihat menegang sampai urat-uratnya menonjol keluar. "Sreeeeeekkk...!" Tubuh Ratna berbalik, punggungnya terasa pegal karena terus menerus mengolah tanah dengan cangkul yang begitu besar. "Hossh.. hosh.." napasnya tersengal seakan oksig
“Klik…” Pintu rumah terbuka, lalu mereka masuk dengan sedikit canggung. “Kau duduk sebentar ya. Aku mau mandi dulu untuk membersihkan badan yang penuh keringat,” ucap Agus sambil mengambil handuk dari gantungan dinding. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi di sudut belakang rumah, "Sreeet" bunyi hordeng penutup kamar mandi terdengar pelan. Tiba‑tiba "Derrrtttt.." bunyi ponsel bergetar di saku tasnya, Ia mengeluarkannya, layar menyala menampilkan nama Marni. “Halo… Kak?” ucap Ratna lembut. “Ratna, aku cuma mau beri kabar singkat,” suara Marni terdengar cerah tapi masih lelah di seberang telepon. “Bapak sudah sadar sebentar tadi. Dokter katanya kondisinya makin stabil. Kamu istirahat saja dengan tenang malam ini, jangan khawatir berlebihan" jawab Marni semangat. “Benarkah…?” bisik Ratna, jantungnya terasa ringan tiba‑tiba. “Iya. Istirahatlah yang cukup. Aku tutup telepon dulu ya.” sahut Marni. "Tut…" Suara sambungan terputus. Ratna meletakkan ponsel ke samping meja, na
"Tap..tap..tap…" Suara langkah Pak Budi perlahan hilang di tikungan lorong yang panjang. Marni menatap punggung suaminya sampai bayangannya lenyap, lalu berbalik lagi menuju jendela kaca ruang intensif. Jari‑jarinya mengetuk‑ngetuk pelan permukaan kaca yang dingin, matanya memandang ke dalam tanpa berkedip lama. Ratna duduk menunduk di kursinya, kedua tangannya saling memutar di pangkuan. Sesekali ia mengangkat kepala, matanya memindah setiap garis gerak dari alat pemantau yang berkedip samar di balik kaca. Agus duduk di sebelahnya, siku bertumpu ke lutut, pandangannya tertuju ke lantai keramik yang berkilau terkena cahaya lampu lorong. Hanya bunyi detak‑detak jam dinding yang berirama lambat membelah keheningan. “Mas Agus…” bisik Ratna pelan, suaranya nyaris tertelan angin dingin lorong. Agus mengangkat wajah sedikit, matanya yang merah karena lelah menoleh ke arahnya. “Ya?” jawab Agus. “Menurutmu… apakah besok bapak sudah bisa membuka mata?” tanya Ratna lirih. Agus menoleh,
"klek.." Pintu ruang operasi terbuka perlahan. Dua perawat mendorong ranjang beroda menuju lorong yang lebih pendek, menuju ruang perawatan intensif di ujung koridor. Cahaya lampu lorong menyapu wajah Bapak Ratna yang masih pucat, kelopak matanya tertutup rapat. Selang‑selang tipis menempel di lengan dan dadanya, bergerak mengikuti irama napas yang baru saja stabil. Ratna melangkah mengikuti di samping ranjang, jari‑jarinya hampir menyentuh sisi bingkai kaca ruang intensif sebelum perawat mengulurkan tangan untuk menahannya. “Hanya bisa dilihat dari luar jendela kaca,” bisik perawat itu dengan suara rendah. “Belum boleh masuk mendekat.” imbuhnya. Langkah Ratna terhenti sejenak. Bahunya terkulai, kakinya terasa lunak seolah tak sanggup menahan berat badannya sendiri. "Tap.." Ia menempelkan telapak tangan ke permukaan kaca dingin itu, jari‑jarinya terbuka lebar menatap bayangan ayahnya yang terbaring diam di baliknya. Sementara itu Agus berdiri di sebelah kirinya, pundaknya hamp
"Sreeet...sreet…" Ujung pena dokter Sinta mengetuk pelan permukaan meja ruang konsultasi. Dia meletakkan lembar hasil rekam jantung di antara mereka berdua. “Dok, bagaimana keadaan Bapak??” tanya Ratna dengan suara bergetar kecil. Tangannya saling meremas di pangkuan. "Sreeet.." dokter Sinta mendorong kertas itu sedikit ke depan. “Dinding jantungnya sudah makin menipis. Satu‑satunya jalan sekarang: operasi penyangga pembuluh koroner.” ucap dokter Sinta lembut. "Plak.." Ratna menutup mulutnya dengan telapak tangan. Napasnya tersengal. Sedangkan Agus menekan kedua telapak tangan ke dahinya. Bahunya berguncang sekali, lalu ia tegakkan punggung kembali. “Berapa peluang berhasilnya Dok?” tanya Agus suaranya rendah, sedikit bergetar. “Lima puluh persen, tidak ada jaminan penuh. Tapi kalian harus memutuskan, kalau bisa secepatnya.” jawab dokter Sinta pelan. Ratna berbalik ke dinding, bahunya naik‑turun. Air mata menetes jatuh ke lantai keramik satu per satu tanpa suara. Agus melang







