ログインEvelyn tried to open the door and pulled it hard but all her efforts were in vain. "Tsk... Tsk.. Looks like this bird didn't like her cage." Sebastian said while putting both his hands around her. Defeated, Evelyn turned her face and started looking at him, but finding him so close to her, she pressed her forehead against the door. "Pl-please let... me go." She said suppressing her hiccups. The teeth started grinding with fear. "Please...." "Hmmm....Why don't we make this time useful?" He whispered while he was close to her ear. Feeling his breath on her earlobe, she shivered again. Evelyn pushed him with all her strength, which caused Sebastian to take a few steps away from her and started laughing like a madman. "You... you... are you crazy?" He started laughing more on this and then he became silent at once and started looking at her with his cold eyes which were devoid of any emotion. "No my dear. I am not crazy. My reality is just different from yours." Saying this, he smiled sarcastically and then moved towards her. Evelyn immediately ran to the left. There must be another way in such a big house. "You can't escape from me. Not until I want to." He was enjoying this game now. Evelyn's fear had begun to provide him with a different kind of tranquility. He slowly put his hands in his pockets while whistling and started walking in the direction where Evelyn had run.
もっと見る“Senang bertemu denganmu lagi, Mahreen. Sudah sangat lama ternyata." Uluran tangan di depan mata Mahreen tak disambut olehnya, ia hanya memandangi laki-laki dengan kemeja berwarna biru langit yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Tatanan rambutnya begitu rapi dan dari jarak satu meter, Mahreen bisa menebak parfum apa yang digunakan laki-laki yang ada di hadapannya.
“Jadi kau tak suka bersalaman denganku?” tanyanya lagi dengan tangan yang digerakkan , berusaha menunjukkan bahwa ia masih menunggu wanita yang datang terlambat satu setengah jam itu untuk berjabat tangan dengannya.
“Apa aku boleh duduk sekarang?”
Mahreen tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan lawab bicaranya, ia justru melemparkan pertanyaan.
“Oh tentu, kau boleh duduk. Untuk kedua pengawalmu, apa boleh aku meminta mereka pergi dari sini? Aku lebih suka membahas semuanya hanya berdua denganmu.” Jari telunjuk laki-laki terulur sedikit menunjuk pada kedua pengawal Mahreen yang mengantarnya hingga ke suit terbaik hotel milik keluarga besar Zaire.
Mahreen menoleh kepada kedua pengawalnya dan memberikan anggukan. “Aku baik-baik saja. Terimakasih. Kalian bisa turun dan menungguku di lobi.” Mahreen mengatakannya dengan tenang dan wajah yang meyakinkan. Itu membuat kedua pengawalnya langsung berpamitan tanpa saling bertatapan atau memberikan bantahan.
“Apa kau selalu seperti itu, Mahreen? Diikuti oleh dua orang aneh?” Laki-laki itu mengambil satu botol wine merah dan dua gelas yang sangat tipis bentukannya.
Mahreen mendaratkan tubuhnya pada sofa berwarna hitam, menaruh tas miliknya di sebelahnya, dan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri karena terasa cukup pegal. Tiga hari ke belakang, ia berada di kantor lebih dari dua belas jam. Kepindahannya kembali ke kota ini justru membuat hidupnya semakin dipenuhi dengan pekerjaan.
Ia melihat kamar suit hotel yang didatanginya. Mereka saat ini berada di bagian depan, ruang tamu. Tentu saja. Jika laki-laki yang menjadi lawan bicaranya ini melakukan hal tak pantas kepadanya, ia takkan membiarkannya. Ia membawa setruman listrik untuk menghadapi siapapun yang berani melakukan hal buruk.
“Minumlah! Kita harus dalam kondisi baik untuk membicarakan hal yang cukup berat ini.” Lelaki itu menjulurkan gelas berisi wine merah itu yang sudah diisikan dengan es berbentu bulat besar ke dalamnya.
“Aku tak minum alkohol, terimakasih untuk tawarannya.”
Uluran gelas itu tak mendapat respon dari Mahreen. Dan itu membuat Elvaro tersenyum.
“Belum apa-apa aku sudah mendapatkan dua penolakan. Kau menolakku untuk berjabat tangan dan sekarang menolak minuman yang ku berikan.”
Mahreen tau Elvaro tak tersinggung dengan apa yang dilakukannya. Ia tau Elvaro hanya mengatakan apapun yang ingin dikatakannya. Itu saja. Lelaki yang ada di hadapannya ini bukanlah sosok yang mudah terluka harga dirinya hanya karena hal-hal remeh.
“Baiklah, kalau begitu kau mau minum apa? Cola? Air mineral? Teh? Kopi? Aku bersedia membuatkannya untuk teman masa kecil yang pergi begitu saja setelah aku selamatkan dari kebakaran besar.” Ujung bibir Elvaro tertarik ke atas. Ia sedang meledek Mahreen mengenai masa lalu mereka.
“Diet coke? Apakah punya?”
Elvaro bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dalam. Mahreen kembali mengamati ruang tamu suit tersebut yang menurutnya terlalu polos. Tak ada pajangan apapun. Di atas meja hanya terdapat taplak meja berwarna abu-abu yang di atasnya terdapat sebuah buku.
Ia ragu Elvaro membaca sebuah buku. Terlebih lagi dengan judul buku yang tertera jelas. Meskipun mereka tak pernah lagi bersinggungan, Mahreen yakin tak ada yang bisa membuat Elvaro berubah menjadi sosok penyuka literasi. Laki-laki yang baru saja pergi untuk mencari minuman yang diinginkan Mahreen itu hanya menganggap buku sebagai pajangan.
Tangan Mahreen terjulur dan mengambil buku itu, ia membukanya dan sebuah note berwarna kuning tertempel di salah satu halaman. Hanya satu-satunya sticky notes yang ada di sana.
“Seperti biasa, jam 22.00 WIB. I know you want it MORE.”
Mahreen tersenyum meledek sambil kembali menutup buku, terlebih setelah melihat kata terakhir dalam catatan tersebut yang dikapitalkan.
Sepertinya kau benar-benar seperti yang dikatakan banyak orang, ya, El, pikir Mahreen.
Elvaro membawakannya dua kaleng diet coke dan menjulurkannya kepada Mahreen. “Terimakasih.”
Satu kaleng diterima dan kaleng yang lainnya ditaruh.
“Kau menertawakanku saat membuka buku yang ada di meja. Apa kau tak percaya aku menjadi kutubuku?” goda Elvaro. Mahreen tau bahwa Elvaro bukanlah sosok yang berusaha menutupi kehidupannya. Apalagi setelah Elvaro menelponnya beberapa waktu lalu dan mengatakan bahwa ia akan menikahi Mahreen seperti yang diinginkan eyang.
“Tidur dengan seorang kutubuku tak akan membuatmu berubah langsung menjadi kutubuku juga.” Kali ini Mahreen lebih leluasa untuk melebarkan senyumannya. Tangan Mahreen membuka diet coke dan Elvaro menyesap red wine setelah mereka melakukan ‘cheers’ entah untuk apa.
“Tapi aku rasa aku akan menjadi kutubuku setelah tidur beberapa kali denganmu.”
Kalimat itu sukses membuat cairan yang seharusnya turun ke kerongkongan Mahreen justru berbalik arah, memasuki saluran pernapasannya hingga membuat Mahreen tersedak dan terbatuk-batuk beberapa kali. Elvaro mengulurkan sapu tangannya kepada Mahreen, dan buru-buru diambil olehnya sebelum cairan itu keluar melalui hidungnya. Ia mengelap bagian depan hidungnya dan mengambil napas panjang.
Sedakan itu membuat Mahreen tak nyaman. Apa yang dikatakan Elvaro membuatnya tak nyaman.
“Kau bilang apa tadi? Sepertinya aku salah dengar.” ucap Mahreen sambil kembali mengelap sekitar bibirnya dengan sapu tangan yang diberikan Elvaro kepadanya.
Elvaro menggelengkan kepala. Pandangan mata mereka saling terkunci selama beberapa detik. Buru-buru Mahreen mengalihkannya. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, hmmm?” Mahreen menaruh sapu tangan itu di meja dan mengubah posisi duduknya, ia menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Lagi dan lagi Elvaro tersenyum, masih dengan tangan kanan yang menggerakkan gelas di tangannya, membuat red wine itu berputar-putar di dalamnya.
“Kau cantik. Dan aku selalu tidur dengan wanita cantik. Aku cukup pemilih."
Kalimat yang keluar dari bibir lelaki itu jelas-jelas sangat mengganggu. Sangat. Entah apakah ini hanya caranya bicara kepada Mahreen atau memang ia selalu menggoda perempuan yang bertemu dengannya.
Mahreen tak peduli dengan pujian seperti cantik atau apalah, ia terbiasa dengan itu hingga pujian itu sama sekali tak ada harganya lagi baginya. Tapi untuk pertama kali semasa hidupnya, ia direndahkan dalam jumpa pertama.
Aku bersyukur aku bisa mengendalikan diriku. Aku bersyukur aku tak menyerangnya dan berteriak. Aku bersyukur aku bisa berdamai dengan pelecehan yang pernah ku alami lebih dari ini.
Mahreen membatin seorang diri.
Jika bukan karena eyangnya yang memiliki masa hidup kurang dari empat bulan, ia takkan pernah mau menghirup udara yang sama dengan laki-laki di hadapannya ini lagi.
She was chewing the pencil with her mouth.Her thoughts were constantly revolving around Sebastian and his actions.He was really weird and maybe even dangerous."What If he was only teasing me, but why?"She didn't even know him, then why was she his target.She wanted all the information about him."It's good that Sebastian does not know that I have started doubting him. Otherwise, I do not even want to imagine what he could do with me."This thought scared her."Evelyn, come back to the earth."Ava called her for the third time to drew her attention."Ava, why do you think there is some strange kind of problem with Sebastian? "Please don't tell me that you were sitting here for so long only thinking about him.""Please tell me, Ava""You haven't noticed how he looks... especially at you." Ava asked, raising an eyebrow. "Me?" Evelyn asked, pointing her index finger at herself with a raised eyebrow. "Yeah and it seems to me that he is disgusted with everything but he looks at you
She had brought a small lock from home.Evelyn removed the first lock from the locker door and replaced it with a new one.No one will bother her now.Thinking this, she kept the bag in the locker and went to practice.She was still feeling the same, but there was no one else here. Today her time was three seconds better than before.The coach and all the other girls started congratulating her, on which her already red face started getting redder.When everyone started leaving, she sat down to breathe for a while and then went towards the locker room.Besides, two girls were still there, she started opening her locker while talking to them.But her hands started shaking as she moved her hand forward.There was a wilted flower and a folded paper.Now she was getting scared.She opened that paper with trembling hands."No door can stop me from reaching you."Her body started shaking badly.Someone could reach her things so easily and seeing her name written on it, her condition started
"Evelyn, you have been staring at this wall for so long. What are you looking for?"Ava's father was late today and both of them were waiting for him.Actually, Ava was waiting while Evelyn was looking at the memory wall of the college."Nothing, I'm just looking at it."The wall was covered with newspaper cuttings of all the best students from the beginning. She was looking for Sebastian among them."There is nothing interesting about what you have been doing for the past ten minutes.""Shut up, Ava.""Got it!"She saw Sebastian standing with the president and the principal in a photograph.Under the image, the names of those three were also written, but because the newspaper was torn, she was unable to make out Sebastian's name.Sebastian, however, was not his full name, and that was well known."Come on, Dad has arrived."Ava informed her after looking at her phone, so she gave Sebastian's picture one last look before leaving with her. .........."What is your name?""I thought y
"What happened to your hand?""Nothing, Mom. A kitten bit me."Evelyn had just returned with her father who had taken her to the clinic before knowing the cause of the injury."Did the kitten....... What were you doing with the kitten?""He had jumped over the wall so I caught him."This happened to her for the first time. Otherwise, the animals always liked her very much."Don't worry, Mom. I am fine."She sat on the couch holding the plate and said. "Today your aunt is coming with her children, do you remember?"When she started pouring water for her, Evelyn remembered that she had promised to take care of her aunt's children so that she and her mother could go to the market in peace.Oh no....Her appetite had died."Finish your meal. You've lost a lot of weight."After some time her aunt was there with her two sons and the rest of the day was spent in keeping things out of their reach........ 'What did you do after me yesterday?"Ava started asking after seeing her sitting in t
"Hurry up, Evelyn""One minute" That was all she could say with her mouth full."You should have woken up early today.""Mom, why are you worried? Ava will wake up later than me and then it will take time her to get re-"She had not even finished speaking when the front door started banging loudly.
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.