Mag-log inAku akui bahwa sebagai seorang perempuan, aku punya kelakuan yang cukup kasar dan sedikit terlihat maskulin. Cara jalanku tidak seperti perempuan feminin lainnya, suaraku rendah seperti suara laki-laki pada umumnya. Paling parah adalah aku punya kebiasaan untuk bernyanyi di kamar mandi seperti sedang mengadakan konser.
Tapi kebiasaan itu sudah tidak aku lakukan selama aku tinggal di mansion keluarga Swift. Aku tidak ingin suaraku membuat telinga semua orang berdarah. Aku cukup tahu diri. Dan aku melihat kesempatan untuk melancarkan aksi melepas stress di dalam kamar hotel, bermodalkan layar televisi yang besar aku kembali mengadakan konser. Aku tidak tahu kapan Archer akan selesai dengan pertemuan pentingnya itu. Pokok utamanya adalah aku harus mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hey, oportunitis seperti ku tidak boleh melewatkan kebebasan kecil ini. Lagu dengan genre slow rock berkumandang, mengisi setiap kamar hotel dan aku berteriak mengikuti lirik lagu. Ah, Bon Jovi selalu berhasil membuat mood meningkat pesat. Mengeluarkan tenaga yang begitu banyak, perutku berbunyi. Baru aku sadari bahwa sampai di hotel aku sama sekali tidak makan apapun. Tapi di kamar ini ada sebuah kulkas, aku mengecek isi didalamnya. Mataku berbinar. Penuh semangat, aku mengambil beberapa minuman. Aku tidak tahu minuman apa, terlihat seperti minuman berkarbonasi. Seteguk, dua teguk. Aku merasa puas. Aku kembali melihat botol minuman, mengerutkan kening sedikit. Aku mencecap sisa rasa yang masih tertinggal di lidah, sedikit pahit. Memangnya ada minuman soda yang pahit? Aku membaca perlahan setiap tulisan yang tertera, menepuk dahi dengan keras, aku memaki diri sendiri. Inilah kenapa budaya membaca terlebih dulu perlu dikampanyekan, supaya jatuhnya tidak sepertiku. Aku baru saja menelan alkohol, ya, minuman ini punya kadar alkohol lima persen. Memang, pintar sekali kau Alina. Lagipula, bagaimana bisa di kamar hotel ada minuman beralkohol seperti ini? Setahuku, Dubai memiliki aturan yang cukup ketat tentang konsumsi alkohol. Dan aku sudah terlanjur meminumnya. Aku kudu oetokhae? Hidupku gini amat. Seperti ada palu Thor yang menghantam kepalaku, terasa begitu sakit. Aku bisa merasakan wajahku yang memanas, juga tubuh yang mulai menghangat. Aku tahu ini bukan karena suhu yang tiba-tiba naik atau karena pendingin ruanga yang tidak berfungsi. Satu hal yang aku ketahui sekarang. Aku mabuk. Mabu karena dua tegukan alkohol. Oh, aku harus berbaring. Berusaha menyeimbangkan tubuh, aku mencengkeram selimut. Ah, sialan. Mungkin aku harus mandi. Pikiran itu terlintas sejenak, namun tubuhku sudah bergerak ke kamar mandi. Perlahan aku membuka semua pakaian lalu mengguyur tubuh dengan air dingin. Namun aku tidak merasa baik-baik saja, kepalaku berdenyut sakit. Tidak, mandi air dingin sama sekali tidak membantu. Maka aku memilih untuk berbaring di atas tempat tidur. Memang seharusnya aku tidur saja dari tadi. * Kamu pernah mendengar suara malam? Suara malam hari di kampungku begitu riuh tapi menenangkan, ada suara jangkrik, kodok sawah, atau bahkan derik ular. Aroma malam yang khas, campuran deduanan hijau dengan petrikor. Namun, ketenangan itu berubah menjadi suara laki-laki yang samar. Nada yang tegas, seperti memerintah dengan penuh dominasi. Ada geraman rendah, seperti serigala yang hendak mengkomunikasikan sesuatu. Sepertinya aku berada di tengah hutan antah berantah, aku berlarian dengan para serigala. Terjatuh karena semak belukar, dan aku mendapati wajah serigala yang mendekat berubah menjadi wajah manusia yang aku kenal. Aku tersentak, pria di hadapanku ini menatapku. Seolah ia ingin menggeram. Aku merasakan cengkeraman di dagu, terasa sakit. Aku mengerutkan kening. "Dasar perempuan gila!" Nada suara itu rendah, senyumnya tipis. Sang Iblis sedang mengejekku. Oh, ini tidak bisa di biarkan. Aku menepis kasar jemarinya yang mencengkeram rahangku. "Kamu yang gila!" Aku meneriakinya. Ia berdecih. Kali ini tangannya mencengkeram erat di bahu. "Hah, kalau kamu tidak gila, bagaimana bisa kamu telanjang di kamar ini?" What? Hah? APA?!! Aku melihat ke bawah, selimut putih khas hotel yang hanya menutupi tubuh bagian bawah membuatku seperti tersiram air es. Dingin sedinginnya. Aku berteriak kencang lalu menghantam wajah Archer dengan telapak tangan. Aku menyembunyikan diri di dalam selimut, lalu menangis. Huaaa, aku sudah tidak suci lagi!!! * Aku tidak tahu berapa lama aku menangis, mata ku pasti membengkak. Dasar alkohol sialan. Perlahan aku menurunkan selimut, cahaya lampu membuatku kesulitan untuk melihat situasi didalam kamar. Tapi aku tahu ada satu sosok yang duduk di sofa. Aku mengerjapkan mata lalu mendengar pergerakan dari seorang pria. Aku tahu itu adalah Archer. Ia berdiri lalu membelakangiku, membuang pandang pada jendela yang menampilkan gedung-gedung tinggi. Aku berdehem. Sejujurnya aku ingin meminta maaf karena sebagai asisten, aku tidak becus. "Bersiap-siaplah. Kita akan pulang." Aku tahu bahwa pria itu memberikan instruksi padaku. "Jangan mengintip!" Suaraku pelan, tapi aku tahu bahwa dia mendengarkan. Dengan selimut yang membalut aku mencari pakaian didalam koper dan menuju kamar mandi, aku membersihkan diri dengan cepat lalu bersiap. Aku mengatur barang milik Archer, entah dia dimana. Sungguh, aku bersyukur karena dia tidak ada disini. Jika tidak aku akan merasa sangat canggung. Untuk kali ini, aku merasa bahwa dia adalah pria yang baik. Aku membuka pintu kamar hotel karena seseorang menekan bel-nya. Seorang pria dengan setelan jas hitam putih. Aku yakini bahwa dia adalah pelayan di hotel ini."Nona Alina. Selamat malam." Aku membalas sapaan itu, dari tatapannya aku tahu bahwa ia memperhatikan wajahku yang sembab. Mataku juga bengkak.
"Tuan Archer berpesan agar segera bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Dia sudah menunggu di helikopter. Saya sendiri yang akan mendampingi Nona." Aku mengangguk. Tanpa mempersilakan masuk, aku menggeret koper yang memang sudah ku persiapkan.
"Terimakasih, Pak. Kalau begitu kita jalan sekarang." Pria itu, Bobby namanya, aku memperhatikan name tag yang tersemat.
"Tidak perlu sungkan, Nona. Mari." Ia mengambil alih koper di genggamanku dan melangkah lebih dulu. Langkahnya lebar, cukup sulit mengikuti iramanya. Aku bersyukur karena akhirnya kami naik lift.
Tiba di atap hotel, suara gemuruh baling-baling helikopter cukup memekakkan, aku di arahkan ke pintu dan untuk bisa naik seseorang menarik lalu mendudukkanku. Selanjutnya yang aku tahu adalah, Archer memasang earmuff.
Aku hanya diam. Ia menatap selama beberapa detik, berdehem lalu kembali ke tempat duduknya.
Beberapa kali aku mendengar percakapan antar pilot dan Archer, aku memilih untuk diam untuk saat ini, diam adalah hal terbaik.
Sesungguhnya, suasana begitu canggung. Aku tidak berani melihat wajah Archer. Aku memperhatikan langit malam yang dihiasi gemintang, juga awan-awan berbaris yang cantik.
Dari atas sini aku melihat gemerlap Dubai.
Woah. Cantik sekali.
Jika tadi aku merasa sangat sial, kali ini aku begitu bersyukur.
***
Pagi berikutnya, mansion terasa lebih tenang dari biasanya, seolah semua orang di dalamnya masih memulihkan diri dari ketegangan semalam. Aku bangun lebih awal, memutuskan untuk menyelesaikan tugas yang tertunda kemarin, mencari buku resep Prancis yang sempat disebutkan Archer di perpustakaan sebelum momen di rak buku itu terpotong oleh telepon mendadak. Suasana pagi yang sunyi terasa seperti kesempatan langka untuk menenangkan pikiran sebelum hari yang sibuk dimulai.Perpustakaan masih sepi ketika aku tiba, cahaya pagi menerobos lembut lewat tirai tipis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Aku menaiki tangga kecil yang masih tersandar di tempat yang sama seperti kemarin, kali ini dengan lebih hati-hati, mengingat kejadian yang hampir terjadi di sana.Buku itu akhirnya kutemukan, terselip di antara jilid-jilid tebal lainnya, sampulnya berwarna krem pudar dengan tulisan emas yang sudah mulai memudar. Aku menariknya perlahan, namun ketika aku menurunkannya, sesuatu terseli
"Ricardo ingin aku membujukmu untuk menjual sahammu sekarang," Vivienne memulai, suaranya lebih stabil dari yang kuduga, meski tangannya masih sedikit gemetar di atas pangkuannya. Cahaya lilin di meja makan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak seolah ikut gelisah dengan apa yang akan diucapkannya. "Bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan, Archer. Ia butuh dana segar, dan menurutnya, cara tercepat adalah dengan mencairkan saham warisan orang tua kita."Archer diam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, topeng dingin yang sudah sangat kukenal kembali terpasang sempurna. "Dan kau setuju dengannya?""Aku tidak tahu," jawab Vivienne jujur, matanya menatap lurus ke arah Archer tanpa berkedip. "Ricardo adalah saudaraku, dan aku ingin membantunya. Tapi aku juga tahu, kalau saham itu dijual sekarang, dengan harga pasar yang sedang jatuh, kita berdua akan kehilangan lebih dari separuh nilai sebenarnya.""Jadi kau datang ke sini bukan hanya untuk urusan warisan,
Dapur masih ramai ketika aku tiba, namun begitu Chef Marco melihat wajahku, ia langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, matanya menyipit penuh selidik. Beberapa asisten dapur melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan tugas masing-masing, seolah sudah terbiasa dengan drama-drama kecil yang sesekali muncul di antara jajaran pelayan mansion ini."Kau kelihatan seperti baru saja mendengar seluruh riwayat hidup seseorang," komentarnya sambil mengambil nampan dari tanganku."Kurang lebih begitu," gumamku, tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Beberapa rahasia memang lebih baik disimpan sendiri, terutama yang menyangkut luka orang lain yang tidak seharusnya kuketahui.Chef Marco tidak mendesak, hanya mengangguk paham, seolah sudah terbiasa dengan penghuni mansion ini yang selalu menyimpan lebih banyak dari yang mereka tunjukkan. Aku membantu sebentar di dapur, mencuci beberapa peralatan, mencoba menyibukkan tangan agar pikiranku berhenti berputar pada kata-kata Vivienne yang masih meng
“Aku tidak tahu dia akan mampir kesini. Bukankah dia baru tiba?” Pak Ardy mengangguk.“Benar, Tuan Muda. Dari bandara Nona Felicia langsung menuju ke sini.” Archer memakai jam tanganya.Sungguh aku sangat penasaran dengan perempuan bernama Felicia ini. Aku menahan diri untuk tidak bersuara, untuk ti
Terkadang aku merasa begitu relate dengan lagu dari salah satu penyanyi pop yang sedang naik daun saat ini. Kabarnya penyanyi itu sedang mengadakan tour dunia. Ya, aku tidak peduli sih. Karena tidak ada hubungannya denganku.Ku akui beberapa lagunya memberikan semangat lebih untuk menjalani hari ya
“Hah? Saya, Pak?”Ia mengangguk. Aku melirik tempat tidur besar di tengah kamar.Ada iblis yang pulas dan tugasku adalah membangunkan iblis itu. Aku menelan ludah kasar.Aku melangkah perlahan mendekat. “Bagaimana saya harus membangunkan tuan muda, Pak Ardy?”
Mungkin karena tidur di tempat baru, aku bangun lebih awal. Masih ada satu jam sebelum alarm di gawai berbunyi. Suasana kamar ini begitu asing.Ada baiknya aku mempersiapkan diri. Sambil bersenandung lagu Until I Think of You.Sang penyanyi, Tori Kelly, adalah salah satu penyanyi favorit. Terkadang







