Mag-log in“Hah? Saya, Pak?”Ia mengangguk. Aku melirik tempat tidur besar di tengah kamar.
Ada iblis yang pulas dan tugasku adalah membangunkan iblis itu. Aku menelan ludah kasar.
Aku melangkah perlahan mendekat. “Bagaimana saya harus membangunkan tuan muda, Pak Ardy?”
“Nona harus memanggil tuan muda dengan suara lembut.”
Aku segera melakukannya. Namun tidak dengan suara lembut. Aku merasa jijik jika harus memanggilnya dengan lembut.
“Tuan Muda Archer!!”Aku berteriak. Dan satu kali panggilan cukup untuk membangunkan pria itu.
Ia terduduk dan kebingungan selama beberapa detik.
Pak Ardy menahan napas, ia menatap tajam padaku. Namun tidak ku pedulikan. Ah,rasanya bahagia melihat Pak Archer yang kebingungan.
“Tuan muda, sudah saatnya anda bersiap.”
“Ya?”Sepertinya tuan muda ini belum mengumpulkan nyawa seutuhnya.
“Nona Alina siap membantu anda bersiap.”Aku mengangguk.Pemberitahuan itu sepertinya membuat Archer sadar seutuhnya.
Ia mengalihkan pandangan dari Pak Ardy kepadaku. Aku tersenyum.
“Sepertinya aku mendengar teriakan tadi.” Pak Ardy berdehem.
“Maafkan saya tuan muda. Saya masih mengajarkan Nona Alina untuk membangunkan tuan muda.”
“Saya juga minta maaf tuan muda. Saya tidak menyangka bahwa saya membangunkan anda dengan suara terlalu keras.”Aku membungkuk, mengikuti Pak Ardy yang juga membungkuk.
Archer membuang napas kasar. Aku bisa merasakan tatapan membunuhnya padaku.
“Sudahlah, aku akan mandi.”Archer beranjak dari posisinya dan segera masuk ke kamar mandi.
Pak Ardy beralih padaku. “Nona Alina, saya harap Nona melakukan tugas dan tanggungjawab nona sesuai arahan.”
Pak Ardy terdengar tegas. “Baik Pak. Saya minta maaf. Hal ini tidak akan pernah terjadi lagi.”
Sudah sepatutnya aku minta maaf pada beliau. Hah, mulai sekarang aku harus menahan diri. Ingat Alina kamu harus menunjukkan sisi profesionalmu sebagai seorang babu!
Aku berdiri di samping Pak Ardy, kami menunggu Archer keluar dari kamar mandi. Sejujurnya ini membosankan. Menunggu memang selalu membosankan.
Menghilangkan jenuh, aku memperhatikan setiap detail di kamar ini. Jujur, aku sedikit terpesona pada jajaran buku-buku tebal di rak kecil. Lalu ada bingkai foto di atas nakas, dan beberapa pajangan.
“Pak Ardy, apakah kita hanya berdiri saja terus seperti ini?”Aku mengajukan pertanyaan ini karena aku sudah bosan. Aku memiliki kebiasaan buruk, selalu menguap jika tidak melakukan aktivitas.
Sialnya, aku tertangkap basah sedang mengusap lebar. Oleh Archer, tanpa menutup mulut dengan tangan. Tatapan kami bertemu, ia menatapku sinis.
Aku menelan ludah. Jika mendefinisikan pemandangan di hadapanku sini, hanya perlu satu kata HAWT! Bagaimana tidak? Archer, iblis itu hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya yang ramping.
Ia memamerkan tubuhnya yang terpahat sempurna, aku menghitung kotak-kotak yang terpampang nyata di perut. Woah, totalnya ada enam.
Jika tidak menahan diri, sudah di pastikan air liurku menetes dengan pemandangan indah ini. Ck, pria berotot memang tidak ada obat!
Dan sialnya aksi ku menghitung kotak perut tertangkap mata Pak Archer. Ia tersenyum sinis padaku, mengambil bathrope lalu mengenakannya. Aku berdehem menutupi gugup yang tiba-tiba menyerang.
Pria itu lalu masuk ke ruangan pakaian lalu keluar dengan setelan yang tadi sudah disiapkan. Bahkan kemeja putih itu membalut tubuhnya dengan begitu pas.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Archer memang pria dewasa dengan pesona yang memikat. Kalau saja pria itu bukan iblis, sudah di pastikan bahwa aku pun akan tergila-gila.
Sadarlah, Alina. Dia iblis!
Pak Ardy dengan sigap memakaikan dasi pada pria itu. Terlihat mudah sebenarnya, namun aku membayangkan dasi itu yang mencekik leher Archer dan membuatnya seperti ikan yang di angkat dari air.
Aku terkikik pelan. Tidak bisa menahan diri dari adegan menyenangkan yang terlintas. Namun memang dasar Archer adalah iblis. Dia menatapku tajam.
“Kenapa kamu?”Aku merubah ekspresi menjadi datar.
“Tidak kenapa-kenapa Tuan Muda.”Pria itu berdecih.
“Lalu kenapa kamu tertawa.”Kali ini ia melangkah mendekat. Aku mundur selangkah.
“Kapan? Tidak. Saya tidak tertawa.”Kali ini tuan muda kita kesal.
“Tidak ada kan, Pak Ardy?” Aku mencari dukungan. Pak Ardy menatap kami berdua. Bisa ku lihat ia sedikit kebingungan.
“Ardy, kamu juga mendengarkannya kan? Dia terkikik seperti kuntilanak.” Mataku melebar, sungguh aku tidak terima di bilang seperti kuntilanak.
“Mana ada. Suara saya tertawa itu sangat indah.”Kali ini Archer melipat tangannya.
“Nah, sekarang kamu mengakui bahwa tadi kamu tertawa. Sekarang aku tanya, apa yang lucu?”Aku menatap Pak Ardy meminta pertolongan. Ia berdehem.
“Tuan Muda, mungkin Nona Alina senang karena besok bisa melayani Tuan Muda.”Ya, memang yang diharapkan dari seorang kepala pengurus rumah. Jawaban yang begitu bijak!
Untuk itu aku mengangguk. “Ya, benar sekali Tuan Muda. Saya sudah tidak sabar untuk bisa mengikat dasi di leher Anda.” Aku tersenyum. Meskipun perasaanku berbanding terbalik.
But it’s okay. Demi cuan! Aku menyemangati diri dalam hati.
“Kalau begitu, Nona Alina silakan siapkan sarapan Tuan Muda.” Aku mengangguk dan melangkah ke ruang makan. Tidak ada orang disitu. Jadi aku ke dapur dan bertemu dengan kepala koki.
Ia menyerahkan troli berisi hidangan untuk Archer. Aku mendorongnya sampai ke ruang makan. Archer dan Pak Ardy sudah berada di ruangan itu.
Pria itu sedang memegang sebuah tablet, terlihat begitu sibuk. Pelan-pelan aku menaruh piring berisi salad buah, lalu bacon, telur, dan roti, masih ada semangkuk sup kental teko berisi kopi panas di atas troli.
Sungguh, aku ingin melakukan pekerjaanku dengan baik. Tapi memang Dewi Fortuna seakan sudah mati, aku menumpahkan sup kental tepat di atas celana Archer.
Mati aku.
Aku memaki diri sendiri. Pak Ardy terkesiap sedangkan Archer berteriak. Aku kaget dan segera mengambil kain untuk membersihkan sup itu. Namun aksi ku justru mendapatkan hardikan keras.
Sungguh, aku ketakutan sekarang ini. Archer berdiri dan memaki. Hah, aku memang layak mendapatkan makian.
Aku masih berusaha untuk membersihkan bekas sup di celana Archer namun Pak Ardy menahan pergerakanku. Berkali-kali aku meminta maaf.
“Nona Alina, cukup. Tuan Muda akan mengganti pakaiannya.”Aku berhenti. Pak Ardy menghela napas panjang, sedangkan Archer menatapku dengan amarah yang jelas.
“Kau...”
Ia lalu membalikkan badannya dan melangkah dengan cepat meninggalkan kami. Aku masih terpaku. Pak Ardy memijat kepalanya.
“Nona Alina, nona sadar tidak tadi memegang Tuan Muda di bagian mana?” Aku menatap Pak Ardy sambil mengais memori. Aku menutup mulut tidak percaya dengan ingatan ini.
Ya Tuhan, Ya Tuhan. Ambil saja nyawaku ini.
Bagaimana tidak? Tadi aku membersihkan area yang itu. Iya, yang itu. Bagaimana mungkin pria itu tidak marah.
Memang kau bodoh, Alina. Mati saja kau!
Pagi berikutnya, mansion terasa lebih tenang dari biasanya, seolah semua orang di dalamnya masih memulihkan diri dari ketegangan semalam. Aku bangun lebih awal, memutuskan untuk menyelesaikan tugas yang tertunda kemarin, mencari buku resep Prancis yang sempat disebutkan Archer di perpustakaan sebelum momen di rak buku itu terpotong oleh telepon mendadak. Suasana pagi yang sunyi terasa seperti kesempatan langka untuk menenangkan pikiran sebelum hari yang sibuk dimulai.Perpustakaan masih sepi ketika aku tiba, cahaya pagi menerobos lembut lewat tirai tipis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Aku menaiki tangga kecil yang masih tersandar di tempat yang sama seperti kemarin, kali ini dengan lebih hati-hati, mengingat kejadian yang hampir terjadi di sana.Buku itu akhirnya kutemukan, terselip di antara jilid-jilid tebal lainnya, sampulnya berwarna krem pudar dengan tulisan emas yang sudah mulai memudar. Aku menariknya perlahan, namun ketika aku menurunkannya, sesuatu terseli
"Ricardo ingin aku membujukmu untuk menjual sahammu sekarang," Vivienne memulai, suaranya lebih stabil dari yang kuduga, meski tangannya masih sedikit gemetar di atas pangkuannya. Cahaya lilin di meja makan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak seolah ikut gelisah dengan apa yang akan diucapkannya. "Bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan, Archer. Ia butuh dana segar, dan menurutnya, cara tercepat adalah dengan mencairkan saham warisan orang tua kita."Archer diam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, topeng dingin yang sudah sangat kukenal kembali terpasang sempurna. "Dan kau setuju dengannya?""Aku tidak tahu," jawab Vivienne jujur, matanya menatap lurus ke arah Archer tanpa berkedip. "Ricardo adalah saudaraku, dan aku ingin membantunya. Tapi aku juga tahu, kalau saham itu dijual sekarang, dengan harga pasar yang sedang jatuh, kita berdua akan kehilangan lebih dari separuh nilai sebenarnya.""Jadi kau datang ke sini bukan hanya untuk urusan warisan,
Dapur masih ramai ketika aku tiba, namun begitu Chef Marco melihat wajahku, ia langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, matanya menyipit penuh selidik. Beberapa asisten dapur melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan tugas masing-masing, seolah sudah terbiasa dengan drama-drama kecil yang sesekali muncul di antara jajaran pelayan mansion ini."Kau kelihatan seperti baru saja mendengar seluruh riwayat hidup seseorang," komentarnya sambil mengambil nampan dari tanganku."Kurang lebih begitu," gumamku, tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Beberapa rahasia memang lebih baik disimpan sendiri, terutama yang menyangkut luka orang lain yang tidak seharusnya kuketahui.Chef Marco tidak mendesak, hanya mengangguk paham, seolah sudah terbiasa dengan penghuni mansion ini yang selalu menyimpan lebih banyak dari yang mereka tunjukkan. Aku membantu sebentar di dapur, mencuci beberapa peralatan, mencoba menyibukkan tangan agar pikiranku berhenti berputar pada kata-kata Vivienne yang masih meng
Aku akui bahwa sebagai seorang perempuan, aku punya kelakuan yang cukup kasar dan sedikit terlihat maskulin. Cara jalanku tidak seperti perempuan feminin lainnya, suaraku rendah seperti suara laki-laki pada umumnya. Paling parah adalah aku punya kebiasaan untuk bernyanyi di kamar mandi seperti seda
“Aku tidak tahu dia akan mampir kesini. Bukankah dia baru tiba?” Pak Ardy mengangguk.“Benar, Tuan Muda. Dari bandara Nona Felicia langsung menuju ke sini.” Archer memakai jam tanganya.Sungguh aku sangat penasaran dengan perempuan bernama Felicia ini. Aku menahan diri untuk tidak bersuara, untuk ti
Terkadang aku merasa begitu relate dengan lagu dari salah satu penyanyi pop yang sedang naik daun saat ini. Kabarnya penyanyi itu sedang mengadakan tour dunia. Ya, aku tidak peduli sih. Karena tidak ada hubungannya denganku.Ku akui beberapa lagunya memberikan semangat lebih untuk menjalani hari ya
Mungkin karena tidur di tempat baru, aku bangun lebih awal. Masih ada satu jam sebelum alarm di gawai berbunyi. Suasana kamar ini begitu asing.Ada baiknya aku mempersiapkan diri. Sambil bersenandung lagu Until I Think of You.Sang penyanyi, Tori Kelly, adalah salah satu penyanyi favorit. Terkadang







