INICIAR SESIÓN"Sinting?" Kening Gery berkerut mendengar perkataan Marisa. "Sinting gimana? Trus kamu di tempatkan di bagian apa?" tanyanya.
"Aku jadi asisten pribadinya CEO kita." Gery cukup terkejut dan ikut senang. "Wah! Hebat!" ujarnya seraya bertepuk tangan. "Nanti kita bicarakan lagi! Sekarang mendingan kita cari makan dulu! Aku laper!" kata Marisa. "Ya udah, ayo!" Gery pun menarik lengan Marisa dan membawanya pergi ke tempat penjualan makanan yang ada disekitar perkantoran sana. Mereka memesan dua porsi nasi Padang. Suasana ramai karena jam makan siang para pegawai kantor. "Maksud kamu tadi apa, Mar? Kamu bilang CEO kita itu-sinting?" tanya Gery. "Iya Ger! HP aku di tahan sampai jam makan siang karena aku foto selfie sekali doang!" jawab Marisa kesal. "Lagian kamu ada-ada aja! Lagi kerja kok ambil foto selfie?! Gak profesional! CEO itu kan pasti menginginkan kinerja yang sempurna!" "Oke, aku salah! Tapi apa pantas kalau selama menahan HP aku itu dia utak-atik HP aku?! Bertanya apakah wallpaper yang ada di lockscreen itu pacar aku?! Bertanya juga tentang kamu yang terus kirim WA sama aku! Sampai-sampai aku di bilang bisa dibayar perusahaan rivalnya untuk membocorkan rahasia perusahaan!" 'Glek!' Gery sampai menelan ludahnya sendiri mendengar pengakuan Marisa tentang CEO mereka. "Ngeri juga sih!" ucap Gery. "Tapi bener itu cowok ganteng berjas yang tadi pagi ada di lift?" "Bukan! Tapi mirip sih! Beda banget pokoknya! Kalau yang tadi pagi ramah, yang ini kayak beruang kutub!" "Kayak Aldebaran?" celetuk Gery. "Gantengan ini sih!" Gery berfikir lama lalu berucap, "Berarti sekarang kamu harus bisa jaga sikap yang baik! Pikirkan betul-betul sebelum kamu berbuat sesuatu di depan dia. Bagaimanapun dia CEO kita. Kita butuh nilai bagus dari dia." nasehat Gery. "Ya, kamu benar..." jawab Marisa lemas. "Sabar ya..." Gery mengacak rambut Marisa. "Ya Gery, aku pasti sabar... Oh ya, kamu gimana di bagian gudang?" "Lumayan capek Mar! Tadi ada banyak barang expor yang keluar gudang. Aku bantu angkut-angkut ke mobil box. Trus bantu Pak Nino nyatet-nyatet." "Kita tukeran yuk?! Aku bagian gudang, kamu jadi asisten CEO!" "Mana bisa begitu?! Aku harus pake rok mini, sepatu hak tinggi dan lipstik?" Marisa tertawa. Gery selalu bisa membuat suasana lebih hidup dan ceria. "Makasih Ger. Kamu selalu bisa bikin aku senyum. Tapi sekarang aku males ke kantor lagi... Aku kangen Fero..." "WA aja! Suruh Fero jemput kamu. Biar bisa langsung kencan!" usul Gery. "Iya juga ya... Mudah-mudahan dia gak ada shooting malam ini," Fero, pacar Marisa adalah seorang kru di lokasi shooting di bagian kameramen. Keahliannya dalam fotografi menuntunnya bekerja di industri entertainment. Sering juga Fero mengabadikan foto Marisa hasil jepretannya di media sosial mereka berdua. Sementara itu, sang CEO tampan Indra Perdana sedang menatap ke bawah dari kaca jendela ruangannya. Dari kaca jendela itu dia bisa melihat langsung ke arah gerbang kantornya. Jelas terlihat suasana dan siapa-siapa saja yang hilir dan mudik masuk ke area kantornya. Indra yang saat itu berdiri sambil menyeruput kopi susunya melihat bagaimana Marisa dan Gery masuk gerbang beriringan. Gery tampak menepuk bahu Marisa yang berwajah murung. "Dasar perempuan! Katanya bukan pacar tapi akrab sekali! Bagaimana dengan cowok di wallpaper HP nya?! Bukannya itu pacarnya?! Tapi kenapa ia malah berjalan mesra dengan cowok kelam itu?!" batin Indra geram. "Aku harus tahu lebih jelas mengenai dia! Bagaimanapun dia adalah asisten pribadi ku! Bagaimana jika ternyata ia hanya seorang mahasiswa bodoh yang hanya mengandalkan tampang saja?! "Menyebalkan! Tebar pesona sana sini! Mentang-mentang dia mempunyai wajah cantik dan tubuh yang proporsional! Sok-sokan mempunyai pacar dua! Sepertinya aku harus melihat berkas yang dia bawa tadi!" Saat Marisa muncul kembali ke ruangannya, Indra tampak sedang kembali sibuk dengan laptopnya. "Pak Indra, Bapak sudah makan?" tanya Marisa peduli. Indra mengangkat sedikit wajahnya. "Apa perlu kamu bertanya seperti itu?!" tanyanya dingin. "Tadi sewaktu saya tinggal, Bapak sedang meneliti laptop. Sekarang pada saat saya kembali, Bapak masih sibuk dengan laptop Bapak. Kalau Bapak mau mungkin saya bisa bawakan Bapak makan siang?" "Gak usah sok perduli kamu! Tadi saya sudah makan siang dan juga minum kopi! Saya biasa makan siang di ruangan ini! Saya juga orang yang tidak suka buang-buang waktu dalam bersantap! Memangnya kamu! Makan siang saja satu jam!" Ya ampun! Apa ia sudah salah bicara lagi?! "Oh, Bapak sudah makan siang? Ya sudah, saya akan lanjutkan pekerjaan saya." Marisa duduk kembali di depan meja kerjanya. "Cowok kelam yang bernama Gery itu, pacar kedua kamu?" tanya Indra tiba-tiba. "Nah! Kumat lagi keponya!" batin Marisa geram. "Sudah saya katakan Gery bukan pacar saya, Pak. Kami sama-sama mahasiswa PKL disini, di perusahaan Bapak." "Kalau memang dia bukan pacar kamu, kamu tidak boleh sedekat itu dengan dia! Ini tempat kerja! Jaga privasi kamu! Jaga jarak saat kalian berdua di area kantor! Tadi saya lihat kamu berjalan beriringan sama dia dan dia menepuk bahu kamu! Itu tidak pantas! Kalian cuma mahasiswa PKL! Saya saja pemilik perusahaan ini tidak pernah memperlihatkan kedekatan dengan siapapun disini!" "Iya Pak, saya benar-benar minta maaf! Saya mengerti dan tidak akan mengulanginya lagi!" "Bagus! Sekarang lanjutkan pekerjaan kamu!" Marisa menggeram kesal dalam hatinya. "Dari tadi juga aku mau kerja! Kamu yang duluan ngajak ngomong!" rutuk Marisa dalam hatinya. "Mana hasil kerja kamu yang tadi?! Kamu sudah buat schedule saya Minggu ini?" "Sudah Pak!" "Kamu pastikan tidak menggangu jadwal pribadi saya?!" "Tentu Pak, saya sudah diberitahu oleh Mbak Bella tentang jadwal pribadi Bapak. Selasa sore main band, Rabu dan Kamis pagi ada fitness, dan Sabtu ada acara pribadi bersama tunangan Bapak!" nada suara Marisa meninggi saat dia mengucapkan kata tunangan Bapak. "Hm..." Marisa memulai pekerjaan selanjutnya. Menyiapkan berkas-berkas yang harus Indra tanda tangani. Mulai saat ini Marisa harus lebih hati-hati dalam menghadapi Indra. Sebisa mungkin Marisa harus menghindari konflik dan beradu argumentasi dengan Indra. Sebagaimanapun Indra terus mencari celah kesalahannya. Marisa harus bertahan dan terus bertahan karena ini ada pintu menuju nilai baik untuk kelulusannya! Marisa sudah menjalani kuliahnya selama kurang lebih empat tahun dan kini tidak mungkin harus gagal mendapatkan kelulusan hanya karena seorang CEO tampan tapi menyebalkan seperti Indra Perdana! Tiga bulan adalah waktu yang singkat dan pasti Marisa akan dapat menjalaninya! Dan pada saatnya nanti Marisa tidak akan butuh lagi seorang Indra Perdana untuk rekomendasi nilai kelulusannya! Tapi untuk saat ini memang sepertinya Marisa harus cari aman. Marisa harus bekerja dengan baik, mengurangi kesalahan, dan yang terpenting menghindari perdebatan dengan Indra Perdana! Walaupun Marisa akui dia sudah kehilangan semangat di hari pertama bekerja di perusahaan ini. Dan penyemangat Marisa untuk saat ini adalah Fero! Fero adalah sumber semangat yang pasti akan membuat Marisa tersenyum lagi! Marisa pun diam-diam mengirim WA pada Fero agar pacarnya itu bisa menjemputnya pada sore nanti "Iya sayang, sore ini aku akan jemput kamu ke kantor tempat kamu kerja" kata Fero dalam balasan WA nya.Marisa balas memeluk Indra dengan erat. Marisa tahu kalau dia juga bersalah dalam hal ini. Tadi Marisa sudah hampir pasrah dan itu membuat gairah Indra terbakar, tapi setelah Indra sudah benar-benar bernafsu, Marisa malah menolaknya.Seperti membawa terbang ke langit tapi kemudian menghempaskan ke bumi!"Pak Indra... Saya juga minta maaf... Saya sudah membuat Anda bangun tadi..." kata Marisa."Yah, Sudah sering kamu berbuat seperti itu kepada saya! Dan jujur kali ini adalah yang paling menyiksa untuk saya! Saya sudah benar-benar tegang tadi!" rutuk Indra!"Sekarang bagaimana?""Kepala saya pening! Bagian bawah tubuh saya pegal!""Bagian tubuh yang mana?""Yang ini!" Indra meraih tangan Marisa dan menyentuhkan nya ke bagian bawah tubuh yang masih menegang!"Awh!!!" Marisa memekik histeris dan segera menjauh dari Indra."Kenapa kamu berteriak histeris begitu?! Memangnya ular saya menggigit kamu?!" hardik Indra!"Kenapa Anda menyentuhkan tangan saya kesana! Mengerikan!""Dasar bocah! Sek
Marisa perlahan membuka matanya, awalnya Marisa tidak menyadari apa yang sedang terjadi, matanya menatap sayu dan kemudian hendak di pejamkan kembali. Tapi kemudian Marisa merasakan lehernya di ciumi dengan beringas hingga kini matanya membulat dengan sempurna.Marisa tersentak saat menyadari bahwa Indra ada di atas tubuhnya dan sedang menciumi leher nya. Nafas Indra yang terasa panas dan terengah-engah membuat Marisa merinding sekaligus berdebar-debar hebat!"Pak Indra... Apa yang Anda lakukan?!" hardik Marisa.Indra tidak menjawab melainkan terus menciumi leher Marisa dan kini ciumannya sudah menjalar ke bagian bahu Marisa!Sekujur tubuh Marisa bergetar antara ketakutan dan ada rasa lain yang menjalari seluruh anggota tubuhnya. Rasa nikmat yang belum pernah di rasakan oleh Marisa sebelumnya. Darah muda gadis berusia dua puluh tiga tahun itu mengalir deras di setiap pembuluh darah nya!"Pak Indra... Jangan... Jangan..." desah Marisa tersendat-sendat."Nikmati saja, Sayang!" bisik Ind
Andro Perdana menyipitkan matanya, "Tukang tikung? Maksud kamu, Indra menikung saya? Menikam saya dari belakang? Merebut Marisa dari tangan saya?" tanyanya pada Gery."Maaf sebelumnya, Pak Andro. Tapi dari awal juga saya sudah mencurigai gerak-gerik Pak Indra! Apalagi setelah dia memutuskan Bu Sofie! Dugaan saya semakin kuat! Saat ini juga saya yakin kalau dia sengaja membawa pergi Marisa agar tidak bisa bertemu dengan Anda!" kata Gery."Apa?! Indra memutuskan Sofie?!""Iya, Pak! Bu Sofie sampai sakit karena masalah ini!""Tapi Indra adalah kakak saya, dia juga sudah berjanji melamar Marisa untuk saya jika saya pulang dari Turki dan menyelesaikan proyek disana dengan baik""Zaman sekarang ini tukang tikung sedang menjamur dimana, Pak Andro! Selama belum ada janur melengkung, selama itu pula pacar orang masih bisa di tikung!""Saya harap dugaan kamu, salah. Gery""Ya mudah-mudahan saya salah. Sekarang bagaimana? Apa yang akan Anda lakukan? Ini sudah malam sekali, apakah Anda akan tetap
Bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 20:00 malam. Andro Perdana tiba dengan menyeret koper besarnya. Walaupun saat itu tubuhnya terasa sangat lelah, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk bertemu dengan pujaan hatinya, Marisa. Sudah banyak agenda yang di susun nya setiba di Jakarta bersama Marisa.Pertama tentu saja makan malam bersama malam ini. Andro bahkan sudah menyiapkan satu tas mewah keluaran terbaru dari Turki yang khusus dia beli untuk Marisa. Selanjutnya mengajak Mama dan Indra untuk menemui keluarga Marisa di Bogor untuk melamar gadis itu. Andro juga sudah membeli sebuah cincin pertunangan yang akan dia pakaian pada jari manis Marisa saat acara pertunangan mereka nanti.Agenda selanjutnya adalah mengajak Marisa untuk pergi umrah berdua sebelum menentukan tanggal pernikahan mereka berdua. Setelah itu tentu saja rencana untuk berbulan madu ke Dubai, membeli rumah sendiri, dan segera memiliki momongan.Andro jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan bahwa sebentar
Dengan kepala tertunduk, Indra berkata memelas kepada Marisa agar jangan pergi meninggalkannya. "Saya mohon kepada kamu, Marisa... Jangan tinggalkan saya disini untuk bertemu dengan Andro...! Saya sangat mencintai kamu dan saya tidak mau kehilangan kamu dan saya tidak bisa merelakan kamu pergi menemui Andro...!"Kesombongan dan keangkuhan seorang Indra Perdana langsung runtuh seketika itu juga! Tidak ada lagi kata-kata kasar dan penuh nada menghina. Tidak ada lagi bentakan dan perintah yang bernada arogan. Hanya karena dia telah jatuh cinta kepada seorang wanita sederhana bernama Marisa.Marisa sendiri menjadi serba salah karena Indra bertekuk lutut seperti itu, tapi Marisa juga tidak bisa untuk tidak menjemput Andro! "Pak Indra, jangan berlutut seperti ini! Saya mohon...! Izinkan saya untuk pergi menjemput Andro, saya sudah berjanji untuk menjemput nya saat pulang ke Indonesia" Marisa sampai memohon pada Indra agar mengizinkannya untuk pergi."Tidak, Marisa! Saya bilang kamu tidak bo
Alangkah kagetnya Gery saat tiba-tiba mendengar suara keras Indra di telepon!"Hey, Gery kelam! Seenaknya saja kamu bilang kalau saya ini arogan! Kalau saya ini menyebalkan tingkat dewa! Kamu lupa siapa diri kamu?! Kamu hanya seorang mahasiswa biasa yang magang di kantor saya! Kamu bisa mendapatkan nilai bagus untuk PKL kamu atas kemurahan hati saya! Sekarang kamu malah mengolok-olok saya! Apakah kamu tidak tahu kalau HP saya ini sedang dalam keadaan load speaker?!""Astagfirullah! M... Maaf Pak Indra...! Maafkan saya, saya tidak sengaja!" kata Gery dengan nada tercekat."Saya bisa saja mencabut kembali nilai bagus yang saya berikan untuk kamu dan kamu akan semakin lama menjadi mahasiswa! Kamu harus mengulang kembali dari awal! Bahkan saya bisa pastikan kamu tidak akan di terima di perusahaan manapun jika suatu saat kamu PKL lagi!""Ampun, Pak Indra... Sekali lagi saya minta maaf...! Saya cuma bercanda sama Marisa..."Marisa mencoba menenangkan Indra dengan mengelus-elus punggung pria







