LOGINArvin terdiam. Bukan karena Renee punya trauma buruk terhadap tempat tidur ini, tetapi terhadap dirinya. Di mana pun tempatnya, hasilnya akan sama. Sebaiknya dia tidak menakuti Renee atau memaksanya lagi.Dengan satu gerakan, dia menekan Renee kembali ke tempat tidur, lalu mencium bibirnya sambil berkata, "Panggil aku waktu kamu mandi besok malam. Malam ini sudah terlalu larut, cepat tidur saja.""Kalau begitu kamu?"Renee menatapnya dengan sepasang mata jernih. "Kamu mau mandi air dingin lagi?""Mau gimana kalau nggak? Masa harus membiarkan diriku terbakar gairah?" Arvin tersenyum lalu mencium keningnya lagi. "Aku sudah terbiasa. Kamu cepat tidur saja, besok kita masih harus keluar."Usai bicara, Arvin bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.Keesokan harinya saat Renee bangun, Arvin masih tidur. Melihat wajah tidurnya yang tampan, Renee teringat penderitaan yang dialaminya semalam.Di dalam hatinya muncul rasa bersalah sekaligus kasihan.Ujung jarinya tanpa sadar menyentuh alis Arvin
Setelah makan malam.Arvin pergi ke ruang kerja, Renee masuk ke studio, sementara Renji dibawa Gina untuk bermain. Renee sibuk sampai larut malam.Setelah mandi di kamar tidur, dia bersandar di tempat tidur sambil mencari boneka yang cantik di ponselnya. Arvin selesai mandi lalu keluar sambil mengeringkan rambut. Dia melirik ponsel di tangan Renee."Milih boneka untuk Renji?""Iya. Aku sudah janji besok mau belikan.""Kenapa nggak beli langsung di toko?""Belanja online lebih praktis."Renee tiba-tiba meletakkan ponselnya lalu menatap Arvin. "Maksudmu besok kamu akan menemani aku dan Renji pergi jalan-jalan membeli boneka?""Aku cuma khawatir orang sibuk sepertimu nggak punya waktu.""Ada! Ada!" Renee segera mengangguk dengan antusias, seolah takut dia berubah pikiran. "Besok kita pergi jalan-jalan, ya. Kita belum pernah bawa Renji pergi jalan-jalan.""Milk tea nggak jadi dibuat?" Arvin tersenyum tipis.Renee menjawab, "Bisa dibuat lusa saja, lain kali.""Kalau sudah keluar rumah, gima
"Renji, siapa yang ngasih boneka ini ke kamu?" tanya Renee sambil mengambil boneka di tangan Renji.Renji menjawab sambil tersenyum, "Mainan baru. Tante Gina yang kasih."Gina yang berada di samping segera berkata, "Oh, aku melihatnya di dalam kotak mainan Renji. Aku mau bawa untuk dicuci, tapi Renji malah merebutnya untuk dimainkan."Ditemukan dari kotak mainan? Sepertinya ... dirinya yang terlalu banyak berpikir.Renee langsung menghela napas lega."Mainan ini sudah lama, buang saja," perintah Arvin kepada Gina.Mana mungkin dia tidak mengerti isi pikiran Renee? Dia juga tidak ingin ada orang luar yang memengaruhi hati Renee yang akhirnya kembali lagi kepadanya dengan susah payah.Walaupun Gina tidak mengerti alasannya, dia tetap patuh membawa boneka itu pergi.Sebaliknya, Renji merasa agak tidak senang dan berkata, "Renji suka ... beruang kecil."Arvin membungkuk dan mengusap kepala kecilnya. "Kalau Renji suka, Mama bisa belikan yang baru untukmu.""Renji mau yang baru." Renji langs
"Motor listrik nggak aman.""Aku akan sangat berhati-hati."Renee berkata, "Selain itu, mungkin kamu nggak tahu, kalau perempuan mengemudi mobil yang terlalu mewah di jalan, mudah digoda atau diganggu orang."Hal seperti ini baru pertama kali didengar Arvin. Dia tersenyum. "Kalau begitu jangan dipakai saja."Renee mendorong troli.Saat melihat Arvin di sampingnya, dia tiba-tiba bertanya dengan penasaran, "Pak Arvin, kamu bukan pertama kali datang ke supermarket kebutuhan sehari-hari seperti ini, 'kan?""Ini pertama kalinya," jawab Arvin dengan jujur. Karena dia memang tidak pernah punya kesempatan datang ke supermarket seperti ini, dia hanya pernah melihatnya di film.Renee merasa sedikit terharu. "Hidupmu benar-benar nggak ada nuansa kehidupan sehari-hari."Arvin mengangguk. "Dulu aku nggak merasa begitu, tapi sekarang baru sadar memang benar.""Nggak apa-apa. Mulai sekarang kamu ikut saja denganku, aku akan membuat hidupmu penuh nuansa kehidupan sehari-hari." Setelah mengatakan itu s
Setelah beberapa saat, barulah Renee ragu-ragu membuka mulut. "Bu Juwita bilang ... nanti kamu akan jatuh cinta pada wanita lain. Dia mengatakannya dengan sangat yakin.""Jadi kamu percaya?" Arvin merasa sedikit geli."Kamu nggak percaya?""Tentu saja nggak." Arvin berhenti sejenak, lalu balik bertanya, "Aku tanya kamu, di masa depan kamu akan jatuh cinta pada orang lain nggak? Kamu juga pasti nggak bisa jawab, 'kan?""Aku pasti nggak akan.""Hm?""Pak Arvin, memangnya itu pertanyaan yang sulit dijawab?""Kamu ini ...." Arvin tersenyum. "Itu hanya imajinasimu, karena nggak ada yang tahu gimana seseorang akan berubah di masa depan. Sama seperti dulu, aku juga nggak pernah nyangka bisa menyukaimu."Renee terdiam. Perkataan Arvin sepertinya memang masuk akal. Juwita pasti sengaja membesar-besarkan hal itu untuk menakut-nakutinya. Memikirkan hal itu, suasana hatinya akhirnya tidak lagi terlalu murung."Gimana? Sekarang bisa temani aku makan siang?" tanya Arvin sambil tersenyum."Lain kali
Renee tidak mengerti apa maksudnya.Maksudnya Arvin di masa depan akan menemukan wanita yang benar-benar dia cintai? Mengapa Juwita begitu percaya diri?"Bu Juwita, aku ....""Aku ngantuk, kamu pergi saja." Juwita memotongnya dengan tidak sabar.Melihat dia sama sekali tidak bisa diajak bicara, Renee pun terpaksa menyerah. Sepertinya Arvin benar, dia seharusnya tidak datang, juga tidak seharusnya ikut campur. Karena sejak awal sampai akhir, Juwita memang tidak pernah menerima dirinya.Akhirnya, dia tetap meninggalkan rumah lama itu. Sepanjang jalan, dia terus memikirkan apa maksud dari perkataan Juwita tadi.Mengapa dia begitu yakin Arvin akan menyukai orang lain, begitu yakin bahwa dia tidak akan lama tinggal di Keluarga Suryana.Baru ketika mobil berhenti di bawah gedung studio, Renee menggeleng, mengingatkan dirinya untuk tidak memikirkannya lagi dan fokus bekerja saja. Dia masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.Michela sedang fokus bekerja. Ketika mendongak dan melihat
Sambil menunggu giliran bermain, Arvin menunduk dan menggigit lembut cuping telinga Renee yang sudah memerah. "Cuma 200 juta, kamu sanggup bayar," bisiknya serak.Dua ratus juta! Tubuh Renee langsung menegang ketakutan. Dari mana dia punya uang sebanyak itu? Dia mulai curiga Arvin memang sengaja ing
Renee berbalik hendak pergi, tetapi wajah Arvin seketika berubah dingin."Tunggu." Arvin menariknya kembali dengan paksa hingga Renee jatuh duduk di pangkuannya. Giginya terkatup rapat saat berkata dengan nada berat, "Renee, aku sudah bilang aku sedang memberimu jalan keluar. Kamu mau atau nggak?"R
Arvin menatap wajah Michela yang berlumuran darah tanpa mengernyit sedikit pun. Dia hanya berkata dengan ketus, "Aku nggak tertarik Bu Michela mau mati atau hidup. Tapi aku perlu mengingatkan satu hal, jangan ikut campur dalam urusan orang lain, apalagi menasihati orang supaya bercerai."Dia lalu me
Kondisi fisik Michela memang bagus. Hanya dirawat dua hari saja, tubuhnya sudah mulai pulih.Sementara itu, telinga Renee kadang membaik kadang kambuh lagi, tapi dia juga tidak mungkin terus-menerus tinggal di rumah sakit dan menghabiskan uang. Apalagi, akhir-akhir ini studio mereka sedang sangat si







