Share

Bab 9

Author: Caitlyn
Mereka melanjutkan menonton kembang api. Hanya saja, setelah kejadian kecil tadi, Renee semakin kehilangan minat untuk menikmatinya.

Dia teringat pada pertunjukan kembang api di tahun-tahun sebelumnya. Setiap kali, dia pernah memberanikan diri bertanya pada Arvin apakah mereka bisa membawa Renji ke tepi sungai untuk menonton kembang api. Namun, Arvin selalu menolak dengan alasan Renji masih terlalu kecil.

Malam ini, dia justru datang bersama Nissa dan Renji.

Jadi, ternyata bukan karena Renji terlalu kecil, melainkan karena Arvin memang tidak ingin datang bersamanya.

Hatinya yang sudah remuk, kini tenggelam semakin dalam. Tekadnya untuk bercerai pun semakin kuat.

Kembang api berakhir, kerumunan mulai bubar. Renee menggandeng lengan Michela, berjalan ke arah yang berlawanan dari Arvin.

Awalnya dia berpikir bisa menghindari mereka, tak disangka malah berpapasan di pinggir jalan.

Renee tertegun sejenak. Secara refleks, dia menatap ke arah Arvin. Arvin pun sedang menatapnya dan matanya memancarkan ketidaksenangan.

Renee tidak mengerti. Dia yang membawa kekasih barunya menonton kembang api, tetapi malah terlihat tak senang?

Arvin memang selalu sulit ditebak. Renee juga sudah tidak ingin menebak lagi.

"Pak Arvin, kebetulan sekali," sapanya sambil tersenyum tipis.

Arvin mengeratkan pelukannya pada Renji, lalu menatapnya dengan dingin. "Ngambek sampai anak sendiri pun nggak mau diurus lagi ya?"

Renee menatap Renji. Anak kecil itu merasakan tatapan ibunya. Alis mungilnya berkerut, lalu dia spontan bersandar ke pelukan Nissa.

"Nggak mau Mama ... mau Mama Nissa." Wajah mungilnya penuh keseriusan, tanpa sedikit pun rasa takut membuat mamanya sedih.

"Renji, nggak boleh bicara begitu. Mama itu yang paling sayang sama kamu, tahu?" Nissa segera meraih tubuh mungil itu, lalu membujuk dengan lembut, "Renji anak baik, biarkan Mama gendong sebentar ya?"

"Nggak mau Mama ...." Renji justru semakin menempel di pelukan Nissa. Nissa tidak bisa membujuknya lagi, jadi akhirnya hanya menatap Renee sambil tersenyum sopan.

"Bu Renee, jangan salah paham. Mungkin Renji sudah terlalu lama nggak bertemu denganmu."

"Nggak apa-apa." Renee perlahan menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu berkata dengan nada datar, "Kalau Renji nggak mau sama aku, aku pulang saja dulu."

"Tunggu." Arvin menahan pergelangan tangannya, menatap wajah sampingnya. "Kita pulang bersama."

Pulang bersama? Ke mana? Ke rumah lama Keluarga Suryana? Atau ke rumah mereka yang dulu? Ke mana pun itu, Renee tidak ingin bersamanya lagi.

Dia berusaha menarik tangannya, sedikit demi sedikit, hingga lolos dari genggaman Arvin. "Nggak usah, kamu antar saja Bu Nissa dan Renji pulang."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan pergi.

"Kamu belum puas bikin masalah?" Arvin melangkah cepat hendak menarik lengannya lagi.

"Pak Arvin!" Michela segera berdiri di depannya tanpa basa-basi. "Tolong jaga sikap. Renee sekarang bukan lagi istrimu. Silakan pulang dengan pelacur dan anak kesayanganmu, jangan ganggu dia lagi."

Tatapan Arvin langsung menjadi suram. Nissa yang di sampingnya pun naik pitam.

"Kamu bilang siapa pelacur?"

"Siapa pun yang merebut suami orang." Michela menyapunya dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. "Kenapa? Kamu ini guru les yang katanya mulia itu, mau mengakui sendiri?"

"Kamu ...." Nissa nyaris tak bisa menahan diri. Namun, dia segera menekan emosinya, menggigit bibir seolah-olah menahan tangis.

"Kamu salah paham. Aku ini cuma guru privat Renji."

"Oh, guru privat?" Michela menatapnya, lalu melirik Arvin, dan tanpa sopan meludah ke arah mereka berdua. "Cih!"

Wajah Arvin semakin kelam. Dia tidak ingin membuang waktu berdebat dengan Michela.

Suara beratnya terdengar di belakang Renee yang sudah menjauh. "Renee, kamu nggak ngerti bahasa manusia ya? Ikut aku pulang."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Wati Mulyati
ingat beda istri beda nasib udah lepasin aja renre masih ada laki-laki yang lain yg akan hadir.tar juga dia nyesel sendiri tuh di renji
goodnovel comment avatar
Rolin Lasibey
ceritanya seru sekali
goodnovel comment avatar
Yanti Fordatkosu
ceritanya seru
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status