แชร์

Bab 10

ผู้เขียน: Caitlyn
Renee sebenarnya bisa mendengar dengan jelas kata-kata Arvin, tetapi kali ini suaranya seolah-olah kabur di telinganya.

Dia menatapnya, lalu perlahan melepas alat bantu dengar dari telinganya, tepat di depan wajah pria itu. Gerakan kecil itu langsung membuat Arvin terdiam. Wajah tampannya yang biasanya dingin, kini meredup di bawah cahaya malam.

Arvin tahu betul arti dari tindakan itu. Renee memang tidak pernah berani bersikap keras padanya,

tetapi dia pernah melihat cara Renee memutus percakapan dengan orang lain, yaitu dengan sengaja melepas alat bantu dengar di depan mereka.

Itu artinya apa? Itu berarti dia menyuruh pihak lawan untuk diam.

Tak pernah terpikir olehnya, bahwa suatu hari Renee akan melakukan hal yang sama padanya.

Cahaya lampu jalan membuat bayangan tubuh Renee tampak ramping dan rapuh. Michela memeluk bahunya dengan lembut. "Renee, dunia ini bukan cuma ada Arvin dan Renji. Masih banyak hal indah lainnya, seperti kembang api malam ini."

Michela berbicara di dekat telinganya. Renee berusaha mendengar, lalu tersenyum pahit. "Aku tahu."

Keesokan harinya setelah pertunjukan kembang api, Renee menerima pesan dari Rosa. Renji demam.

Hatinya langsung mencelos. Dia buru-buru menelepon untuk menanyakan keadaan Renji.

Rosa menjelaskan bahwa si kecil baik-baik saja di siang hari, tetapi malamnya tiba-tiba demam tinggi.

"Gurunya di mana? Nggak menemaninya?"

"Eh ... ada kok."

Renee terdiam. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali tenang. "Baiklah, tolong jaga Renji dengan baik ya. Terima kasih."

"Nyonya ... nggak mau datang jenguk?"

Wajar kalau Rosa terkejut. Biasanya kalau Renji sakit sedikit saja, Renee akan panik setengah mati,

menangis dan memohon agar Arvin membawanya pulang ke rumah lama Keluarga Suryana untuk melihat anaknya.

"Nggak perlu. Aku bukan dokter. Lagi pula, dia sudah dijaga kalian semua, 'kan?" sahut Renee pelan, menahan rasa getir di dadanya.

Di seberang, Rosa menggenggam ponselnya erat-erat, lalu melirik ke arah Arvin yang sedang duduk di sofa. "Tuan, Nyonya bilang ...."

"Aku dengar semuanya," sela Arvin.

Dia menekan puntung rokok di asbak, wajahnya tampak muram. Setelah bangkit, dia hanya meninggalkan satu perintah, "Panggilkan dokter keluarga. Pastikan Renji dijaga dengan baik."

"Baik, Tuan." Rosa menatap punggung pria itu yang menjauh. Entah kenapa, menurutnya akhir-akhir ini bukan hanya Renee yang berubah, tetapi Arvin juga. Sama-sama menjadi aneh.

Setelah menutup telepon, Renee menatap ke luar jendela. Langit sudah gelap. Dia merapikan meja kerjanya, lalu mengambil tas untuk pulang.

Saat sedang menunggu bus, sebuah mobil Bentley hitam berhenti perlahan di depannya. Dari jendela yang turun setengah, muncul wajah tampan Nathan dengan senyuman hangatnya.

"Bu Renee, kebetulan sekali. Biar aku antar kamu pulang."

Renee sempat tertegun, lalu dia cepat-cepat menggeleng. "Nggak perlu, terima kasih. Aku tunggu bus saja."

"Bu Renee, kita saling kenal ya?"

"Kenapa kamu tanya begitu?"

"Karena kamu terus menghindariku."

Renee terdiam, tak tahu harus menjawab apa.

Gedung Grup Gumarang memang bersebelahan dengan tempat kerjanya. Dalam seminggu ini saja, mereka sudah bertemu tiga kali. Setiap kali bertemu, Renee berpura-pura tidak melihat, lalu buru-buru menghindar. Ternyata Nathan menyadarinya.

"Kalau terus begini, aku bisa salah paham lho. Aku bisa pikir kamu habis melakukan sesuatu yang bikin aku marah."

Ucapan itu sukses membuat Renee naik ke mobil. Untuk pertama kalinya, dia duduk begitu dekat dengan pria yang dulu hampir menjadi suaminya.

Renee menggenggam sabuk pengamannya erat-erat. Tubuhnya kaku karena gugup.

Nathan melihatnya tegang, jadi tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana. "Jangan khawatir, aku cuma bercanda. Aku dengar kamu kerja di bidang desain busana ya? Aku sebenarnya ingin bicara sedikit soal kerja sama."

"Kerja sama?" Begitu tahu itu urusan pekerjaan, Renee diam-diam merasa lega. Namun, masih dengan nada waspada, dia bertanya, "Aku ini cuma desainer pemula, baru masuk kerja. Kerja sama seperti apa yang kamu maksud?"

"Justru desainer pemula itu yang paling menarik," jawab Nathan dengan tulus. Kedua tangannya menggenggam setir. "Kami butuh orang yang punya ide baru."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
retno kustiati
makin seru nih ceritanya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status