Share

3. Langkah Pertama

Penulis: 5Lluna
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 20:16:50

"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.

Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya.

"Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"

Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya.

"Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak.

"Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis.

"Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karena aku tidak mirip dengan mereka."

Kuku jempol Lyn, menggesek sisi jari telunjuk secara berulang. Keningnya makin mengerut, berusaha memikirkan hal yang paling masuk akal. Tapi, yang terjadi sekarang saja sebenarnya sudah tidak masuk akal.

"Kalau begitu, ini bisa saja dunia yang berbeda." Perempuan itu diam sejenak. "Multiverse, seperti yang ada di film-film itu."

"Katakan saja seperti itu." Lyn mengangguk. "Masalahnya sekarang, kenapa aku harus jadi Lynette? Dia kan gadis yang selalu di-bully semua orang dan punya akhir tragis."

"Demi apa pun, aku mau tetap hidup. Tidak di sini."

Lyn beranjak dari tempatnya duduk, sambil menutup buku. Dia berjalan mondar-mandir, menggerakkan jempol dan menggesek jari telunjuknya lagi.

"Tuan Vale," ucap Lyn tiba-tiba saja berhenti.

"Aku ingat waktu tenggelam tadi, sempat mendengar nama Tuan Vale. Lelaki yang hanya menatapku waktu aku minta tolong."

"Apa itu Julian Vale?" tanya Lyn kembali menggores jari telunjuknya. "Tapi bukannya dia itu penjahat dari drama yang lain? Dunia pararel?"

Lyn mengembuskan napas dengan keras. Dia kembali duduk, membuka kembali buku yang tadi sudah dia tutup dan menulis nama Julian Vale dan sedikit informasi yang dia ingat.

[Lelaki yang jadi jahat karena situasi]

Tatapan Lyn tertuju pada tulisan yang baru saja dia tulis. Kening yang masih berkerut, sambil menggerakkan jempolnya, walau sedikit terganggu karena ada pulpen.

"Aku harus bisa bertemu dengan Tuan Vale ini." Lyn menekan pulpennya, di sebelah tulisan nama yang dia sebut. "Pastikan dia adalah Julian Vale, lalu aku mungkin bisa minta bantuannya."

***

Lyn duduk tegak di atas ranjangnya, ketika hari sudah beranjak pagi. Rambutnya sudah rapi, dan pakaiannya terlihat sederhana. Dia duduk menunggu dengan sopan, setidaknya akan ada makanan yang datang.

"Sudah jam sepuluh," gumam Lyn kini berdiri menatap pintu kamarnya dengan mata melotot. "Dan tidak ada yang datang. Mereka santai sekali."

Baru saja Lyn menggerutu, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar. Suaranya terdengar cukup keras, membuat yang empunya kamar terlonjak.

"Jangan terlalu keras. Nanti Lyn terkejut." Suara seorang perempuan terdengar.

"Dia tidak akan terkejut untuk hal seperti ini." Kini suara bariton yang terdengar.

"Oh, Lyn." Iris yang membawa nampan, langsung mendekat ketika melihat pemilik kamar. "Aku bawa sarapan untukmu."

Lyn menatap nampan yang dibawa perempuan dengan senyum cerah di depannya. Sebuah roti yang terlihat keras, seperti sudah di simpan selama beberapa hari dan segelas susu yang sepertinya sudah dingin. Hanya itu saja.

"Terima kasih sudah mengingatku," ucap Lyn memaksakan sedikit senyum, memilih untuk bereaksi dengan lebih tenang. "Setidaknya, tidak akan ada gosip aneh yang akan terdengar nantinya."

"Apa maksudmu?" Lelaki yang menemani Iris langsung menghardik.

"Soal aku tidak diselamatkan saat tenggelam kemarin," ucap Lyn menunduk. "Kemudian diseret dan dikurung dalam kamar."

"Tidak akan ada yang akan berpikir seperti itu. Jangan berpikir negatif, Lyn." Iris masih mencoba jadi orang baik.

"Orang-orang akan mulai bergosip, kalau mereka tidak melihatku. Sejujurnya, aku pernah dengar seseorang mengatakan hal seperti itu sebelumnya."

Dua orang yang datang berkunjung itu saling menatap. Sepertinya, mereka tidak terlalu percaya dengan ucapan Lyn.

"Mungkin sudah jadi nasibku dibicarakan orang-orang di luar sana." Lyn segera menambahkan. "Padahal, aku hanya mau yang terbaik untuk keluarga Moore."

"Aku akan bicara pada Ayah dan Ibu." Iris dengan cepat membalas. "Aku akan minta kau dibiarkan jalan-jalan keluar."

"Iris."

"Tidak apa-apa." Iris tersenyum lebar pada lelaki di sebelahnya. "Ini demi kebaikan keluarga kita."

"Kalau begitu, biar aku saja yang beri izin." Lelaki itu berdecak pelan. "Ini untuk Iris dan keluarga, jadi kau sebaiknya tidak macam-macam di luar sana Lynette."

Lyn tidak banyak bicara dan hanya mengangguk saja. Dia bahkan membiarkan Iris menepuk lengannya dengan pelan, sebelum keluar dari kamar yang cukup sempit itu. Setelah pintu kamar tertutup, salah satu sudut bibir Lyn terangkat.

"Oke, sekarang saatnya pergi mencari Julian Vale," ucap Lyn, mengambil tas selempang yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   8. Ketika Mereka Tertawa

    Kerutan di dahi Lyn belum pudar, walau sekarang dia sudah kembali ke kamar. Masih menatap ponsel, sambil menyendok kentang tumbuk sisa makan malam semua orang. Tatapan Lyn tertuju pada nomor asing yang mengirim pesan padanya. Dia belum membuka pesan itu, tapi bisa membacanya dari luar. Hanya saja, Lyn masih merasa bingung dengan isi pesan itu. [+00xxxxxxxx: Kaka pekawai baru.] [+00xxxxxxxx: Beso lagi.] Senyum Lyn mengembang tanpa sadar, ketika membaca pesan itu. Dari caranya menulis saja, dia sudah tahu siapa yang mengirim. "Tapi, bagaimana aku harus kasih tahu dia?" gumam Lyn mengembuskan napas. "Aku kan tidak bekerja di sekolah itu." Lyn berdecak pelan. Dia tidak tega untuk menolak si pengirim pesan, tapi juga tidak bisa memaksa untuk pergi ke taman kanak-kanak dan memohon pekerjaan. "Tapi kan aku butuh pekerjaan." Lyn mengembuskan napas pelan. "Sayangnya, keluar saja aku masih butuh izin. Bagaimana bisa kerja?" Jemari Lyn mengetuk pinggiran ponsel. Hanya sebentar,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   7. Hukuman Tak Terasa Asing Lagi

    "Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu."Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE."Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru."Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?""Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung."Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini."Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   6. Terlanjur Masuk

    Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu."Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar."Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja.""Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah."Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya."Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun.Herannya, lelaki yang mendampingi

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   5. Sebelum Papa Datang

    "Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira."Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik.""Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   4. Tidak Sesuai Rencana

    Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali berg

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   3. Langkah Pertama

    "Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya. "Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak."Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis."Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status