LOGINKeesokan harinya, tepat pukul tiga sore, Ringgo muncul di kantor Randy. Pria berusia tiga puluh tahun dengan wajah biasa-biasa saja dan penampilan yang tidak mencolok itu melangkah masuk ke ruangan besar dengan pemandangan kota yang membentang di balik jendela kaca.
Saat itu, Randy sedang mendatangi kontrak bersama Alfons dan Sharon. Ketiganya duduk di meja bundar di sudut ruangan, dikelilingi tumpukan dokumen dan laptop. Alfons sedang menjelaskan detail sebuah proyek baru, sementara Sharon sibuk mencatat dengan posisi duduk yang dibuat seanggun mungkin.
Begitu melihat Ringgo masuk, Randy langsung menghentikan pertemuan itu. "Alfons, Sharon, kalian bisa keluar sekarang. Aku ada urusan penting dengan Ringgo."
Alfons mengangkat alisnya. "Urusan apa? Apa ada proyek rahasia yang tidak boleh aku tahu?"
"Tidak ada proyek. Hanya masalah personal. Tolong keluar sekarang."
Sharon menatap Ringgo dengan curiga. Ada sesuatu pada cara Randy memperlakukan pria ini yang membuatnya tidak nyaman. Ringgo bukanlah karyawan level tinggi. Posisinya hanya staf umum. Tapi kenapa Randy begitu mempercayainya? Bahkan lebih dari Alfons, sepupunya Randy sendiri?
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu," Alfons berdiri dan mengumpulkan dokumen-dokumennya. "Sharon, ayo."
Sharon bangkit dengan enggan. Ia masih menatap Ringgo dengan pandangan menyelidik. Tapi ia tidak bisa membantah perintah langsung dari bosnya. Ia mengikuti Alfons keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, Randy langsung memerintahkan Ringgo, "Kunci pintunya."
Ringgo menurut. Ia memutar kunci di pintu, memastikan tidak ada yang bisa masuk tanpa izin. Kemudian ia berbalik menghadap bosnya.
Di luar ruangan, Sharon berdiri dengan perasaan penasaran yang membara. "Apa yang sedang terjadi, Pak Alfons? Kenapa Pak Randy mengunci diri bersama Ringgo? Ada masalah apa?"
Alfons mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Mungkin ada urusan bisnis yang tidak boleh diketahui orang lain."
"Tapi Ringgo hanya staf umum. Kenapa Pak Randy begitu mempercayainya?"
"Aku juga tidak tahu. Ringgo memang sudah lama bekerja di sini. Dia sangat bisa diandalkan. Mungkin Randy punya alasan sendiri untuk mempercayainya."
"Tapi..." Sharon ingin terus bertanya, tapi Alfons sudah berjalan pergi. "Sudahlah, tidak usah terlalu penasaran. Itu bukan urusan kita."
Sharon menatap pintu ruangan Randy yang tertutup rapat. Perasaannya tidak enak. Ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan ia tidak tahu apa itu.
***
Sementara itu di dalam ruangan, Ringgo mulai melaporkan hasil penyelidikannya.
"Saya sudah menemukan tempat tinggal Miranda, Bos," katanya sambil membuka sebuah map kecil. "Dia tinggal di sebuah rumah kost di gang sempit, sekitar tiga ratus meter dari restoran tempat dia bekerja."
"Rumah kost?"
"Ya, Bos. Rumah kost yang sangat sederhana. Bangunannya sudah tua, catnya mengelupas di mana-mana. Kamar yang disewanya sangat sempit, mungkin hanya tiga kali tiga meter. Kamar mandi di luar, digunakan bersama dengan penghuni kost lainnya."
Randy merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sesak. Ia membayangkan Miranda, gadis yang pernah tidur dengannya di hotel mewah, kini tinggal di tempat seperti itu. "Dia tinggal sendiri?"
"Ya, Bos. Sendirian. Tidak ada lelaki yang tinggal bersamanya." Ringgo melanjutkan laporannya dengan suara datar.
Jantung Randy berdetak lebih kencang. 'Jadi Sharon berbohong? Miranda tidak hidup dengan banyak lelaki? Miranda tidak bergonta-ganti pria?'
"Apakah kau yakin dengan semua informasi ini, Ringgo?"
"Sangat yakin, Bos. Saya sudah memverifikasi dari beberapa sumber berbeda. Semuanya konsisten."
Randy terdiam. Pikirannya berkecamuk. 'Mungkinkah anak itu adalah anakku?'
Randy merasakan campuran emosi yang aneh. Di satu sisi, ada kebahagiaan. Anak yang dikandung Miranda adalah darah dagingnya. Ia akan menjadi seorang ayah. Di sisi lain, ada rasa bersalah yang sangat dalam. Miranda menderita selama sembilan bulan terakhir, dan itu semua karena dirinya. Karena ia meninggalkannya begitu saja di kamar hotel. Karena ia tidak segera mencarinya.
***
Matahari sore bersinar dengan warna jingga keemasan ketika Randy menghentikan mobilnya di mulut sebuah gang sempit. Ia memeriksa alamat di ponselnya sekali lagi, memastikan bahwa ini adalah tempat yang benar. Alamat yang diberikan Ringgo beberapa jam yang lalu.
Gang itu sangat sempit, hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Mobil tidak akan bisa masuk. Di kiri kanan gang berjajar rumah-rumah petak sederhana dengan dinding yang mengelupas. Pakaian-pakaian dijemur di depan pintu. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, tertawa-tawa mengejar bola plastik yang sudah kempis. Bau tidak sedap dari selokan bercampur dengan aroma masakan dari dapur-dapur terbuka.
Randy melangkah masuk ke dalam gang. Jas mahalnya terlihat sangat kontras dengan lingkungan di sekitarnya.
Beberapa penghuni gang menatapnya dengan heran. Pria setelan jas di gang kumuh seperti ini adalah pemandangan yang sangat langka.
Ia melewati sebuah warung kecil di mana beberapa ibu-ibu sedang bergosip. Melewati tukang sol sepatu yang sedang bekerja di pinggir jalan. Melewati seorang kakek yang sedang tidur di kursi rotan di depan rumahnya. Semua menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Akhirnya ia sampai di depan sebuah rumah kost tua. Bangunan dua lantai dengan cat yang sudah memudar dan mengelupas di banyak bagian. Dindingnya retak-retak. Jendela-jendelanya berkarat. Sebuah papan bertuliskan "Kost Putri" tergantung miring di atas pintu.
'Inikah tempat tinggalnya?' Randy mengernyitkan dahinya. 'Di tempat seperti ini?'
Nomor kamar yang dituju adalah kamar nomor delapan, terletak di ujung lorong. Sebuah kamar dengan pintu kayu yang sudah lapuk. Cat putihnya sudah menguning dan terkelupas. Nomor kamar, angka delapan yang terbuat dari kuningan murahan, tergantung miring dengan satu paku.
Randy berdiri di depan pintu itu, tiba-tiba merasa ragu. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana ia harus memulai percakapan? Dan yang terpenting, apa yang akan ia lakukan jika ternyata anak yang dikandung Miranda benar-benar anaknya?
Ia mengetuk pintu tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
Dari dalam terdengar suara langkah kaki yang pelan dan berat. Suara seseorang yang berjalan dengan susah payah. Kemudian suara kunci diputar, dan pintu terbuka.
Miranda berdiri di ambang pintu dengan perutnya yang sangat besar. Ia mengenakan daster lusuh dengan motif bunga-bunga yang sudah pudar. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai terlepas dan menempel di keningnya yang berkeringat. Wajahnya pucat, tanpa make up, jelas terlihat lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, menandakan bahwa ia kurang tidur.
Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya, mata Miranda terbelalak lebar. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya menegang. Tangannya yang memegangi gagang pintu bergetar hebat.
"Apa kamu masih mengingatku?" tanya Randy, suaranya pelan namun jelas.
Miranda menatap pria di depannya. Wajah itu. Wajah yang tidak akan pernah bisa dilupakannya seumur hidup. Wajah pria yang telah mengambil kesuciannya sembilan bulan lalu. Wajah pria yang adalah ayah dari bayi yang dikandungnya.
Perlahan, ia mengangguk. "Tentu saja aku masih ingat."
Randy menghentikan langkahnya dan menatap Sharon dingin. Ia tidak berniat menjelaskan detail tentang Miranda atau bayi mereka. Ia hanya ingin mengakhiri semua kepura-puraan ini."Aku minta maaf, Sharon," ucap Randy singkat, tanpa nada penyesalan yang tulus, lebih seperti formalitas basa-basi.Permintaan maaf singkat itu justru memicu kemarahan Sharon. Ia merasa diremehkan. "Cuma itu? Kau cuma minta maaf? Setelah mempermalukanku di depan seluruh kolega bisnis keluarga kita?"Randy menatap lurus ke mata Sharon. "Kalau gitu, pertunangan kita dibatalkan, Sharon. Secara resmi. Aku tidak akan menikahimu."Wajah Sharon memucat, lalu berubah merah padam karena amarah. "Kau tidak bisa berbuat semaumu! Ibuku sudah menyiapkan segalanya! Keluarga kami sudah dipermalukan!""Itu masalahmu. Aku cuma bisa memberikan ganti rugi materi," jawab Randy dingin. "Dan jika kau ingin membuat keributan, silakan. Aku tidak peduli."Sharon gemetar. Ancaman tersirat terlintas di benaknya. "Jika kau membatalkan in
Randy melangkah pelan menuju ruang rawat inap tempat Miranda dirawat. Suasana di koridor rumah sakit itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema lembut di lantai keramik. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, seolah takut suara engsel pintu akan mengganggu ketenangan di dalamnya.Di atas ranjang rumah sakit, Miranda masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat kontras dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya yang kurus. Selang infus terpasang di lengan kirinya, mengalirkan cairan bening ke dalam pembuluh darahnya yang tampak menonjol karena terlalu kurus. Efek dari jatuh tangga dan proses persalinan yang sulit telah menguras seluruh tenaga gadis itu. Ia terlihat begitu rapuh, begitu menyedihkan, hingga dada Randy terasa sesak saat melihatnya.Randy menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia menatap wajah Miranda lekat-lekat. Ingatan tentang malam sembilan bulan lalu menyeruak kembali dengan jelas, menghantam kesadarannya seperti ombak besar.Mala
Randy kembali menatap bayinya. "Karena bayiku baru saja lahir, Alfons. Bayiku dan ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan kau bertanya padaku tentang acara pertunangan?"Alfons terdiam. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berubah pada diri Randy. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ada kelembutan dalam tatapan pria itu. Kelembutan yang tidak pernah muncul saat Randy berbicara tentang Sharon atau tentang pertunangannya."Baiklah," kata Alfons akhirnya. "Ceritakan semuanya padaku. Aku akan mendengarkan."Randy menoleh pada Alfons. "Kau akan mendengarkan? Tanpa menghakimi?""Tanpa menghakimi. Aku janji."Randy menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan menuju kursi tunggu dan duduk. Alfons mengikutinya."Semuanya bermula sekitar sembilan bulan yang lalu," Randy memulai ceritanya. "Saat itu aku sedang menghadiri sebuah acara pameran. Di sana, aku merasakan sesuatu terjadi padaku. Tubuhku menjadi panas. Nafsu tidak bisa kutahan. Aku merasa seperti kehilangan kendali atas
Randy masih berdiri di dalam ruang bayi, menatap bayi mungil yang baru saja lahir dari rahim Miranda. Bayi itu terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil terlihat sangat rapuh dengan selang-selang yang terpasang di sana sini. Namun meskipun begitu, ada sesuatu yang membuat Randy tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pintu ruangan terbuka. Dokter kandungan yang tadi menangani persalinan Miranda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya masih menunjukkan kelelahan setelah berjam-jam bekerja, tapi ada senyum tipis di bibirnya."Tuan Randy," panggil dokter itu.Randy menoleh. "Dokter, bagaimana kondisi ibunya? Apa dia sudah sadar?""Kondisi ibunya sudah stabil. Dia masih belum sadarkan diri karena efek bius dan kelelahan. Tapi tanda-tanda vitalnya normal. Dia akan segera pulih."Randy menghembuskan nafas lega. "Syukurlah.""Namun ada satu hal yang perlu saya sampaikan," dokter itu melanjutkan. "Kami sedang menyiapkan ruang NICU unt
Sementara itu, di gedung pertunangan, suasana mulai berubah. Para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, menunggu acara dimulai. Tapi Randy tidak kunjung muncul. Sharon berdiri di dekat panggung, wajahnya pucat dan tegang. Para tamu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya di mana calon mempelai pria berada."Di mana Randy? Kenapa belum juga datang?" tanya seorang tamu."Katanya calon mempelai pria ada urusan mendadak.""Urusan apa yang lebih penting dari pertunangan sendiri?"Sharon mendengar bisikan-bisikan itu dan wajahnya semakin pucat. Ia meremas tangannya sendiri, menahan rasa malu yang luar biasa.Alya, sang ibu palsu, mendekatinya. "Nona, di mana calon suami Nona? Para tamu sudah menunggu.""Aku tidak tahu, Alya. Dia... dia menghilang begitu saja.""Menghilang? Bagaimana bisa? Ini acaranya sendiri!"Alya memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia berjalan ke arah Clara dan Ratna yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa dan marah, persis seperti
Randy berdiri di sudut aula gedung pertunangan, menatap kerumunan tamu yang semakin padat. Suara musik mengalun lembut dari panggung, bercampur dengan obrolan dan tawa para tamu. Tapi semua itu terasa seperti suara yang berasal dari dunia lain. Dunia yang tidak bisa dijangkau oleh hatinya.'Aku tidak bisa terus di sini. Aku perlu udara segar.'Ia meneguk sisa sampanye di gelasnya dan meletakkannya di nampan pelayan yang lewat. Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju pintu belakang gedung. Ia butuh waktu sendiri. Ia butuh menjauh dari kerumunan, dari Sharon, dari semua kepura-puraan ini.Saat itulah ia mendengarnya. Sebuah teriakan yang terdengar sangat menyayat hati. Teriakan seorang wanita yang penuh dengan kepanikan dan kesakitan."Tolong! Tolong bayiku!"Randy membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. Teriakan itu berasal dari arah tangga belakang. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju sumber suara.Sesampainya di sana, ia melihat tubuh seseorang terbaring di dasar ta







