تسجيل الدخول
Dengan pencahayaan yang minim dan beban berat yang menumpu tubuhnya, Kilaara membuka mata pelan-pelan sembari beradaptasi dengan suasana yang agak asing dan dingin.
Ya, tentu saja kamar ini terasa dingin hingga membuatnya menggigil karena—Kilaara menunduk ke bawah dan menyadari bahwa ia sedang telanjang, benar-benar tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya. Oke, dia telanjang. Seperti bayi. Kilaara tersenyum remeh, masih tampak linglung dan merasa ini semua mimpi. Lucu juga sih, di dalam mimpi ia tidur sambil telanjang dengan tangan pria yang memeluknya dari belakang. Haha, lucu. Kilaara pun tertawa kecil. Baiklah, dia harus terbangun dari mimpi konyol ini sebelum mimpinya bertambah vulgar karena ia mulai berimajinasi macam-macam seperti berbagai gaya bercinta di kamasutra. Sesaat Kilaara menggerakkan paha kanannya, ia langsung meringis lantaran bagian paling intim di tubuhnya terasa perih dan tak nyaman. Sungguh, Kilaara bahkan menduga bahwa itunya sudah robek. Jangan-jangan inikah yang namanya.... "Pecah perawan? Hahaha tapi ini kan mimpi. Jadi gak mungkin lah." Kilaara berbisik sendiri sambil menutupi matanya dengan tangan. Dia mulai bergerak lagi, sampai rasa perih itu kembali melandanya. "Demi apa." Kilaara sontak terbangun dari rebahannya, tanpa peduli jika gerakan tiba-tiba itu akan membangunkan seorang pria yang lengannya tampak seksi karena berotot, "ini nyata woy." "Mati gue. Mati gue." Mengabaikan pusing dan pegal-pegal di seluruh badannya, Kilaara menyingkirkan tangan dan kaki pria yang menindihnya demi turun dari ranjang dan mulai mencari baju yang terlipat rapi di atas meja. Astaga, siapa yang melipat pakaiannya itu? Bahkan celana dalam dan bra miliknya pun ditaruh dengan apik di sebelah bajunya. "Alkohol sial. Jahanam! Gara-gara lo, gue jadi tak suci lagi," dumel Kilaara seraya memakai pakaiannya satu per satu. Sekarang, Kilaara ingat dengan kejadian semalam yang membawanya sampai ke kamar ini. Ulang tahun perusahaan. Pesta, minum-minum, joget-joget sampai puas karena diadakan di sebuah kelab malam, di dalam hotel bintang lima milik bosnya, Adrian Sachdev, pria seksi, tampan, tajir, dan idaman seluruh wanita di kantor. Walaupun usianya cukup terbilang tua—bagi Kilaara yang baru berumur dua puluh tiga tahun, tentu saja Adrian yang berumur tiga puluh lima itu terasa tua—namun, penampilan fisik dan kharisma pria itu tidak main-main. Bosnya memang ganteng, tapi bukan tipe Kilaara. Kilaara lebih suka pria yang terlihat baik-baik alias good boy, pemalu, pakai kacamata, lembut, dan sebagainya. Bukan seperti Adrian yang lebih mirip casanova dengan tampang yang bikin cewek-cewek rela ditiduri olehnya. Well, meski Kilaara tak pernah mendengar gosip bahwa Adrian punya pacar baru setelah istrinya meninggal, tapi tetap saja dia terlihat seperti playboy kakap. Kilaara jadi kasihan pada Imo, anaknya yang masih kecil. Punya bapak yang banyak fans fanatik begitu. Pasti hidupnya tidak tenang deh. "Oke. Sekarang saatnya gue kabur." Kilaara mengambil tas di atas meja, dan mengecek isi di dalamnya. Syukurlah, semua barangnya masih lengkap, kecuali... "hape gue mana?" Mata Kilaara mulai menelusuri isi kamar, mulai dari nakas, tempat tidur, hingga meja televisi, namun benda tipis itu belum kelihatan wujudnya. Partner seks satu malam yang wajahnya tertutup oleh lengannya sendiri itu juga masih tertidur dengan lelap, seolah tidak terganggu oleh gerakan Kilaara yang grasak-grusuk. Mungkin dia sedang bermimpi indah. Atau dia kelelahan karena melewati beberapa ronde tadi malam. Gila aja sih. Kilaara pun masih merasakan kaki dan pahanya bergetar, pertanda semalam ia bercinta dengan hebat meski ini pengalaman pertamanya. Dia masih polos, memang, tapi Kilaara tetap paham teori-teorinya sebab ia pernah menonton p**n atau mendengar cerita dari teman kosannya. "Uhh jangan-jangan hp gue ditindih oleh dia lagi." Kilaara berjalan sangat pelan, berusaha seminim mungkin untuk tidak mengeluarkan suara. Pria itu juga telanjang, namun dari bagian perut hingga kakinya tertutupi oleh selimut. Dalam hati, Kilaara membatin, kenapa hanya dia yang terekspos saat terbangun tadi? Kalau di kamar ini ada kamera CCTV, sudah pasti tubuh telanjangnya akan viral di sosial media. Setelah tiba di sisi ranjang yang lain, Kilaara akhirnya menemukan ponselnya yang tertindih oleh ponsel lain. Sepertinya, ponsel itu milik pria ini. Ya ampun, bukan cuma orangnya yang menindihnya, tapi ponselnya pun ikut-ikutan. "Gila! Tinggal sepuluh persen lagi!" Kilaara mendumel kala melihat baterai yang sekarat. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini, memesan taksi, dan melupakan kejadian nikmat tapi ternoda ini selamanya. Baiklah, mungkin dia memang menyayangkan soal keperawanan yang sudah raib, tapi ia tak perlu menyesali hal yang sudah terjadi. Mau ditangisi berhari-hari pun, selaput daranya yang sudah robek tak kan bisa kembali pulih. Namun saat Kilaara tengah memakai sepatu, ia kembali salah fokus saat melihat pundak pria itu yang terdapat bekas kemerahan cukup banyak. Mulut Kilaara sontak menganga, segera menepis pikiran kotornya bahwa itu semua tidak mungkin ulahnya. Bukan hanya itu. Ketika Kilaara melihat lebih jelas, di bagian leher juga terlihat beberapa kissmark. Sementara di tubuhnya—Kilaara langsung mengintip dari balik bajunya—tidak ada bekas cupang apapun. Oh tidak. Apakah dia terlalu liar semalam? "Tidak mungkin." Kilaara masih berdalih kalau apa yang dilihat olehnya cuma ilusi saja. Mungkin dia masih hangover akibat minum satu gelas vodka tadi malam. Sial, air yang dia kira hanya air mineral biasa ternyata alkohol berkadar tinggi. Siapapun yang memberikan minuman itu tadi malam padanya, tidak akan Kilaara maafkan. Sebelum Kilaara benar-benar pergi, ia menulis sesuatu di kertas yang biasanya disediakan oleh hotel di dekat telepon. Ia juga meninggalkan sejumlah uang untuk pria itu. Mungkin saja, pria itu cuma pelayan kelab biasa yang tak punya uang. Kasihan juga kan kalau dia tidak bisa pulang karena tak ada ongkos. Atau bisa jadi, pria itu seorang pengangguran yang depresi karena tak diterima kerja sehingga ia menghabiskan malam dengan minum-minum. Tapi setelah dipikir-pikir, kalau dia memang beneran kere, bagaimana bisa pria ini masuk ke dalam kelab kelas atas dimana harga es jeruk saja bisa membeli makan siangnya selama satu minggu. Ah, masa bodohlah, pikiran Kilaara yang selalu overthinking ini selalu menghambatnya dalam mengambil keputusan cepat. Ia harus segera pergi atau pria ini akan bangun sebentar lagi karena matahari sudah mulai memancarkan sinarnya ke dalam kamar yang luxury ini. Kilaara pun membuka pintu kamar hotel setelah melihat bentuk punggung pria yang sering dia lihat di majalah. Dia pasti sering gym. Oke, ini yang terakhir kalinya Kilaara memandangi punggung indah itu. "Selamat tinggal, partner one night stand-ku." .Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny
Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K
"Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa
Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu
Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken







