بيت / Romansa / CEO yang Kubayar Setelah Semalam / Part 2 - Harga Diri Sang CEO tercoreng

مشاركة

Part 2 - Harga Diri Sang CEO tercoreng

مؤلف: Atika
last update تاريخ النشر: 2026-05-21 13:27:36

Adrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde.

Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil—istrinya yang sudah meninggal empat tahun lalu, tepatnya ia pergi saat melahirkan Imo, putra semata wayangnya yang lucu dan gemesin.

Adrian pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Cecil adalah wanita terakhir yang hadir ke dalam hidupnya yang sepi nan monoton ini. Namun ternyata, janji itu musnah dalam waktu semalam saja setelah ia diserang oleh anak kucing.

Anak kucing yang berubah jadi macan betina di atas ranjang.

Adrian kembali mengerang pelan saat mengingat bagaimana eksotis, panas, dan liarnya mereka bercinta tadi malam. Well, gadis itu masih perawan. Adrian sama sekali tak menyangka jika ia baru saja merusak anak orang. Bahkan Cecil dulu pun sudah tak perawan lagi ketika menikah dengannya.

Memang Adrian sama sekali tak mempermasalahkan soal perawan atau tidak. Baginya, selaput dara pada wanita tidaklah penting. Namun tetap saja, ia sedikit terkejut menerima kenyataan itu. Cukup menyenangkan menjadi pengalaman pertama untuk gadis—bukan, wanita itu. Adrian yakin sekali, wanita itu akan terus mengejar dirinya dan meminta pertanggungjawaban.

"Huh?" Adrian menatap kosong ke sekeliling kamar paling mewah dan mahal di hotel bintang lima, salah satu aset kekayaannya sejak tiga tahun lalu. Kemana anak kucing itu?

Adrian turun dari ranjang lalu memakai boxer miliknya yang terlipat rapi di atas meja. Ya, Adrian-lah yang merapikan semua pakaian miliknya dan wanita itu yang berserakan di lantai tadi malam.

Pintu kamar diketuk lagi dari luar, dan kali ini Adrian menyahut dengan keras dari dalam.

"Tunggu sebentar, Ren!" teriak Adrian pada Reno, adik kandungnya yang merangkap sebagai sekretaris sementara selagi dia magang di kantornya. Ya, Reno masih kuliah semester empat.

"Cepetan kak! Hampir satu jam nih aku tunggu," dumel Reno dari luar.

"Iya iya!"

Sial. Adrian mengumpat kesal ketika menyadari bahwa dia memang sendirian di kamar ini. Bagaimana bisa wanita itu pergi meninggalkannya setelah meninggalkan bekas cakaran dan kissmark di sepanjang tubuhnya? Bawahnya saja yang masih perawan, tapi ternyata sifatnya sangat bertolak belakang. Dia sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab. Kalau wanita itu adalah pegawai di kantornya, tanpa basa-basi, Adrian pasti akan memecat wanita itu sekarang juga.

Lebih sialnya lagi, Adrian sama sekali tak kenal dengan wanita itu. Ia hanya tahu bahwa wanita itu bernama Ara. Adrian tidak bisa mengorek informasi lebih dalam lagi pada orang mabuk berat seperti dia. Itu saja sudah untung dia memberikan namanya. Adrian juga sudah mencoba membuka ponsel milik Ara, namun tak bisa sebab terkunci menggunakan Face ID, dan Face ID tidak akan berfungsi jika pemiliknya menutup mata.

Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat—ia merasa geram setengah mati. Tak lama kemudian, matanya menangkap sesuatu di seprai bagian pinggir ranjang. Sebuah catatan kecil dan uang merah tiga lembar.

Mata Adrian seketika melotot melihat itu. Dengan langkah lebar dan cepat, ia meraih catatan tersebut dan membacanya. Hanya beberapa detik, kertas tipis itu menjadi korban keganasan tangan Adrian.

"Kurang ajar!" teriak Adrian marah. Benar-benar marah sampai dia langsung mengempaskan uang di atas ranjang ke lantai. Menyedihkan sekali nasib uang yang tak bersalah itu.

Adrian lalu memijit keningnya, seolah ingin meredakan kemarahan yang kian meledak di dadanya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan semarah ini. Dalam satu waktu, Adrian merasa puas, lemas, bingung, marah, dan kotor.

Sial, sial. Wanita itu memang meremehkannya. Membuatnya merasa hina seperti gigolo yang habis dipakai dan dibayar. Kalaupun ia ingin berperan sebagai gigolo, Adrian tak akan mau dibayar semurah itu. Ia akan meminta tiga miliyar untuk servis memuaskan yang dia berikan pada wanita itu.

Awas saja kalau ketemu. Awas saja. Adrian bersumpah tidak akan melepaskannya. Ia akan membuatnya menyesal telah menghina dan meninggalkannya seperti sampah. Tentu, Adrian percaya diri akan menemukan wanita itu dengan mudah.

"Kita lihat, Ara sayang. Kamu akan menyesal." Adrian tersenyum miring ketika membayangkan apa saja yang akan terjadi di masa depan.

Ini pasti akan menyenangkan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 10 Malam yang Panas

    Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 9 ONS yang Kedua?

    Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 8 Akal-akalan Adrian

    "Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 7 - Bayar aku juga biar impas!

    Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 6 - Ketahuan

    Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 5 - Bos Pelit

    Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status