ログインAdrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde.
Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil—istrinya yang sudah meninggal empat tahun lalu, tepatnya ia pergi saat melahirkan Imo, putra semata wayangnya yang lucu dan gemesin. Adrian pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Cecil adalah wanita terakhir yang hadir ke dalam hidupnya yang sepi nan monoton ini. Namun ternyata, janji itu musnah dalam waktu semalam saja setelah ia diserang oleh anak kucing. Anak kucing yang berubah jadi macan betina di atas ranjang. Adrian kembali mengerang pelan saat mengingat bagaimana eksotis, panas, dan liarnya mereka bercinta tadi malam. Well, gadis itu masih perawan. Adrian sama sekali tak menyangka jika ia baru saja merusak anak orang. Bahkan Cecil dulu pun sudah tak perawan lagi ketika menikah dengannya. Memang Adrian sama sekali tak mempermasalahkan soal perawan atau tidak. Baginya, selaput dara pada wanita tidaklah penting. Namun tetap saja, ia sedikit terkejut menerima kenyataan itu. Cukup menyenangkan menjadi pengalaman pertama untuk gadis—bukan, wanita itu. Adrian yakin sekali, wanita itu akan terus mengejar dirinya dan meminta pertanggungjawaban. "Huh?" Adrian menatap kosong ke sekeliling kamar paling mewah dan mahal di hotel bintang lima, salah satu aset kekayaannya sejak tiga tahun lalu. Kemana anak kucing itu? Adrian turun dari ranjang lalu memakai boxer miliknya yang terlipat rapi di atas meja. Ya, Adrian-lah yang merapikan semua pakaian miliknya dan wanita itu yang berserakan di lantai tadi malam. Pintu kamar diketuk lagi dari luar, dan kali ini Adrian menyahut dengan keras dari dalam. "Tunggu sebentar, Ren!" teriak Adrian pada Reno, adik kandungnya yang merangkap sebagai sekretaris sementara selagi dia magang di kantornya. Ya, Reno masih kuliah semester empat. "Cepetan kak! Hampir satu jam nih aku tunggu," dumel Reno dari luar. "Iya iya!" Sial. Adrian mengumpat kesal ketika menyadari bahwa dia memang sendirian di kamar ini. Bagaimana bisa wanita itu pergi meninggalkannya setelah meninggalkan bekas cakaran dan kissmark di sepanjang tubuhnya? Bawahnya saja yang masih perawan, tapi ternyata sifatnya sangat bertolak belakang. Dia sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab. Kalau wanita itu adalah pegawai di kantornya, tanpa basa-basi, Adrian pasti akan memecat wanita itu sekarang juga. Lebih sialnya lagi, Adrian sama sekali tak kenal dengan wanita itu. Ia hanya tahu bahwa wanita itu bernama Ara. Adrian tidak bisa mengorek informasi lebih dalam lagi pada orang mabuk berat seperti dia. Itu saja sudah untung dia memberikan namanya. Adrian juga sudah mencoba membuka ponsel milik Ara, namun tak bisa sebab terkunci menggunakan Face ID, dan Face ID tidak akan berfungsi jika pemiliknya menutup mata. Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat—ia merasa geram setengah mati. Tak lama kemudian, matanya menangkap sesuatu di seprai bagian pinggir ranjang. Sebuah catatan kecil dan uang merah tiga lembar. Mata Adrian seketika melotot melihat itu. Dengan langkah lebar dan cepat, ia meraih catatan tersebut dan membacanya. Hanya beberapa detik, kertas tipis itu menjadi korban keganasan tangan Adrian. "Kurang ajar!" teriak Adrian marah. Benar-benar marah sampai dia langsung mengempaskan uang di atas ranjang ke lantai. Menyedihkan sekali nasib uang yang tak bersalah itu. Adrian lalu memijit keningnya, seolah ingin meredakan kemarahan yang kian meledak di dadanya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan semarah ini. Dalam satu waktu, Adrian merasa puas, lemas, bingung, marah, dan kotor. Sial, sial. Wanita itu memang meremehkannya. Membuatnya merasa hina seperti gigolo yang habis dipakai dan dibayar. Kalaupun ia ingin berperan sebagai gigolo, Adrian tak akan mau dibayar semurah itu. Ia akan meminta tiga miliyar untuk servis memuaskan yang dia berikan pada wanita itu. Awas saja kalau ketemu. Awas saja. Adrian bersumpah tidak akan melepaskannya. Ia akan membuatnya menyesal telah menghina dan meninggalkannya seperti sampah. Tentu, Adrian percaya diri akan menemukan wanita itu dengan mudah. "Kita lihat, Ara sayang. Kamu akan menyesal." Adrian tersenyum miring ketika membayangkan apa saja yang akan terjadi di masa depan. Ini pasti akan menyenangkan.Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti
Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang
"Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila
Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde
Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.
Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik
Sungguh membagongkan. Sepertinya pindah ke apartemen Adrian menjadi penyesalan baru bagi Kilaara. Dia merasa bukan wanita single lagi, melainkan sebagai wanita yang sudah bersuami. Sejak pindah ke sana, entah sudah berapa kali Adrian menggempurnya, entah itu di kamar, di sofa ruang tamu,
Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev te
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukanny
"Apa kamu bilang? Dia kerja di perusahaan kita?" teriak Adrian sembari menggebrak meja di depannya. Selepas meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu di saat harga dirinya hancur, Adrian segera mencari tahu identitas dari wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya. Untuk seorang Adri







