เข้าสู่ระบบ"Rasanya seperti Anda menjadi Iron Man."
Kilaara membalas acuh tak acuh pertanyaan dari teman-temannya. Ia pulang pukul lima pagi, berharap dua teman sekosannya, yakni Lila dan Vero, belum bangun. Namun ternyata, dua cecunguk itu sudah rapi, cantik, dan seolah siap tuk pergi kerja. Ketika Kilaara pulang, keduanya sedang sarapan di depan televisi. "Hahahaha. Yang seriuslah beb! Gimana rasanya? Sakit gak itu lo?" Lila yang cerewet, bermuka tengil dengan mata sipit dan bibir tipis, serta rambut lurus hitam sebahu, menanyakan bagaimana pengalaman pertama Kilaara bercinta. "Ya sakitlah Lila! Gue aja gak bisa jalan besoknya pas di encusss oleh Rega," sahut Vero sambil memukul lengan Lila. By the way, Rega itu tunangannya yang bentar lagi akan menjadi suaminya dalam tiga bulan ke depan. Ya, mereka sudah DP duluan. Kilaara memutar matanya jengah. Sejak ia kembali ke rumah, sampai selesai mandi, lalu minum susu beruang untuk menetralisir rasa tak nyaman di perut, teman-temannya ini selalu mencecarnya dengan pertanyaan yang tergolong vulgar itu. Padahal mereka sudah sama-sama jeblos, kok masih penasaran saja sih gimana rasanya hilang perawan? "Gue kan nanya ke Ara, kok lo yang jawab dah. Ih gigi lo tuh ada bekas cabe," kata Lila menyikut lengan Vero. Yang disindir pun segera mengambil cermin kecilnya dan mengusir si merah dari giginya yang putih abis bleaching. "So, balik lagi ke Ara. Gimana sih ceritanya sampe lo ngelakuin one night stand sama cowok asing? Ntar dia punya penyakit kelamin, bisa gawat kan?! Pake kondom gak dia?" Lila kembali menyerbu Kilaara dengan banyak pertanyaan. "Gue juga gak tau dia pake atau gak beb. Orang akunya mabok!" jawab Kilaara sedikit kesal, "udah ah gak usah dibahas lagi. Lagian masalahnya dah kelar. Gue juga gak bakalan ketemu dia lagi." Vero menepuk pundak Kilaara, "gimana kalo cowok itu adalah orang yang lo kenal? Apalagi kalian ngamar setelah acara pesta kantor lo kan." "Itu sih yang gue takutin. Aissshh.. pusing kelapa—eh kepala gue. Bodo amat deh. Gue harap udah selesai because gue udah bilang makasih dan kasih duit buat dia pulang." "WHAT?" teriak Lila dan Vero secara bersamaan. "Lo kasih duit buat cowok itu?" ulang Vero. "Gila lo. Berapa juta lo kasih dia?" sahut Lila. Kilaara yang kaget hingga memundurkan badannya itu tak menyangka kalau teman-temannya bakal heboh begini, "kenapa sih kalian? Kok lebay? Lagian gue juga kasih duitnya lumayanlah buat ongkos taksi. Malah masih dapet kembaliannya." Lila menepuk keningnya, "entah gue mau ngakak atau sedih liat lo. Apa lo gak pikir panjang kalo misalnya tuh cowok anaknya sultan? Si doi pasti merasa harga dirinya diinjek-injek oleh lo." Wanita yang berprofesi sebagai pegawai asuransi itu menyentil pipi Kilaara. Kilaara pun sontak mengelus pipinya. "Masa sih? Gak segitunya juga deh. Justru dia berterima kasih dong dapet partner ONS yang baik kek gue," jawab Kilaara enteng. "Btw, bentar Ra. Lo liat gak muka doi? Ganteng? Kek orang kaya? Atau kek gembel?" tanya Vero kemudian. "Ih masa sih gembel bisa masuk hotel sekelas Sachdev grup?" "Lah bener juga ya. Berarti doi tajir dong?" "Ya iyalah." "Kalo gitu, gawat dong Ara." "He uh. Bisa-bisanya dia bloon gitu." Kilaara hanya menyimak obrolan antara dua temannya itu. Padahal dia-lah yang di sini mengalami kejadian greget, tapi kenapa cuma dia yang santai seperti tak ada beban di pundaknya. Seolah hilang perawan bukan masalah apa-apa untuknya. "Enak aja bloon! Gue ini pinter tau! Ah udah deh. Gue gak mau ambil pusing lagi. Gue mau siap-siap pergi. Jangan lupa kunci cadangannya dibawa. Pokoknya jangan telepon gue kalo kalian pulang duluan." Kilaara mengusap bibirnya dengan tisu, lalu mengambil tas kerjanya yang cukup besar karena membawa beberapa dokumen. Dia tidak peduli lagi dengan ocehan Lila dan Vero yang masih heboh mengomentari sikapnya semalam. Menurut pemikirannya, apa yang sudah dia lakukan pada pria itu sudah benar kok. Dia memberikan kesan baik-baik dengan menuliskan pesan singkat untuk pria itu, meskipun dia pergi tanpa pamit. Satu hal yang Kilaara patut syukuri adalah dia tidak mengenal pria itu. Bentuk tubuh yang proporsional itu juga terlalu asing baginya. Seumur-umur, dia tidak pernah punya teman pria yang memiliki tubuh seindah dan se-manly itu. Karena dia sendiri tidak kenal dengan pemilik tubuh seksi itu, sudah pasti pria itu juga tidak mengenalinya. Sebuah timbal balik yang indah bukan? Kilaara juga mensyukuri bahwa ia masih sanggup mengendarai motor matic-nya walau kepalanya agak pusing dan perutnya sedikit mual akibat alkohol. Hampir dua puluh lima menit, akhirnya Kilaara tiba di kantornya tercinta yang termasuk dalam Sachdev Group, namun dalam bidang make up. Sebenarnya, perusahaan ternama Sachdev tersebut baru melakoni dunia kosmetik selama dua tahun. Awalnya, Sachdev dikenal sebagai produsen kecil dalam model pakaian, celana pria, dan dasi. Tetapi beberapa tahun terakhir, keluarga Sachdev mulai merambah ke bisnis kecantikan dan perawatan tubuh. Selain itu, dalam naungan CEO yang baru, Adrian, perusahaan ini semakin terkenal karena memiliki hotel dan restoran sendiri. Kata kebanyakan orang, keturunan Sachdev terakhir ini mulai berani banting setir ke jenis bisnis lainnya. Well, tapi bagi Kilaara itu tidaklah penting. Yang penting adalah dia masih dapat gaji bulanan dan pekerjaan yang bergengsi karena termasuk dalam keluarga besar Sachdev Grup. "Ara!" Kilaara menoleh singkat saat mendengar suara Leo, teman yang paling dekat dengannya di kantor. Namanya saja sangar dan terlihat kuat, mirip dengan perawakannya yang tinggi, besar, dan hitam manis, tapi Kilaara memegang satu rahasia besar temannya itu. Ya, Leo itu sukanya sama cowok. "Leo!!" Kilaara menggeram kesal, lalu berbalik arah menuju Leo yang baru sampai di parkiran motor. Dengan cepat, Kilaara meninju perut rata Leo hingga temannya itu mengaduh kesakitan. "Ya ampun Ra. Gue baru sampe nih udah kena tonjok aja. Kenape sih lo?" tanya Leo sambil mengusap perut dan meringis. "Lo kan yang kasih gue alkohol semalem?!" tuduh Kilaara. "Iya." "Ih lo tau gak, gara-gara lo gue jadi ti—" Ucapan Kilaara segera tertahan ketika mulutnya dibekap oleh Leo. "Gue tau. Jangan diterusin. Gak enak didenger orang Ra," kata Leo sambil menarik tangan Kilaara dan masuk ke gedung kantor bersama. Kilaara pun baru menyadari bahwa di sini ternyata banyak orang yang akan mendengarkan obrolan senonoh mereka. Akhirnya, ia memilih tuk menjadi kalem lagi dan bicara lebih pelan. Namun tidak dengan tangannya yang langsung mencubit perut Leo. "Arghh ampun Ra!" "Gue kesel banget sama lo. Sumpah. Gara-gara lo gue gak perawan lagi!" bisik Kilaara di telinga Leo. "Ya elah Ra. Lo kan emang udah gak perawan lagi. Ngaku-ngaku aja lo kan masih suci," balas Leo dengan mulut luwesnya. "Enak aja. Beneran gue gak bohong!" "Jadi gimana? Lo mau minta tanggung jawab gue? Ya lo minta tanggung jawab cowok yang tidurin lo lah. Kok sama gue?" tantang Leo dengan mukanya yang mirip blasteran tapi versi lokal. Leo memang ganteng kok, makanya dia bisa punya pacar yang lebih ganteng daripada dia. "Gak guna. Pokoknya gue gak mau ngomong sama lo sampe besok! Bye!" Kilaara pergi sambil menaikkan dagu setelah menampar pundak Leo sekali lagi. Ia pun berjalan lebih dulu daripada pria itu. Tetapi hanya selang berapa detik, tangannya kembali ditarik oleh Leo. "Eh Ra. Kemeja lo kusut banget. Gak digosok?" "Ngapain lo nanya itu? Gak ada sangkutpautnya sama lo," balas Kilaara ketus. "Ya adalah. Lo gak tau kalo bos besar mau mampir ke sini hari ini?" Leo menyentakkan tangan Kilaara supaya wanita itu berhenti berjalan dan mengabaikannya, "padahal di grup chat pagi ini udah rame banget lho. Apa lo lupa kan kalo bos besar ke sini sama aja dengan—" "Demi apa? Aish mati gue. Siapa ya yang bawa baju dua." Kilaara melupakan aksi ngambeknya. Ia sontak panik, berjalan lebih cepat lagi menuju kantornya yang berada di lantai tiga. Ini masalah besar. Kalau bos besar alias Adrian Sachdev kemari, itu sama saja seperti razia dadakan. Beliau adalah freak kerapian, kebersihan, dan—pokoknya dia paling anti yang berantakan. Jadi jangan heran, kenapa pakaian yang dikenakannya selalu terlihat sempurna dan licin seolah habis digosok tujuh malam purnama. "Ngapain dia ke sini? Bukannya dia sibuk ngurusin kantor pusat?" tanya Kilaara dengan matanya yang terus scanning ke seluruh staf kantor yang kira-kira membawa baju dua. "Entahlah. Lo tanya aja sama manajer. Pegawai jelata kek kita mah cuman bisa nurut doang pas disuruh pakai kemeja, baik itu untuk cowok maupun cewek. Oh ya, yang cewek juga disuruh pake rok pensil biar lebih kelihatan rapi. Lah lo, malah pake celana. Hadeh." Leo menatap Kilaara dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kilaara menepuk kepalanya berkali-kali. Sial sekali dirinya hari ini. Karena kejadian semalam, ia lupa bahwa ponselnya habis baterai sehingga tidak bisa mengecek grup chat. Dalam waktu sebentar saja, ia sudah melewatkan hal-hal penting. "Gue mau pulang aja deh. Bilangin ke Bu Silvia ya kalo gue gak enak badan." Kilaara mengembuskan napas pasrah dan berbalik arah tuk berjalan menuju lift. Dan Silvia itu adalah nama atasannya. "Ara! Gak usah ngadi-ngadi lo ya." Leo hendak menarik tangan Kilaara tetapi wanita itu sudah menekan tombol lift untuk turun. Sepertinya tekad Kilaara yang ingin pulang ketimbang kena hukuman setelah inspeksi dadakan sang CEO, sudah bulat. Sesaat pintu lift terbuka, Kilaara sontak membelalakkan matanya dan mulutnya menganga lebar seolah rahangnya akan jatuh ke bawah. Di depannya kini, Adrian Sachdev berdiri dengan wajah menyeramkan dan sorot mata yang hendak membunuhnya. Hei, tatapan beliau bukan untuknya kan? Mana mungkin.Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti
Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang
"Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila
Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde
Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.
Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik
Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev te
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukanny
"Apa kamu bilang? Dia kerja di perusahaan kita?" teriak Adrian sembari menggebrak meja di depannya. Selepas meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu di saat harga dirinya hancur, Adrian segera mencari tahu identitas dari wanita yang menghabiskan satu malam panas bersamanya. Untuk seorang Adri
Adrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde. Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil







