Se connecterMendengar kata-kata bermakna peringatan dari Jani, Thalita memilih menjauh dari Baskara. Ia melepaskan rengkuhan tangan Baskara dari pinggangnya yang ramping secara perlahan. Rasanya tak nyaman dan malu dengan apa yang baru saja diucapkan sang tante pada mereka berdua. Sesaat, keduanya tampak canggung.“Kenapa kami harus jaga jarak, Tante? Tante kan tahu sendiri kalau saya dan Thalita bekerja di tempat yang sama. Saya adalah bos di mana Thalita bekerja. Kami pasti akan bertemu setiap hari. Kalau kami berjaga jarak, bukankah menunjukkan bahwa kami tidak profesional dalam bekerja? Saya tidak mau hubungan percintaan kami justru membuat pekerjaan kami terganggu. Saya janji saya akan selalu melindungi Thalita. Dan saya tidak akan melibatkan dia dengan pernikahan saya sebelumnya yang akan saya akhiri sebentar lagi. Tante, saya mohon tolong restui kami dan ijinkan saya menjalani hubungan dengan Thalita secara terbuka.”Secara terbuka? Apa-apaan ini?!Thalita tampak cemas dan bingung dalam s
Thalita putar otak. Ia harus menjawab pertanyaan sang tante dengan jawaban yang sekiranya masuk akal. Semua ini gara-gara Baskara! Pria itu benar-benar…Huh!?“Bukan apa-apa, Tante. Tante jangan berpikir yang bukan-bukan, ya. Sebenarnya…” Thalita berusaha menjelaskan sembari mencari kata-kata yang bisa menyelamatkan di dalam otaknya guna ia jadikan alasan. Kalimatnya terjeda, ia pun mengambil tindakan spontan sekenanya. “Mas Baskara, jangan buat Tanteku berpikir yang nggak-nggak tentang hubungan kita dong. Katanya kamu sayang dan peduli pada hubungan kita. Lalu mana buktinya? Kenapa kamu malah membuat Tanteku jadi cemas begini?”Baskara terkejut bukan main. Tak pernah sekalipun wanita di sampingnya menggelayut manja di lengannya yang kokoh. Tak hanya itu, Thalita mempersembahkan senyum cantik yang membuatnya luluh seketika. Thalita tak berhenti di situ. Wanita cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu Baskara dengan terus menunjukkan ekspresi ketulusan dan keikhlasan bahwa ia telah
“Tentu saja bisa, Bu Jani. Saya mencintai Thalita dengan sepenuh hati. Sejak pertama bertemu dengannya, saya merasa nyaman dan ingin selalu bersama dengan dia. Padahal saya sadar saat ini saya masih terikat pernikahan dengan wanita lain. Tapi saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri dan terus bertahan dengan wanita yang tidak saya cintai. Jika bukan Thalita, saya lebih memilih sendiri dan keputusan untuk menceraikan istri saya sudah bulat bukan karena adanya Thalita. Jika hal ini yang membuat Bu Jani merasa khawatir, saya akan menjelaskan segalanya sedari awal. Karena saya tidak mau bersama wanita lain, jika bukan Thalita orangnya.” Baskara menjawab lugas dan tegas. Baskara mengarahkan netra gelapnya ke arah Thalita berada. Wanita itu merasa canggung dengan situasi saat ini. “Oh seperti itu.” Jani menyahut singkat. “Pertanyaan kedua, semua orang pasti akan berpikiran buruk pada Thalita jika suatu hari kamu dan istrimu bercerai. Apa yang akan kamu lakukan jika semua orang mencemo
Semua mata tertuju pada kedua insan manusia yang tercipta begitu serasi. Thalita dan Baskara menghentikan ucapan mereka sejenak sebelum akhirnya sang penguasalah yang mengambil alih perseteruan. “Saya sudah menikah,” kata Baskara secara lantang yang membuat Jani membelalakkan matanya. Namun, belum sempat Tante dari sekretaris cantiknya angkat bicara guna menolak mentah-mentah dirinya, Baskara sudah melanjutkan kata-katanya. “Saya sudah dalam proses perpisahan dengan istri saya jauh sebelum saya mendapatkan hati Thalita. Perpisahan saya dan istri saya ini tidak ada kaitannya dengan Thalita. Thalita bukan perebut suami orang atau istilah jaman sekarang disebut dengan pelakor. Thalita adalah wanita yang baik dan saya cintai selama ini. Saya dan istri saya menikah bukan karena cinta. Dan saya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut atas dasar keterpaksaan yang ujung-ujungnya hanya akan menyakiti perasaan satu sama lain. Maka dari itu saya memutuskan akan menikahi Thalita setelah saya
“E-eh maaf, Tante. Habisnya….” Thalita tak jadi melanjutkan kata-katanya. Ia melihat pemandangan tak terduga di sekelilingnya. Baskara masih menggenggam erat tangan Namira. Hal itu membuat Thalita bertanya-tanya dengan maksud Baskara melakukannya. ‘Apa yang sebenarnya Pak Baskara lakukan di tempat ini? Kenapa dia menggenggam tangan ibuku?’ Thalita menatap heran sekaligus mencoba mencari tahu dengan tujuan Baskara melakukan hal itu pada ibunya. Mencoba menyelami apa yang diperhatikan Thalita saat ini, Baskara pun melepaskan genggaman tangannya dari Namira. Ia tersenyum pada Namira lalu menatap penuh kerinduan pada Thalita. Senyuman tulus ia berikan pada wanita cantik yang telah ia renggut kehormatannya. Thalita salah tingkah. Wanita itu memalingkan wajahnya karena malu dan belum siap untuk menghadapi sikap Baskara yang tak terprediksi seperti barusan.“Thalita,” panggil Baskara yang membuat pandangan mereka segera bertemu.“Ada apa, Pak?” tanya Thalita refleks seperti di saat dirin
“Kalau kamu ingin tahu, datang saja ke sini!” ucap Baskara dengan santainya lalu mematikan panggilan tanpa menunggu tanggapan dari lawan bicaranya.Baskara tersenyum puas penuh akan hasrat kemenangan. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak mungkin bagi Thalita untuk duduk diam dan tak melakukan apa pun usai diberitahu olehnya tentang keberadaannya di rumah masa kecil wanita itu.“Mohon maaf, Nak Baskara, sebenarnya ada apa ini, ya? Dalam rangka apa Nak Baskara datang ke sini membawa begitu banyak buah tangan? Dan barusan apa yang dikatakan Thalita? Apa dia akan menyusul ke sini?” cecar tanya Jani sebagai bibi dari wanita cantik yang amat disukai oleh pria matang di hadapannya.Baskara hanya tersenyum lalu menengok ke arah Rico sebelum akhirnya menatap kedua mata Namira, ibu kandung Thalita yang duduk di sebelah Jani. “Tujuan saya ke sini adalah… saya ingin mengungkapkan fakta bahwa saya adalah pacar Thalita. Hubungan kami sudah sangat serius. Jadi lebih tepatnya say







