ログイン“Baskara, sudah, sudah! Jangan buat Nenekmu marah-marah! Nenekmu belum pulih benar, dia harus banyak istirahat, nggak boleh banyak pikiran dulu,” ucap Teddy menengahi. Pria paruh baya itu jelas-jelas membela sang istri, walau sebenarnya ia tahu Seruni selalu berada di pihak Yola. Entah apa yang membuat istrinya begitu peduli dan sayang pada Yola sehingga selalu mengesampingkan perasaan Baskara yang notabene adalah cucu kandungnya sendiri. “Kek, aku nggak tahu apa yang membuat Nenek selalu menutup mata atas segala hal yang diperbuat Yola. Asal Kakek dan Nenek tahu, dia nggak sesuci dan selembut yang kalian lihat. Terlalu banyak kebohongan yang dia buat selama ini, tapi kenapa seolah-olah kalian nggak pernah melihatnya? Jujur aku curiga, sudah sampai sejauh dan separah ini, kalian masih saja berpihak pada wanita jahat itu. Sebenarnya aku ini cucu Nenek dan Kakek apa bukan? Kenapa kalian nggak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Dan setelah Nenek siuman, apa Nenek tahu siapa yang m
“Terima kasih ya, Pak Rico. Pak Rico sudah repot-repot membantuku tadi,” kata Thalita begitu mereka sampai di mobil dalam perjalanan pulang menuju ke apartemen.Thalita sempat menoleh ke belakang demi memastikan Yudith tak mengejarnya seperti yang sudah-sudah. Hubungannya dengan pria itu sudah tutup buku, ia tak mau mengulang kembali peristiwa lama yang ujung-ujungnya membuatnya terluka. “Sudah menjadi kewajibanku melindungi kamu, Thalita. Bagaimanapun juga sekarang kamu adalah kekasih Pak Baskara. Aku nggak mau dianggap lalai kalau kamu sampai kenapa-napa,” terang Rico sembari mengendalikan stang bundar di hadapannya. Jawaban Rico membuat Thalita merasa cemas dan anehnya juga merasa tenang. Bagaimana tidak, ucapan pria itu seolah menjelaskan bahwa dirinya adalah simpanan sang bos. Seolah dirinya adalah salah satu selir seorang Kaisar yang wajib dihormati dan dilindungi. Sialan!“Apa kamu nggak penasaran dengan siapa Pak Yudith itu dalam hidupku?” Thalita sengaja mempertanyakan hal
“Mbak balik dulu, ya,” pamit Thalita pada Vivian yang duduk menemaninya di ruang tunggu. Dirinya belum diijinkan pulang oleh Baskara beberapa saat sebelumnya. Mau tak mau setelah menunggu beberapa saat, ia memberanikan diri mengucapkan kalimat perpisahan pada adik sang kekasih. Terlebih lagi, rasa kantuk mulai melanda. Ini sudah sangat malam, menurutnya.Vivian mendongak. Ia melihat wanita cantik yang membuatnya nyaman hendak pergi dari sisinya. Entah mengapa ia belum rela melepaskan Thalita untuk saat ini. Ia merasa nyaman dan aman. Seolah Thalita tercipta untuknya. “Mbak, ini udah malam, loh. Diantar sama Mas Rico, ya,” pinta Vivian yang sengaja mencegah.“Mbak bisa cari taksi online. Jarak sini ke apartemen juga nggak begitu jauh, kok. Mbak nggak mau ngerepotin siapa-siapa, oke,” tolak halus Thalita dengan senyuman manis. Mendengar penolakan Thalita, Yola yang sedari tadi tampak gelisah segera bangkit dari posisinya dan mendekat. “Kamu pulang diantar Rico saja, Thalita. Nggak bai
Mendengar celetuk aneh yang keluar dari mulut kekasih gelapnya tak membuat Baskara marah. Pria itu malah tersenyum penuh maksud sebelum mengucapkan kata-kata yang mengandung misteri di telinga Thalita. “Mulai berani kamu, ya? Kamu tahu kan bagaimana sikapku kalau aku sedang berada dalam mood yang kurang baik?” bisik Baskara dengan seringai licik yang membuat Thalita bergidik geli. Thalita tahu benar apa yang akan dilakukan Baskara padanya. Sejak mereka mulai menjalin hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan, Baskara mulai terang-terangan mengakuisisi dirinya. Pria itu tak terlihat sedang bermain-main dengannya. Baskara serius akan melakukan apa yang ada di kepalanya tanpa rasa malu sedikit pun. Mencegah hal yang tidak-tidak, Thalita memundurkan tubuhnya. Tak sengaja, punggungnya nyaris membentur dinding di belakang sana. Hal itu tak akan pernah terjadi karena dengan sigap lengan Baskara yang kokoh sudah berada di belakang punggung Thalita. “Kenapa? Kamu takut sama aku? Kalau
“Maaf, saya terlambat, Pak Rico,” kata Thalita usai berlari-lari seperti sedang dikejar sesuatu di belakangnya. Wanita cantik itu hanya mengenakan pakaian seadanya dibalut jaket guna menutupi tubuh rampingnya. Hal itu tak mengurangi sedikit pun kecantikan yang dimiliki olehnya. Ia tetap tampak anggun.Di saat semua mata mengarah padanya, ia tak peduli sama sekali. Thalita hanya berniat menolong seseorang di saat-saat genting seperti ini. Tak ada maksud lain.“Silakan ambil darah saya,” ucap Thalita pada Rico yang sedang berhadap-hadapan dengan dokter yang berperawakan tinggi besar di dekat pintu ruang operasi. Sementara itu Baskara yang masih tak habis pikir hanya bisa diam mengamati. Pertanyaan besar masih bernaung di otaknya. “Tunggu dulu,” kata Baskara pada akhirnya sebelum Thalita melakukan pengambilan darah untuk Seruni, nenek kesayangannya. “Ada apa, Pak?” Kening Thalita berkerut. Ia bingung dengan sikap Baskara saat ini padanya. Bukannya fokus pada tranfusi darah yang harus
Baskara mondar-mandir di depan ruang operasi. Ia benar-benar khawatir akan keadaan sang nenek. Walau ia sering beradu argumentasi dengan wanita tua itu, hal tersebut tak mengurangi rasa sayangnya pada Seruni sedikit pun. Perasaan bersalah dan penyesalan menggerogoti hatinya. Rasa takut akan kehilangan sang nenek menjadi momok besar di dalam dirinya. Wanita itu tak boleh sampai kenapa-napa. Baskara memegangi kepalanya yang pening. Mendadak, ruang operasi terbuka. Seorang dokter mencari salah satu dari keluarga pasien yang berada di sekitarnya agar bisa memberi solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.“Mohon maaf, adakah salah satu dari anggota keluarga yang memiliki golongan darah sama dengan pasien? Kebetulan sekali bank darah kami kehabisan stok untuk golongan darah pasien.” Sang dokter menjelaskan dengan cepat dan akurat. Mendengar pertanyaan sang dokter, Yola yang ada di sana segera mengangkat tangannya. “Saya, Dok. Kebetulan dulu Papa saya pernah mendonorkan darah untuk N
Mati?!Jangan gila!!Thalita berusaha memaksa Baskara agar bangun dari posisi berlututnya saat ini. Namun, pria itu malah mendorongnya pelan agar tak ikut campur. Ia benar-benar bersikeras meminta restu. “Mas, aku mohon berdiri sekarang juga,” pinta Thalita dengan nada memaksa. Wanita itu sedikit
Mendengar kata-kata bermakna peringatan dari Jani, Thalita memilih menjauh dari Baskara. Ia melepaskan rengkuhan tangan Baskara dari pinggangnya yang ramping secara perlahan. Rasanya tak nyaman dan malu dengan apa yang baru saja diucapkan sang tante pada mereka berdua. Sesaat, keduanya tampak cang
Semua mata tertuju pada kedua insan manusia yang tercipta begitu serasi. Thalita dan Baskara menghentikan ucapan mereka sejenak sebelum akhirnya sang penguasalah yang mengambil alih perseteruan. “Saya sudah menikah,” kata Baskara secara lantang yang membuat Jani membelalakkan matanya. Namun, belum
“Tentu saja bisa, Bu Jani. Saya mencintai Thalita dengan sepenuh hati. Sejak pertama bertemu dengannya, saya merasa nyaman dan ingin selalu bersama dengan dia. Padahal saya sadar saat ini saya masih terikat pernikahan dengan wanita lain. Tapi saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri dan terus b







