Share

Pericardiocentesis

Author: Tinta_Jojon
last update publish date: 2026-05-15 23:30:53
Chapter 14: Pericardiocentesis

Dering telepon internal mendadak memecah keheningan ruangan. Suasana yang semula tenang langsung berubah tegang.

"Residen BTKV, Nita berbicara."

Suara bising dari IGD terdengar samar di balik sambungan telepon.

"Dok, pasien laki-laki sekitar empat puluh tahun dengan diagnosis tamponade jantung. Pasien harus segera dioperasi," ucap seorang perawat tergesa-gesa.

Ekspresi Nita langsung berubah serius. Tangannya refleks meraih pulpen di meja.

"Bagaimana kondisi h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Siapa Kau Sebenarnya?

    "Maaf membuatmu menunggu."Raka kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah map berwarna cokelat di tangannya. Ia menghampiri sofa, lalu menyerahkan map itu kepada Calista yang sejak tadi menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Ini hasil pemeriksaan ulang Tuan Adrian," ucap Raka. "Aku ingin mendiskusikannya bersamamu."Calista menerima map itu tanpa banyak bicara. Jemarinya segera membuka halaman demi halaman, sementara tatapannya langsung menelusuri setiap hasil pemeriksaan dengan saksama."Kau mau makan apa, Dokter Calista?" tanya Raka tiba-tiba. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai membuka aplikasi pemesanan makanan."Tidak," jawab Calista singkat. Pandangannya tetap tertuju pada berkas di tangannya, seolah tidak tertarik sedikit pun dengan pertanyaan itu."Baiklah." Raka mengangguk pelan sambil menggeser layar ponselnya. "Kalau begitu aku pesan dua porsi yang sama saja.""Terserah kau." Calista membalik halaman berikutnya tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak akan mem

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan tak Terduga

    “Dokter Raka...” panggil Dokter Hadi sambil mengenakan tas kerjanya. Ia berdiri dari kursinya dan menoleh ke arah Raka yang masih menatap layar komputer. “Kau tidak pulang?”"Sebentar lagi," jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya. Jemarinya masih bergerak membolak-balik hasil pemeriksaan pasien. "Masih ada beberapa hal yang harus kuselesaikan untuk persiapan besok.""Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan." Dokter Hadi menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. "Jangan bekerja terlalu malam."Raka hanya membalas dengan anggukan kecil. Tak lama kemudian, pintu ruangan tertutup pelan, meninggalkan dirinya kembali larut dalam tumpukan berkas dan keheningan ruang dokter spesialis.Namun tiba-tiba, Dokter Hadi berbalik dan kembali membuka pintu kaca ruang dokter spesialis."Oh iya, dokter Raka," ucap dokter Hadi. "Sekarang kita sudah menjadi rekan kerja. Tidak usah terlalu formal denganku."Raka tertawa sebentar sebelum kembali berkata,"Siap, dokter

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pemeriksaan Ulang

    Waktu terus berlalu, tetapi Calista belum juga kembali. Raka beberapa kali mengangkat pandangannya ke arah jam itu sebelum kembali menatap meja kerja Calista yang masih kosong."Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu, Dokter Raka?" tanya Dokter Hadi. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menoleh ke arah Raka yang sejak tadi tampak tidak tenang."Saya akan melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh kepada Tuan Adrian sebentar lagi," jawab Raka sambil mengembuskan napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada meja Calista. "Tapi Dokter Calista belum juga kembali.""Oh, jadi itu penyebabnya." Dokter Hadi menganggukkan kepala. Ia melirik jam dinding sebelum kembali menatap Raka. "Sepertinya kau harus melakukannya sendiri. Dokter Calista memang sangat jarang kembali ke departemen kalau hari sudah sore."Raka terdiam beberapa saat. Ia akhirnya mengangguk, lalu meraih map rekam medis yang telah dipersiapkannya sejak tadi."Baiklah kalau begitu," ucap Raka sambil berdiri dari kursinya.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Permintaan Maaf

    Di ruang krematorium, peti jenazah Tuan Baskoro telah dipersiapkan untuk memasuki mesin kremasi. Dua orang petugas berdiri di sisi peti, sementara Raka dan Kevin ikut membantu mendorongnya dengan perlahan. Di sudut ruangan, Nita tetap berada di samping Arvin, menemaninya sejak tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Calista melangkah masuk dengan tenang. Kehadirannya membuat beberapa orang menoleh, termasuk Nita dan Arvin yang langsung mengalihkan pandangan ke arahnya."Kakak..." ucap Arvin lirih.Calista membalas dengan senyum tipis, lalu menghampiri Arvin hingga berdiri di sampingnya. "Arvin," ucapnya lembut, "ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berpamitan kepada ayahmu."Arvin mengangguk pelan. Ia tidak melangkah mendekati peti jenazah, melainkan memejamkan mata sambil merapatkan kedua telapak tangannya.Ketika peti itu perlahan bergerak memasuki mesin kremasi, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ayah... selamat tinggal," ucapnya lirih.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Nyaris Kehilangan Kendali

    "Rangga Tirta..." ucap Putri Jayasari lirih. Kepalanya masih bersandar di bahu pria itu. "Apakah kau senang telah diangkat menjadi Jenderal Perang?"Rangga Tirta yang semula menegang perlahan memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan."Sepertinya lebih banyak tidak senangnya," jawab Rangga Tirta."Kenapa?" tanya Putri Jayasari. Ia sedikit mengangkat wajahnya, berusaha mencari jawaban dari ekspresi pria di sampingnya."Tanggung jawab yang hamba pikul kini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," ucap Rangga Tirta tenang. "Jika hamba memimpin perang, bukan hanya nyawa hamba yang dipertaruhkan, tetapi juga nyawa seluruh prajurit yang berada di bawah komando hamba.""Lalu?" Putri Jayasari kembali bertanya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria itu. "Apa lagi yang membuatmu tidak senang?"Rangga Tirta terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap lantai sebelum akhirnya tersenyum tipis."Entahlah." Ia menggeleng pelan.

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Pertemuan Terlarang

    Setelah pelantikan resmi selesai, para prajurit mengadakan pesta besar untuk merayakan pengangkatan Rangga Tirta sebagai Jenderal Perang Kerajaan Jayantara. Sebelumnya, Rudha Wisesa telah meminta izin kepada Maharaja Jayawardhana untuk mengadakan perayaan tersebut, dan sang raja mengizinkannya. Hingga malam tiba, suara tawa, dentingan gelas, serta alunan musik masih memenuhi camp para prajurit."Rangga Tirta," ucap Rudha Wisesa dengan wajah memerah karena pengaruh arak. "Sedikit sekali kau minum. Ini pesta untukmu, jadi habiskan semuanya."Rangga Tirta hanya tersenyum tipis sambil menatap gelas di tangannya. "Jenderal tahu aku tidak terbiasa minum sebanyak itu," jawabnya tenang sebelum meneguk sedikit arak di dalam gelasnya."Tidak, aku tahu itu bukan alasanmu." Rudha Wisesa menunjuknya dengan gelas yang hampir kosong. "Jika kau benar-benar seorang lelaki, minumlah sampai tidak sadarkan diri. Percayalah, itu sedikit membantu menghadapi perasaan yang tidak bisa kau lawan."Rangga Tirta

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Kesedihan Seorang Dokter

    Calista berjalan menuju tangga darurat. Begitu tiba di sana, sosoknya menghilang dan berpindah ke tempat yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Bersamaan dengan itu, jas dokter putih yang dikenakannya berganti menjadi gaun hitam yang anggun.Hamparan padang bercahaya membentang tanpa batas di

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Tangisan di ICU

    Benda yang berada di tangan Calista ternyata hanyalah sebuah foto yang sudah sedikit kusam dimakan usia. Sudut-sudutnya telah menguning, sementara permukaannya dipenuhi goresan halus akibat terlalu sering disentuh. Di dalam foto itu, seorang pria paruh baya tengah tersenyum lebar sambil merangkul

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Menerima Takdir

    Layar monitor kembali menampilkan hasil CT scan pasien. Cahaya dari proyektor menerangi wajah semua orang di ruangan itu, sementara suasana menjadi jauh lebih sunyi dibanding beberapa menit sebelumnya."Lihat baik-baik," ucap Calista tenang."Apakah kalian menemukan sesuatu?" lanjutnya sambil melip

  • Rahasia Gelap Sang Dokter Cantik   Ujian Dokter Residen

    Sesampainya di Departemen Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, Raka dan Calista mendapati ruang itu dalam keadaan kosong. Namun, dari balik dinding kaca ruangan diskusi di sebelahnya, terlihat Nita sedang berdiri di depan layar besar sambil memegang pointer, sementara Kevin dan Dokter Hadi duduk me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status